IMG-LOGO
Nasional

Pilkada Jakarta, PBNU: Wajib Pilih Pemimpin Muslim Adil

Rabu 22 Juni 2016 21:41 WIB
Bagikan:
Pilkada Jakarta, PBNU: Wajib Pilih Pemimpin Muslim Adil

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan agar umat Islam wajib memilih calon pemimpin muslim yang adil, jujur, dan bersih.

“Kalau ada calon (pemimpin) muslim yanga seperti itu, maka kita umat Islam harus memilih pemimpin yang muslim,” kata Kiai Said saat menerima kunjungan bakal calon gubernur Jakarta, Sandiaga S Uno di lantai 3 Gedung PBNU, Jakarta (22/6).  

Kiai Said menyayangkan banyak berita yang menyatakan bahwa dirinya mendukung pemimpin nonmuslim. Baginya, kutipan berita-berita tersebut tidak sesuai dengan apa yang dia sampaikan selama ini. “Itu salah besar itu, salah besar itu. Mengutipnya tak benar itu,” tegasnya.

Terkait dengan kedatangan Sandiaga, Kiai Said menjelaskan, PBNU bukanlah partai politik, maka dari itu NU tidak bisa mendukung siapa pun. NU hanya bisa mendoakan dan merestui calon pemimpin yang memenuhi persyaratan tersebut di atas.

“PBNU tak bisa dukung mendukung karena bukan partai politik, tapi mendoakan semoga lancar dan Allah memberikan kekuatan lahir batin,” ucap Pengasuh Pesantren As Tsaqofah tersebut.

Sementara itu, Sandiaga S Uno mengatakan, kedatangannya ke PBNU adalah untuk mengambil undangan acara buka puasa bersama dan peluncuran e-Kartanu yang akan dilaksanakan pada 27 Juni nanti.

“Dan juga sowan kepada Pak Kiai, sahabat lama, orang tua saya. Sekaligus mendapatkan nasihat dari beliau,” tutur Sandiaga.    

Sebagaimana kabar yang ada, Sandiaga S Uno akan mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 nanti. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses yang mendapatkan pernghargaan sebagai Indonesian Entrepreneur of The Year dari Enterprise Asia pada tahun 2008.  (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)


Bagikan:
Rabu 22 Juni 2016 20:1 WIB
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyerukan kepada warga NU untuk melakukan shalat ghaib kepada korban musibah longsor yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah.

Seruan tersebut disampaikan melalui surat edaran yang dikeluarkan PBNU dengan nomor 675/C.1.34/06/2016. Surat Edaran ditujukan kepada PWNU, PCNU, Pengurus Lembaga Nahdlatul Ulama, Pengurus Badan Otonom NU di seluruh daerah.

“PBNU dengan ini menginstruksikan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia agar menyelenggarakan Shalat Ghaib dan Tahlilan ditujukkan untuk korban yang meninggal dalam bencana tersebut,” ungkap edaran yang dikeluarkan 20 Juni 2016 tersebut.   

Edaran yang ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini itu menyebut secara khusus daerah-daerah yang terkenal bencana longsor yang terjadi di Purworejo, Kebumen, Banyumas, Solo, Rembang Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Sukoharjo, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, dan Karangnyar. (Abdullah Alawi)


Rabu 22 Juni 2016 19:10 WIB
Santri Al-Hamdaniyah Ngaji Kitab Kuning di Kamar KH Hasyim Asy'ari
Santri Al-Hamdaniyah Ngaji Kitab Kuning di Kamar KH Hasyim Asy'ari

Sidoarjo, NU Online
Puluhan santri pondok pesantren Al-Hamdaniyah Desa Siwalan Panji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mempunyai tradisi tersendiri dalam memperingati Nuzulul Qur'an. Mereka berdatangan menuju kamar pribadi KH Hasyim Asy'ari selama nyantri di peseantren tersebut. Para santri melakukan proses belajar membaca kitab kuning hingga belajar makna dari dalam kitab kuning tersebut.

Pengasuh pesantren Al-Hamdaniyah KH Sofwan Hadi mengatakan, pembelajaran kitab kuning ini sudah berlangsung sejak lama hingga saat ini. Kitab kuning diajarkan penerus Pesantren Al Hamdaniyah yaitu dirinya. Ia adalah cicit dari Kiai Abdul Rohim putra KH Hamdani, pendiri Pesantren Al Hamdaniyah.

"Untuk selalu mempelajari sejumlah kitab kuning yang terdiri dari fiqih/tafsir dan pelajaran bahasa Arab atau nahwu saraf. Pembelajaran ini adalah peninggalan dari KH Hamdani dan KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, untuk diamalkan ke seluruh santri," kata kiai yang akrab disapa Gus Sofwan, Rabu (22/6).

Gus Sofwan mengemukakan, malam Lailatul Qadar yang biasanya diperingati pada hari ke 17 Ramadhan merupakan hari yang bersejarah dalam perjalanan kitab suci umat Islam yaitu Al-Qur'an. Kitab suci Al-Qur'an sendiri diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi tercinta kita Muhammad saw dan peristiwa ini ghalib disebut dengan Nuzulul Qur'an.

"Nuzulul Qur'an yang secara harfiah berarti turunnya Al-Qur'an adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting mengenai penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad saw. Sedangkan turunnya Al-Qur'an adalah  sebuah penegasan atas kemuliaannya dan sekaligus yang menerimanya yaitu Nabi Muhammad. Tetapi juga harus diiringi semangat untuk kembali kepada Al-Qur'an dan sunnah serta mempelajari menghayati dan belajar mengamalkannya," terangnya.

Oleh sebab itu, Nuzulul Qur'an harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mempelajari Al-Qur'an dan semua ajaran Nabi. Dengan memperingati Nuzulul Qur'an berarti sesungguhnya siap kembali menghidupkan Al-Qur'an dan sunnah Nabi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

 


Rabu 22 Juni 2016 15:11 WIB
Ketika KH Sya'roni Ahmadi Dipenjara Penjajah Belanda
Ketika KH Sya'roni Ahmadi Dipenjara Penjajah Belanda
Kudus, NU Online
Tidak banyak yang tahu, Mustasyar PBNU KH Sya'roni Ahmadi ternyata memiliki pengalaman cobaan yang tidak mengenakkan. Pada masa mudanya, ia pernah dipenjara oleh penjajah Belanda.

Dalam pengajian Tafsir  Al-Qur'an Surat Al-Baqarah di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Selasa (21/6), KH Sya'roni menyinggung kisah perjuangannya. Dituturkan, pada tahun 1948 saat turut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI, ia ditangkap penjajah Belanda dan dimasukkan ke dalam penjara.

Selama beberapa bulan, ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya'roni ini mendekam di dalam terali besi. Di dalam penjara, tuturnya, kondisinya sangat sulit termasuk  melaksanakan kewajiban shalat.

"Waktu itu mau wudhu atau tayammum tidak bisa sehingga saya juga tidak bisa shalat. Jadi shalatnya lihurmatil waqti (untuk menghormati waktu)," ujarnya berbahasa Jawa.

Melihat kondisi demikian, Mbah Sya'roni mengucapkan sebuah nadzar, manakala lepas dari kurungan penjajah Belanda, ia akan mandi di sungai Kaligelis Kudus dan mengkhatamkan Al-Qur'an.

Mbah Sya'roni juga merasa bersyukur dirinya tidak termasuk tahanan yang dibunuh Belanda. "Saat dibebaskan, saya pun langsung nyemplung (masuk) di sungai Kaligelis dan mengkhatamkan Al-Qur'an," tuturnya yang disambut gerrr jamaah.  

Di depan ribuan jamaah itu, Mbah Sya'roni menyimpulkan bahwa setiap orang akan mengalami ujian atau cobaan yang diberikan Allah seperti kisah pengalamannya. Untuk bisa mengetahui cobaan, hanyalah pribadi masing-masing yang merasakan dan mengalaminya. (Qomarul Adib/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG