IMG-LOGO
Nasional

Uni Eropa Kerja Sama dengan NU Kembangkan Islam Nusantara

Selasa 10 Mei 2016 4:7 WIB
Bagikan:
Uni Eropa Kerja Sama dengan NU Kembangkan Islam Nusantara
Jakarta, NU Online
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Guerend mengatakan Uni Eropa dan Indonesia bersama melawan paham radikalisme dan ekstrimisme yang disertai dengan kekerasan.

"Uni Eropa ingin tetap mengadakan kerja sama dengan Indonesia baik lewat kerja sama bilateral maupun G-20 mengenai berbagai permasalahan global, serta kerja sama berbagai bidang seperti bidang ekonomi, lingkungan hidup dan upaya menciptakan perdamaian, kestabilan di seluruh dunia serta memerangi kekerasan dan ekstrimisme," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Guerend saat jumpa pers "Bulan Eropa 2016" di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan penting melawan radikalisme dan ekstrimisme demi menciptakan perdamaian dan kestabilan wilayah.

Kepala Politik, Pers, dan Informasi Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Julio Arias mengatakan Uni Eropa dan Indonesia bekerja sama dalam kegiatan mendorong toleransi kebebasan beragama. 

"Uni Eropa memiliki proyek kerja sama dengan pesantren untuk membantu mengembangkan kurikulum untuk menegakkan toleransi," ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan Uni Eropa juga bekerja sama dengan Nahdatul Ulama untuk mengembangkan toleransi dalam rangka pengembangan Islam Nusantara. 

Kemudian, Kepala Kerja Sama ("Head of Cooperation") Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Franck Viault menambahkan Uni Eropa dan Indonesia juga bekerja sama dalam bidang demokrasi dan hak asasi manusia.

Ia mengatakan laporan tahunan kerja sama Uni Eropa dan Indonesia akan disampaikan dalam peluncuran "Blue Book" Uni Eropa-Indonesia 2016 pada 11 Mei 2016.

Peluncuran buku itu sebagai rangkaian kegiatan "Bulan Eropa" dalam rangka memperingati berdirinya Uni Eropa, yang berisikan berbagai proyek kerja sama Uni Eropa dan Indonesia seperti di bidang pendidikan, pengembangan masyarakat madani, hak asasi manusia dan pembangunan berkesinambungan.

Setelah peluncuran, Uni Eropa dan perwakilan pemerintah Indonesia serta pihak lain seperti komunitas masyarakat, komunitas internasional dan mahasiswa akan menghadiri diskusi panel tentang tata kelola pemerintahan yang baik yang bertemakan "Promoting good governance: transparency and accountability". (Antara/Mukafi Niam)
Tags:
Bagikan:
Selasa 10 Mei 2016 16:35 WIB
Isomil Berakhir dengan “Deklarasi Nahdlatul Ulama”
Isomil Berakhir dengan “Deklarasi Nahdlatul Ulama”

Jakart, NU Online
Forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, akan berakhir dengan pembacaan naskah “Deklarasi Nahdlatul Ulama”, Selasa (10/5). Di hadapan pertemuan internasional para pemimpin Islam moderat ini PBNU akan menyerukan sejumlah komitmen, harapan, dan gagasan Islam Nusantara.

Naskah tersebut dirumuskan setelah berkonsultasi dan berdikusi secara ekstensif bersama banyak ahli dari berbagai bidang yang ikut serta dalam Isomil yang diikuti para pemimpin Islam dari berbagai negara.

Hadir dalam perhelatan yang mengusung tema “Islam Nusantara, Inspirasi untuk Peradaban Dunia” tersebut ulama dunia antara lain dari  Sudan, Libia, Aljazair, India, Rusia, Maroko, Thailand, Inggris, Senegal, Lithuania, Spanyol, Yunani, Korea Selatan, Yordan, Pakistan, Malaysia, Tunisia, Saudi Arabia, dan lain-lain.

Hingga berita ini dimuat, prosesi upaca penutupan masih berlangsung. Para ulama mancanegara dengan khusyuk berdiri dan membaca shalawat badar. Pada kesempatan inilah "Deklarasi Nahdlatul Ulama" yang terdiri dari 16 butir dikumandangkan.

Sebelumnya, PBNU menggelar pertemuan terbatas dengan para ulama dari berbagai negara tersebut untuk menerima masukan dan diskusi dalam rangka perumusan narkah "Deklarasi Nahdlatul Ulama" pada Selasa siang. Sejumlah pemimpin Islam tersebut mengemukakan pandangannya secara bergantian.

Isomil merupakan forum inisiatif PBNU yang didorong atas keprihatinan NU terhadap situasi dunia Islam yang dilingkupi perpecahan, bahkan perang saudara. Lewat forum ini, NU berharap hal-hal positif dari Islam di Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam dari berbagai belahan dunia. (Mahbib)

Selasa 10 Mei 2016 15:30 WIB
Habib Luthfi: Santri Jangan Belajar Halal-Haram Saja
Habib Luthfi: Santri Jangan Belajar Halal-Haram Saja
Grobogan, NU Online
Mempelajari ilmu fiqih dan ilmu kalam adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam, termasuk kalangan santri. Namun, santri harus pula aktif menggali keilmuan lain yang juga bersumber dari kitab suci.

“Belajar halal haram itu pokok, belajar sifat wajib-jaiz (Allah) itu kewajiban. Namun (santri) harus belajar kandungan Al-Qur’an yang juga berisi ilmu astronomi, antariksa, sebagaimana yang tersebut dalam surat Al-Qur’an,” jelas Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya dalam acara Maulid  Nabi Muhammad SAW di Latak, Godong, Grobogan, Jawa Tengah, Senin (9/5).

Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Nahdlatul Ulama ini memberi alasan masyarakat Indonesia tertinggal karena kurang mempelajari perkembangan. “Islam itu kaya, namun ustadz dengan ustadz saling diam, habaib dengan habaib tidak akur. Bahasannya (yang dibahas) pilkada 5 tahunan terus. Kalau tidak itu, kita ribut talqin, tahlil, maulud, manaqib terus,” katanya.

Selain mencontohkan beberapa ayat Al-Qur’an yang membahas tentang ilmu alam, falak dan beberapa sudut ilmu lain, Habib Luthfi juga mengisahkan tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ia berkisah bahwa Nabi Muhammad menjalani perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha.

“Kenapa Masjidil Aqsha? Karena di Masjidil Aqsha banyak sejarah para nabi terdahulu yang ada di sana. Ini menunjukkan bahwa Nabi diajari Allah untuk mempelajari sejarah,” paparnya.

Oleh karena itu, imbuhnya, supaya masyarakat Indonesia tidak kehilangan obor, semua warga harus menghargai para pendahulu. “Merdeka itu tidak gratis, Pancasila itu gagasan para ulama. Enak saja mau membubarkan, tidak berjuang apa-apa, tapi inginnya membubarkan,” tuturnya.

Di hadapan ribuan pengunjung yang hadir, dengan gelora semangat yang menggebu Habib Luthfi berpesan bahwa NKRI harga mati. Namun untuk membelanya masyarakat diimbau untuk tidak sampai main hakim sendiri. (Mundzir/Mahbib)

Selasa 10 Mei 2016 15:0 WIB
ISOMIL
Mengapa Para Ekstremis Begitu Masif Adakan Propaganda di Dunia Maya?
Mengapa Para Ekstremis Begitu Masif Adakan Propaganda di Dunia Maya?
Dr Nico Prucha
Jakarta, NU Online
Pengamat terorisme dan radikalisme global Nico Prucha menjelaskan bahwa propaganda ISIS begitu masif di dunia maya. Dia mengungkapkan, ISIS menyebarkan dua video setiap harinya. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Interntional Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Gedung JCC Senayan Jakarta, Selasa (10/5).

Doktor Universitas Wina Austria ini mengatakan bahwa video-video yang diunggah oleh ISIS 95 persen menggunakan bahasa arab dan selebihnya menggunakan bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan bahasa-bahasa internasional lainnya. ISIS, menurut Nico, menggunakan salah satu hadis Nabi untuk membenarkan apa yang mereka lakukan, yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi: “Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab,” tegas Nico.

Bagi Nico, ada dua alasa mengapa ISIS merilis video dan mengunggahnya ke dunia maya. Pertama, mereka ingin memaksa orang non-muslim untuk pindah dari negara Irak dan Suriah. “Mereka memusuhi orang Syi’ah, terutama rafidhah. Mereka (ISIS) menganggap Syiah rofidhoh bukan Islam,” jelasnya.

Kedua, mereka ingin memberitahukan pada dunia bahwa apa yang mereka lakukan itu ada dan didukung oleh Al-Quran, Hadis, dan pendapat para ulama. “Mereka mengunakan dalil-dalil dari Al Quran, Hadis, pendapat ulama, dan fiqih secara umum (di dalam videonya),” terangnya. 

“Mereka menamakan ini sebagai fiqih jihad yang benar sebagaimana Hadis Nabi di atas,” lanjut pria yang juga fasih berbahasa Arab ini.

Menurutnya, Barat memiliki pandangan yang berbeda tentang Islam sebelum dan setelah peristiwa 11 September 2001 lalu.
“Sebelum peristiwa 11 September, bagaimana pendapat anda tentang agama Islam Arab? Mereka (orang Barat) akan menjawab kalau Islam itu sebuah agama sebagaimana agama Yahudi dan Kristen,” ceritanya. Namun, imbuh Nico, setelah peristiwa 11 September, pandangan Barat tentang Islam berubah dan menjadikan Islam sebagai agama teroris.

“Setelah kejadian-kejadian terorisme yang tersebar di media, jawaban mereka (orang Barat) menjadi berubah,” tandasnya. 
Senada dengan Nico, salah satu pembicara yang lain Laurent Booth menyesalkan berbagai perlakukan diskriminasi yang dilakukan oleh Barat terhadap orang Islam. “Apa yang mereka inginkan dari kita?” ucap adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang telah memeluk Islam ini.

 Laurent yang kini aktif mengampanyekan Islam damai di seluruh dunia ini juga berharap kepada umat Islam yang datang dan menetap di Eropa untuk terus menjaga dan mempertahankan identitasnya sebagai orang Islam. “Di Eropa, kenapa anda harus menghilangkan bahasa anda, harus menghilangkan identitas anda?” kata Laurent.

Lebih lanjut, perempuan yang kini bersuami orang pakistan ini mengajak umat Islam untuk menyuarakan pendapat untuk menghentikan peperangan yang terjadi di Timur Tengah. “Kita harus bicara pada Eropa untuk menghentikan peperangan, karena itu (peperangan) akan melanggengkan ekstrimisme,” tandasnya.

Diskusi sesi ketiga ini dimoderatori oleh Sri Mulyati, dan yang menjadi narasumber adalah Laurent Booth (Inggris), Virginia Gray Henry (Amerika Serikat), dan Nico Prucha (Swiss). (Muchlishon Rochmat/Fathoni) 



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG