IMG-LOGO
Nasional

Ketupat, Ngaku Lepat dari Belitan Dosa

Rabu 6 Juli 2016 11:0 WIB
Bagikan:
Ketupat, Ngaku Lepat dari Belitan Dosa

Ketupat identik dengan hari raya Lebaran. Meski sehari-hari mudah ditemukkan di pasarang, tapi seolah kurang afdol jika Lebaran tiada makanan yang dibungkus daun kelapa muda tersebut.

Ketupat, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak M. Jadul Maula, dalam bahasa Jawa diucapakan sebagai kupat. Kupat mengandung pesan ajaran, yaitu ngaku lepat (mengaku salah) dan laku lapat (empat tindakan amal).

Laku yang empat itu, lanjut dia, adalah lebaran (selesai puasa), luberan (zakat fitrah), leburan (bermaafan) dan laburan (kembali putih, fitri).

Pembungkus ketupat, kata Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia PBNU, ini adalah daun kelapa (janur) yang dijalin melambangkan belitan dosa dan kesalahan.

Karena itulah, menurut dia, ia mesti dibelah dan akan tampak dalamnya yang berwarna putih lambang kesucian dari dosa.

“Setahu saya sejak para wali itu, tapi mungkin aja sebelumnya sudah ada. Tapi penggunaan ketupat kaitannya dengan perayaan lebaran itu jelas dari para wali,” katanya. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Rabu 6 Juli 2016 20:2 WIB
Habib Luthfi bin Yahya Bagikan 80 Ton Beras kepada Mustahik
Habib Luthfi bin Yahya Bagikan 80 Ton Beras kepada Mustahik
Pekalongan, NU Online
Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Luthfi bin Yahya ikut memantau sekaligus ikut serta mengamankan arus lalu lintas mudik lebaran, Selasa (5/7) malam. Habib Luthfi juga masih menyempatkan diri untuk turut serta membagikan beras.

Bersama sejumlah elemen baik sipil maupun militer, dengan berpakaian doreng ala tentara Habib Luthfi membagikannya. Ia mengunjungi ke tempat anak yatim dan panti asuhan.

Pada tahun ini, sebanyak 80 ton beras berhasil dikumpulkan untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Jumlah ini meningkat 10 ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Fahmi, salah satu jamaah Habib Luthfi, menuturkan, selain membagikan beras Habib Luthfi juga kerap kali menyambangi sejumlah posko pengamanan yang didirikan masyarakat. Habib Luthfi biasanya datang pada malam hari.

“Biasanya Habib datang untuk menanyakan kelancaran pengamanan,” kata aktivis IPNU Ranting Banyuurip Buaran Kabupaten Pekalongan itu.

Sementara itu, dari akun resmi fanspage facebook Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, dikatakan bahwa kegiatan sosial berbagi beras ini sudah dilakukan oleh Habib Luthfi sejak muda.

“Dimulai dari satu dua kwintal dengan menggunakan becak hingga sekarang, beras yang beliau bagikan memerlukan puluhan truk TNI. Hari raya Idul Fithri sejatinya adalah berbagi kebahagiaan,” tulis akun tersebut. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Rabu 6 Juli 2016 18:2 WIB
Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama
Mudik, Budaya yang Dibenarkan Agama
ilustrasi: Mbahjiwo.com

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas'udi mengatakan, mudik adalah budaya yang bisa dijustifikasi agama karena hal itu bermuatan silaturahim yang dianjurkan agama Islam.

“Niatnya kan silaturahmi. Jelas itu ajaran agama,” katanya kepada NU Online Selasa (5/7).

Pemudik, kata Kiai Masdar, umumnya adalah perantau dari desa atau daerah untuk megadu nasib atau mencari penghidupan dan pengembangan diri yang lebih baik.

Mereka, sambungnya, adalah orang daerah atau desa yang ingin mendapatkan masa depan yang lebih sesuai dengan pendidikan dan perkembangan jamannya.

“Semuanya itu tidak mungkin bisa diraih kalau tetap tinggal di desa atau kampungnya yang terbatas kemungkinan-kemungkinannya, baik secara ekonomi maupun sosial,” katanya.  

Kiai Masdar menambahkan, pemudik adalah muhajir-muhajir dari desa untuk membangun masa depan yang lebih baik yang hanya bisa disediakan oleh kota.

Masa-masa setahun mencari penghidupan di kota, maka Lebaran adalah momen kultural untuk menengok masa lalu dan asal-usul secara massal yang tepat dalam bingkai keutamaan keagamaan yang disebut "silaturrahmi".

“Hal itu sesuai dengan hadits Nabi: ‘Barangsiapa yang ingin dilapangkan jalan rezekinya dan diperkuat akar keberadaannya maka ia hrs mmperkokoh tali silaturrahmi baik dengan saudara atau handai tolannya’. Selamat Lebaran!” (Abdullah Alawi)


Rabu 6 Juli 2016 18:1 WIB
Catatan Seorang Ibu 22 Tahun Lebaran di Luar Negeri
Catatan Seorang Ibu 22 Tahun Lebaran di Luar Negeri
Keluarga Ketua PCINU Muslimat Malaysia Mimmin Mintarsih

Tidak semua orang bisa mudik ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, bercengkerama, bersilaturahim, berziarah ke makam leluhur. Tidak semua orang. Contohnya Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia Mimin Mintarsih. Ia telah 22 tahun tak berlebaran di Indonesia. Berikut catatan ibu 48 tahun yang telah dikaruniai 5 anak tersebut.

Saya sudah 22 tahun di Malaysia dan selama 22 tahun pula berlebaran Idul Fitri belum pernah di kampung halaman, ke Indonesia. Bukannya tidak kangen pulang kampung, tapi dikarenakan liburan sekolah anak-anak hanya satu minggu sehingga tidak cukup untuk lebaran di kampung dengan kondisi jalan yang macet.

Selama 22 tahun lebaran di negeri orang membuat saya tidak berkumpul dengan keluarga keluarga yang jauh-jauh. Hanya saya sekeluarga yang tidak dapat datang. Dan jelas saya tidak bisa ziarah kubur kepada ibu dan ayah yang udah wafat.

Kemudian rindu masakan pada hari raya. Biasanya ada lontong, ketupat dan sambal goreng kentang. Memang di Malaysia juga ada, tapi rasanya tidak senikmat ibu yang masak.

Aduh, saya juga rindu keliling silaturrahim ke rumah saudara-saudara dengan berjalan beramai-ramai

Meski demikian, alhamdulilah di Malaysia, saya mempunya ramai kawan yang dari berbagai macam daerah yang ada di Indonesia; dari kalangan pelajar, pekerja pejabat akan datang ke rumah karena mungkin saya termasuk orang lama di negri jiran ini sehingga ramai yang menganggap saya orang tua khususnya para pelajar.

Alhamdulilah juga saya di Malaysia mempunya orang tua angkat yang asli orang Malaysia sehingga saya bisa silaturrahim ke orang tua angkat pengobat rasa rindu keluarga di kampung.

Untuk melupakan kesedihan karena tidak dapat lebaran di kampung, saya memasak masakan yang biasa dimasak di Indonesia sehingga suasananya hampir sama dengan di Indonesia.

Di antara tetangga satu dengan tetangga lainnya kami saling berkunjung walaupun adat dan budaya berbeda. Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin... (Red: Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG