IMG-LOGO
Nasional

Kiai Sya'roni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten

Ahad 26 Juni 2016 4:30 WIB
Bagikan:
Kiai Sya'roni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten
Kudus, NU Online
Dalam pengajian Tafsir Al-Qur'an di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus, Sabtu (25/6), Mustasyar PBNU KH.Sya'roni Ahmadi menyinggung sikap manusia yang tidak punya malu, bluboh dan tidak konsisten.

Lalu, Mbah Sya'roni memberikan contoh seekor ayam saat bertelur. Ketika telur sudah keluar dari dubur ayam, orang seringkali menyebut itu telur miliknya.

"Saat ditanya, ini telurnya siapa? Biasanya pada menjawab, ini telurku," tutur Mbah Sya'roni. 

Namun, saat ayam mengeluarkan kotoran, setiap orang terlihat tidak konsisten mengakuinya.

"Ketika ditanya, semua orang pada menjawab 'ini telek (kotoran) ayam', padahal sama seperti telur yang keluar dari dubur ayam. Harusnya kalau konsisten, orang tersebut bilang iku telek ku," kata Kiai Sya'roni, yang langsung disambut gerr jamaah. (Qomarul Adib/Zunus)
Bagikan:
Ahad 26 Juni 2016 18:30 WIB
Kepada PWNU Kalteng, PBNU: Jadilah Perekat Kerukunan!
Kepada PWNU Kalteng, PBNU: Jadilah Perekat Kerukunan!
Palangka Raya, NU Online
Pengurus Besa Nahdlatul Ulama (PBNU) berpesan kepada pengurus baru PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Kalimantan Tengah untuk menjaga keharmonisan di daerah setempat di tengah kondisi masyarakat yang cukup plural.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan hal itu setelah memimpin pelantikan pengurus baru PWNU Kalteng di rumah dinas Gubernur Kalimantan Tengah, Sabtu (25) malam.

“NU harus menjadi penjaga kerukunan di sana. NU harus mewarnai kehidupan di Kalteng, baik dari segi agama, budaya, maupun ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menurut Kang Said, begitu ia biasa disapa, Kalteng yang beribu kota di Palangka Raya merupakan daerah dengan populasi umat non-muslim yang cukup banyak. Sehingga, kehadiran NU dalam mengawal keberagaman sangatlah penting.

Dalam momen pengukuhan tersebut juga diadakan peluncuran Koperasi Sahabat NUsantara. Ketum PBNU berharap dengan didirikannya koperasi yang dimotori para alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini kiprah Nahdliyin di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat kian meningkat.

Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Kalteng Sugianto Sabran, Rektor Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Bulkani, serta ormas dan sejumlah warga nonmuslim. (Red: Mahbib)

Ahad 26 Juni 2016 7:27 WIB
Amanatul Ummah Siap Tuan Rumah Kongres Pergunu
Amanatul Ummah Siap Tuan Rumah Kongres Pergunu
Mojokerto, NU Online
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama akan mengadakan kongres kedua di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pada bulan Oktober 2016. Soal tempat, menurut Ketua Panitia Kongres Pergunu Gatot Sujono sudah dipastikan di pesantren tersebut karena dinilai paling siap.

Menurut Gatot, sebagai salah satu badan otonomm NU, Pergunu akan berkegiatan kembali di pondok pesantren. “Aktivitas NU itu kembali ke pondok pesantren. Kemarin muktamar ke-33 itu di pondok pesantren. Semua pergerakan itu dilakukan pesantren,” terangnya kepada NU Online di Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, Jumat malam, (244/6).

Ia menjelasakan kembali ke pesantren karena pergerakan melawan penjajah, pusat menimba ilmu, pemberdayaan masyarakat yang dilakukan NU dimulai pesantren. “Suasananya akan lebih sejuk dan religius kalau di pesantren. Kalau di hotel itu tidak begitu,” tambahnya.  

Amanatul Ummah, kata dia, adalah pesantren kebanggan dan dikenal banyak prestasinya. Dengan demikian, para peserta nanti bisa mengunjungi pesantren dan berbagi bagaimana tata kelola pondok pesantren tersebut. “Selama ini banyak sekali penyelenggara pendidikan ingin melakukan studi banding dengan pesantren ini,” katanya.

Ketua Umum Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim, tambah dia, yang merupakan pengasuh Pesantren Amanatul Ummah mengharapakan bisa langsung studi banding karena dari luar negeri pun seperti Malaysia dan Filipina melakukan studi banding ke pesantren tersebut. (Abdullah Alawi)

Ahad 26 Juni 2016 7:0 WIB
Ini Penjelasan KH Ahsin Sakho tentang Lailatul Qadar
Ini Penjelasan KH Ahsin Sakho tentang Lailatul Qadar
ilustrasi lailatul qadar

Depok, NU Online
Malam 21 Ramadhan 1437 H, langit di Kecamatan Bojongsari Kota Depok terlihat gelap. Hujan rintik-rintik. “Berarti malam ini tidak ada lailatul qadar,” kata KH Ahsin Sakho Muhammad, Sabtu (25/6) malam, mengawali ceramahnya pada peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Puri Bali, Depok.

Menurut Rais Majelis Ilmi Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadzh Nahdlatul Ulama itu, salah satu ciri datangnya malam lailatul qadar atau malam seribu bulan, menurut para ulama, adalah suatu malam dengan cuacanya yang cerah dengan anginnya yang semilir.

Apa itu malam lailatul qadar dan mengapa umat Nabi Muhammad SAW diberikan keistimewaan berupa malam seribu bulan itu?

Pertama-tama KH Ahsin Sakho menjelaskan bahwa istilah seribu bulan untuk malam lailatul qadar yang disebutkan dalam surat Al-Qadar (97): 3, tidak sekedar angka 1000 atau angka satu dengan tiga nol di belakangnya. Orang-orang Arab biasa menggunakan istilah seribu (alfun) sebagai angka yang besar dan luar biasa banyaknya, sama seperti orang orang Indonesia mengatakan “seribu candi”.

Bahwa malam lailatul qadar itu lebih utama dari pada seribu bulan, maksudnya adalah malam itu mempunyai keutamaan yang berlipat-lipat dibandingkan dengan malam-malam lain dan tidak harus kita hitung atau kita tuliskan dalam angka-angka kuantitatif.

Menurut guru besar Ilmu Al-Qur’an itu, adanya malam lailatul qadar adalah jasa dari Nabi Muhammad SAW. Beliau senantiasa menginginkan umatnya mendapatkan nilai lebih meskipun hanya menjalankan amal ibadah yang sedikit. Seperti shalat wajib lima waktu yang asalnya sebanyak limapuluh waktu. Nabi meminta keringanan agar umatnya menjalankan kewajiban shalat lima waktu saja dengan keutamaan yang sama. Seperti itulah malam lailatul qadar.

Namun malam lailatul qadar ini tidak untuk semua orang. Malam ini khusus bagi umat Islam yang pada malam itu ia berada dalam keadaan terjaga dan ia sedang menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Kapan tepatnya malam lailatul qadar memang tidak disebutkan secara pasti, agar umat Islam tidak pragmatis; tidak serta merta hanya menjalankan ibadah dengan mengincar satu malam itu saja. Namun para ulama memberikan ancang-ancang, malam lailatul qadar jatuh pada malam ganjil pada sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, yakni pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29, lalau disertai ciri-ciri atau gambaran suasana malam yang cerah.

Salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi aumat Islam agar mendapat lailatul qadar adalah i’tikaf, yakni berdiam diri di masjid walaupun hanya sejenak. “Saya niat menjalankan i’tikaf hanya semata-mata karena Allah.”

Betapa mulianya jika sepanjang malam kita beri’ikaf di masjid sampai datangnya waktu sahur kemudian menjalankan shalat subuh. Namun manusia selalu mengajukan penawaran-penawaran baik karena alasan mengantuk, kesibukan kerja esok hari dan segala macamnya.

Kata KH Ahsin Sakho, jika tidak bisa beri’tikaf sepanjang malam, maka pastikan bahwa kita menjalankan shalat Isya’ dan tarawih secara berjamaan, kemudian selepas sahur juga berjamaah shalat subuh di masjid. Menurut riwayat para ulama, siapa saja yang berjamaah isya’ maka ia menghabiskan separuh malam, dan jika ia menutup malam dengan menjalankan shalat subuh berjamaah di masjid maka ia menyepurnakan separuh malam yang lain.

Bacaan yang paling utama untuk menyambut malam lailatul qadar, baik pada saat melakukan i’tikaf di masjid maupun sedang  berada di rumah adalah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Peristiwa lailatul qadar itu sendiri juga sebenarnya terkait dengan moment turunnya Al-Qur’an dari lauh mahfudz ke langit dunia.

Nabi Muhammad SAW juga sangat berbahagia karena pada bulan Ramadhan beliau dapat berinteraksi langsung dengan Malaikat Jibril, melafalkan Al-Qur’an secara bergantian. Mungkin seperti itulah kebahagiaan kita pada saat melakukan tadarrus Al-Qur’an bersama rekan-rekan di masjid kita setiap malam Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga! (A. Khoirul Anam)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG