IMG-LOGO
Opini

Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam

Senin 18 Juli 2016 8:0 WIB
Bagikan:
Berkomunikasi Menggunakan Simbol dalam Islam
Ilustrasi
Oleh Hagie Wana

Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari proses berkomunikasi adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata (verbal), gerakan tubuh (nonverbal) ataupun objek lainnya yang maknanya disepakati bersama seperti contohnya memasang bendera kuning adalah tanda berduka bagi sebagian masyarakat di Pulau Jawa. Simbol atau lambang tersebut sangat variatif dan bergantung pada kebudayaan yang berlaku di sebuah tempat.

Dalam dunia Islam, penggunaan simbol sebagai media berkomunikasi bukanlah hal yang asing. Namun minimnya pengetahuan dan kekakuan dalam menginterpretasikan nash/dalil, tak jarang banyak pihak yang menolak keberadaan simbol-simbol dalam proses kehidupan beragama. Yang kemudian mengategorikan simbol-simbol dalam kehidupan beragama itu ke dalam takhayul, bid’ah, khurafat atau bahkan tak tanggung-tanggung, yaitu musyrik.

Sebagai contoh, suatu ketika saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa, Rasul memutar posisi sorbannya sebagai bentuk doa bir rumuz, yakni berdoa dengan menggunakan isyarat atau simbol. Berdoa dengan simbol pun sering dilakukan oleh umat Islam di Nusantara. Contohnya sebagian kelompok masyarakat Sunda ketika akan pindah/menempati rumah baru, hal yang pertama dipindahkan adalah pabeasan (tempat menyimpan beras) terlebih dahulu sebelum barang yang lain. Ini adalah bentuk doa agar kelak saat mendiami rumah tersebut akan tercukupi kebutuhan pangannya.

Tidak hanya dalam doa, penggunaan simbol juga biasa dilakukan dalam proses pendidikan. Sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mendapat aduan dari Yahudi yang merasa dizalimi oleh salah satu gubernurnya di wilayah pemerintahnnya kala itu, Umar bin Abdul Aziz mengambil sebuah tulang unta, kemudian membuat goresan lurus pada tulang tersebut dengan pedang, lalu beliau memerintahkan Yahudi itu untuk membawa tulang tersebut pada gubernurnya. Ketika tulang dibawakan ke hadapan gubernur, tiba-tiba sang gubernur bergetar dan bercucuran keringat. Si Yahudi pun terheran-heran. Saat ditanyakan, sang gubernur menjawab “Ini adalah pesan dari khalifah Umar agar aku berbuat adil (lurus) sebagaimana lurusnya garis pada tulang ini. Kalau aku tak sanggup, maka pedanglah yang akan meluruskan perbuatanku”. Sang gubernur itu lalu meminta maaf atas kekhilafannya. Menyaksikan kejadian ini, Yahudi itu tertunduk kagum pada dua orang yang ditemuinya itu, lalu dengan mantap ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Proses komunikasi dengan simbol tersebut, telah berperan mengantarkan Yahudi tadi memeluk agama Islam.

Jadi, proses pengunaan simbol yang kerap dilakukan oleh leluhur kita sebagai media bekomunikasi apa pun itu konteksnya, entah sebagai doa, nasihat, atau proses pendidikan, bukanlah hal yang bertabrakan dengan aqidah. Sebagaimana telah dilakukan dari zaman Rasul, Sahabat, dan generasi-generasi berikutnya hingga sampai pada kita sekarang. Ada banyak pesan moral yang terkandung dalam simbolisasi tersebut. Orang tua kita telah sedemikian sempurna dalam menyampaikan sebuah pesan melalui media simbol yang terkadang lebih efektif dan efisien dibanding dengan beretorika belaka. Masalahnya kita tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencari makna dari pesan yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut, lalu terjebak pemahaman yang cenderung normatif daripada substanstif dalam menginterpretasikan dalil, menyebabkan kekeliruan memahami konsep musyrik yang sebenaranya.

Lalu seiring perubahan zaman, masih efektifkah proses penyampaian pesan menggunakan simbol-simbol? Atau mampukah kita membuat model komunikasi dengan penggunaan simbol sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terdahulu kita?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung


Tags:
Bagikan:
Senin 18 Juli 2016 20:33 WIB
Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki
Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki
ilustrasi: AP
Oleh Syaikhul Islam*
Sejak mangkatnya Gus Dur beberapa waktu lalu, saya terus dihantui keresahan akan masa depan dan bahkan kerisauan atas jati diri saya sendiri. Saya tidak berpikir untuk meributkan gelar pahlawan untuk beliau, tidak pula terbersit untuk mendebatkan benar tidaknya kewalian beliau. Alih-alih untuk meratapi kepergian beliau, untuk berziarah ke makamnya yang sudah dikunjungi puluhan ribu orang itu pun saya belum tergerak. Semua itu karena saya lebih kehilangan sosok Gus Dur sebagai seorang intelektual dan pemimpin bukan sebagai ratu adil atau satrio piningit apalagi wali. Seperti kata orang bijak: “tidak ada orang sempurna dalam segala hal, tidak ada orang hebat dalam segala bidang” banyak sisi dari Gus Dur yang sampai saat ini belum atau tidak bisa saya terima.

Sosok Gus Dur memang unik. Gabungan antara pemikir yang idealis dan pemimpin yang populis. Seseorang yang mencetuskan gagasan visioner sekaligus menyulap implikasi gagasan tersebut hadir ke alam nyata. Seorang berjiwa pengayom khas korps Kiai tetapi bisa juga lihai dan piawai melebihi politikus sejati. Beberapa orang beranggapan sosok seperti Gus Dur belum tentu ada satu dalam seratus tahun, dan tampaknya diam-diam saya mengamini anggapan ini. Seketika itu minat saya untuk membaca tulisan-tulisan Gus Dur menjadi sangat besar. Dan betapa kecewanya saya karena tulisan-tulisan beliau yang saya jumpai, belum mampu mengobati kehausan saya kepada sosok seperti beliau. 

Rasa kecewa membuat saya terus berpikir untuk menemukan sosok lain yang seperti Gus Dur di dunia ini, seraya berharap dapat membaca karya-karyanya dan belajar banyak darinya. Tiba-tiba saya teringat dengan pengalaman tiga tahun lalu. Saat itu akhir Januari 2007 di Cairo International Book Fair saya berkenalan dengan seorang penjual buku bernama Mehmet Tuzun asal Izmir-Turki. Dengan bahasa Inggris terbata-bata ia mempersilahkan saya melihat koleksi buku-buku di outletnya. Dia menyebut banyak sekali nama penulis-penulis Turki, meski hanya sedikit nama yang pernah saya dengar. Dengan bersemangat dia mulai menunjukkan jilid demi jilid Risalet al-Nur karya teosof Turki abad 20, Badiuzzaman Sai’d Nursi dan beberapa buku tentang puisi-puisi mistikus Yunus Emre tapi saya masih bergeming untuk membeli. Saat saya sedang asyik melihat buku-buku Nursi versi terjemah Indonesia, dia membawa dua buku bahasa Inggris satu berjudul The Messenger of God MUHAMMAD satu lagi berjudul Toward a Global Civilization of Love and Tolerance. Dia memberikan dua buku itu kepada saya, tapi ketika saya hendak membuka daftar isi—sebagaimana kebiasaan saya saat membeli buku— dia menghentikan saya dan menunjukkan nama pengarang di sampul depan: M. Fethullah Gulen. Sambil berbisik penjual buku itu bertutur: “he is nobleman, he is waliyallah”. Saya tertegun, terkesima dengan tingkah penjual buku ini. Pikiran saya seketika itu kembali pada kaum Nahdliyin dengan Gus Dur-nya, Dalam benak saya bertanya-tanya: masa di Turki ada sosok intelektual yang dianggap wali seperti Gus Dur? Entah sihir apa yang menggugah saya hingga pada akhirnya membeli dua buku tersebut, meski harga satu buku mencapai 90 pound Mesir (kira-kira 180 ribu rupiah) harga yang cukup mahal untuk ukuran book fair apalagi untuk mahasiswa ber-budget pas-pasan seperti saya.

Hampir tiga tahun dua buku karya Fethullah Gulen tersebut tergolek tak terjamah dalam rak buku saya di Kairo, dan tiga bulan lebih berkalang debu di dalam kardus sejak dikirim ke Indonesia. Sampai pada awal Januari lalu beberapa hari setelah mangkatnya Gus Dur saya memungutnya dan mulai membolak-balik satu persatu halamannya. Sejak awal keinginan saya membaca Gulen karena berharap ingin ‘menemukan’ Gus Dur kembali. Rupanya saya sedang beruntung, karena menurut pembacaan saya tipikal pemikiran dua tokoh besar ini ada banyak kemiripan. Terutama menyangkut isu-isu kontemporer seperti: pluralisme, humanisme, toleransi, demokrasi, dialog antar agama hingga terorisme. 

Membandingkan Gus Dur dan Gulen

Fethullah Gulen pemikir Turki kontemporer yang karismatik lahir di Erzurum pada 1941 atau setahun lebih muda dari Abdurrahman Wahid yang lahir di Jombang pada 1940. Ayahnya Ramiz Gulen adalah seorang pemuka agama yang disegani. Gulen tumbuh dalam lingkungan agamis nan taat di bawah pengaruh madzhab fikih Hanafi dan diasuh oleh guru-guru sufi dari tarekat Naqsyabandiah. Seperti Gus Dur yang sejak kelahiran hingga pertumbuhannya tak lepas dari dunia pesantren mulai dari Denanyar, Tebuireng, Tegal Rejo dan Tambak Beras yang semuanya kental dengan tata nilai yang mensinergikan fikih dan keluhuran etika sufi. Gulen sama halnya Gus Dur tidak memiliki gelar akademis formal, akan tetapi memiliki standar tinggi dalam pemahaman Islam, filsafat Barat dan sains modern melalui pendidikan informal maupun otodidak. Namun, berbeda dengan Gus Dur yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo dan Universitas Baghdad, Gulen tidak pernah meninggalkan Turki untuk mengais butir-butir pengetahuan.

Pakar kajian budaya Islam dan masyarakat sipil Asia Tenggara yang juga penulis biografi Gus Dur Greg Barton menegaskan posisi istimewa Gulen dibandingkan dengan pemikir Muslim kontemporer yang lain. Barton melihat keberhasilan Gulen mentransformasi pemikirannya dalam wujud gerakan sosial yang berpengaruh pada seluruh strata masyarakat Turki modern sebagai prestasi khusus. Menurut Barton kebanyakan pemikir Muslim reformis yang sezaman dengan Gulen belum mampu membangun gerakan sosial yang nyata, kendati pemikiran mereka baik dalam bentuk tulisan maupun ceramah dapat mempengaruhi dan merubah ribuan pemikir Muslim yang lain (Barton, 2005). Senada dengan Barton Ali Bulac mendefinisikan sosok Gulen sebagai kombinasi sempurna antara sosok pemimpin penyeimbang (harmonizing leader) dan sarjana intelektual (intellectual-scholar) yang mendedikasikan dirinya untuk reformasi sosial dan perbaikan mental (Bulac, 2005). Gulen memilih dakwah jalan tengah sebagai garis perjuangan hidupnya. Integritasnya menyampaikan ide-ide perubahan dari masjid, kedai kopi, kampus dan ruang publik lainnya mendapat respon positif khalayak. Inspirasi Gulen tentang cinta, perdamaian, toleransi dan reformasi pendidikan mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat dari latar belakang yang beragam. Gulen tidak hanya mampu bersikap netral di tengah gesekan antara Islam kanan versus Islam kiri, Sunni dan Alawi bahkan perseteruan etnis Turki dan Kurdi tapi juga berusaha menjaga masyrakat untuk menjauhi konflik-konflik tersebut (Cetin, 2006). 

Gerakan sosial pertama kali dirintis Gulen pada 1963 awalnya berupa kelompok kecil di kota Izmir Turki selatan. Pada pertengahan 1980 gerakan ini baru berkembang dengan cepat dengan membangun institusi pendidikan yang tersebar di seluruh Turki. Sejak awal 1990 gerakan Gulen ini berubah menjadi gerakan transnasional dan telah menarik pengikut dari berbagai suku bangsa. Sekolah Hizmet mulai didirikan di negara-negara Asia Tengah, Eropa dan Australia terutama oleh keturunan Turki di negara-negara tersebut (Celik-Alan; T. Kuru, 2005; Yavuz, 2005). Pada era yang sama Gus Dur adalah ikon intelektual Indonesia. Sosok aktivis HAM, pembela demokrasi dan pejuang kebebasan berpendapat. Seorang pemikir yang berani sekaligus piawai bertarik ulur dengan pemerintahan yang otoriter. Maka bukan sesuatu yang mengagetkan jika pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo KH Asa’d Syamsul Arifin selaku pemegang otoritas di NU saat itu (ahlul halli wal aqdi) memilih Gus Dur sebagai nahkoda perubahan NU setelah memutuskan kembali ke khittah 1926. Kepemimpinan Gus Dur di PBNU ditandai dengan keterbukaan dan ruang bebas bagi kader NU muda untuk mengekspresikan pendapat mereka. Dengan semangat tersebut Gus Dur bersama dengan NU muda-nya mencoba merumuskan jati diri NU, hingga muncullah slogan-slogan yang tak akan dilupakan generasi NU sampai kapanpun yaitu: persaudaraan sesama Nahdliyin (ukhuwah nahdliyah), persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah). Pada awal 90-an ide perubahan yang dibangun Gus Dur mulai menampakkan hasil. Gagasan beliau untuk mendorong para sarjana dan peneliti asing untuk menulis tentang NU secara perlahan membawa NU berubah dari organisasi kolot menjadi organisasi yang dikenal di Dunia Internasional (Ghazali, 2003; Assyaukanie, 2010).

Gulen dan Gus Dur sama-sama memandang pentingnya toleransi dan humanisme sebagai landasan utama kehidupan berbangsa, terutama dalam konteks Indonesia dan Turki yang plural dan majemuk. Menjadi penting untuk menengok kembali, mengapa Gus Dur dan koleganya KH Ahmad Siddiq sejak awal kepemimpinannya bersikeras mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dengn menolak penerapan syariat Islam? Mengapa Gus Dur merespon dengan antusias setiap undangan seremonial agama lain? Mengapa Gus Dur membela dan menganak emaskan kelompok-kelompok minoritas seperti etnis Tionghoa dan keluarga tahanan politik? Setali tiga uang dengan Gus Dur, Gulen memastikan toleransi sebagai satu-satunya jalan untuk meraih masa depan sebuah bangsa. Toleransi bagi Gulen ibarat sebuah benteng yang sangat kuat untuk menjaga keutuhan sebuah bangsa dari ancaman perbedaan yang berpotensi mendatangkan perpecahan. Gulen menulis:“Thus, while walking toward the future as a whole nation, tolerance is our safest refuge and our fortress against the handicaps that arise from schism, factions, and the difficulties inherent in reaching mutual agreement; troubles that lie waiting at every corner”(Gulen, 2004).

Gulen juga memberi catatan penting bahwa toleransi dan penghargaan kepada orang lain adalah hal yang sama sekali berbeda dengan masalah hubungan seseorang dengan Tuhannya. Menghargai nilai manusia bagi seorang yang percaya kepada Tuhan merupakan sebuah takdir yang tidak akan mampu diingkari. Gulen berujar: “Accepting all people as they are, regardless of who they are, does not mean putting believers and unbelievers on the same side of the scales. According to our way of thinking, the position of believers and unbelievers has its own specific value. The Pride of Humanity has a special position and his place in our hearts is separate from and above all others” (Gulen, 2004). Sebuah catatan yang mungkin dapat memberi sedikit pencerahan mengenai sikap Gus dur yang lebih memilih diam merespon hujatan, cacian dan tuduhan murtad kepada beliau saat menghadiri undangan dari para pemuka agama lain, berdoa di gereja, klenteng dan lain-lain.

Dalam ranah politik, perjuangan Gus Dur dan Gulen juga memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama berangkat dari tradisi politik kultural. Gus Dur selalu mendambakan gerbong besar Nahdliyin nya menjadi elemen civil society. Dalam pandangan Gus Dur NU ormas keagamaan yang lain merupakan unsur paling penting dari kekuatan sipil yang bepotensi menjadi mandiri dan mampu berhadapan dengan negara (Sa’id Ali, 2008). Cita-cita politik Gus dur ini terlihat sangat kuat pada awal 90-an ketika NU memilih mendukung demokrasi dan berhadapan langsung dengan pemerintahan otoriter orde baru. 

Sayangnya cita-tersebut sedikit luntur dengan didirikannya PKB sebagai ‘partai resmi’ warga NU pasca reformasi, bahkan menjadi kabur tatkala Gus Dur diangkat sebagai Presiden RI ke-4 (Sa’id Ali, 2008).

Meneruskan tradisi pendahulunya Sa’id Nursi Gulen agaknya lebih konsisten dalam membangun masyarakat menjadi lebih modern dan menjauhi politik praktis. Bagi Gulen membangun pemahaman agama yang inklusif dan humanis di tengah masyarakat jauh lebih penting dan efektif dibandingkan membiarkan masyarakat jatuh dalam kubangan politisasi agama (Yavuz, 2005). Konsentrasi Gulen seperti diidentifikasi Barton lebih besar dicurahkan pada perbaikan kualitas pendidikan, etika perbankan dan perusahaan media. Selain itu Gulen tetap tekun memobilisasi integritas personal dan kepedulian sosial dari para pelaku bisnis serta pada saat yang sama menyediakan jaringan untuk memacu dan mendukung kegiatan mereka (Barton, 2005). Seperti dinyatakan Yafuz, Gulen tidak memiliki agenda politik tertentu terutama berkaitan dengan gerakan sosial yang dipimpinnya, tetapi kharisma Gulen merupakan daya tarik politik yang tidak bisa diabaikan dalam kancah pepolitikan Turki. Gulen tidak pernah dengan tegas menyatakan sikap politiknya, namun bukan lagi rahasia jika ia tidak bersimpati dengan politisasi Islam ala Milli Gorus yang digawangi Necmetin Erbakan berikut partai-partai politik berada dibawahnya. Gulen justru terlihat lebih intim dengan pemimpin-pemimpin sekuler seperti mantan presiden dan perdana menteri Turgut Ozal dan perdana menteri wanita pertama Turki Tansu Ciller (Yafuz, 2005).

Seperti Gus dur yang mendukung penuh pemerintah menjaga Pancasila sebagai dasar negara, Gulen seringkali menjadi bumper pemerintah dan kekuatan militer Turki terutama ketika berhadapan dengan kelompok Islam Kanan. Namun penting untuk dicatat, kedua tokoh ini memberikan dukungan tersebut tidak gratis, Gus Dur dan Gulen sama-sama meminta demokrasi sebagai harga yang tidak bisa ditawar.(Sa’id Ali, 2008; Yafuz, 2005) Gulen selalu lantang menyuarakan demokratisasi baik kepada pemerintah maupun pada partai-partai Islam sebagaimana pernyataannya berikut: “Democracy and Islam are compatible. Ninety-Wve percent of Islamic rules deal with private life and the family. Only 5 percent deal with matters of the state and this could be arranged only within the context of democracy. If some people are thinking something else, such as an Islamic state, this country’s history and social conditions do not allow it.... Democratization is an irreversible process in Turkey”.(Yafuz, 2005).

Walhasil, di era modernitas dan globalisasi seperti sekarang sosok seperti Abdurrahman Wahid dan Fethullah Gulen merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa dihindari. Sosok yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam bahasa yang dikenal dan mudah diterima masyararakat kontemporer, sekaligus mampu mengejawantahkannya dalam aktivitas nyata yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Apa yang dikatakan Eickelman bahwa dalam era global setiap agama harus bisa menata ulang hubungannya dengan masyarakat, sebab tradisi keagamaan telah menjadi konsumsi massal, tampaknya sudah dimainkan dengan apik oleh Gus Dur dan Gulen. Bagaimana dengan kita? 

*Anggota DPR RI
Senin 18 Juli 2016 8:49 WIB
Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA
Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA
MTS Muslimat NU Pucang

Oleh Ruchma Basori
Tiap tahun ajaran baru para orang tua sibuk mencarikan lembaga pendidikan terbaik bagi putra-puterinya. Melalui pendidikan, mereka menggantungkan cita-cita untuk masa depan anak-anaknya. Anak-anak yang sehat, berkarakter, bermoral, lagi cerdas menjadi dambaan. Karenanya para orang tua tidak segan-segan mengeluarkan sejmlah uang yang tidak sedikit agar anak-anaknya tidak sekadar sekolah, namun mendapatkan layanan pendidikan terbaik di negeri ini.   

Menyadari akan pentingnya menyiapkan masa depan anak bangsa, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah. Orang tua diimbau untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Bagi Mendikbud "Hari pertama sekolah menjadi kesempatan mendorong interaksi antara orang tua dengan guru di sekolah untuk menjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak selama setahun ke depan. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan keterlibatan publik dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah."

Di saat harapan orang tua begitu besar, masih ada catatan kelam terhadap ritus penyambutan Peserta Didik Baru oleh sekolah. Biasanya dikenal dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD), sebelumnya disebut Masa Orientasi Siswa (MOS) atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Khusus di lingkungan pendidikan Madrasah (MI, MTs dan MA) kini telah berubah nama menjadi Masa Ta’aruf Siswa Madrasah disingkat MATSAMA.

Saya tergerak hatinya untuk urun rembug berkaitan dengan MOS dan sejenisnya utamanya MATSAMA di madrasah. Cita-cita menciptakan anak-anak Indonesia yang unggul dan bermoral, tidak boleh kandas dan mati sebelum berkembang, karena praktek MOS yang penuh dengan kekerasan, perpeloncoan dan berakhir dengan tragedi kematian. Saya berharap banyak, MOS mestinya menjadi pintu gerbang mengantarkan lahirnya calon-calon pemimpin yang handal mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan.  

Setitik noda
Dalam dekade terakhir ini kita sering mendengar tuntutan agar MOS di tiadakan. Karena dinilai banyak mendatangkan kemadlaratan dari pada kemaslahatan. Kita tentu masih ingat, kematian siswa SMP Flora, Bekasi, Evan Chistopher Situmorang (12) setelah mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS).

Okezone dari Koran SINDO, Selasa (4/8/2015) mencatat daftar pelajar yang meninggal akibat MOS selama beberapa tahun terakhir. Roy Aditya Perkasa (14) tewas setelah mengikuti MOS di sekolahnya, SMA 16 Surabaya pada 15 Juli 2009. Roy sebelumnya sempat pingsan, namun nyawanya melayang saat hendak diantar ke Rumah Sakit Sutomo, Surabaya.

Hal yang sama menimpa Amanda Putri Lubis, siswi baru SMAN 9 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, meregang nyawa pada 13 Juli 2011. Dia diduga menjadi korban MOS karena mengeluhkan sesak napas usai mengikuti MOS di sekolah barunya. Pada tahun 2012, Muhammad Najib, siswa Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan di Jakarta dipaksa jalan kaki sejauh lima kilometer ketika mengikuti MOS. Karena kelelahan yang sangat berat, nyawa Muhammad Najib tak dapat tertolong.

Pada 29 Juli 2015, Febriyanti Safitri (12) menghembuskan napas terakhir saat mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) di SMP PGRI Gadog, Megamendung, Kabupaten Bogor dan kasus kekerasan MOS. Terakhir dialami almarhum Evan Christopher Situmorang (12). Siswa baru SMP Flora, Bekasi tewas diduga karena kelelahan mengikuti MOS di sekolahnya.

Kita juga tidak menutup mata, sisi positif dari Masa Orientasi Siswa. Pengenalan sejak dini terhadap lingkungan sekolah dan madrasah, sistem dan tradisi akademik, pengembangan diri dan bagaimana menjadikan sekolah sebagai wahana efektif pembentukan kepribadian. Namun sayangnya harus sedikit ternodai berbagai kasus demi kasus utamanya kekerasan yang berakibat fatal nyawa melayang.

Hal lainnya adalah MOS juga telah disalahgunakan sebagai ajang perpeloncoan yang jelas-jelas tidak mencerminkan nilai-nilai akademis. Tugas-tugas yang memberatkan, pakaian dan atribut yang lucu, pemborosan dan irrasional.

Terkait dengan hal ini Anis Baswedan telah menegeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru dan Contoh Kegiatan dan Atribut yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Beberapa contoh Atribut yang dilarang adalah: (1). Tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya; (2). Kaos kaki berwarna-warni tidak  simetris, dan sejenisnya; (3). Aksesoris di kepala yang tidak wajar; (4). Alas kaki yang tidak wajar; (5). Papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat; (6). Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Sementara beberapa contoh aktivitas yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah adalah: (1). Memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu; (2). Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat (menghitung nasi, gula, semut, dsb); (3). Memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru; (4). Memberikan hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan/atau mengarah pada tindak kekerasan; (5). Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali; (6). Aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Selamat tinggal MOS
Melihat kenyataan pahit, tragis dan memilukan di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan baru mengganti Masa Orientasi Siswa dengan Masa Ta’aruf Siswa Baru (MATSAMA). Walaupun kita belum pernah mendengar kegiatan MOS di kalangan madrasah yang berakhir dengan tragedi.

Matsama adalah istilah baru pengganti dari Masa Orientasi Siswa (MOS) di kalangan madrasah yang akan diterapkan secara serentak pada tanggal 18 Juli 2016. Tidak sekadar ganti nama, namun ada perubahan paradigma pagelaran dan ritus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di madrasah yang sudah berjalan puluhan tahun.

Menurut Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Setiawan, Matsama masih relevan untuk pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa baru. “Pengenalan itu meliputi kegiatan rutin madrasah, fasilitas, nilai dan norma yang berlaku, pengenalan organisasi, sistem pembelajaran, serta pengenalan civitas madrasah. Matsama harus diisi dengan kegiatan edukatif, tetap mentaati peraturan atau tata tertib, serta menjunjung tinggi norma yang berlaku di madrasah (Pinmas Kemenag.go.id).

Kegiatan Matsama kata M. Nur Kholis wajib berisi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Perencanaan dan penyelenggaran kegiatan Matsama menjadi hak guru. Kementerian Agama melarang pelibatan siswa senior (kakak kelas) dan atau alumni sebagai penyelenggara. Dengan paradigma baru itu, Kementerian Agama bertekad menjadikan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah harus zero kekerasan dan kemubaziran.

Perubahan paradigma
Matsama dengan paradigma baru seperti apa yang diharapkan? Perubahan paradigma dari yang semula mengedepankan seremonial dengan aksesoris yang kurang mencerminkan nuansa akademik diganti dengan kegiatan yang berorientasi pada pengenalan sistem, tradisi dan budaya pembelajaran di Madrasah. Tradisi yang kerap diidentikan dengan perpeloncoan yang kadang dekat dengan kekerasan dan pelecehan, diganti dengan pengenalan siswa terhadap kultur madrasah yang kondusif, menyenangkan, ramah dan berorientasi pada mutu.

Matsama mestinya dapat mengantarkan para siswa komitmen pada nilai-nilai kebersamaan, tolong menolong, hidup bersama secara damai, saling menghargai, etos belajar, dalam wadah pendidikan madrasah yang memanusiakan manusia. Kegiatan seperti diskusi kelopok, permainan-permainan membentuk team building bisa dipertimbangkan untuk ini. Para siswa dilatih untuk tidak saja menjadi pribadi yang unggul (superman), tetapi juga dapat membangun kebersamaan (super team).

Tradisi senior-unior yang saling berhadapan bahkan hirarkhis mulai dikikis digantikan dengan hubungan kesebayaan yang edukatif. Relasi akademik mencoba dibangun bukan relasi senior unior yang kadang mengganggu kekritisan, kreatifitas dan komitmen untuk sukses bersama bukan sukses sendiri-sendiri.

Nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dalam kitab Ta'limul Mutaalim juga harus menjadi pondasi dasar para siswa madrasah yang harus ditanamkan sejak Matsama. Cinta ilmu pengetahuan, hormat pada guru, saling mendoakan antara guru dan murid, nilai keberkahan dan keutamaan ilmu pengetahuan menjadi dasar etika para siswa madrasah yang kini juga mulai hilang.

Matsama dijadikan sebagai wahana memperteguh komitmen pada kebangsaan, NKRI dan menjunjung tinggi Pancasila, yang disadari akhir-akhir ini mulai memudar dikalangan diri siswa. Hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Bambang Pranowo, Guru Besar UIN Jakarta pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menyebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Sementara jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Survei ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan Islam Indonesia yang toleran dan damai. Oleh karenanya Matsama menjadi wahana efektf mnanamkan sejak dini nilai-nilai kebangsaan. Bangga menjadi bangsa Indonesia diaman kita tinggal, menghirup udara segar, makan dan minum dari hasil bumi Indonesia.
Ada baiknya para siswa mulai dikenalkan sejak dini situs-situs sejarah, cagar budaya dan obyek-obyek kebudayaan Indonesia. Rihlah ilmiah dan kebudayaan ke tempat-tempat bersejarah menjadi penting. Jika sekiraya Madrasah jauh dari obyek tersebut, bisa didatangkan sejarahwan dan budayawan untuk berdialog dengan mereka. Madrasah dan sekolah harus mampu melahirkan anak-anak bangsa yang berbudaya, berkarakter Indonesia.
Selamat mengikuti Matsama bagi adik-adiku semoga menjadi pengalaman menarik dan menyenangkan.


Ruchma Basori, (Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Kementerian Agama RI, Sekjen PMU MAN Insan Cendekia dan Kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta)

Ahad 17 Juli 2016 7:41 WIB
Makna Saleh dan Macam-macamnya
Makna Saleh dan Macam-macamnya
Ilustrasi
Oleh Cecep Zakarias El Bilad

Setiap manusia senang berbuat baik. Secara naluri, dorongan untuk beramal saleh atau berbagi kebaikan ini ada pada diri setiap insan, bahkan pada orang yang jahat sekalipun. Di samping, karena memang amal saleh juga dapat memberikan manfaat balik bagi pelakunya.

Dalam Islam, amal saleh adalah perintah agama. Allah menjanjikan balasan yang berlipat-lipat bagi setiap perbuatan baik. Nabi SAW bersabda, “Setiap kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat...” (HR. Bukhari-Muslim).

Makna Saleh

Orang yang gemar beramal saleh disebut orang saleh. Di kalangan umat Islam, predikat saleh adalah idaman bagi setiap orang. Ketika ada seorang bayi lahir, doa yang selalu terucap dari lisan orangtua maupun karib-kerabat adalah “semoga menjadi anak yang saleh/salehah.” Apa dan siapa sebenarnya orang saleh itu?

Secara etimologis, kata saleh berasal dari bahasa Arab shāliḥ yang berarti terhindar dari kerusakan atau keburukan. Amal saleh berarti amal/perbuatan yang tidak merusak atau mengandung unsur kerusakan. Maka orang saleh berarti orang yang terhindar dari kerusakan atau hal-hal yang bersifat buruk. Yang dimaksud di sini tentu saja perilaku dan kepribadiannya, yang mencakup kata, sikap, perbuatan, bahkan pikiran dan perasaannya.

Tak hanya itu, dalam kamus al-Mu’jam al-Wasīth kata shaluḥa sebagai akar kata shāliḥ juga berarti bermanfaat. Dengan menggabungkan dua makna ini, maka orang saleh berarti orang yang perilaku dan kepribadiannya terhindar dari hal-hal yang merusak, dan di sisi lain membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dengan kualitas tersebut, ia menjadi sosok harapan dan teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Macam Kesalehan

Dalam Al-Qur’an kata shāliḥ disebutkan sebanyak 124 kali dalam berbagai variasi makna, termasuk bentuk jamaknya shāliḥūn/ shāliḥāt. Satu di antaranya adalah Surat al-Anbiya (105), yang mengabarkan tentang keberadaan dan peran penting orang-orang saleh bagi kehidupan di muka bumi, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur bahwa bumi ini dititipkan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.

Tentang ayat ini, Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam Tafsīr asy-Sya’rāwī menjelaskan, bahwa di setiap tempat di muka bumi ini terdapat orang saleh. Ia ditugaskan Allah untuk mengatur dan mengelola lingkungannya. Ia bisa siapapun, tidak harus seorang Muslim.

Menurut Syekh Sya’rawi, orang saleh itu ada dua macam, saleh duniawi dan saleh ukhrawi. Pertama, saleh duniawi adalah saleh dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merugikan tapi justru banyak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Namun kesalehan semacam ini hanya berdimensi etis, bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau benar berdasarkan pertimbangan akal sehat. Kesalehan tersebut bersifat universal dan dapat diakui secara rasional oleh semua manusia.

Orang saleh jenis ini bisa kita temukan di tempat mana pun di muka bumi ini. Ia bisa seorang muslim, non-muslim bahkan ateis sekalipun; apapun profesi, jenis kelamin dan status sosialnya. Di lingkungannya, ia menciptakan keadilan, keteraturan, kedamaian, kemajuan dan kemakmuran. Namun ibarat bangunan, kesalehan tersebut berdiri tanpa fondasi relijius-spiritual sehingga hanya berdimensi duniawi.

Kedua, saleh ukhrawi, yakni kesalehan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan sebagai ekspresi dari ketaatan kepada Tuhan. Artinya, seseorang berkepribadian atau melakukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seorang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya. Untuk itu dalam setiap tindakannya, ia juga selalu memperhatikan aturan-aturan dan hukum agama, seperti halal dan haram, atau wajib dan sunnah.

Garis pembeda antara saleh duniawi dan ukhrawi ini ialah keimanan, sehingga saleh ukhrawi ini hanya bisa dimiliki oleh seorang Muslim. Kebaikan yang dilakukan bisa saja serupa, namun berbeda nilainya. Kesalehan ukhrawi bernilai dunia sekaligus akherat. Contohnya ketika seorang Muslim menyingkirkan paku di jalan. Ia melakukannya bukan sekedar karena dorongan etis untuk berbuat baik pada sesama manusia, tapi juga karena tuntunan agama untuk mencegah keburukan menimpa orang lain.

Seorang Muslim yang saleh menyadari bahwa dirinya bukan hanya sebagai manusia, tapi juga sebagai hamba Allah. Ia sadar, sebagai manusia tentu memiliki kekurangan. Namun ia berusaha agar kekurangannya itu bisa diminimalisir dan tidak merugikan orang lain. Sebaliknya, dengan kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya, ia berupaya memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain dan lingkungannya.

Ia pun sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Baik-buruk perilakunya selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT kelak di hari kiamat. Inilah orang saleh yang barangkali dimaksudkan Allah dalam firman-Nya, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan ditempatkan bersama dengan orang-orang yang Allah anugerahi nikmat, yaitu para Nabi, para shiddīqīn, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka adalah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69).

Berdasarkan ayat ini, orang saleh adalah satu di antara empat golongan manusia yang dimuliakan Allah. Di dunia ia memiliki banyak teman, dan di akherat ia akan mendapat nikmat. Wajarlah, bila anak saleh/hah menjadi dambaan setiap orangtua kepada anak-anaknya. Di samping karena, seperti menurut Syekh asy-Sya’rawi, anak yang saleh dapat memberikan kedamaian batin serta dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orangtuanya.

Jadi, sejatinya menjadi saleh adalah pilihan bagi siapa saja orang beriman. Sebagai manusia, setiap kita tentu mempunyai kelemahan dan kekurangan, namun itu semua adalah sisi manusiawi untuk disadari dan dikoreksi. Selain itu, manusia juga dibekali Allah dengan berbagai kemampuan dan kelebihan. Semua itulah yang menjadi modal baginya untuk berbagi kebaikan sebanyak-banyaknya kepada orang lain dan lingkungan.

Akhirnya kembali kepada diri masing-masing, kapan mau menjadi saleh. Wallāhu a’lam.


Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan – IAIN Palangka Raya

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG