IMG-LOGO
Nasional

NU Resmi Luncurkan Reksa Dana Cipta NUsantara Syariah Berimbang

Jumat 17 Juni 2016 19:54 WIB
Bagikan:
NU Resmi Luncurkan Reksa Dana Cipta NUsantara Syariah Berimbang
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan Reksa Dana Cipta NUsantara Syariah Berimbang, Jumat (17/6) di Gedung SCBD Jakarta. Ini mendirikan industri di bidang pasar modal syariah ini, PBNU bekerja sama dengan PT Ciptadana Asset Management (CAM).

“Dengan kerja sama ini, NU berupaya mendorong pertumbuhan indistri pasar modal syariah yang berimbang untuk kepentingan kesejahteraan umat,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan keterangan dalam peluncuran tersebut.

NU, lanjut Kiai asal Kempek Cirebon, mempunyai potensi sumber daya manusia yang melimpah. Tercatat, warga NU sekitar 90 juta yang terdiri dari 90.000 cabang kepengurusan di berbagai daerah di dalam negeri dan 14 cabang di luar negeri. 

Dengan menyediakan produk invesatsi syariah ini, menurut Kiai Said, akan membantu kegiatan yang diselenggarakan oleh NU guna memberikan pelayanan di bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan bidang-bidang lain yang bermanfaat untuk masyarakat luas.

Sementara itu, Head of Marketing and Business Develpoment PT Ciptadana Asset Management, Indrawan Rahardja mengungkapkan bahwa perusahaan yang dipimpinya telah berpengalaman sejak tahun 1991.

“Kami telah berpengalaman dalam membantu para investor dalam mencapai tujuan investasi melalui produk berkualitas dan pelayanan terbaik,” ujar Indrawan.

Dia menerangkan, saat ini Ciptdana mengelola 17 reksa dana yang terdiri dari 14 reksa dana konvensional dan 3 reksa dana syariah dengan total dana kelolaan mencapai Rp 2,6 triliun.

Hadir dalam peluncuran ini diantaranya Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, dan para pimpinan PT Ciptadana Asset Management. (Fathoni)

Bagikan:
Jumat 17 Juni 2016 23:0 WIB
DIES NATALIS KE-1 UNUSIA
Juragan Solaria Berbagi Ilmu di Harlah Unusia
Juragan Solaria Berbagi Ilmu di Harlah Unusia
Jakarta, NU Online
Menjadi wirausahawan harus bisa memikirkan untuk mempekerjakan orang lain, sebab banyak juga wirausahawan yang hanya mampu mempekerjakan dirinya sendiri. Itu sebabnya menjadi wirausahawan banyak tantangan yang harus dihadapi.

Demikian disampaikan Owner restoran Solaria, Auliyanto saat mengisi diskusi Menumbuhkan Jiwa Enterpreneur di Kalangan Generasi Muda” dalam rangka Dies Natalis ke-I Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah Menteng Jakarta Pusat, Jumat (17/6) sore.

Menurut Auliyanto, menjadi wirausahawan adalah salah satu pilihan, artinya tidak semua orang harus menjadi wirausahawan. Karena tidak semua orang suka dengan dunia usaha. 

Menjadi wirausahawan sesungguhnya ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan yang dimaksud di antaranya tidak ada yang menyaratkan. “Syarat menjadi wirausahawan adalah tergantung dari diri sendiri. Berbeda dengan menjadi pegawai atau karyawan, ada syarat-syarat yang diperlukan saat melamar, misalnya usia dan ijazah,” kata pemilik 220 cabang restoran ini.

Sementara kekuarangannya menjadi wirausahawan adalah harus mencari tempat usaha, barang dan pendukung lainnya. Orang yang bekerja tidak usah mencari toko atau kios dan barang yang dijual. Sedangkan wirausahawan harus mencari tempat jualan dan barang yang dijual. Maka di dunia wira usaha yang tidak disyaratkan untuk memasukinya, justru syaratnya menjadi lebih banyak.

Hal yang sering dikeluhkan calon wirausahawan adalah ketiadaan modal. Menurut Auliyanto, bisa jadi hambatannya bukan hanya itu saja. Sangat mungkin calon wirausahawan sesungguhnya masih banyak kekurangan, sedangkan dirinya merasa sudah siap menjadi wirausahawan.

“Memiliki modal saja belum cukup. Orang yang memiliki modal kemudian terjun begitu saja ke dunia usaha, bisa jadi modalnya hilang. Kemampuan akan bidang usaha, pangsa pasar (pelanggan),  tingkat kebutuhan, dan pengetahuan akan lokasi usaha, harus diperhatikan dan disiapkan oleh calon wirausahawan,” ujarnya.

“Kebanyakan orang ingin meloncat dan langsung ingin berhasil. Padahal usaha yang besar juga dimulai dari yang kecil,” kata lulusan Akuntansi Universitas Gajah Mada (UGM) yang aktif dalam gerakan sosial dan pendidikan itu.

Kemampuan berwirausaha bisa dipelajari dari lingkungan terdekat, misalnya orang tua atau keluarga yang juga wirausahawan. Tetapi, jika bidang pekerjaan orangtua bukan dunia usaha, seseorang bisa mempelajari dunia usaha di bangku kuliah. Sayangnya saat kuliah, kebanyakan orang tidak menyiapkan diri.

Selain itu, lanjut dia, kemampuan wirausaha dapat dibangun saat bekerja atau dari pergaulan dengan banyak pengusaha lain (networking).  “Untuk membentuk kemampuan wirausaha dapat diupayakan sesusai kemampuan. Kalau kemampuan belum ada, jelas belum bisa menjadi wirausahawan,” kata Auliyanto. 

Pria yang pernah berkecimpung di bidang usaha minimarket hingga memiliki tujuh cabang minimarket itu mengkritisi banyaknya calon wirausahawan yang ingin sama persis suksesnya dengan pengusaha lain yang sudah ada.

“Menjadi pengusaha harus menjadi diri sendiri. Jangan terpengaruh atau meniru-niru orang lain,” tegas Auliyanto. (Kendi Setiawan/Zunus)

Jumat 17 Juni 2016 22:3 WIB
Abuya Muhtadi Dukung Pemkot Serang Tegakkan Perda dengan Cara Baik
Abuya Muhtadi Dukung Pemkot Serang Tegakkan Perda dengan Cara Baik
Abuya Muhtadi (berjenggot putih bersorban dan peci putih) pada peresmian sekretariat M3CB dan RPM Pandeglang
Jakarta, NU Online 
Imam atau Ketua Majelis Mudzakaroh Muhtadi Cidahu (M3CB)Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyati mendukung Pemerintah Kota Serang, Banten untuk tetap menegakkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat.  

Seperti diketahui, dari Perda tersebut Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia terhadap rumah makan yang berjualan pada siang hari di bulan Ramadhan.

Namun, Abuya juga meminta agar Satpol PP melakukan razia dengan cara-cara yang baik. Tidak boleh menghancurkan harta benda milik yang terkena razia. “Merusak harta orang kafir aja tidak boleh, apalagi harta orang muslim,” sebagaimana disampaikan Abuya Muhtadi, melalui santrinya, M Hubab Nafi, di kantor redaksi NU Online, Jakarta, Jumat (17/6).

Terkait warteg Bu Saeni yang terkena razia, Abuya meminta berbagai pihak untuk tidak membesar-besarkan masalah itu. “Masalah Itu akan ditangani dengan keluargaan. Kami warga Banten bisa dan siap menyelesaikannya.”  

Mustasyar PBNU ini juga meminta agar tidak ada seorang pun yang mengatasnamakan Relawan Pencegahan Maksiat (RPM) yang berada di bawah kelembagaan M3CB mengeluarkan statement tanpa koordinasi dengannya. Abuya meminta hal itu karena ada pemberitaan di media online yang mengatasnmakan RPM menantang Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Terkait berita yang menantang JK, Abuya mengatakan, bahwa hal itu bukan sikap dari Keluarga Besar Relawan Pencegahan Maksiat (RPM) dan Majelis Mudzakaraoh Muhtadi Cidahu Banten (M3CB). 

“Akan tetapi, sekali lagi Abuya juga sepakat untuk menegakkan Perda Kota Serang asal dengan cara-cara yang baik dan tidak melukai orang yang dirazia,” pungkasnya. (Abdullah Alawi) 

Jumat 17 Juni 2016 20:2 WIB
GP Ansor Minta Jokowi Ambil Alih Harga Pangan dari Mafia
GP Ansor Minta Jokowi Ambil Alih Harga Pangan dari Mafia
Jakarta, NU Online
Menjelang bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri, kebutuhan pokok (sembako) dapat dipastikan mengalami lonjakan harga. Bahkan memasuki pertengahan bulan Ramadhan ini, tampaknya pemerintah belum mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok tersebut.

Pernyataan tersebut dikemukakan Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan Sumberdaya mineral Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Hadi Musa Said melalui siaran pers Jumat (17/6).

Menurutnya, meski pemerintah rajin melakukan operasi pasar dan menggelar bazar dimana-dimana, tapi tetap saja tak bisa menghentikan laju kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Ironisnya, Presiden Jokowi sendiri, menurut Hadi, tak mampu menekan harga daging yang sudah melebihi harga normal, yaitu Rp 80 ribu per kilo gram. Sementara, Menteri Pertanian yang diharapkan bisa terlibat memberi solusi dari permasalahan ini, hanya terlihat sibuk ke sana ke mari melaksanakan tugas Presiden, tapi hasilnya tetap nihil.

“Yang harus harus dilakukan Pemerintah bukan operasi pasar, menggelar bazar dan pasar murah. Yang terpenting dilakukan sekarang adalah mau tidak pemerintah memotong mata rantai perdagangan yang dikuasai oleh segelintir orang yang mengendalikan harga kebutuhan pokok rakyat tersebut,” tegas Hadi.

Ia pun meminta agar pemerintah berani dan tegas untuk menekan harga kebutuhan pokok di pasaran. Sebab jika tidak, mendekati lebaran idul fitri 1437 H ini harga kebutuhan pokok akan semakin meroket, dan dampaknya pun akan cukup terasa bagi masyarakat ekonomi kelas menegah ke bawah.

“Pemerintah jangan sibuk dengan operasi pasa karena pedagang eceran itu tidak tahu-menahu persoalan kenaikan harga. Mereka hanya mengikuti patokan harga dari cukong dan mafia. Presiden harus mampu mempersempit ruang gerak mereka dengan mengambil alih jalur distribusi bahan pangan sehingga pedagang pun terbebas dari para mafia,” tegasnya. (Red: Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG