IMG-LOGO
Daerah

Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat?

Jumat 15 Juli 2016 3:1 WIB
Bagikan:
Untuk Apa Diadakan Kenduri Lebaran Ketupat?
Kudus, NU Online
Semarak Hari Raya Idul Fitri di kalangan masyarakat Jawa Tengah bisa dibilang menarik. Pasalnya, masyarakat tidak hanya merayakan pada tanggal 1 Syawal untuk bermaaf-maafan dengan saudara dan teman saja, tetapi pada 8 Syawal dirayakan pula sebagai Lebaran Ketupat.

Sebagaimana yang terjadi di desa Papringan, kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hampir seluruh warga pada hari sebelumnya memasak ketupat untuk di konsumsi secara khusus pada hari lebaran ketupat.

Selain dikonsumsi sendiri, ketupat dilengkapi dengan kuah khas yang telah matang dijuga dibagikan ke rumah-rumah tetangga dan puncaknya dimakan bersama oleh sebagian warga di setiap masjid dan musholla pada pagi hari tanggal 8 syawal tersebut.

Menurut Syuriah Ranting NU desa Papringan Kiai Solkhin, kenduri ketupat pada tanggal 8 Syawal merupakan bentuk majelis tasyakuran dan doa usai menunaikan kewajiban rukun Islam yakni puasa dan ibadah sunnah lainnya pada bulan Ramadhan.

“Makanya, ulama dahulu membuat acaraselametan (tasyakuran), diisyaratkan dengan kupat (ketupat) dan lepet (panganan ketan yang dibungkus daun kelapa),”tuturnya saat membuka ritual kenduri ketupat yang berlangsung di masjid Al-Junaid, Rabu (13/7) pagi.

Adapun kegunaan kenduri ketupat, lanjut Kiai Solkhin, untuk menyimbolkannasi yang ada di dalam ketupat jangan sampai keluar dari bungkusnya yang tersusun dari janur atau daun pohon kelapa.

“Sama juga dengan diri kita untuk membungkus raga dan nyawa yang sudah bersih jangan sampai terkena noda-noda dosa pada tahun-tahun yang akan datang,” terangnya memaknai dibalik tujuan kenduri ketupat.

Mengenaikalimat ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idin wal faizin wa taqabbalallahu wa minna wa minkum taqqabal ya karim, ini merupakan istilah buatan ulama dahulu yang sering dipakai banyak kalangan pada momen Idul Fitri. Doa ini mempunyai arti, semoga dijadikan Allah termasuk orang yang kembali fitrah, baik itu raga maupun nyawa supaya bersih dari dosa.

Ia menambahkan keterangan tentang kalimat doa lainnya yakni wa antum bi khoirin fi kulli ‘am, yang mempunyai artipada tahun-tahun yang akan datang, mudah-mudahan kita selalu dalam keadaan baik.

“Sebagian ulama menafsiri kalimat tersebut sebagai doa supaya tahun depan dapat bertemu kembali dengan hari raya Idul Fitri,” jelasnya dihadapan puluhan warga yang masing-masing sudah membawa ketupat beserta kuah yang ditaruh rapi dalam wadah.

Sementara itu, Kiai Solkhin menilai pahala kenduri ketupat tersebut tidak hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri, tetapi bisa pula niat diberikan kepada orang yang sudah meninggal. “Kita diberikan juga kepada ahli kubur. Semoga selalu mendapatkan maghfirah dari Allah,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 15 Juli 2016 19:32 WIB
Inilah Sepuluh Hikmah Silaturahim
Inilah Sepuluh Hikmah Silaturahim
Bupati Brebes dan Syekh Sholeh.jpg
Brebes, NU Online
Pengasuh pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah KH Syeh Sholeh Basalamah menekankan pentingnya silaturahim bagi umat manusia. Sebab, pengampunan dosa di hadapan Allah SWT lebih mudah bila dibandingkan dengan pengampunan dosa akibat kesalahan antarmanusia. Upaya menjauhkan diri dari berbagai kekhilafan antarmanusia adalah dengan membangun silaturahmi.

Demikian disampaikan KH Syeh Sholeh Basalamah saat mengisi hikmah Halal Bihalal Keluarga Besar PNS Kabupaten Brebes di pendopo Bupati, Jumat (15/7). Menurutnya, dosa antara manusia dengan Allah lebih ringan dibandingkan dengan dosa dengan sesama manusia. Jalan ampunan dengan Allah sangat banyak. Sedangkan dosa dengan manusia akan repot.

Syeh Sholeh memaparkan, sumber munculnya perbuatan dosa dengan manusia adalah mulut. Mulut menjadi biang penghasil dosa seperti ngrasani, mengumpat, adu domba, bohong, fitnah. Namun lisan juga bisa mengantarkan manusia ke jalan surga, manakala manusia mampu mengendalikan lisan, menjaga lisan. “Orang yang bangkrut di hari kiamat adalah orang yang ketika di dunia melakukan ibadah tetapi lisannya tidak di jaga,” terangnya.

Dia menjelaskan, ada sepuluh langkah terpuji dari silaturahmi.  Pertama, mendapatkan ridlo Allah SWT karena Dialah yang memerintahkan silaturahim. Kedua, membuat gembira sanak saudara. "Sesungguhnya amal yang paling utama adalah membuat gembira orang mukmin," ujar Syeh Soleh yang Mutasyar PCNU Brebes.

Ketiga, lanjutnya, dengan silaturahim akan menggembirakan malaikat karena malaikat seneng kalau ada orang bersilaturahim. Keempat, mendapatkan pujian baik dari orang muslim.  Kelima, menjadikan susah iblis laknatullah untuk menggoda manusaia.

Keenam, menambah umur, ketujuh mendapatkan berkah dalam rejeki. Kedelapan, menggembirakan orang orang yang meninggal dunia. Kesembilan, bertambah erat tali persaudaraan.

Dan kesepuluh, menambah pahala setelah ia meninggal, karena sanak kerabat akan selalu mendoakan setelah meninggal. Orang akan selalu mengingat jasa-jasa silaturahim maka saat meninggalpun diberi kiriman doa oleh orang-orang yang mengenalnya.

Walau bagaimanapun, sambung Syeh Sholeh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Namun sebaik-baik orang berdosa adalah yang mau bertobat pada-Nya.

Meski demikian, jangan sampai kita memasukkan halal haram ke dalam perut kita. Nanti kita akan disamakan dengan celengan. “Ketika uang yang ada di celengan mau diambil, maka jalan yang ditempuh tidak dengan cara mengambil seperti di ATM atau kasir Bank. Tapi langsung dipecah, dibanting. Maka kalau kita akan makan barang haram, ingatlah kalau perut kita bukan celengan,” tandasnya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, atas nama Kepala Daerah meminta maaf bila dalam kerja sama selama ini banyak kekeliruan. “Barangkali saya pernah ngomeli atau menyakiti, pada dasarnya karena kita sama-sama ingin mencapai tujuan yang terbaik,” ucapnya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Brebes Narjo SH, para Asisten, Kepala SKPD dan ribuan PNS. (wasdiun/abdullah alawi)

Jumat 15 Juli 2016 18:1 WIB
Kenaikan Kelas di Madrasah Dua Liter
Kenaikan Kelas di Madrasah Dua Liter
Sukabumi, NU Online
Seorang anak belasan tahun menaiki panggung mewah 6 x 3 meter. Ia memegang mikropon. Kemudian tangannya teracung sebagaimana KH Zainuddin MZ atau KH AF Ghozali. Mulutnya kemudian mengutip kalimat Arab “Man dakholal Qobro bila jadin fakaannama rokibal bahro bila safinatin”. Kemudian ia menerjemahkannya, barangsiapa yang masuk ke dalam kubur tanpa amal kebaikan, maka ia seperti berlayar di lautan tanpa perahu”.

Tak lebih dari tujuh menit ia berdiri di atas pentas di hadapan teman-temannya, guru-gurunya, para orang tua teman-temannya, ayah dan ibunya, juga tetangganya. Gaya bicaranya cepat seolah waktu demikian sempitnya, seolah kalau lambat akan dikurangi uang jajannya. Kemudian ketika selesai pun, ia meninggalkan panggung dengan setengah berlari seolah di belakang ada kekeknya sedang mengacungkan sapu lidi.

Kemudian pembawa acara mempersilakan anak lain untuk juga menaiki pentas. Tidak sendirian, melainkan enam orang. Mereka berbicara memperkenalkan diri sambil tertunduk bahwa mereka  dari kelas dua madrasah diniyah yang akan menyebutkan jumlah rukun iman. Seorang anak paling kanan maju sambil tertunduk, “rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah.” Ia mundur kepada tempatnya semula.

Disusul anak sebelahnya, juga maju beberapa langkah, menyebutkan bahwa rukun iman kedua adalah kepada malaikat Allah. Begitu seterusnya sampai semuanya kebagian, sampai rukun iman keenam, percaya kepada akan datangnya hari akhir.

Kemudian anak lain kembali ke panggung serupa anak pertama. Bergiliran. Tapi tidak semua lulus dan lancar karena ada kalimat-kalimat yang dihafalkannya terlupakan. Hal itu disebut micung. Faktornya karena ia malas menghafal. Bisa juga sudah hafal, tapi karena merasa rawan di hadapan orang banyak, hafalannya berhamburan kacau.

Anak-anak yang tampil tersebut berlangsung pada samenan atau kenaikan kelas di Madrasah DIniyah Miftahul Aulad, Kampung CIlulumpang, Kecamatan, Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Kamis malam (14/7). Susunan acara samenan hampir dikatakan ajeg dari tahun ke tahun, yaitu pembukaan, pembacaan tawasul kepada leluhur kampung-kampung, khususnya para pemberi wakaf untuk lembaga pendidikan tersebut.

Kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kampung tersebut memiliki qari terbaik yang sampai saat ini tak tergantikan, Dadan Syahrul Hidayat dan Dedi Junaidi. Keduanya adalah guru ngaji di kampung tersebut. Keduanya beberapa kali lolos pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an ke tingkat kabupaten. Tak nasib tak pernah mujur. Mereka tak pernah lolos sampai ke tingkat provinsi.

Setelah sambutan dari kepala madrasah, perwakilan wali murid, dan perwakilan dari pemerintahan, dialnjutkan dengan penampilan anak-anak, yaitu ngaleseng tadi. Ngaleseng tersebut tergantung kelasnya. Bagi anak-anak kelas satu mereka hanya membacakan surat-surat pendek Al-Qur’an. Sementara kelas yang lebih tinggi ngalesengnya membacakan hadits ayat sepotong ayat dengan terjemahnya. Semakin tinggi dengan penjelasannya.

Gaya bicara mereka rata-rata mengucapkan setiap kata dengan cepat. Jarang sekali yang anca atau kalem. Intonasinya ada yang lantang ada juga yang pelan, seperti berbisik. Sementara penggunaan bahasa, ada yang Sunda dan Indonesia.

Samen dan ngaleseng
Samen atau samenan, menurut budayawan Sunda H. Usep Romli HM berasal dari bahasa Belanda, examen. Kemudian mengalami perubahan pelafalan di lidah orang Sunda menjadi samen. Sementara ngaleseng Usep tidak mengetahuinya. Ngaleseng bisa jadi istilah khas daerah Sukabumi.

Pada saat samenan di madrasah selalu lebih meriah daripada di SD. Di Miftahul Aulad misalnya, pada kegiatan tersebut bisa berlangsung dua hari, biasanya dimulai dengan beragam perlombaan seperti balap karung, panjat pinang, memasukan kelereng ke dalam botol, dan lain-lain. Kemudian ada arak-arakan keliling kampung. Pada zaman dahulu biasanya diiringi dengan beduk, sekarang dengan drum band.

Sementara ngaleseng sendiri dilakukan pada malam hari. Juga pengumuman juara kelas dari satu sampai tiga dari kelas satu sampai kelas enam. Khusus untuk kelas enam ada acara khusus sebagai kesempatan penghabisan, yaitu naik ke panggung bersama-sama, membaca shalawat. Lalu diberi amanat terakhir dari kepala sekolah untuk bekal hidup di masa yang akan datang. Kemudian bersalaman. Biasanya diiringi isak tangis anak-anak. Pada kesempatan tersebut dilepaslah balon raksasa sebagai tanda perpisahan.

Partisipasi warga
Pada samenan, setiap wali murid hadir ke halaman madrasah. Juga hampir seluruh warga kampung. Mereka memadati masjid, rumah-rumah terdekat dan madrasah sendiri. Tak hanya kampung Cilulumpang, tapi dari kampung tetangga dan desa tetangga. Orang banyak berkumpul, kemudian mengundang para pedagang mulai dari penjual cilok, balon, bakso, mie ayam, sate, martabak, bandros, mainan anak-anak, TTS, Komik Tatang S, dan lain-lain.

Di madrasah Miftahul Aulad, pada samenan, murid-murid dari kelas satu sampai kelas enam mendapat makanan dari sekolah. Dulu, makanan tersebut disajikan dalam bentuk besek yang terbuat dari bambu, sekarang. Dulu wali muridnya juga makan bersama, tapi menurut Kepala Madrasash Miftahul Aulad, Kiai Syarif Hidayat, tiga tahun belakangan ini, tidak lagi. Karena, kata dia, biayanya terlalu mahal.

Makanan untuk murid-murid dan beberapa tamu undangan dimasak secara kolektif oleh tetangga-tetangga sekitar madrasah. Mereka terbagi ke dalam dua bagian, ada yang memasak di rumah Kepala Madrasah ada juga yang di rumah masing-masing. Untuk kelompok pertama, adalah memasak daging, sayuran dan kue-kue. Sementara yang di rumah masing-masing adalah memasak beras.  

Partispasi tersebut terlihat pada pembangunan madrasah itu sendiri yaitu dengan tangan-tangan warga dua kedusunan. Madrasah selalu melibatkan keringat masyarakat dimulai dengan rapat seluruh wali murid. Ketika direhab, tetangga-tetannga digilir untuk menyediakan makanan dan minuman. Bagi yang memiliki kayu, bambu, pasir atau tenaga bekerja sama. Hanya tukang yang pokok saja yang diberi upah.

Kini madrasah tersebut memiliki tiga ruangan kelas dan satu kantor. Tiga kelas tersebut disekat dengan tripleks untuk menyekat satu kelas dengan kelas lainnya. Kondisinya sudah ada yang rusak di sana-sini seperti genteng bocor, bangku dan meja serta papan tulis yang tak layak pakai. Serta dinding yang sudah retak-retak.  

Partisipasi tersebut juga terlihat dari pengisi acara acara samenan. Pada samenan tahun ini misalnya, bu-ibu setengah baya menampilkan kesenian kasidahan. Mereka yang menamakan diri sebagai grup kasidah Nurun Nisa tampil dimulai dengan lagu “Bismillah”, Ya Robbi Barik, dan lain-lain. Pada tahun-tahun sebelumnya ada juga penampilan teater dari alumni.  

Madrasah dua liter beras
Madrasah Diniyah Miftahul AUlad didirikan tahun 1980 oleh M. Atang. Kemudian dilanjutkan oleh menantu dan anak-anaknya. Madrasah tersebut sekarang dipimpin Kiai Syarif Hidayat yang yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Desa Kertamukti dan Wakil Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Warungkiara.

Sejak didirikan, murid-murid berasal dari dua Kedusunan yaitu Cilulumpang dan Ciseupan. Sebelum di daerah Bojongkerta membangun madrasah, anak-anak kampung tersebut juga sekolah khusus agama pada sore hari ke Miftahul Aulad. Menurut Kiai Syarif, madrasah tersebut telah melahirkan sekitar 800 lulusan sejak pertama kali didirikan. Dan untuk tahun ini jumlah murid ada 130 anak dengan 5 guru 1 kepala madrasah.

Madrasah tersebut, menurut Syarif, sejak awal didirikan berjalan dengan beras. Madrasah menerapkan kebijakan hal tersebut karena sepanjang 36 tahun, meski sudah ada beberapa perubahan mata pencaharaian wali murid, tapi pertanian masih menjadi dominasi wali murid.  

Ia menjelaskan, dulu iuran hanya sebesar 1 liter beras. Kemudian bertahun-tahun 1, 5 liter. Pada tahun 2000-an pernah diubah iuran bulanan dengan uang. Tapi ternyata mogok. Akhirnya di tahun berikutnya pembayaran bulanan dikembalikan dengan beras. Kemudian sejak tahun 2000an tersebut sampai sekarang, iuran sebesar 2 liter beras. Bagi wali murid yang memiliki dua anak, boleh membayar 3 liter beras. Jika memiliki tanggungan tiga anak boleh 3,5 liter.   

Namun dengan pembayaran beras, lanjut dia, kadang-kadang wali murid menunda pembayaran di kala beras mahal. Lalu segera membayar ketika harga beras jatuh. Sehingga dalam sebulan, guru tidak mendapat upah sama sekali. Selain itu, kadang-kadang wali murid membayar iuran dengan beras yang kualitas rendah seperti raskin, sementara beras dari hasil pertanian mereka, disimpan atau dijual. Persolan lain, kadang wali murid membayarnya sekaligus di akhir tahun secara serentak.  

Kendati begitu, madrasah tersebut tetap berjalan. Tetap berjalan, meski guru-gurunya dirata-ratakan hanya berupah Rp 200 ribu per bulan tanpa gaji ke-13 tentunya. “Pendidikan agama untuk tunas-tunas muda kampung harus tetap dipertahankan. Rizki mah Allah yang ngatur,” katanya. (Abdullah Alawi)

Jumat 15 Juli 2016 17:1 WIB
Halal Bihalal Nahdliyin Gudo Ajang Perkuat Persatuan
Halal Bihalal Nahdliyin Gudo Ajang Perkuat Persatuan
Jombang, NU Online
Sejumlah warga nahdliyin Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang menggelar halal bihalal di halaman YPI Abdul Aziz Al-Ma'ruf Gudo, Kamis (14/7/2016) kemarin. Mereka di antaranya Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Fatayat NU, Muslimat NU beserta badan otonom (banom) NU yang lain.

Acara tersebut dihadiri perwakilan dari PCNU, Ketua PC GP Ansor Jombang, Camat Gudo dan Kepala Desa Gudo. Puluhan orang tampak memadati lokasi agenda hingga rampung.

Termasuk rangkaian kegiatan halal bihalal yaitu mauidzah hasanah oleh Mbah Husein Ilyas asal Kabupaten Mojokerto yang kemudian dilanjutkan pelantikan Pengurus Ranting (PR) NU dan PAC GP Ansor Gudo. Acara tampak meriah dengan iringan pembacaan shalawat oleh Laskar Ja'a Muniro dan Syeikhermania Jombang.

Ahmad Ridho Ahsan, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Gudo yang juga ikut andil dalam kegiatan mengatakan, bahwa kegiatan tersebut merupakan rutinitas warga nahdlyin Gudo setiap tahunnya, meski terkadang ada perubahan konsep pada rangkaian acara.

"Acara ini merupakan program tahunan di MWCNU Gudo," ujarnya.

Dikatakan juga, kegiatan bertujuan menyambung shilaturrahim dan meningkatkan rasa kekompakan serta kesatuan Jam'iyah NU Gudo mulai MWCNU hingga IPNU-IPPNU.

Sementara itu, di waktu yang sama Ketua PAC GP Ansor, Agus Efendi menambahkan, selain untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama masyarakat nahdliyin, kegiatan tersebut menjadi ajang pertukaran sejumlah ide dalam menggenjot soal kaderisasi NU, baik dari sisi pola kaderisasi yang dianggap efektif, penguatan kaderisasi yang tepat juga menarik pada sejumlah kalangan. "Ke depan, kita akan prioritaskan soal kaderisasi," katanya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG