IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional
EKSPEDISI ISLAM NUSANTARA (56)

Ekspedisi Islam Nusantara, Perjalanan Spiritual Sabang-Merauke

Sabtu 28 Mei 2016 15:0 WIB
Bagikan:
Ekspedisi Islam Nusantara, Perjalanan Spiritual Sabang-Merauke
Salah satu tempat yang diziarahi Ekspedisi Islam Nusantara

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rumadi Ahmad berharap kepada tim Ekspedisi Islam Nusantara untuk mendokumentasikan pengalaman perjalanan baik secara pribadi maupun tim, kemudian disajakan dengan baik untuk dinikmati khalayak.

“Tantangan perjalanan Ekspedisi Islam Nusantara, menurut saya, bagaimana hasil ini dinikmati orang. Apakah itu dalam bentuk tulisan, film, atau fotografi,” katanya saat kebetulan bertemu di bandara Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, ketika ia akan bertolak ke Jakarta Selasa sore (24/5).

Menurut dia, sajian dalam berbagai bentuk itu akan menjadi tolok ukur keberhasilan Ekspedisi Islam Nusantara. “Apa yang diperoleh dari pengalaman perjalanan tentan keragaman dari Sabang sampai Merauke dikemas disajikan ke masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat menyadari bahwa kita punya kekayaan yang luar biasa,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pengalaman yang diperoleh tim ekspedisi pasti sangat luar biasa karena bisa mendatangi tempat-tempat baru berinteraksi dengan orang-orang, melihat Islam yang tumbuh di berbagai tempat yang memiliki sejarah berbeda dengan tempat lain.

Selama ini, sambung dia, kita menyebut-nyebut Islam Nusantara, tapi jarang mendatangi, melihat langsung dan merasakan apa yang ada di lapangan. “Ini perjalanan spiritual yang bisa memperkuat spiritualitas dan keyakinan keislaman nusantara, sesuatu yang harus disyukuri,” kata Komisioner Komisi Informasi Pusat ini.  

Namun demikian, Ekspedisi Islam Nusantara ini harus dijadikan sebagai rintisan. Artinya, harus dilanjutkan dengan ekspedisi-ekspedisi lain dengan sasaran yang lebih khusus dan bisa dengan peserta berbeda, misalnya para santri. “Bagi saya, ekspedisi ini merajut Islam dari ujung barat sampai timur. Ini penting dilakukan. Dan menurut saya, kegiatan ini pertama kali dilakukan pemuda NU yang didukung PBNU,” pungkasnya.

Ketua Ekspedisi Islam Nusantara Imam Pituduh mendengar langsung apa yang diharapkan Rumadi. Menurut Imam, memang target utama Ekspedisi Islam Nusantara adalah seperti itu.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU ini mengatakan, akan ditambahkan pula sajian yang dikemas dalam bentuk ensiklopdia. “Sajian itu nantinya akan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa,” katanya.

Sehingga, katanya, jika ada orang atau peneliti yang ingin mengetahui Islam Nusantara paling tidak bisa melihat foto, video, catatan perjalanan dan ensiklopedi karya dari Ekspedisi Islam Nusantara ini.

Ia menambahkan, dalam perjalanan ini, tim Ekspedisi Islam Nusantara selalu berziarah ke makam-makam wali, penyebar Islam, bersilaturahim dengan pemuka agama, mendatangi masjid, dan istana kerajaan Islam, serta pondok pesantren. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Sabtu 28 Mei 2016 23:25 WIB
PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga
PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga
Jakarta, NU Online
Kebendaharaan dan Kesekretetariatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan rapat koordinasi penerapan manajemen satu pintu. Acara berlangsung di Lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat Jumat (27/5) sore dihadiri perwakilan pengurus pusat badan otonom (banom) dan lembaga NU.

Wakil Bendahara PBNU Umar Syah HS mengatakan kebendaharaan dan kesekretariatan adalah dua elemen penting untuk NU dan struktur yang berada di bawahnya. Kedua elemen ini menjadi motor penggerak organisasi.

Agar organisasi berfungsi secara optimal, lanjut Umar, diperlukan ketentuan atau tatanan yang jelas yang tidak  hanya dipahami oleh elemen kebendaharaan dan kesekjenan, tetapi juga oleh semua pihak.

Aturan itu juga harus dipahami semua pihak dan baru berjalan ketika dituangkan dalam Standar Operasional (SOP) dan Peraturan Organisasi (OP) yang perlu disosialisasikan. Target sosialisasi ini adalah pemahaman dan semangat serta kemauan banom untuk menjalankannya. Bila diterapkan oleh semua pihak, maka roda organisasi akan berjalan dengan baik.

Sejauh ini, SOP sudah diberlakukan dan bisa menjadi Peraturan PBNU setelah dilakukan pembahasan dan diputuskan dalam konferensi besar PBNU.

Manajemen satu pintu bagi banom NU melalui kesekretariatan dan kebendaharaan. Dalam hal administrasi dalam kaitan antara internal dan eksternal banom, seluruh surat menyurat harus melalui Kesekjenanan.

Demikian juga dalam keuangan atau penggalian dana harus melalui bendahara. Uang masuk harus melalui bendahara, uang keluar juga melalui bendahara sehingga terkontrol dengan baik.

Manajemen satu pintu hendaknya tidak disalahartikan, karena kebijakan tersebut bukan berarti seluruh banom dikuasai oleh Kesekjenan dan Kebendaharaan. Pemberlakukan manajemen satu pintu bermakna bahwa secara manajemen semua harus masuk di dalam sistem.

Senada dengan hal di atas, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ir Suwadi D. Pranoto mengungkapkan salah satu agenda penting dalam rapat koordinasi ini adalah sosialiasi kaderisasi masing-masing lembaga agar tidak ada materi yang overlap atau belum ada, supaya dari sisi pembiayaan dan waktu tidak tumpang tindih. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Sabtu 28 Mei 2016 21:40 WIB
Ketua FKB DPR Siap Ajukan RUU Pengelolaan Pesantren
Ketua FKB DPR Siap Ajukan RUU Pengelolaan Pesantren
Jombang, NU Online
Ketua FKB DPR Ida Fauziyah akan mengajukan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan dan Pengembangan Pesantren lantaran selama ini madrasah kerap mendapat perlakuan tidak proporsional dari berbagai kalangan.

Kesanggupan ini disampaikan politisi alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Jombang yang lebih dikenal dengan Pesantren Tambakberas saat menjadi pembicara pada seminar nasional di pesantren setempat, Sabtu (28/5).

Pada seminar bertema "Quo vadis madrasah dalam menyiapkan sumberdaya manusia di era tuntutan global" tersebut, mantan Ketua Umum Fatayat NU ini menjelaskan tiga persoalan krusial di lembaga pendidikan madrasah. Dari mulai keterbatasan finansial, menejemen, hingga regulasi.

Masalah pembiayaan misalnya, ada ketimpangan dalam komposisi anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Kementerian Pendidikan dengan lembaga pendidikan di lingungan Kementerian Agama. "Dalam hal pembiayaan (pendidikan) oleh negara, komposisinya tidak setara. Perbandingannya antara 80 persen dan 20 persen," ujar Ketua LKKNU ini.

Padahal, lanjut dia, sebagian besar sekolah berlabel madrasah, sejak awal pendirian, pengelolaan dan pembiayaannya berasal dari masyarakat. "Dari jumlah madrasah di Indonesia, sembilan puluh persen adalah sekolah yang didirikan masyarakat. Dengan madrasah, negara banyak diuntungkan karena besarnya peran masyarakat," ungkapnya.

"Pada sisi kewajiban, pendidikan adalah tanggung jawab negara. Tetapi kenapa negara justru sangat sedikit anggaran pendidikan untuk madrasah," tandas Ida.

Permasalahan ketimpangan anggaran pendidikan pada lembaga pendidikan madrasah dan non-madrasah, diantaranya adalah masalah regulasi. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutnya, tak cukup memadai bagi penyelenggaraan pendidikan melalui madrasah.

"Kami mohon dukungannya, masukan dan petunjuknya. Kami sudah menyiapkan naskah akademiknya untuk menjadi draf RUU pengelolaan dan pengembangan madrasah. Target kami, tahun 2017, draf RUU tentang pengembangan madrasah sudah bisa diajukan," ungkap Ida.

Dengan terbitnya undang-undang tentang pengelolaan dan pengembangan madrasah, tambahnya, diharapkan bisa menyelesaikan problem penganggaran untuk madrasah yang seringkali terbentur aturan keuangan. "Ini menjadi ikhtiar kita untuk mengembangkan madrasah. Harapan kami, nantinya fraksi lain setuju, DPR dan presiden setuju dan akhirnya menjadi Undang-undang," katanya.

Pada seminar yang berlangsung di Aula Pesantren Tambakberas tersebut tampil Ketua PW LP Ma'arif NU Jatim dan Rektor UIN Maliki Malang. (Ibnu Nawawi/Zunus)
Sabtu 28 Mei 2016 20:2 WIB
Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad
Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad
Tanda walima di Masjid Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai
Ekspresi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dilakukan umat Islam Gorontalo dengan membuat walima. Biasanya mereka menggelar parade kue walima atau sesajian kue tradisional yang ditata berbentuk aneka hiasan.

Kepala Bidang Pariwisata Provinsi Gorontalo Resma Kabakoran, walima adalah ada kue yang disusun-susun dari kue tradisional khas gorontalo semisal kolombengi, wapili, tutulu, telor ayam rebus, ayam panggang sendiri. Kemudian diarak ke masjid, kemudian melakukan doa bersama.

Pada perkembangannya sekarang, walima yang dibentuk menyerupai rumah, atau masjid ini sering diarak keliling kota sehingga menjadi pusat perhatian warga. Setelah diarak kemudian dibagikan kepada warga.mereka kemudian berusaha dan saling berlomba memperebutkannya. Warga, terdiri dari orang tua, muda, wanita, dan anak-anak, rela berdesakan hingga ada yang terjatuh.

Bagi warga Gorontalo, walima merupakan berkah dan ungkapan rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. Menurut Resama, setiap perayaan Maulid Nabi, warga dengan sukarela membuat kue walima.

Sebagai apresiasi kepada kegiatan tersebut, kemudian Pemerintah Kota Gorontalo setiap tahun mengagendakan parade walima. Parade Walima diikuti oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi swasta, dan sekolah di Gorontalo, serta warga.

Walima tersebut diekspresikan dalam sebuah masjid yang bernama Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo. Di beberapa sudut dan di tengah bagian atap masjid tersebut terdapa walima berwarna emas.

Ekspedisi Islam Nusantara pada Rabu (25/5) mengunjungi masjid yang didirikan di ujung sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 250 kaki di atas permukaan laut. Dari masjid tersebut tim ekspedisi bisa menyaksikan pemandangan laut dengan perahu-perahu kecil, rumah-rumah penduduk dan bebukitan yang masih hijau.

Menurut warga sekitar masjid tersebut digagas Yosep Tahir Ma’ruf, pria asli dari Desa Bongo. Masjid yang berukuran kira-kira 10 kali 10 meter tersebut dibangun mulai tahun 2008.(Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG