IMG-LOGO
Nasional

Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU Dibuka 18 Juni 2016

Kamis 9 Juni 2016 19:1 WIB
Bagikan:
Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU Dibuka 18 Juni 2016
Jakarta, NU Online
Mudik Bareng NU kembali digelar tahun ini. Pemberangkatan peserta mudik akan dilakukan pada 2 Juli 2016 dengan menggunakan sekitar 50 armada bus. Ditargetkan Mudik Bareng NU akan menjaring 2500 pemudik. Pendaftaran peserta mudik dibuka pada tanggal 18 Juni 2016 dengan persyaratan menyerahkan foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Persyaratan lainnya pada saat penukaran formulir calon peserta menyerahkan infak minimal 10 ribu rupiah dan sedekah sesuai kemampuan peserta. Infak dan sedekah tersebut diserahkan melalui LAZISNU sebagai pembelajaran kepada pemudik agar gemar berinfak dan bersadaqah. Calon peserta Mudik Bareng NU bisa mendaftarkan diri di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Mudik gratis PBNU 2016 diselenggarakan atas kerja sama LTMNU dengan Bank Mandiri, Pegadaian Syariah, dan beberapa donatur tak terikat. Bus Mudik Bareng NU akan melewati jalur utara (pantura) dan jalur selatan Jawa Tengah. Kota-kota yang akan dilewati di jalur utara Jawa Tengah adalah Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Jepara, dan Rembang. 

Sedangkan jalur selatan Jawa Tengah meliputi Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Banjarnegara, Purbalingga dan Wonosobo. Untuk wilayah jalur selatan meliputi Garut, Tasikmalaya, dan Banjar.  Bus Mudik Bareng NU ke Jawa Timur meliputi tujuan Pacitan, Malang, Mojokerto, Lamongan, Surabaya, Situbondo, Jember, Banyuwangi, dan Bangkalan Madura.

Kepada para pemudik juga tersedia doorprize dari LAZISNU, Pegadaian Syariah dan Bank Mandiri. Selain itu panita juga menyediakan Posko Mudik Lebaran NU di 20 titik yang dimulai di Karawang, Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal hingga Semarang. Sementara Posko Mudik Lebaran NU di jalur selatan tersedia di Garut, Ciamis, Wangon, dan Purworejo.

Posko-posko tersebut disediakan oleh pengurus NU setempat dan bermanfaat untuk menaarufkan NU dengan pemudik. Mudik Bareng NU mengusung slogan ”aman, nyaman, berkah dan menyenangkan”. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Kamis 9 Juni 2016 20:0 WIB
Bagaimana Mengelola Prasangka secara Psikologis?
Bagaimana Mengelola Prasangka secara Psikologis?
Jakarta, NU Online
Prasangka seseorang timbul karena pemahaman yang telah terkonstruk dalam masyarakat umum. Paradigma tersebut erat kaitannya dengan kemampuan mengidentifikasi seseorang dari berbagai sisi. Orang yang mempunyai pengetahuan dan wawasan luas akan mempunyai prasangka lebih baik dan cenderung melihat sesuatu dari banyak sisi.

Beberapa catatan tersebut muncul dalam kuliah umum bertajuk Psikologi Prasangka yang diselenggarakan oleh Program Studi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Kamis (9/6) di Kampus UNU Indonesia Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Diskusi yang mendatangkan Doktor Lulusan Johannes Keppler University Austria, Idhamsyah Eka Putra ini dihadiri oleh mahasiswa UNU Indonesia, STAINU Jakarta, dan kampus-kampus lain di sekitar Jakarta.

Dalam pemaparannya, Idhamsyah menjelaskan bahwa ada empat hal terkait dengan prasangka. Pertama, prasangka selalu berkenanan dengan kelompok lain; Kedua, prasangka berenaan dengan salah persepsi; Ketiga prasangka merupakan kualitas negatif  terhadap orang atau kelompok lain; dan Keempat prasangka berkenaan dengan bagaiama atribut yang ada pada kelompok lain dipahami sebagai suatu hal yang mengancam atau tidak disukai.

Prasangka, ucap Idhamsyah, biasanya menimbulkan anggapan atau sikap yang tidak seharusnya dari kelompok atau seseorang terhadap kelompok/orang lain. Oleh karena itu sebagai akademisi dituntut untuk menumbuhkan sikap kritis dan hati-hati serta tidak mudah terpengaruh oleh stigma.

“Di sisi lain, penggunaan istilah tertentu (pelabelan) juga mempengaruhi anggapan orang terhadap sesuatu. Untuk meminimalisir timbulnya prasangka negatif, penggunaan istilah yang positif sangat perlu untuk ditingkatkan,” ungkap Idhamsyah yang juga peneliti senior Psikologi Sosial di Universitas Persada Indonesia. 

Pemahaman terhadap prasangka secara psikologis ini, imbuh Idham, penting bagi manusia secara umum karena konflik menimpa setiap hari. Konflik inilah yang menyebabkan timbulnya prasangka. Sehingga pengetahuan menyeluruh terhadap segala sesuatu menjadi penting  untuk meminimalisir prasangka buruk yang berdampak tidak baik secara psikologis. (Fathoni)

Kamis 9 Juni 2016 11:39 WIB
Helmy Faishal: Warga NU Harus Miliki Kecerdasan Spiritual dan Ekonomi
Helmy Faishal: Warga NU Harus Miliki Kecerdasan Spiritual dan Ekonomi
Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini
Jakarta, NU Online
Umat Islam, khususnya warga Nahdliyin harus bisa mensinergikan kecerdasan spiritual dan kecerdasan ekonomi. Dua model kecerdasan tersebut sesungguhnya bukan kutub yang berseberangan sehingga layak untuk dipertentangkan. Dua model kecerdasan tersebut sesungguhnya bisa berjalan beriringan tanpa harus menegasikan satu dengan lainnya.

Pemahaman yang sudah jamak beredar di kalangan umat Islam, terutama di warga NU, kecerdasan ekonomi yang out putnya berarti kekayaan dan kemakmuran adalah antitesa dari kecerdasan spiritual yang berarti kesederhanaan dalam arti yang lebih dekat dengan kemiskinan. Pemahaman seperti itu sepenuhnya tidak bisa dibenarkan.

Pernyataan tersebut diutarakan Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini di sela-sela diskusi pemantapan persiapan grand launching Kartanu yang akan dihelat di halaman kantor PBNU pada Senin (27/6) mendatang.

Pria kelahiran Cirebon tersebut berpendapat, praktik model pengambangan ekonomi selama ini rata-rata hanya difokuskan untuk pertumbuhan dan pemerataan semata. Pengembangan ekonomi sering memisahkan aspek spiritual. Hal inilah yang menjadi sumber utama dari lahirnya pendapat yang mengatakan antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan ekonomi tidak ada hubungannya sama sekali.

“Faktanya hari ini kita berhadapan dengan stigma bahwa Islam mengajarkan kesederhanaan yang sesungguhnya makna yang dimaksud adalah justru lebih mengarah pada kemiskinan. Persoalannya adalah kita lupa bahwa kesederhaan itu sama sekali tidak sama dengan kemiskinan. Kemiskinan itu keadaan hidup sementara kesederhanaan adalah cara hidup,” jelas Helmy.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa Islam sangat mendorong warganya untuk bekerja keras dalam arti berdaya secara ekonomi. Menyitir sebuah Hadis, Pria yang karib disapa Kang Helmy tersebut mengatakan bahwa Islam sangat mendorong pemeluknya untuk semaksimal mampu berdaya di bidang perekonomian. 

Hal tersebut senafas dengan hadis asyaddunnas adzaban yaumal qiyamati almakhfil albathil yang memiliki arti sisksaan paling berat pada hari kiamat, adalah bagi orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan hidup menganggur. Bahkan lebih jauh Al-Qur’an, jelas Helmy, menganjurkan umat muslim untuk bekerja keras dan sungguh-sungguh. Salah satunya sebagaimana sebuah ayat yang berarti "apabila kamu telah selesai menunaikan shalat jumat, maka menyebarlah untuk mencari rizki Tuhan".

“Melihat diktum serta ajaran-ajaran yang ada, tidak ada satu literatur pun yang mengajarkan kepada kita untuk hidup tidak berdaya. Oleh karena itu umat Islam, khususnya warga Nahdliyin harus memiliki dua kecerdasan itu, kecerdasan spiritual dan kecerdasan ekonomi,” pungkas Helmy.(Fariz Alniezar) 

Kamis 9 Juni 2016 6:30 WIB
NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan
NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan
Seorang pemulung tampak menerima paket ta'jil dari NU Care-LAZISNU
Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) mengadakan pembagian ta’jil melalui kegiatan Ta’jil on The Road yang untuk pertama kalinya digelar pada Rabu (8/6) sore. Lokasi Ta’jil on The Road pada hari ketiga Ramadhan tahun ini adalah di sekitar perempatan lampu merah Universitas YAI-Salemba, Jakarta Pusat.

Sebanyak 400 paket ta’jil dibagikan kepada warga dan pengguna kendaraan bermotor yang melintas. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi warga yang masih berada di perjalanan pada saat atau mendekati waktu berbuka puasa tiba.

Ta’jil on The Road akan diadakan beberapa kali dalam bulan Ramadhan tahun ini, dengan lokasi yang berbeda-beda.

Dalam Ta’jil on The Road selain melakukan pembagian ta’jil, NU Care-LAZISNU juga mengampanyekan beberapa program lain, salah satunya gerakan “Ayo Bangun 1000 Pondok Pesantren Kobong untuk Indonesia Hebat”.

Seperti diberitakan sebelumnya, gerakan tersebut juga bagan dari cara NU Care LAZISNU dalam mengajak warga untuk turut serta membangun pondok pesantren kobong sebagai pesantren khas yang banyak terdapat di Provinsi Banten. (Kendi Setiawan/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG