IMG-LOGO
Daerah

Hindari Talfiq dalam Menunaikan Zakat Fitrah

Rabu 29 Juni 2016 7:0 WIB
Bagikan:
Hindari Talfiq dalam Menunaikan Zakat Fitrah
Pringsewu, NU Online
Dalam praktik beribadah di tengah masyarakat, sering terjadi pencampuradukkan pendapat antara satu madzhab dengan madzhab lain (talfiq). Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini diantara lain minimnya pengetahuan dari masyarakat terkait hukum Islam.

"Talfiq secara syar'i adalah mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut," kata KH Munawir saat Dialog seputar Fiqh Zakat di Pesantren Al-Wustho Pringsewu, Selasa (28/6).

Bentuk praktik talfiq yang sering terjadi di setiap akhir bulan Ramadhan adalah saat pembayaran zakat fitrah. "Masyarakat banyak yang membayar zakat fitrah dengan uang yang mengambil takaran Madzhab Imam Syafi'i. Sementara Madhab Imam Syafi'i tidak memperbolehkan membayar zakat menggunakan uang," tambahnya.

Menurutnya, jika muzakki akan membayar zakat menggunakan uang maka harus dikurskan dengan madhab yang membolehkan pembayaran dengan mata uang yaitu Madhab Imam Hanafi. "Ukuran 1 Sha' menurut Imam Hanafi adalah 3,8 kilogram. Sesuaikan saja dengan harga beras yang dikonsumsinya," terangnya pada acara yang dibarengkan dengan Sosialisasi LAZISNU Kabupaten Pringsewu.

Atau menurutnya, jika muzakki tidak membawa beras dari rumah, Kepanitiaan Amil menyediakan beras untuk dibeli oleh para muzakki terlebih dahulu dan kemudian diserahkan kepada Amil. "Ini akan mempermudah para muzakki yang dari rumah hanya membawa uang," jelasnya.

Hal-hal seperti inilah yang menurutnya perlu disampaikan ke masyarakat khususnya para muzakki yang akan menunaikan Ibadah tahunan ini. "Jangan sampai apa yang telah kita lakukan tidak sesuai dengan kaidah syar'i sehingga kewajiban ibadah kita tidak tertunaikan dengan baik sehingga tidak diterima oleh Allah SWT," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Bagikan:
Rabu 29 Juni 2016 23:40 WIB
Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai
Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai
Malang, NU Online 
Gusdurian Kota Malang menggelar agenda “Safari Ramadhan Damai” ke pesantren-pesantren yang ada di Kota Malang. Safari damai merupakan agenda yang tur keliling pesantren untuk belajar Islam toleran dan berdiskusi dari pemuda lintas agama yang terdiri dari Pemuda Katolik, Buddha, dan Islam sendiri di mana Islam terdiri dari pemuda NU, Pemuda Muhammadiyah, dan juga Pemuda Syi’ah.

Safari Ramadhan Damai dilaksanakan hari Senin tanggal 27 Juni 2016 di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Kota Malang di bawah asuhan Al Mukarrom KH Marzuqi Mustamar yang sekaligus menjabat sebagai wakil rais syuriyah PWNU Jawa Timur.

Pada safari Ramadhan Damai kali ini, Gusdurian Kota Malang menggandeng pemuda NU lewat PKPT IPNU-IPPNU Universitas Brawijaya dan aktivis dari GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) untuk turut serta dalam agenda tersebut.

“Ini merupakan agenda rutin kami dari Gusdurian Kota Malang yang diadakan setiap tahun untuk terus mengajak pemuda kita saling toleransi antarumat beragama. Terbukti banyak kalangan yang mengapresiasi kegiatan kami. Ada banyak elemen pemuda dari berbagai agama, sekte, maupun ormas dalam Islam yang turut serta,” kata Fauzan selaku ketua Gusdurian Kota Malang.

“Ini merupakan agenda awal kami bersama Gusdurian Kota Malang untuk menyongsong rencana besar bulan Oktober di mana kita akan mengadakan Forum Pemuda Lintas Damai Nasional yang akan di-hosting di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya atas kerja sama dengan LOF (Lembaga Otonom Fakultas) Al Hisaf (Al Hifdus Saqofah) FPIK UB,“ terang Ikbar Al Asyari selaku Sektretaris Umum IPNU Universitas Brawijaya.

Harapan ke depannya, kegiatan-kegiatan bernuansa toleransi umat beragama dapat lebih diterima dan menarik banyak pemuda untuk aktif terlibat sehingga, kegiatan tersebut mampu terdistribusi secara masif dan luas di masyarakat kita untuk lebih mengedepankan toleransi beragama dan tetap menjaga kerukuran beragama. (Irwanto Marhaenis/Mukafi Niam)
Rabu 29 Juni 2016 23:21 WIB
Khataman Al-Qur'an Sebagai Media Penguatan Organisasi
Khataman Al-Qur'an Sebagai Media Penguatan Organisasi
Jombang, NU Online
Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PKPTNU) STIT al-Urwatul Wutsqo (UW) Jombang memperkuat pola komunikasi dan menjaga kesolidan antar pengurus dengan berbagai cara, salah satunya khataman Al-Qur'an.

Kegiatan tersebut digelar pada Senin, (27/6 2016) di Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) Nurul Ulum Dusun Ngasem, Desa Jombok, Ngoro, Jombang. Sejumlah pengurus PKPT setempat mengikutinya hingga rampung, kemudian dilanjutkan dengan buka bersama (bukber).

"Acara khataman dan bukber ini dilaksanakan tidak hanya sebagai bentuk suksesnya program Departemen Dakwah PKPT STIT UW, akan tetapi juga sebagai salah satu ajang mempererat silaturahim dan komunikasi anggota dan pengurus PKPT STIT UW Jombang," kata salah seorang Pengurus PKPTNU, Anna Uswatun Hasanah, Senin (27/6).

Sementara itu, inisiatif atau dorongan melaksanakan kegiatan, termotivasi dari salah satu ayat Al-Qur'an yang menganjurkan umat Islam agar melestarikannya.

"Dan memang dalam QS Al-Fatir ayat 30 yang artinya, agar Allah menyempurnakan pahala kepada mereka dan menambah karunia Nya, sungguh Allah maha pengampun dan maha pemberi rasa syukur," ujarnya.

Terlebih lagi pada bulan Ramadhan ini, hendaknya memang dijadikan momentum menambah amal kebaikan.

"Disebutkan juga dalam hadits yang artinya, telah datang kepadamu bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maka dengan bentuk acara khataman ini dapat kita gunakan sebagai rasa syukur atas karunia nikmat dan taqarrub illallah," imbuhnya.

Sementara Abdul haris, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jombang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan agar PKPTNU menggalakkan pengaderan warga NU di tingkat perguruan tinggi. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Rabu 29 Juni 2016 22:41 WIB
Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat
Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat
Kudus, NU Online
Hidup seorang santri harus mempertimbangkan dua hal, yakni kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Keseimbangan hidup untuk tetap berdaya guna di kehidupan dunia ini menjadi penting adanya, namun tetap pada jalur tidak melupakan bekal untuk kehidupan di akhirat.

Demikian salah satu pesan KH Fathur Rahman, pimpinan Ma’had Qudsiyyah Kudus Jawa Tengah dalam penutupan ngaji posonan Ma’had Qudsiyyah, pada Sabtu (25/6) malam .

Kiai Fathur menjelaskan, untuk sukses di kehidupan dunia, santri harus profesional dan kreatif. “Tantangan kita semakin berat, perkembangan teknologi kian cepat. Santri harus mampu menguasai, jangan sampai ketinggalan,” katanya.

Ia berpesan santri jangan hanya fokus pada mapel kitab dan salafiyah saja, tetapi mengabaikan ilmu-ilmu yang bersifat duniawi. “Ora dadi pitakon kubur, kudu diilangi, ora oleh dadi alasan (slogan “tidak jadi pertanyaan di alam kubur” harus dihilangkan, tidak boleh jadi alasan meninggalkan pelajaran-pelajaran umum),” pesan beliau.

Di hadapan sekitar 150 santri yang ikut ngaji posonan di Ma’had Qudsiyyah, kiai dari Padurenan Gebog Kudus ini berpesan, semua ilmu harus dipelajari dan didalami. Tidak boleh membeda-bedakan ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Untuk mampu menjadi profesional dan berhasil di dunia, kiai Fathur berpesan agar selalu serius dalam mencari ilmu dan tidak membeda-bedakan ilmu. Bekal untuk kehidupan di dunia harus dipersiapkan dengan ilmu dan keahlian.  

Di sisi lain, Kiai Fathur juga berpesan jangan sampai melupakan kewajiban untuk kehidupan di akhirat. Tugas dan bekal untuk akhirat jangan sampai dilupakan. “Jangan sampai terbuai di dunia, sehingga melupkan kewajiban-kewajiban untuk bekal di akhirat,”  katanya.

Ia menjelaskan, untuk bekal di akhirat, santri harus mulai sregep dan fokus pada shalat fardlu dan shalat-shalat yang disunnahkan. “Jangan sampai hanya melaksanakan shalat wajib saja, juga harus dimulai dengan rutin melaksanakan shalat sunnah seperti rawatib, witir, dan Dhuha,” jelasnya.

Dengan menjalankan dan memperhatikan shalat wajib dan shalat sunnah, maka akan semakin mudah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat nanti. (Muhammad Kharis/Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG