IMG-LOGO
Daerah

Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA

Rabu 4 Mei 2016 18:1 WIB
Bagikan:
Pesantren Lebih Siap Hadapi Tantangan MEA
Jakarta, NU  Online
Terkait dengan penerapan dan tantangan MEA, pemerhati pendidikan dan penulis sejumlah buku pendidikan Doni Koesoema A mengatakan pondok pesantren lebih siap.  

Demikian dikatakan Doni dalam wawancara dengan NU Online seusai menjadi pembicara dalam diskusi publik “Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi MEA” di Griya Gus Dur, Selasa (3/5).

Doni beralasan, “Karena di ponpes individu-individu dibekali oleh kekuatan spiritual yang bagus. Lalu  kontak budaya dan kontak dengan masyarakat yang kuat, itu sebenarnya bisa menjadi modal.” 


Dari sisi ekonomi pondok pesantren perlu mengupayakan bagaimana memberdayakan ekonomi masyarakat. Menurut Doni hal ini akan mengubah bangsa Indonesia akan lebih cepat maju.

“Saya melihat di masjid-masjid ada banyak arus uang. Tetapi kas, di beberapa majid di Tangerang (tempat tinggal Doni-Red), dipakai untuk membangun gapura. Padahal di sekitarnya banyak orang miskin. Nah, saya membayangkan seandainya di setiap masjid mereka punya perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi orang-orang miskin masyarakat bangsa ini akan cepat maju, naik kelas,” papar Doni. 

Doni menambahkan proses pendidikan di pesantren akan sangat membantu karena sejak awal, santri sudah dekat dengan masyarakat, mengenal siapa masyarakat di sekitar pesantren, tahu siapa yang miskin siapa yang bisa dibantu.

Pendidikan di pondok pesantren dalam pandangan Doni terlihat lebih ke pendidikan yang dinamis. Para santri selain tumbuh dengan kekuatan nilai-nilai tradisional, dan kitabnya yang diajarkan dengan model menghapal, kemudian terbatinkan dan diterapkan dalam praktik. Itu bisa menjadi modal yang bisa dipindahkan dalam menghadapi tantangan MEA. 

“Misalkan menghadapi tantangan di luar kan kita harus tahu, apa yang ada di dalam masyarakat, apa yang dibutuhkan. Kita akan mencari cara yang lebih baik untuk mengantisipasinya,” ungkap Doni.

Hal lain yang membuat pesantren lebih siap menghadapi MEA adalah kemampuan berbahasa asing.

“Di ponpes bahasanya bagus. Itu kan menurut saya luar biasa,” pungkas Doni yang pernah meneliti pola pendidikan di beberapa pesantren termasuk Tebuireng, Jombang. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Bagikan:
Rabu 4 Mei 2016 19:1 WIB
GP Ansor Way Kanan Berperan Aktif dan Positif di Segala Lini
GP Ansor Way Kanan Berperan Aktif dan Positif di Segala Lini
Way Kanan, NU Online
Program-program Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Lampung konkrit, langkah demi langkah terlihat manfaatnya untuk masyarakat umum dan sangat positif, demikian penilaian Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Agus Zulkarnain di Blambangan Umpu, Rabu (4/5).

"Sejauh ini yang sudah saya analisa dan sudah saya lihat baik itu dari media atau apa yang sudah saya dapat secara langsung, untuk Pemuda Ansor sampai sejauh ini sangat berperan aktif dalam segala lini yang positif. Salah satu program yang sangat saya dukung itu Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN)," kata Agus lagi.

Menurut Agus, hal itu merupakan satu hal sangat positif untuk mengubah pola pikir generasi muda ditatanan yang masih berjalan di dunia pendidikan.

"Yang notabenenya mereka belum sampai pada tahapan itu. Tapi mereka berpikir dengan keadaan ekonomi mereka yang memiliki keterbatasan. Mereka beranggapan bahwa itu merupakan hal yang mustahil untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi," ujarnya.

Agus menegaskan, pendidikan merupakan suatu hal penting untuk individu maju ke depan. "Itu diterapkan oleh Ansor, dan itu merupakan suatu hal yang baik sekali menurut saya," katanya saat diminta menilai kiprah PC GP Ansor Way Kanan terkait hari lahir ke 82 tahun departemen pemuda Nahdlatul Ulama (NU) yang disahkan pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934.

Agus melanjutkan, arti penting dari tingkat kesejahteraan masyarakat pada umumnya yang menjadi indikator utama adalah pendidikan. Dan Ansor mencoba untuk mengubah pola pikir generasi muda melalui BPUN.

"Ini merupakan kegiatan konkrit, artinya bahwa gerakan Ansor tersebut sudah cukup berperan penting di Kabupaten Way Kanan. Pendidikan berpotensi menghapus perbedaan kelas. Selanjutnya, generasi muda yang sudah berhasil, bisa berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan yang kebetulan tatanan ekonomi masih belum mampu ke arah situ," kata Agus lagi.

PC GP Ansor Way Kanan menggelar BPUN 2016 bagi pelajar berprestasi kurang mampu di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan mulai 23 April hingga 26 Mei 2016. Kegiatan filantropi pendidikan itu diberi tema "Bakti Ansor untuk Way Kanan dan Indonesia".

Kontribusi peserta mengikuti bimbingan intensif satu bulan di pondok pesantren Rp200 ribu, digunakan untuk pembelian beras 20 kg. Peserta akan mendapatkan tryout SBMPTN satu minggu sekali, modul terpadu berkualitas, tentor selektif, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, motivation training, capacity building, bimbingan rohani istiqomah, pendidikan kepemimpinan dasar, out bond, advokasi beasiswa dan kecakapan hidup.

"Mudah-mudahan harlah ke 82 tahun, Ansor semakin maju dan lebih kreatif lagi berbuat untuk masyarakat dan umat," demikian Agus Zulkarnain. (Yoga Aji Saputra/Fathoni)

Rabu 4 Mei 2016 14:40 WIB
Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru
Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru
Jakarta, NU Online
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, Selasa (3/05), sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta ini adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan". 

"Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka hardiknas, semoga spirit Ki Hajar Dewantara dapat bersenyawa dengan kita, dan rembug guru ini adalah forum bapak/ibu guru untuk berjuang bersama baik itu terkait kompetensi guru maupun mengenai kesejahteraan," kata Aris Adi Leksono.
  
Dalam Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta hadir beberapa pembicara di antaranya H Nawawi (Anggota Komis E DPRD), Mahruz (Ketua PGMI), Amin (Kementerian Agama DKI Jakarta), Muhlis (Wakil Rektor UNJ), dan Kosman Marbun (Dinas Pendidikan DKI Jakarta).

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta Djaali dan ia merespon positif kegiatan ini. (Red: Mahbib)

Rabu 4 Mei 2016 12:0 WIB
Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama
Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama
Banyuwangi, NU Online
Peristiwa tragis yang menimpa Yuyun (14), pelajar SMP di Bengkulu mengundang simpati dan keprihatinan banyak pihak, termasuk para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Puluhan pelajar Pimpinan Cabang IPNU Banyuwangi melaksanakan shalat ghaib dan doa bersama untuk almarhumah Yuyun. Selain itu, juga memanjatkan doa untuk seluruh pelajar Indonesia agar kasus sejenis tak muncul kembali.

“Sebagai bentuk solidaritas dan komitmen kita di dunia pendidikan, kita mendoakan almarhumah Yuyun agar diterima di sisi-Nya dan ke depannya tak ada lagi kasus-kasus demikian menimpa pelajar di Indonesia,” tutur Yahya Muzakki, Ketua PC IPNU Banyuwangi usai doa bersama di Masjid Al-Mujahirin, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi, Selasa malam (3/5).

Kasus Yuyun, menurut Yahya, bukan sekadar kasus kriminal biasa. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap dunia pendidikan Indonesia. Apalagi mengingat para pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun terhitung masih berusia pelajar, yakni 16 sampai 20 tahun.

“Ini pukulan telak bagi dunia pendidikan Indonesia. Peserta didik tidak hanya menjadi korban, tapi kini mulai merambah menjadi pelaku,” ujar Yahya.

Oleh karena itu, terang Yahya, aktivis IPNU bersama IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) terus menyuarakan toleransi, anti-kekerasan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di kalangan pelajar Banyuwangi. “Kita terus mendampingi pelajar Banyuwangi,” imbuh Yahya.

Sementara itu, angka kekerasan seksual yang menimpa anak-anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 kemarin ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 59,3 persen di antaranya merupakan kasus kejahatan seksual. Angka ini naik dari 2.726 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2014, yang 56 persen di antaranya pelecehan seksual. Ironisnya, hanya 179 kasus yang dilaporkan.

Ragam kekerasan anak berupa kekerasan fisik, penelantaran, penganiayaan, perkosaan, adopsi ilegal, penculikan, perdagangan anak untuk eksploitasi seksual. KPAI mencatat bahwa pelaku kekerasan anak adalah anggota keluarga, tetangga, teman, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Dari kasus itu tindak kekerasan terjadi di ruang privat sebesar 62 persen dan ruang publik seperti rumah, sekolah, panti asuhan, lembaga keagamaan sebanyak 38 persen. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG