IMG-LOGO
Fragmen

Keberanian Entong Gendut Betawi Melawan Abtenar Belanda

Kamis 23 Juni 2016 10:1 WIB
Bagikan:
Keberanian Entong Gendut Betawi Melawan Abtenar Belanda
Foto: ilustrasi/rendez-vous batavia
Pada momentum ulang tahun kota Jakarta yang ke 489 ini, ada baiknya rubrik fragmen kali ini mengangkat salah satu pahlawan Betawi bernama Entong Gendut (tidak diketahui nama aslinya) yang barangkali nama ini tidak setenar pahlawan Betawi lainnya seperti si Pitung misalnya yang begitu terkenalnya hingga menjadi semacam cerita rakyat. Tokoh kita kali ini benar-benar nyata, bukan sekadar cerita rakyat apalagi dongeng. Cerita ini telah ditulis oleh ahli sejarahwan kondang Sartono Kartodirjo dalam bukunya Protest Movements in Rural Java sebagaimana dikisahkan kembali oleh Goenawan Mohammad dalam catatan pinnggirnya edisi 24 Februari 1979.

Dahulu di Condet, Betawi, terkenal seorang laki-laki pemberani yang dikenal dengan nama Entong Gendut. Dialah yang memimpin rakyat Condet melawan kesewenang-wenangan wedana dan mantri polisi kala itu. Sikapnya ini dilatari karena Entong Gendut trenyuh dan prihatin ketika suatu ketika menyaksikan salah satu rumah petani dibakar habis oleh tuan tanah.

Diceritakan pada zaman itu, yaitu di dasawarsa pertama abad ke-20, tuan tanah begitu serakahnya. Oleh sebuah peraturan gebernemen di tahun 1912, tuan tanah sering mengadukan ke landrad para petani yang gagal membayar cukai kepadanya. Dan tuan tanah di desa Condet di sub-distrik Pasar Rebo ini sangat getol dalam membikin perkara. Akibatnya banyak petani yang bangkrut, rumahnya dijual, atau tak jarang dibakar. Beberapa insiden dan konflikpun terjadi pada waktu itu antara lain:

Insiden pertama terjadi di Bulan Februari 1916. Menurut keputusan landrad di Meester Cornelis 14 Mei 1914, pak tani Taba dari Batu Ampar harus membayar 7.20 gulden ditambah ongkos perkara. Tanggal 15 bulan itu pak tani Taba diperingatkan, kalau tidak bisa bayar, yang berwajib akan menyita miliknya.

Rakyat dan para tetangga pak Taba marah atas perlakuan demikian. Mereka berkumpul di kebon Jaimin di sebelah utara, ketika para yang berwajib datang untuk melaksanakan hukuman. Maksud kerumunan itu taka laian ialah untuk mencegah nasib buruk yang sudah dijatuhkan kepada pak Taba. Dan Entong Gendut juga hadir di situ. Tapi walaupun mereka telah berteriak-teriak, memaki-maki dan berdoa, tetap saja tak berhasil menggagalkan eksekusi hukuman yang menimpa pak Taba.

Insiden kedua terjadi di depan Villa Nova, rumah nyonya besar Rollinson yang memiliki tanah di Cililitan Besar. Saat itu malam tanggal 15 April, sedang ada pertunjukan topeng. Tapi suasana sudah panas. Ketika sore tadi tuan tanah dari tanjung Oost, Ament, naik mobilnya lewat jembatan, ia dilempari batu. Dan ternyata ketika pertunjukan topeng menuju jam 11 malam, terdengar teriakan teriakan yang meminta acara supaya dihentikan. Perintah atau inisiatif penghentian pertunjukan topeng tersebut  datang dari Entong genudut. Rakyat patuh dan akhirnya mereka bubaran dengan tenang.  

Mengetahui pertunjukan topeng distop, wedana menjadi marah. Dia kemudian menyuruh orang memanggil Entong Gendut supaya menghadapnya di Meester Cornelis. Ketika mantri polisi dan demang datang ke Batu Ampar, mereka dapatkan Entong Gendut di rumahnya dikelilingi kawan-kawannya. Ketika Entong Gendut ditanya kenapa ia berani menghentikan pertunjukan topeng, laki-laki itu menjawab: "Demi agama". Ia hendak mencegah perjudian. Selain itu, Ia menjelaskan betapa selama ini rakyat dibebani utang dan rumah mereka dijual atau dibakar, sementara polisi Cuma membantu tuan tanah dan orang Belanda.

Mendengar penuturan Entong Gendut di atas, Mantri polisi dan demang merasa bahwa Entong Gendut sudah kurang ajar, tapi pada saat itu juga mereka tak berani, sebab Entong sudah siap nampaknya.

Tanggal 9 April 1916, ada info yang memberitahu para pejabat di Pasar Rebo dan Meester Cornelis, bahwa banyak orang berkumpul di rumah Entong Gendut. Sepucuk surat rupanya telah dikirim Entong Gendut kepada demang agar demang menghapap "si Raja Muda" yaitu tidak lain Entong Gendut sendiri.

Hari Ahad dan Seninnya wedana menjadi sibuk. Ia sendiri kemudian yang memimpin patroli. Dengan diiringi sepasukan polisi, ia menuju ke rumah Entong Gendut. Rumah itu pun lalu dikepung. Wedana berteriak supaya entong keluar. Entong menjawab ia akan keluar setelah selesai shalat. Dan ketika ia keluar membawa tombak serta kerisnya, ia mengatakan bahwa dirinya raja. Ia tak tunduk pada hukum apa pun dan termasuk tak tunduk pada hukum Belanda. Para pengikutnya pun berteriak menyatakan mereka tidak takut. Akhirnya Pertempuranpun terjadi. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Tapi tak lama kemudian bantuan datang dan akhirnya Entong Gendut mati.

Demikian kisah Entong Gendut, seorang warga yang tidak tega menyaksikan rakyat tertindas oleh kebijakan pemerintah kolonial waktu itu dan hingga dirinya mati dalam rangka aksi protes dan menentang peraturan tidak manusiawi oleh penjajah kolonial beserta segenap pegawai pribumi yang mengabdi pada pemerintah kolonial Belanda. (M. Haromain)

Artikel ini kami sadur dari buku kumpulan catatan pinggir Goenawan Moehammad, Grafiti Pres, Jakarta: 2006.

Bagikan:
Selasa 21 Juni 2016 16:0 WIB
KHAZANAH ULAMA NUSANTARA DI TIMUR TENGAH (8)
John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M
John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M
Buku berjudul Travels in Arabia karangan John Ludwig Burckhardt terbit di London tahun 1829. Buku ini merekam catatan yang kaya akan data dan informasi terkait komunitas orang-orang Nusantara di tanah suci Mekkah-Madinah pada masa awal abad ke-19 M.

Burckhardt (1784—1817) adalah seorang orientalis Inggris asal Swiss yang berhasil menyusup masuk ke tanah suci Mekkah-Madinah (Haramayn) setelah terlebih dahulu melakukan penyamaran yang sukses; mengganti nama menjadi Haji Ibrahim ibn Abdullah, beridentitas seorang Muslim dari Albania, mengenakan pakaian khas Timur Tengah dengan jubah, surban, dan janggut yang menjuntai, dan utamanya kecakapan dalam menguasai bahasa Arab yang nyaris sempurna.

Sebelum mengembarai Hijaz (Haramayn), Burckhardt telah lebih dahulu menjelajahi negeri-negeri Timur Tengah lainnya yang pada masa itu berada di bawah kontrol kekuasaan Turki-Ottoman, seperti Aleppo, Suriah, Jerusalem, Petra (Burckhardt-lah yang dicatat oleh sejarah sebagai sosok yang menemukan kembali kota puba di tengah gugusan tebing sahara ini), Sinai, Mesir, Nubia, dan Sudan. Ia pun menuliskan pengalaman pengembaraannya itu dalam buku catatan perjalanan yang luar biasa; Travels in Syria and the Holy Land, kemudian Travels in Nubia, dan Arabic Proverbs, or the Manners and Customs of the Modern Egyptians.

Burckhardt berada di Haramayn pada tahun 1814 M. Ia pun merekam beberapa peristiwa penting yang terjadi di Haramayn pada waktu itu, seperti peristiwa pemberontakan golongan Wahabi yang membangkang terhadap pemerintahan Turki-Ottoman, penumpasan atas gerakan tersebut yang dilakukan oleh Ibrahim Pasha dan pasukannya, putera Muhammad Ali Pasha yang merupakan seorang veli (gubernur) Turki-Ottoman untuk elayet (wilayah) Mesir. Atas peristiwa ini, Burckhardt menulis Notes on the Bedouins and Wahabys.

Setelah selesai melaksanakan “faraidh” ibadah haji, Burckhardt pun ikut serta bersama arak-arakan besar kafilah lainnya menuju Madinah guna menziarahi pesarean dan masjid Nabi Muhammad. Nah, saat itulah Burckhardt bergabung bersama rombongan kecil jemaah haji asal Melayu-Nusantara di dalam arak-arakan kafilah besar itu.

Jarak yang jauh antara Mekkah dan Madinah (sekitar 490 KM) ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta. Tak ada yang berjalan sendiri atau dalam rombongan kecil. Semua Jemaah berangkat secara serentak bersama arak-arakan besar kafilah perjalanan yang jumlahnya bisa ratusan orang. Hal ini untuk meringankan beban perjalanan yang penuh resiko dan bahaya, utamanya ancaman para penyamun dan perompak bengis orang-orang Beduin yang datang kapan saja.

Burckhardt menulis:
“Hari ini aku telah menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab dengan teman-teman seperjalananku. Dalam sebuah kafilah perjalanan yang kecil, setiap orang dipaksa untuk dapat berjalan beriringan bersama rombongannya, tidak terpisah darinya. Para rombongan itu adalah orang-orang Melayu, atau sebagaimana disebut di Arab sini dengan sebutan 'Jawi'”.

Selain mereka yang berasal dari pesisir Semenanjung (Malaka), mereka juga ada yang berasal dari Sumatra, Jawa, dan pesisir Malabar. Semuanya adalah (jajahan) Inggris. Orang-orang Melayu pergi rutin berhaji dengan ditemani istri mereka. Sebagian besar mereka ada yang memilih tinggal di Mekkah Mukarramah dalam tempo beberapa tahun lamanya untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syari’at.

Orang-orang Jawi ini di Haramayn terkenal sebagai orang-orang yang taat beragama, disiplin dalam menuntut ilmu, atau minimal disiplin dalam menjalankan ritual agama Islam mereka. Sedikit dari mereka yang mampu berbicara bahasa Arab dengan sempurna, namun semua dari mereka membaca Al-Qur’an, dan sangat bersemangat untuk mempelajarinya meskipun dalam perjalanan.

Mereka menutupi biaya perjalanan dengan menjual kayu (al-Alûh Haits?) yang berkualitas tinggi dan dibawa dari negeri mereka, kerap juga disebut (Mâwardî). Harga satu pound timbangannya adalah tiga sampai empat dolar di negeri asal mereka, dan dijual di Mekkah dengan harga dua puluh sampai dua puluh lima dolar.

Baju mereka yang longgar, rahang mereka yang menonjol, perawakan mereka yang pendek dan kekar, dan gigi mereka yang bertumpuk menjadi ciri khas tersendiri bagi pengidentitasan tipikal orang-orang Jawi. Para perempuan Melayu memakai baju kurung, namun tidak semuannya memakai khimar, juga selendang dari kain sutera yang tersulam, buatan Cina.

Tampaknya mereka adalah bangsa yang memiliki adat yang kukuh, berimbang, berkarakter tenang, namun terkadang juga pelit. Sepanjang perjalanan mereka makan nasi dan ikan asin. Mereka menanak nasi dengan air tanpa diberi tambahan zibdah (minyak samin). Zibdah adalah bahan pakan yang sangat mahal harganya di Haramayn namun mereka sangat menyukainya. Sebagian orang Jawi ada yang datang ke pelayanku meminta zibdah untuk ditambahkan ke periuk nasi mereka. Meskipun mereka memiliki cukup uang, namun pola makan mereka biasa saja (yaitu nasi dan ikan asin).

Namun, mereka pernah terkena laknat para gerombolan pencuri padang pasir. Para pencuri itu menjarah peralatan masak orang-orang Jawi itu; periuk nasi yang sedang dimasak oleh air, nampan mereka berbahan tembaga buatan Cina, dan teko air mereka tidak seperti yang kerap digunakan orang-orang Timur lainnya (biasa untuk mencuci dan wudhu), tetapi orang-orang Jawi ini membawa teko teh Cina yang mahal.

Di sela-sela kebersamaanku dengan orang-orang Melayu itu, aku menjadi memiliki kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka akan pemerintahan kolonial Inggris di negeri mereka. Yang mengejutkan, ternyata mereka menyatakan kebencian dan permusuhan mereka terhadap pihak Inggris. Mereka juga mensumpah serapahi perilaku orang-orang Inggris dan melaknatnya sampai habis. Hal terburuk yang paling tidak disukai mereka (orang-orang Jawi) dari orang-orang Inggris adalah kebiasaan mabuk-mabukan. Lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Meski demikian, orang-orang Melayu ini jarang yang mengkritik masalah keadilan pemerintahan kolonial Inggris. Pihak Inggris justru lebih baik jika dibanding dengan kesewenang-wenangan penguasa lokal orang-orang Melayu (bupati, dll). Jadi, meskipun orang-orang Melayu ini menyerapahi pihak Inggris dengan berbagai sumpah serapah dan laknat durjana, namun mereka juga memberikan pujian kepadanya dengan mengatakan “tapi pemerintahan mereka bagus”. Burckhardt menyebut semua kawasan Nusantara pada masa itu berada di bawah kontrol pemerintahan Inggris, bertepatan dengan masa pemerintahan Gubernur Letnan Sir Thomas Raffles (memerintah 1811—1816).

Di masa yang bersamaan, yaitu perempat pertama abad ke-19 M, saat itu terdapat beberapa ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Mahmud ibn Arsyad al-Banjari (putera Syaikh Arsyad Banjar), Fathimah binti Abd al-Shamad al-Palimbani (puteri Syaikh ‘Abd al-Shamad Palembang), Shalih Rawah, Ismail al-Mankabawi al-Khalidi (Minangkabau), ‘Abd al-Ghani al-Bimawi (Bima, Sumbawa), dan lain-lain.

Kairo, Ramadhan 1437 H

A. Ginanjar Sya’ban
Redaktur NU Online tinggal di Kairo Mesir

Senin 13 Juni 2016 10:1 WIB
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Salah satu penginapan/asrama santri di Pesantren Tebuireng zaman dulu.
Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari, yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim (2015) mepaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratussyaikh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing.

Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Al-Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratusyaikh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjukklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni pondok Tebuireng, yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri. (Ajie Najmuddin)

Kamis 2 Juni 2016 15:0 WIB
Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan PKI
Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan  PKI
Berbicara mengenai sifat-sifat dermawan dan sosial, sifat-sifat terbuka dan berterus terang, sifat-sifat satu kata dengan perbuatan, sifat-sifat kemauan keras dan berani tetapi cukup supel dan penuh toleransi yang terdapat dalam diri pribadi almarhum Mbah Ma’shum, belum sempurna dan tidaklah adil bilamana tidak ditonjolkan pula dua peristiwa besar yang hendak diutarakanberikut ini.

Peristiwa pertama adalah peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal kemudian dengan nama G 30 S/PKI* pada tahun 1965. Sebab, peristiwa-peristiwa besar itu sangat berkesan di hati masyarakat. Suatu kesan yang benar-benar terpatri dalam benak kita bersama, khususnya di hati umat Islam dari aliran dan golongan apa dan mana pun.

Pada waktu itu sejarah telah mencatat, kompleks Pondok Pesantren Al Hidayat maupun mushala dan kediaman Mbah Ma’shum telah berubah seluruhnya menjadi markas besar pertahanan bagi pengikut-pengikut paham Pancasila. Mereka adalah pegawai dan pejabat pemerintah, maupun pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan partai-partai lain, terutama umat Islam, khususnya orang-orang NU dengan Ansor dan Bansernya.

Masih segar untuk dikenang bahwa pada waktu itu semua kamar-kamar santri di bagian atas terkunci pintu-pintunya, tetapi terbuka jendela-jendelanya. Sebab, dalam kamar-kamar di bagian atas seluruh kompleks pondok pesantren itu terisi penuh dengan senjata mesin yang mulutnya sudah dihadapkan ke timur dan ke barat, menantikan datangnya serangan-serangan G 30 S/ PKI yang dipimpin dan dikoordinasi seluruh kekuatannya oleh Moh Asik, oknum Komandan Koramil di Lasem pada waktu itu.

Dikarenakan berubahnya Pondok Pesantren Al Hidayat menjadi markas besar pertahanan pembela-pembela paham pancasila, itulah maka menjadi praktis dan otomatis, bahwa Fatayat dan Muslimat memegang peranan penting dalam dapur umum di rumah kediaman Mbah Ma’shum, yang selama 24 jam terus-menerus bekerja keras menyuplai konsumsi yang diperlukan oleh pahlawan-pahlawan pembela paham Pancasila, di kala itu.

Tidak dimengerti oleh penulis, dari mana didapat bahan-bahan pokok keperluan dapur umum yang kemudian diolah oleh tangan-tangan halus Fatayat dan Muslimat yang siang malam secara nonstop memberikan suplai konsumsi kepada ratusan orang. Tetapi yang jelas bahwa Mbah Ma’shum berkenan banyak mengobral harta bendanya untuk konsumsi ini habis-habisan.

Dalam mengenang kembali kesibukan-kesibukan di dapur umum ini tak boleh dilupakan jasa-jasa Fatayat dan Muslimat di bawah pimpinan putri Mbah Ma’shum, Nyai Azizah, seorang Ibu Muslimat yang pada setiap saat perjuangan memerlukan, pasti tampil ke depan tidak mengenal lelah.

Tidak sepatutnya diungkapkan di sini bahwa di kala itu banyak para pejabat-pejabat yang setiap malam datang bermalam dan tidur dengan aman di ruang atas pondok pesantren, terutama Dandis Kepolisian Negara di Lasem di saat itu, Saudara S. Daryo. Bahwa mulut usil berani menyatakan bahwa jalannya pemerintahan di Lasem pada waktu itu, praktis berkedudukan di Kompleks Pondok Pesantren Al Hidayat, di bawah perlindungan doa Mbah Ma’shum sebagai ulama besar dan tertua yang disegani dan ditaati. Di sana mereka mengolah roda pemerintahan. Dari sana mereka meronco dan mengeluarkan instruksi dan pengumuman-pengumuman. Dan dari sana pula mereka mengkoordinasi seluruh potensi untuk mengganyang G 30 S/PKI.

Tidak juga perlu dibuka rahasia almarhum Mbah Ma’shum yang untuk sementara waktu harus dan terpaksa berpisah dari keluarganya, karena dibawa lari oleh beberapa  anak didiknya di pagi-pagi buta ke suatu tempat yang aman. Walaupun pada mulanya Mbah Ma’shum ingin tetap bertahan di rumah dan ingin bersama-sama anak buahnya mempertahankan Kota Lasem, namun hasil musyawarah dengan stafnya menentukan: mempersilahkan beliau untuk sementara waktu dihijrahkan. Sebab strategi dan taktik perjuangan di kala itu menghendaki demikian. Menghendaki Mbah Ma’shum melakukan perjalanan penuh rahasia ke seluruh pelosok desa dan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, guna memberikan spirit keberanian dan ketahanan daya juang kepada umat Islam, untuk melakukan jihad penumpasan sehabis-habisnya sampai seakar-akarnya kepada pemberontak-pemberontak G 30 S/PKI.

Dan kepergian Mbah Ma’shum melakukan perjalanan sejauh itu adalah dengan pertimbangan-pertimbangan, agar beliau dengan lebih leluasa bergerak memberikan indoktrinasi kepada umat. Lebih banyak diambil manfaatnya oleh umat. Dan tidak menghabiskan waktu, pikiran, dan fatwanya hanya untuk masyarakat di Lasem. Sebab, almarhum Mbah Ma’shum bukan milik umat Islam di Lasem saja, bukan milik umat di seluruh Kabupaten Rembang saja, tetapi milik umat di seluruh kepulauan ini, di mana murid-muridnya yang sudah menjadi ulama dan pemimpin-peminpin tingkat nasional banyak tersebar luas di seluruh penjuru tanah air, yang mereka ini pun dalam situasi gawat. Yang demikian itu tentu membutuhkan bimbingan tangan kuat dari gurunya.

Mendengar keputusan musyawarah beserta penjelasan-penjelasan dari stafnya itu, Mbah Ma’shum dapat melerai kekerasan hati untuk tetap bertahan di Lasem. Dan untuk kesekian kalinya terpampang kelapangan dada dan toleransinya. Dengan suatu upacara pelepasan yang mengharukan, dipercayakanlah pertahanan Kota Lasem ini kepada tokoh-tokoh Islam, pejabat-pejabat pemerintah sipil, dan Kepolisian Negara (S. Daryo Cs) beserta seluruh santri-santri yang ditinggalkan, di bawah pimpinan putra menantu Kiai Ali Nu’man.

Musyawarah memutuskan lebih lanjut bahwa santri-santri yang membawa dan bertanggung jawab penuh atas keamanan perjalanan Mbah Ma’shum adalah pemuda-pemuda Abdul Chamid bin Suratman (asal Jepara) dan Machfudz (asal Tulungagung). Pemuda pemberani yang dengan semangat menyala-nyala bertekad bulat menerima segala resiko penyerahan Mbah Ma’shum untuk dibawa ke tempat yang lebih aman.

Syahdan, pada suatu malam menjelang Shubuh, pemuda-pemuda Abdul Chamid dan Machfudz ini, sekira jam 02.00 (pagi-pagi buta), dengan kesigapan dan keberanian luar biasa, dengan tekad yang bulat dan semangat menyala-nyala, berkah doa restu dari seluruh yang ditinggalkan, pemuda-pemuda itu berhasil membawa lari Mbah Ma’shum keluar Kota Lasem, dengan berkendaraan becak yang sudah disiapkan lebih dulu dengan pengendara santri-santri pilihan. Setelah tiba di luar Kota Lasem dan melihat situasi aman terjamin, barulah rombongan Mbah Ma’shum dipindahkan ke lain kendaraan oleh pemuda-pemuda gagah berani di bawah pimpinan Abdul Chamid. Dengan demikian, maka keluarnya Mbah Ma’shum dari Kota Lasem tidak didengar dan tidak pula diketahuin oleh pihak lawan. Sampai di sini para pembaca tentu terkenang pada peristiwa yang terjadi dan pernah dialami oleh Rasulullah SAW di kala yang mulia itu terpaksa harus meninggalkan Kota Mekkah, di malam hari dengan pengawalan sahabat karib  Sayid Abu Bakar  Assiddiq RA menuju Goa Hira’, jauh di luar kota di malam buta. Di samping itu tentu kita teringat pula nasib putra menantu beliau Sayyidina Ali kw yang terpaksa ditinggalkan menggantikan tempat yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW dalam beristirahat.

Dari kisah perjuangan almarhum Mbah Ma’shum selama dua bulan selama perlawatan nonstop itu, terlalu panjang untuk diuraikan dalam manaqib singkat ini. Mungkin memerlukan 100 halaman tersendiri. Hanya saja yang perlu dicatat di sini adalah, bahwa selama dalam perantauan yang penuh suka dan duka itu selalu terdapat kontak dengan Markas Besarnya di Lasem. Dan bahwa sewaktu dua bulan kemudian Mbah Ma’shum tiba kembali di Lasem, baru diketahui korban-korban yang jatuh akibat peristiwa pengganyangan terhadap G 30 S/ PKI di Lasem. Dan baru dimengerti, bahwa oknum Koramil Moh Asik yang semula ingin memberondongkan senapan-senapan mesinnya kepada para santri-santri itu, sudah dapat diringkus, ditangkap, kemudian ditahan dalam penjara di Ambarawa. Sampai dimana kemudian vonis yang sudah dijatuhkan oleh Pengadilan Militer setempat terhadap tokoh berat militer  dari G 30 S/PKI itu, sampai kini orang belum mendengarnya. Bahkan jalannya sidang  Pengadilan Militer setempat yang tentunya berhak penuh mengadili perkara pemberontakan tersebut, pun belum pernah diberitakan orang.

Almarhum Mbah Ma’shum menerima berita laporan itu dengan tidak sungguh-sungguh. Sebab, diadili atau tidak diadili, sudah divonis atau belum divonis, itu adalah tanggung jawab pemerintah. Namun demikian, Mbah Ma’shum menerima semua laporan itu dengan perasaan lega, bahwa kemenangan terakhir berada di tangan pihaknya. Di tangan umat Islam. Di tangan pembela-pembela paham Pancasila. Di tangan santri-santrinya. Di tangan pemuda-pemuda Ansor dan Bansernya. Alhamdulillah.

Abdullah Hamid, Pesantren Budaya Asmaulhusna (SAMBUA)

*Penyebutan peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal kemudian dengan nama G 30 S/PKI pada tahun 1965 dikutip dari Buku Manaqib Mbah Ma’shum sesuai aslinya karya Sayyid Chaidar yang diterbitkan  tahun 1973 oleh penulis, Abdullah Hamid, atas nasihat KH M Zaim Ahmad dan KH Syihabuddin Ahmad Ma’shoem. Pencetakan ulang oleh pihak lain tanpa menyebut PKI adalah pemalsuan sejarah.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG