IMG-LOGO
Fragmen

Pendekatan Dakwah KH Ahmad Rifa'i Kalisalak di Era Kolonial

Ahad 29 Mei 2016 16:1 WIB
Bagikan:
Pendekatan Dakwah KH Ahmad Rifa'i Kalisalak di Era Kolonial
Kendati ulama kelahiran Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah ini hidup pada abad 18 M (lahir: 1786 dalam versi lain 1785), namum nama dan ketokohan KH Ahmad Rifa'i belum begitu masyhur di kalangan umat Islam Nusantara. Tapi sejak Presiden Susilo Bambang Yudoyono memberikan gelar kehormatan kepadanya sebagai Pahlawan Nasional, melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004, namanya kian dikenal luas. Sejak itu lebih banyak lagi sejarawan dan penulis yang berminat untuk menggali lebih lanjut tentang kiprah perjuangan dan dedikasi KH Ahmad Rifa'i untuk umat Islam dan Tanah Air.

Tiap-tiap ulama dan kiai meski memiliki tujuaan dan misi yang sama dalam memperjuangkan ajaran agama Islam, namun jalan atau pendekatan yang mereka tempuh berlainan satu sama lain, menyesuaikan dengan konteks demografi umatnya. KH A Rifa'i Kalisalak juga mempunyai strategi dakwah dan pendekatan perjuangan yang khas.

Sejak remaja, jauh sebelum beliau berangkat haji dan sekaligus studi ke Makkah pada usia 30 tahun (tahun 1833 menurut salah satu versi), Ahmad Rifa'i telah giat melakukan dakwah keliling di wilayah Kendal dan sekitarnya. Dakwah dan pengajiannya cukup menarik dengan menggunakan syair ditambah dengan sikapnya yang antipemerintah kolonial. Sebelum pengajiannya diketahui pemerintah kolonial, ia telah berhasil menggalang kekuatan dari santri serta simpatisannya sehingga ketika kemudian pindah ke Kalisalak (pedalaman Batang, Jawa Tengah) ia sudah mempunyai jaringan pengikut yang tersebar di daerah Kendal dan sekitarnya seperti Wonosobo, Pemalang, Pekalongan, dan Batang.

Dalam berdakwah ia tidak segan-segan menghujat penguasa kolonial dan birokrat pribumi yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial. Ia memandang pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir dan sumber kerusakan yang terjadi pada masyarakat Jawa pada masa itu. Ia mengobarkan semangat pada masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial dan mengatakan bahwa perang melawan penguasa kafir serta antek-anteknya sebagai perang sabil (jihad fisabilillah), jika gugur akan mati syahid (Jamil, 2001: 13).

Di Kalisalak (sekarang masuk Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah) yang merupakan domisili terakhir sebelum diasingkan ke Ambon, KH Ahmad Rifa'i tetap melakukan kecaman dan protes terhadap pemerintah dan birokrat pribumi. Tindakan ini tentu sangat meresahkan pemerintah kolonial yang menganggap sikap militan KH Ahmad Rifa'i sebagai ancaman. Kekhawatiran serupa melanda birokrat pribumi yang khawatir kedudukan dan otoritasnya terancam.

Berikut ini adalah kutipan pernyataan KH Ahmad Rifa'i dalam Nazham Wiqayah, salah satu kitab karangannya: Slameta dunya akherat wajib kinira. Ngalawan raja kafir sakuasane kafikira. Tur perang sabil luwih kadane ukara. Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara. Artinya: Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan. Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan. Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan. Cukup, tidak menggunakan pasukan yang besar (Adabi Darban:1990).

Pernyataan sikap yang serupa juga dikemukakannya terhadap para birokrat pribumi, seperti yang terdapat pada syair dalam Nazham Wiqayah berikut ini: Sumerep badan hina seba ngelangsur. Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur. Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan. Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan maring rojo kafir pada asih anutan Haji, abdi, dadi tulung maksiyat. Nuli dadi khotib ibadah. Maring alim adil laku bener syareate Sebab khawatir yen ora nemu derajat Ikulah lakune wong munafik imane suwung. Anut maksiyat wong dadi Tumenggung.

Artinya, melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap. Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa. Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar. Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan kepada raja kafir senang jadi pengikut termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan. Kemudian menjadi qadhi khotib ibadah. Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat. Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan. Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung (Adabi Darban: 1990).

Protes di atas disampaikan kepada santrinya di Pesantren Kalisalak maupun melalui pengajian dan khutbahnya di masjid.

Gerakan protes yang dilakukan KH Ahmad Rifa'i dengan mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir, penindas, patut diperangi dan sumber kerusakan di Jawa terbukti berhasil menimbulkan kekisruhan yang dapat menimbulkan guncangan stabilitas pemerintahan di Jawa dan dikhawatirkan memunculkan gerakan anti-penjajah, meskipun tidak sampai menimbulkan pemberontakan fisik. Hal ini membuat KH Ahmad Rifa'i dijadikan musuh bersama oleh Belanda dan aparat birokrasi tradisional. Segala daya dan upaya dilakukan untuk meniadakan KH Ahmad Rifa'i dan jama'ahnya dengan tuduhan bahwa ajarannya sesat dan menyesatkan.

Lebih spesifik, dalam kaitannya dengan upaya dakwah yang dilakukannya, supaya memperoleh hasil maksimal, menurut Ahmad Syadzirin Amin (1990), ada tujuh metode dakwah yang dikembangkan oleh KH Ahmad Rifa'i, yaitu:

1. Menerjemahkan Al-Qur'an, Hadits dan kitab-kitab berbahasa Arab karangan ulama terdahulu ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon berbentuk nazham atau syair.
2. Mengadakan kunjungan silaturahmi dari rumah ke rumah famili dan masyarakat.
3. Menyelenggarakan pengajian umum dan dakwah keliling ke daerah yang penduduknya miskin secara materi dan agama guna membendung budaya asing.
4. Menyelenggarakan dialog di masjid atau di langgar (mushala).
5. Mengadakan kegiatan kesegaran jasmani bagi pemuda
6. Mengadakan gerakan protes sosial keagamaan terhadap birokrat pribumi dan Belanda
7. Untuk mempererat hubungan antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid, biasa dilakukan pulapernikahan sesama murid, anak guru dengan murid.

KH Ahmad Rifa'i Kalisalak wafat pada 1870 dalam usia 84 tahun. Dimakamkan di komplek makam pahlawan nasional Kiai Mojo di Tondano Minahasa, Manado.

Dalam paparan fragmen di atas tentu penulis baru sebatas memaparkan secara parsial saja salah satu pendekatan dakwah yang ditempuh oleh KH Ahmad Rifa'i. Sementara aspek lain seperti produktivitas menulis kitab dan menerjemahkan ke bahasa Jawa, praktik belajar mengajar dengan para santrinya memerlukan topik fragmen tersendiri. (M. Haromain)

Disarikan dari berbagai sumber, di antaranya:
Ahmad Syadzirin Amin, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa'i dalam Menentang Kolonial Belanda, (Jamaah Masjid Baiturrahman Jakarta Pusat: 1996), Jakarta.
Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan KH Ahmad Rifa'i (Lkis: 2001), Yogyakarta

Bagikan:
Kamis 26 Mei 2016 9:27 WIB
Sejarah di Balik Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Sejarah di Balik Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Perjuangan memerdekakan Indonesia dari kolonialiasme telah melalui tahapan dan usaha yang panjang tetapi matang. Selain perjuangan fisik, bangsa Indonesia secara gigih mampu membangun pondasi kemerdekaan dengan merumuskan dasar dan ideologi negara melalui persiapan-persiapan yang dilakukan oleh para tokoh bangsa dengan wadah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada Maret 1945 dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada Agustus 1945.

Sejarah mencatat, ketika Jepang semakin terdesak dalam Perang Dunia II, Pemerintah Pendudukan Bala Tentara Jepang di Jawa melalui Saiko Syikikan Kumakici Harada mengumumkan secara resmi berdirinya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1 Maret 1945 yang berjumlah 69 anggota. KRT Radjiman Wedyodiningrat (seorang tokoh Budi Utomo) ditunjuk sebagai Ketua. Walaupun badan ini dibentuk oleh Jepang, bagi para pemimpin perjuangan yang duduk di dalamnya, badan ini diarahkan untuk kepentingan kehidupan bangsa.

BPUPKI menggelar dua kali sidang. Sidang pertama dibuka pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 di gedung Cuo Sangi In dan 10-16 Juli 1945. Sidang pertama menetapkan Dasar Negara Pancasila dan sidang kedua menetapkan rancangan UUD 1945. Dalam sidang pertama, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1945, Mohamad Yamin mengucapkan pidato yang berisi tentang asas-asas yang diperlukan sebagai dasar negara. Pada sidang tanggal 31 Mei, Soepomo juga mengungkapkan uraian tentang dasar-dasar negara. Akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno secara gagah menyodorkan 5 poin yang diusulkan menjadi dasar negara. Pada saat itu, ia jugalah yang pertama kali menyebut “Pancasila” untuk 5 dasar yang diajukannya itu.

Persiapan yang dilakukan oleh para tokoh bangsa termasuk salah satu perumus Pancasila KH Abdul Wahid Hasyim dari kalangan tokoh agama tidak lantas membuat mereka optimis dalam menyiapkan kemerdekaan. Hal ini diungkapkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam salah satu kolomnya berjudul Kemerdekaan: Suatu Refleksi (Aula, 1991: 41).

Dalam tulisan tersebut, Gus Dur menjelaskan dalam konteks usaha susah payah para tokoh bangsa dalam menyiapkan kemerdekaan. Mantan Presiden ke-4 RI ini mengatakan bahwa pada sidang lanjutan tanggal 1 Juni 1945 para pemimpin rakyat peserta sidang kebanyakan masih menyangsikan kemampuan bangsa Indonesia untuk merdeka. Meskipun demikian, dalam kesangsian sikap itu, justru dimanfaatkan oleh para tokoh bangsa sebagai energi positif untuk dapat merumuskan dasar negara. Artinya, kesangsian yang timbul bukan semata dari semangat perjuangan, tetapi dari pergolakan politik yang masih berkecamuk saat itu.

Namun demikian, Gus Dur menegaskan akhirnya para pemimpin rakyat itu melalui perjuangan jiwa, raga, dan pikiran berhasil memerdekakan Indonesia dua bulan kemudian (17 Agustus 1945). Dalam konteks ini, Gus Dur ingin menyampaikan bahwa esensi kemerdekaan bukan hanya lepas dari penjajahan, tetapi juga terbangun persamaan hak (equality) di antara seluruh bangsa Indonesia yang majemuk. Secara tegas, Gus Dur mengatakan bahwa musuh kemerdekaan bukanlah terutama kekuasaan masyarakat dan negara, melainkan kesewenang-wenangan dalam penggunaan kekuasaan itu.

Peran strategis KH Wahid Hasyim dalam perumusan Pancasila

Jika balik lagi memperhatikan proses penyusunan dasar negara berupa Pancasila dan UUD 1945, apa yang dijelaskan oleh Gus Dur, itulah misi yang dibawa oleh para pemimpin rakyat agar dasar negara merupakan pondasi kokoh yang mengakomodasi kemerdekaan seluruh anak bangsa, bukan hanya Islam yang merupakan umat mayoritas. Seperti diketahui bahwa Tim 9 (sembilan) perumus dasar negara yang terdiri dari Soekarno, Muh. Hatta, A.A. Maramis, KH A. Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo dan Muh. Yamin, merumuskan salah satu bunyi Piagam Jakarta yaitu: “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari'at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Sebelum Pembukaan/Muqaddimah (Preambule) disahkan, pada tanggal 17 Agustus 1945 Mohammad Hatta mengutarakan aspirasi dari rakyat Indonesia bagian Timur yang mengancam memisahkan diri dari Indonesia jika poin “Ketuhanan” tidak diubah esensinya. Akhirnya setelah berdiskusi dengan para tokoh agama di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wahid Hasyim, dan Teuku Muh. Hasan, ditetapkanlah bunyi poin pertama Piagam Jakarta yang selanjutnya disebut Pancasila itu dengan bunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Tokoh ulama yang berperan menegaskan konsep Ketuhanan yang akomodatif itu adalah KH Wahid Hasyim, ulama muda NU putra KH Hasyim Asy’ari yang juga tak lain ayah Gus Dur. Menurut Gus Wahid saat itu, “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak konsep tersebut dalam Pancasila. Artinya, dengan konsep tersebut, umat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama artinya mempraktikan Syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak ada sikap intoleransi kehidupan berbangsa atas nama suku, agama, dan lain-lain.

Pancasila yang akomodatif dalam konteks sila Ketuhanan tersebut mewujudkan tatanan negara yang unik dalam aspek hubungan agama dan negara. Dalam arti, negara Indonesia bukanlah negara sekuler dan bukan pula negara Islam, melainkan negara yang berupaya mengembangkan kehidupan beragama dan keagamaan (Einar Martahan Sitompul, 2010: 91). Jika saat ini ada sebagian kelompok Islam yang menolak Pancasila, bisa dikatakan dengan tegas bahwa mereka tidak ikut berjuang merumuskan berdirinya pondasi dan dasar negara ini. 

Peran Kiai Wahid Hasyim bukan hanya mampu menjabarkan Pancasila secara teologis dan filosofis terhadap rumusan awal yang diajukan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945, tetapi juga menegaskan bahwa umat Islam Indonesia sebagai mayoritas menunjukkan sikap inklusivitasnya terhadap seluruh bangsa Indonesia yang majemuk sehingga Pancasila merupakan dasar negara yang merepresentasikan seluruh bangsa Indonesia. 

Menurut salah satu Sejarawan NU, Abdul Mun’im DZ (2016), tidak bisa dipungkiri bahwa dalam menjabarkan Pancasila, Kiai Wahid berangkat dari tradisi dan keilmuan pesantren, sehingga bisa dikatakan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Di titik inilah menurut Mun’im, NU dan seluruh bangsa Indonesia bukan hanya wajib mengamalkan, tetapi juga wajib mengamankan Pancasila.

(Fathoni Ahmad)

Selasa 17 Mei 2016 7:0 WIB
Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya
Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya
Beberapa lama setelah berada di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang di tahun-tahun 1972-1974, selain mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai menekuni kembali bakat menulisnya dan menjadi kolomnis di berbagi media massa nasional. Pada kurun ini tulisannya kerap bermunculan di berbagai media massa mulai dari majalah nasional umum seperti Tempo hingga majalah islami seperti Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka.

Selain memiliki kelebihan-kelebihan lainnya yang sudah jamak diketahui publik,  salah satu dari kemampuan lainnya Gus Dur yang menonjol bahkan sedari kanak-kanak adalah menulis. Di majalah Tempo sejak tahun 1970-an sampai 1980-an, ia kerap datang sendiri untuk menulis kolomnya. Begitu produktifnya hingga tulisan yang satu belum dimuat, sudah ada lagi tulisan yang lain. Produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Muhammad, pemimpin redaksi Tempo waktu itu mengambil inisiatif untuk menyediakan satu meja khusus plus mesin ketik untuknya. Hampir tiap minggu Gus Dur menulis. Menurut pengakuannya dalam suatu wawancara di televisi, itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Dalam menulis Gus Dur mempunyai banyak ide. Hal-hal yang bagi orang lain dipandang sepele dan remeh temeh, dibuatnya menjadi penting.  Keluasan wilayah pemikirannya mengagumkan banyak orang dan sulit untuk diimbangi. Dibanding dengan cendekiawan atau penulis lain, spektrum  perhatian Gus Dur masih jauh lebih luas. Tulisannya tidak hanya masalah-masalah agama dan sosial politik, melainkan juga budaya, sejarah, pertanian, musik, sampai sepakbola nasional dan internasional.

Ketika menulis, Gus Dur kerap berangkat dari asumsi dan akumulasi pengetahuan yang dimilikinya. Karena Gus Dur secara umum dikenal mempunyai analisa yang banyak tepatnya, maka tak heran ia pernah diminta oleh harian terkemuka di ibu kota untuk menganalisis pertandingan-pertandingan sepakbola dalam suatu ajang piala dunia.

Menurut kesaksian salah satu saudara kandungnya, Salahuddin Wahid, Gus Dur memang mempunyai kemampuan menulis yang dimiliki sejak kecil. Kemampuan menulis Gus Dur tergolong luar biasa. Sewaktu SD, dia telah memenangkan lomba menulis se-Jakarta.  Bahkan ketika tidak dapat menulis sendiri, Gus Dur mendiktekan apa yang ingin ditulisnya. Meskipun hanya didektekan, tetapi hasilnya tetap merupakan sebuah tulisan yang bermutu dengan tata bahasa dan sistematika yang bagus. Di tangan Gus Dur, segala sesuatu dapat dijadikan sebagai obyek tulisannya.

Pada saat Gus Dur dioperasi sekitar tahun 1993, ia diminta untuk membuat kata pengantar sebuah buku berbahasa Inggris. Buku itu dibacakan oleh salah seorang putrinya. Ternyata dengan mudah saja Gus Dur dapat membuat kata pengantar dengan mendiktekannya. Hal itu lantaran Gus Dur pandai menarik benang merah atau hal-hal pokok dari sebuah buku meski cuma dibacakan oleh orang lain.

Kemahiran menulis yang dimiliki Gus Dur sebagaimana di atas tentu saja banyak faktor pendukungnya. Di samping peran luasnya pergaulan, banyaknya pengalaman dan aspek bakat, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah karena faktor budaya bacanya yang tinggi yang telah tertanam sejak dari kecil.

Sejak kecil saat masih tinggal di rumahnya di Matraman, oleh ayahnya memang Gus Dur dan saudara-saudaranya telah dididik dan diarahkan agar mereka gemar membaca buku. Untuk putra-putrinya, KH Wahid Hasyim menyediakan buku-buku di rumah tersebut dengan sangat beragam topik dan temanya, tidak hanya tentang keislaman. Selain buku, disediakan pula olehnya di samping media-media Islam, juga terdapat media massa Katolik dan terbitan non-Muslim lainnya. Gus Dur dan adik-adiknya melalui bejibun bahan bacaan tersebut dirangsang untuk membaca apa saja yang mereka sukai.

M. Haromain, Warga NU bergiat di Forum Santri Temanggung

Disarikan dari:
Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, Penerbit: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, Jakarta, 2007.   
Majalah Tebuireng, edisi 09, Januari-Maret, 2010    

Sabtu 14 Mei 2016 16:0 WIB
Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri
Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri
Makam Syekh Abdullah Mursyad
Diperkirakan pada masa berkembang kerajaan Mataram Islam, pada waktu itu di kawasan Kediri terdapat seorang perampok yang sangat ditakuti oleh masyarakat di kawasan itu karena kesaktian dan kejadugannya. Dia lalu dikenal dengan sebutan Maling Gendiri. 

Dikisahkan oleh KH Mujaddad Faqihudin, seorang kiai pengasuh pesantren dari Warujayeng Nganjuk, bahwa Maling Gendiri tersebut dikenal sebagai orang yang sakti dan jaduk di kawasan Kediri karena dia mempunyai ilmu "bancoono".  Tidak ada satu pendekar dan jawara pun yang dapat mengalahkannya. Kesaktian dan kejadugan yang superior tersebut membuatnya berbuat semena-mena dan meresahkan masyarakat. Harta benda masyarakat menjadi tidak aman.

Pada suatu malam maling ini merampok berbagai perhiasan yang kemudian ia dikejar-kejar oleh lusinan aparat pemerintahan Hindia Belanda. Tapi berkat ilmu bancolononya, petugas keamanan Belanda berhasil dikelabuinya, Maling Gendiri berhasil lolos, padahal waktu itu Maling Gendiri mengendarai dokar. Yang mengherankan lagi dia dapat menghilang bersama dokar yang dinaikinya sehingga perhiasan yang ia rampok tidak dapat terendus orang lain.

Pada tempo itu (kurang lebih sebelum tahun 1800-an), hidup pula sekurun dengan Maling Gendiri ini seorang ulama alim pendakwah Islam di kawasan Kediri dan sekitarnya yang konon berasal dari Gujarat. Beliau ialah Syekh Abdullah Mursyad. Syekh Mursyad inilah yang akhirnya berhasil mengalahkan kesaktian Maling Gendiri. 

Sebagai juru dakwah waktu itu, ketika menyaksikan masyarakat dan rakyat resah tidak tenang akibat ulah Maling Gendiri itu, kemudian Syekh Mursyad tergerak hatinya berbuat sesuatu, yaitu menghentikan aksi kejahatan Maling Gendiri supaya keadaan menjadi kondusif.  Sejak Maling Gendiri berhasil dilumpuhkan oleh Syekh Mursyad, masyarakat lega merasa tenang dan aman. Biang kekacauan dan ketidakamanan sudah hilang.     

Menurut penuturan dari almaghfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pacul Gowang Jombang, Syekh Abdullah Mursyad merupkan seorang Muballigh Islam, penyebar Islam yang berasal dari Gujarat. Selain seorang ulama yang alim, juga jawara yang sakti sebagaimana telah diceritakan oleh Kiai Mujadad di atas.

Walau begitu, masih menurut KH Abdul Aziz Mansyur, sejarah riwayat hidupnya Syekh Abdullah Mursyad sendiri sebetulnya masih samar-samar. Hal itu karena sangat sulit melacak dan menelusuri apakah dia benar-benar pendatang dari Gujarat ataukah seorang asli pribumi. Sebab pada waktu itu banyak para pendatang baik dari negeri Cina maupun Arab yang mendarat di kepulauan Nusantara. 

Biasanya mereka singgah di kerajaan Mataram Islam seperti keraton Surakarta dan Yogyakarta yang waktu itu namanya sudah masyhur di mana-mana, sehingga tidak heran jika kemasyhuran kerajaan Mataram Islam ini menjadikan banyak bangsa lain menjadi begitu tertarik untuk mendatangi pulau Jawa yang terkenal kaya dengan potensi alamnya. Misi mereka bermacam-macam. Selain untuk berdagang, umumnya mereka juga menyebarkan agama Islam di kawasan Nusantara ini.

Kini makamnya Syeikh Abdullah Mursyad tersebut berada di area pemakaman Setono Landean, terletak kurang lebih 5 KM dari desa Mrican Kota Madya Kediri, Jawa Timur. Oleh masyarakat setempat lokasi tersebut biasa dinamakan dengan sebutan "Setono Landean". Makam tersebut kini ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah khususnya pada Kamis malam Jumat. (M. Haromain)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG