IMG-LOGO
Opini

Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus

Kamis 21 Juli 2016 9:0 WIB
Bagikan:
Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus
Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus

Oleh H. Hadi M Musa Said
Pesantren kilat atau pasaran begitu istilah yang sering digunakan di kalangan pesantren. Pasaran biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan untuk mengisi jadwal Ramadhan di setiap pondok pesantren yang sedang libur dari kegiatan belajar atau mengaji.

Pesantren kilat dilakukan di berbagai daerah, mungkin istilahnya juga berbeda. Ada yang satu bulan penuh, 20 hari, 15 hari atau 10 hari. Kegiatan ini menjadi tradisi di pesantren-pesantren NU, tidak terkecuali yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta, yang di Asuh oleh Abah KH. Adang Badruddin, atau lebih dikenal "Abah Cipulus".

Mungkin bedanya, di pesantren Cipulus kegiatan pesantren kilat dilaksanakan pada bulan Syawal setelah lebaran atau hari ke-5 Idul Fitri sampai tgl 5-15 Syawal setiap tahunnya, kitab yang diajarkan adalah Syarah Fathul Qorib (fikih) dan Tijan Addarori (tauhid) yang dikhatamkan selama 10 hari dimulai sehabis Sholat Subuh ber-Jamaah sampai jam 12 malam. Istirahatnya dilakukan pada waktu sholat dan makan, dan dalam membacakan kitab menggunakan logat dan bahasa Sunda.

Oleh Abah KH Adang Badruddin, pesantren kilat di bulan Syawal ini sudah dilakukan 30 tahun lebih dari tahun 80 an dengan rutin dan istiqomah. Tradisi pesantren yang mungkin sudah sangat jarang, ini harus terus di lestarikan sebagai bentuk dakwah model Islam Indonesia yg menganut ajaran islam ahlussunah wal jamaah Nahdlatul Ulama, atau istilah sekarang Islam Nusantara.

Pesantren Cipulus Purwakarta sendiri didirikan pada tahun 1840 silam dan terus berbenah dengan segala dinamika perkembanganya, dengan tidak meninggalkan tradisi yang sudah dibangun oleh para pendiri sesepuh dan penerusnya. Hal ini menjadi penting karena perkembangan negara bangsa bahkan dunia global terus mengalami perubahan kalau tidak disikapi dengan arif dan bijaksana akan sangat merugikan dan membahayakan generasi bangsa kita, khususnya generasi Islam Rahmaran lil Alamin.

Kemauan untuk berbenah itu juga sesuai dengan Qoidah NU melestarikan tradisi lama yang baik dan mencari hal baru yang lebih baik, banyaknya faham baru yang bermunculan juga harus diantisipasi oleh seluruh umat Islam, faham garis keras yan cenderung Radikal (terorisme) yang mengatasnamakan islam seringkali membuat kegaduhan dan menebarkan kebencian antar umat Islam sendiri. Mengaku paling Islam dengan mrngkafirkan dan menbid'ahkan amalan golongan lainya adalah ciri-ciri kelompok radikal yang menghalalkan darah saudaranya untuk di bunuh dengan melakukan bom bunuh diri, sekali lagi ini bukan ajaran Islam yang sebenarnya, yang penuh dengan kelembutan kesantunan dan penuh dengan rahmat.

Agama Islam NU itu merangkul mengayomi menjadi perekat antar umat manusia, mengajak kebaikan bukan memaksakan krbenaran sepihak. Ini yang dilakukan oleh para kiai, ajengan, ulama2 NU para pengasuh pesantren dan ustadz dan ustadzahnya, menebarkan rasa perdamaian bukan kebencian yang terus memakan korban, meminjam istilah Gus Dur, memanusiakan manusia dengan cara manusia. Artinya “hablu minanas-“nya betul-betul diterapkan sesuai dengan nilai yang diajarkan Islam sebagai Agama, disisi lain Hablu minallah nya terjaga dengan baik, begitu juga Habluminal alam.

Kembali ke tradisi Pesantren, soal pesantren kilat atau ngaji pasaran ini dilakukan di hampir seluruh pesantren NU. Ada berbagai macam jenis kitab yang diajarkan. Ini menjadi lentera, menjadi cahaya, menjadi kekuatan kita dalam bernegara, berbangsa karena dari pesantrenlah Resolusi jihad dikobarkan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari Pesantrenlah NKRI ini masih berdiri kokoh sebagai sebuah Bangsa yang merdeka, harus disadari bersama bahwa kita harus terus melanjutkan perjuangan para ulama pendiri bangsa ini.

Tradisi dan kearifan lokal memang mulai terkikis oleh derasnya arus moderenisasi dan kuatnya cengkeraman global dalam mengubah pandangan dan prilaku kita sebagai manusia. Maka pesantren harus menjadi benteng yang kokoh untuk terus menjadi pelopor kebangkitan Indonesia secara nasional dan internasional, penjaga moral Bangsa dan generasi penerus yang terus diserbu oleh berbagai macam bentuk moderenisasi yang kadang berlebihan dan tidak bertanggungjawab.

Sementara itu kenakalan anak anak kita menjadi masalah tersendiri. Ini menjadi problem  bersama yang harus diselesaikan dengan baik dan bijaksana, sejalan dengan program pemerintah tentang revolusi mental. Tugas ini sudah dilakukan oleh Pesantre  jauh sebelum indonesia merdeka oleh kalangan pesantren. Sekarang tugas kita semua tinggal bagaimana mensinergikan hal ini dengan srmua pihak yang terkordinasi dengan baik dan tentunya butuh dukungan semua pihak. Walahu a'lam bishowab.

H. Hadi M Musa Said, M.Si.
Ketua Komite Sekolah SMK Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta, Ketua PP GP Ansor, Ketua DPP KNPI, dan Kornas JAM PMII.

Bagikan:
Selasa 19 Juli 2016 21:32 WIB
Gulen dan Gerakan Sosial Akar Rumput Hizmet
Gulen dan Gerakan Sosial Akar Rumput Hizmet
foto aksam.com
Oleh Gumilar Rusliwa Somantri 
Pemerintah Turki menuduh kudeta dilakukan oleh para Pamen berhaluan “hijau” Hizmet. Gerakan sosial akar rumput Hizmet  sangat terinspirasi oleh pemikiran Hujjah Effendi Fethullah Gulen. Beliau adalah intelektual islam yang salih dan sangat kharismatik. Beliau kini tinggal di sebuah kamp di Philadelphia AS, menjauh dari jangkauan pemerintahan militer Turki di masa silam yang menilainya berbahaya.

Erdogan berkuasa semula secara signifikan turut didukung oleh jaringan kelompok ini. Mereka yang mempunyai jaringan luas ini sangat kritis dan mengambil jarak pada pemerintah yang dinilai mereka tidak bersih dari korupsi dan polugri acap kontroversial.

Di kemudian hari, mereka menilai Erdogan telah jauh dari asas memimpin dengan hati dalam rangka beramal salih dan amanah. Pada titik ini, mereka beranggapan pemerintahan terlalu berbau kepentingan politik dan ekonomi partikularistik sekular. Beberapa tahun terakhir ini Erdogan pun berang dan tidak bersahabat pada elemen kekuatan Muslim ini.

Hizmet berarti pengkhidmatan atau beramal salih dengan ikhlas. Mengerjakan sesuatu semata dengan mengharap barakah Allah. Mereka memang sangat romantis kejayaan Ottoman Empire (Turki Usmani). Hizmet mempunyai gerakan sosial dan amal yang luar biasa. Pengikutnya mengumpulkan dana secara massif, mulai dari anak sekolah yang menyisihkan uang jajan hingga pengusaha yang menyisihkan 20 persen dari keuntungan.

Ia mempunyai jaringan hampir di seluruh negara penting dunia di bidang perdamaian, pendidikan terutama science, dan budaya sufistik ala Jalalludin Rumi yang meraih kebesaran karyanya di era Turki Usmani.

Gerakan Hizmet  di AS berperan dalam dakwah damai yang effektif pasca 9-11 attack sehingga banyak warga AS asli  yang memeluk Islam karena penasaran dengan Al-Quran ditambah akhlak baik yang ditunjukan kalangan muda Turki tersebut.

Di Washington mereka membentuk Rumi Foundation. Mereka ada hampir di semua kota atau negara bagian seperti New York, Virginia, Texas, LA. Mereka dikenal sebagai pengusaha, akademisi, dan pendidik di kampus-kampus. Sekolah-sekolah dibangun mereka dengan profesional dan mendapat subsidi negara.

Di beberapa kampus, bahkan ada professorship chair Fethullah Gulen yang diisi ilmuwan Turki. Oleh karena itu pascakudeta, pemerintah Turki melalui PM melontarkan pernyataan keras terhadap AS yang dianggap melindungi Gulen. Katanya siapa saja yang melindungi Gulen adalah bukan teman Turki.

Siapakah Fethullah Gulen? Beliau adalah intelektual Muslim salah satu pengagum Said Nursi. Selama kariernya beliau aktif menulis dan menjadi inspirator kekuatan gerakan sosial di tingkat akar rumput. Jumlah buku yang ditulis mencapai lebih seratus buku.

Saking sibuk dalam pengabdian terhadap umat beliau tidak sempat menikah. Kehidupan sehari-sehari ditandai dengan berpuasa, bangun setiap jam 1 malam untuk shalat tahajud bermunajat kepada Rabb yang Maha Agung untuk keselamatan umat Islam di seluruh dunia yang banyak dalam posisi terzalimi, dilanda fitnah, dan kesulitan.

Dalam shalat-shalat yang diikuti para peziarah di kamp, linangan air mata beliau selalu mengundang isak tangis jamaah yang mengamini doa-doa khusyuk di malam-malam yang hening bahkan beku.

Hujjah Effendi Fethullah Gulen sudah sepuh dan sakit-sakitan sehingga sudah jarang bepergian. Namun tulisan dan seruannya sangat menggetarkan semua pengikutnya terutama di Turki. Termasuk dalam mendukung atau tidak mendukung pemerintah sah berdasarkan penilaian atas komitmennya pada Al-Quran dan Sunnah.

Di Indonesia sendiri kalangan Hizmet ini telah hadir lebih dari 30 tahun. Mereka mendirikan sekolah-sekolah, melakukan kegiatan sosial kebudayaan, dan seminar-seminar. Di UIN Jakarta ada Chair Gulen untuk pengajaran dan riset yang diisi orang Turki warga negara AS yang salih.

Mereka, seperti halnya di AS dan Eropa, tidaklah menimbulkan masalah. Karena pada dasarnya mereka moderat, pro perdamaian, gandrung ilmu dan teknologi. Mereka dikenal sebagai Muslim rendah hati dan bekerja keras karena keinginan memperoleh pahala dan ridla Allah. Jadi, ia bukan gerakan poltik ideologis anti kemapanan (rezim berkuasa) seperti tergambar dalam sepak terjang organisasi di Mesir yang dimotivasi gagasan Al-Banna.

*Penulis adalah sosiolog, Guru Besar FISIP UI. (pemuatan ulang tulisan ini sudah seizin penulis)
Selasa 19 Juli 2016 18:12 WIB
Harta Karun Nusantara
Harta Karun Nusantara
Ilustrasi: Al-Qur'an tulis tangan milik Syekh Burhanuddin Ulakan/Foto: Abdullah Alawi

Oleh Dhiya’ul Haq

Terma "harta karun" tentunya sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Dan biasanya, istilah tersebut seringkali dipahami sebagai benda berharga nan tak ternilai oleh apapun, yang mana sudah lama sekali terpendam dan tak muncul lagi dipermukaan. Kalau Anda pernah menonton film Jack Sparrow, maka akan Anda temukan betapa sulitnya seseorang yang ingin mendapatkan harta karun tersebut. Mereka harus rela menyeberangi lautan, menantang badai, dan tak jarang berhadapan dengan kematian. Semua itu tak lain adalah demi mendapatkan harta Karun tersebut.

Lalu kira-kira, apa maksud terma “harta karun” jikalau kita sandingkan dengan kata "Nusantara"? Mungkin secara sekilas, yang terbersit dalam benak kita adalah segala kekayaan alam bumi Nusantara yang masih perawan dan belum terjamah oleh tangan-tangan jahil kaum kapitalis matrealis itu. Memang tak bisa kita pungkiri bahwa kekayaan alam Nusantara yang melimpah ini merupakan salah satu “harta karun” Nusantara kita yang sangat luar Biasa dan harus kita syukuri, tapi juga perlu kita ingat, bahwa di sana ada harta karun lain yang nilainya lebih tinggi, lebih berharga dan bahkan akan selalu kekal dikenang oleh masa. Apakah harta karun itu?

Harta karun tak lain adalah buku-buku (kitab-kitab) yang merupakan hasil pergulatan intelektual dialektik para ulama Nusantara yang sangat panjang dan tentunya sangat melelahkan sekali. Kenapa saya katakan intelektual dialektik? Sebab para ulama kita di Nusantara ini tidaklah hanya mengutip, meringkas dan menjabarkan saja, akan tetapi juga melakukan kontekstualisasi khazanah keilmuan Islam yang sangat luas itu dengan alam Nusantara di mana mereka hidup, berkeluarga dan mengembangkan dakwah Islam di situ.

Para ulama Nusantara itu—rahimahumullah—tidak lantas menafikan ilmu-ilmu yang sebelumnya sudah bertempat dan ada terlebih dahulu di alam Nusantara kita, untuk kemudian menggantikannya dengan segala hal yang ada dalam kitab-kitab klasik ulama salaf yang tentunya ditulis guna menjawab tantangan era dan masanya sendiri. Tetapi para ulama Nusantara itu berusaha untuk mendialogkan kembali ajaran-ajaran para salafus shalih, untuk kemudian diolah, diramu sehingga memunculkan hasil ijtihad-ijtihad baru yang lebih bersifat Nusantara.

Kitab-kitab karya ulama Nusantara itu adalah harta karun berharga yang kekal sepanjang masa, sebab yang namanya pemikiran itu tidak akan pernah sirna. Bahkan ia akan selalu berkembang dan berkembang saat dikaji kembali, sebagai bahan sintesa untuk menemukan ijtihad-ijtihad baru yang sesuai dengan konteks kekinian. Hal itu tentunya sangat berbeda dengan harta karun Nusantara lainnya yang berupa batu bara, minyak dan lain-lain. Sebab semakin digali, maka akan semakin habis dan ujung-ujungnya akan hilang sirna.

Namun, yang sangat disayangkan adalah terabaikannya kitab-kitab karya ulama Nusantara tersebut. Banyak orang sekarang yang mengira bahwa karya-karya ulama Nusantara adalah pemikiran pinggiran yang bersifat lokal, sehingga tidak cocok jikalau kemudian digunakan sebagai rujukan guna menjawab problematika kehidupan modern yang kompleks dan global. Padahal kalau kita mau jujur, hampir sebagian besar teks-teks Al-Qur’an itu pun diturunkan berdasar pada asbab nuzul tertentu—walaupun tidak semua ayat Al-Qur’an turun atas sebab tertentu—yang pada konteks tertentu pula. Sehingga problem-problem yang diketengahkan oleh sebagian ayat-ayat Al-Qur’an itu lebih bersifat parsial (juz'i), bukan universal (kulli). Tetapi hal itu tidak lantas menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang bersifat lokal. Dan ulama pun tidak kalah cara guna mengatasi problem itu. Ada kaidah-kaidah Ushul/Tafsir yang menjawab masalah-masalah itu. Semisal kaidah “Al-ibrah bi ‘umumi-l-lafdzi la bi khushusi-s-sabab, masaliku-l-‘illah, dan seterusnya. Semua itu tak lain adalah guna membuktikan keuniversalan ajaran Al-Qur’an. Pola yang sama juga bisa kita terapkan dalam memahami turats ulama Nusantara yang menjadi harta karun berharga milik bangsa Indonesia dan Nusantara pada umumnya.

Nah, melihat kondisi kitab-kitab peninggalan (turats) ulama Nusantara yang terpinggirkan itu, salah satu teman saya—Gus Nanal—merasakan keprihatinan yang mendalam. Beliau berusaha untuk mengumpulkan karya-karya ulama tersebut, satu persatu, lalu dengan penuh kesabaran beliau mendigitalkannya dengan menjadikannya dalam bentuk file PDF. Lalu dengan ikhlas beliau membagikan hasil pendigitalan itu kepada teman-temannya, entah melalu akun facebook, blog, dan lain-lain. Semua itu tak lain adalah guna menjaga turats ulama Nusantara yang sangat melimpah tersebut. Tentunya itu bukanlah pekerjaan ringan, bahkan sangat berat dan membutuhkan kegigihan serta kesabaran yang super luar biasa.

Filosofi yang dijadikan rujukan oleh Gus Nanal adalah bahwa sesuatu yang dijaga oleh orang banyak, tentunya akan lebih aman terjaga daripada dijaga hanya oleh segelintir orang saja. Oleh karenanya, setelah melakukan digitalisasi, beliau tak segan-segan untuk membagi-bagikan hasil perkejaan melelahkannya itu kepada khalayak ramai, sebab tujuan utamanya tak lain adalah untuk menjaga warisan tadi. Lalu, sebagai kelanjutan upaya untuk menjaga, mengembangkang, menyebarkan dan bahkan mengenalkan kembali Turats ulama Nusantara tersebut, Gus Nanal akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang sudah berbadan hukum, dengan nama Turats Ulama Nusantara atau yang biasa disingkat dengan “TUN” saja.

Organisasi ini mempunyai beberapa program penting yang sangat banyak dan beragam. Di antaranya adalah dengan mencetak kembali kitab-kitab karya Ulama Nusantara, sehingga bisa dikenal kembali oleh masyarakat Indonesia secara khusus dan dunia Islam secara Umum. Dan tentunya ini bisa menjadi salah satu upaya untuk mensuarakan "Islam Nusantara" sebagai representasi wajah Islam yang membawa pesan rahmat, dan juga mengenalkannya ke ranah yang lebih global. Sebab buku-buku tersebut pada akhirnya akan dikonsumsi tidak hanya oleh orang-oran indonesia, tetapi juga luar Indonesia, paling tidak se-Asia tenggara. Dalam waktu dekat ini, lembaga TUN akan mengadakan pameran kitab-kitab ulama Nusantara, tepatnya di kota kretek, Kudus, bersamaan dengan acara 1 abad Madrasah Qudsiyyah.

Kenapa harus karya ulama Nusantara? Apa tidak cukup kitab-kitab ulama salaf? Ini bukan masalah cukup atau tidak cukupnya, tetapi perlu kita pahami bahwa setiap karya memiliki konteksnya masing-masing. Dan tentunya karya-karya ulama Nusantara akan lebih cocok jikalau digunakan menjawab problematika yang terjadi di Nusantara juga. Salah satu contoh riil-nya adalah kitab “Al-Belut” buah karya Syaikh Mukhtar Athorid al-Bughury.

Walhasil, upaya yang dilakukan Gus Nanal ini layak—dan bahkan harus—didukung oleh semua pihak, utamanya adalah insan pesantren. Karena tentunya sebuah upaya baik akan lebih mudah terlaksana jikalau diangkat dan secara bersama-sama dibawa oleh semua pihak. Bukankah ada sebuah adagium yg menyatakan bahwa manusia itu kuat dengan yang lain, dan lemah dengan dirinya sendiri, kawan? Semoga bisa, wallahu a’lam.


Penulis adalah pengaji naskah ulama Nusantara

Senin 18 Juli 2016 20:33 WIB
Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki
Fethullah Gulen, Gus Dur-nya Turki
ilustrasi: AP
Oleh Syaikhul Islam*
Sejak mangkatnya Gus Dur beberapa waktu lalu, saya terus dihantui keresahan akan masa depan dan bahkan kerisauan atas jati diri saya sendiri. Saya tidak berpikir untuk meributkan gelar pahlawan untuk beliau, tidak pula terbersit untuk mendebatkan benar tidaknya kewalian beliau. Alih-alih untuk meratapi kepergian beliau, untuk berziarah ke makamnya yang sudah dikunjungi puluhan ribu orang itu pun saya belum tergerak. Semua itu karena saya lebih kehilangan sosok Gus Dur sebagai seorang intelektual dan pemimpin bukan sebagai ratu adil atau satrio piningit apalagi wali. Seperti kata orang bijak: “tidak ada orang sempurna dalam segala hal, tidak ada orang hebat dalam segala bidang” banyak sisi dari Gus Dur yang sampai saat ini belum atau tidak bisa saya terima.

Sosok Gus Dur memang unik. Gabungan antara pemikir yang idealis dan pemimpin yang populis. Seseorang yang mencetuskan gagasan visioner sekaligus menyulap implikasi gagasan tersebut hadir ke alam nyata. Seorang berjiwa pengayom khas korps Kiai tetapi bisa juga lihai dan piawai melebihi politikus sejati. Beberapa orang beranggapan sosok seperti Gus Dur belum tentu ada satu dalam seratus tahun, dan tampaknya diam-diam saya mengamini anggapan ini. Seketika itu minat saya untuk membaca tulisan-tulisan Gus Dur menjadi sangat besar. Dan betapa kecewanya saya karena tulisan-tulisan beliau yang saya jumpai, belum mampu mengobati kehausan saya kepada sosok seperti beliau. 

Rasa kecewa membuat saya terus berpikir untuk menemukan sosok lain yang seperti Gus Dur di dunia ini, seraya berharap dapat membaca karya-karyanya dan belajar banyak darinya. Tiba-tiba saya teringat dengan pengalaman tiga tahun lalu. Saat itu akhir Januari 2007 di Cairo International Book Fair saya berkenalan dengan seorang penjual buku bernama Mehmet Tuzun asal Izmir-Turki. Dengan bahasa Inggris terbata-bata ia mempersilahkan saya melihat koleksi buku-buku di outletnya. Dia menyebut banyak sekali nama penulis-penulis Turki, meski hanya sedikit nama yang pernah saya dengar. Dengan bersemangat dia mulai menunjukkan jilid demi jilid Risalet al-Nur karya teosof Turki abad 20, Badiuzzaman Sai’d Nursi dan beberapa buku tentang puisi-puisi mistikus Yunus Emre tapi saya masih bergeming untuk membeli. Saat saya sedang asyik melihat buku-buku Nursi versi terjemah Indonesia, dia membawa dua buku bahasa Inggris satu berjudul The Messenger of God MUHAMMAD satu lagi berjudul Toward a Global Civilization of Love and Tolerance. Dia memberikan dua buku itu kepada saya, tapi ketika saya hendak membuka daftar isi—sebagaimana kebiasaan saya saat membeli buku— dia menghentikan saya dan menunjukkan nama pengarang di sampul depan: M. Fethullah Gulen. Sambil berbisik penjual buku itu bertutur: “he is nobleman, he is waliyallah”. Saya tertegun, terkesima dengan tingkah penjual buku ini. Pikiran saya seketika itu kembali pada kaum Nahdliyin dengan Gus Dur-nya, Dalam benak saya bertanya-tanya: masa di Turki ada sosok intelektual yang dianggap wali seperti Gus Dur? Entah sihir apa yang menggugah saya hingga pada akhirnya membeli dua buku tersebut, meski harga satu buku mencapai 90 pound Mesir (kira-kira 180 ribu rupiah) harga yang cukup mahal untuk ukuran book fair apalagi untuk mahasiswa ber-budget pas-pasan seperti saya.

Hampir tiga tahun dua buku karya Fethullah Gulen tersebut tergolek tak terjamah dalam rak buku saya di Kairo, dan tiga bulan lebih berkalang debu di dalam kardus sejak dikirim ke Indonesia. Sampai pada awal Januari lalu beberapa hari setelah mangkatnya Gus Dur saya memungutnya dan mulai membolak-balik satu persatu halamannya. Sejak awal keinginan saya membaca Gulen karena berharap ingin ‘menemukan’ Gus Dur kembali. Rupanya saya sedang beruntung, karena menurut pembacaan saya tipikal pemikiran dua tokoh besar ini ada banyak kemiripan. Terutama menyangkut isu-isu kontemporer seperti: pluralisme, humanisme, toleransi, demokrasi, dialog antar agama hingga terorisme. 

Membandingkan Gus Dur dan Gulen

Fethullah Gulen pemikir Turki kontemporer yang karismatik lahir di Erzurum pada 1941 atau setahun lebih muda dari Abdurrahman Wahid yang lahir di Jombang pada 1940. Ayahnya Ramiz Gulen adalah seorang pemuka agama yang disegani. Gulen tumbuh dalam lingkungan agamis nan taat di bawah pengaruh madzhab fikih Hanafi dan diasuh oleh guru-guru sufi dari tarekat Naqsyabandiah. Seperti Gus Dur yang sejak kelahiran hingga pertumbuhannya tak lepas dari dunia pesantren mulai dari Denanyar, Tebuireng, Tegal Rejo dan Tambak Beras yang semuanya kental dengan tata nilai yang mensinergikan fikih dan keluhuran etika sufi. Gulen sama halnya Gus Dur tidak memiliki gelar akademis formal, akan tetapi memiliki standar tinggi dalam pemahaman Islam, filsafat Barat dan sains modern melalui pendidikan informal maupun otodidak. Namun, berbeda dengan Gus Dur yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo dan Universitas Baghdad, Gulen tidak pernah meninggalkan Turki untuk mengais butir-butir pengetahuan.

Pakar kajian budaya Islam dan masyarakat sipil Asia Tenggara yang juga penulis biografi Gus Dur Greg Barton menegaskan posisi istimewa Gulen dibandingkan dengan pemikir Muslim kontemporer yang lain. Barton melihat keberhasilan Gulen mentransformasi pemikirannya dalam wujud gerakan sosial yang berpengaruh pada seluruh strata masyarakat Turki modern sebagai prestasi khusus. Menurut Barton kebanyakan pemikir Muslim reformis yang sezaman dengan Gulen belum mampu membangun gerakan sosial yang nyata, kendati pemikiran mereka baik dalam bentuk tulisan maupun ceramah dapat mempengaruhi dan merubah ribuan pemikir Muslim yang lain (Barton, 2005). Senada dengan Barton Ali Bulac mendefinisikan sosok Gulen sebagai kombinasi sempurna antara sosok pemimpin penyeimbang (harmonizing leader) dan sarjana intelektual (intellectual-scholar) yang mendedikasikan dirinya untuk reformasi sosial dan perbaikan mental (Bulac, 2005). Gulen memilih dakwah jalan tengah sebagai garis perjuangan hidupnya. Integritasnya menyampaikan ide-ide perubahan dari masjid, kedai kopi, kampus dan ruang publik lainnya mendapat respon positif khalayak. Inspirasi Gulen tentang cinta, perdamaian, toleransi dan reformasi pendidikan mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat dari latar belakang yang beragam. Gulen tidak hanya mampu bersikap netral di tengah gesekan antara Islam kanan versus Islam kiri, Sunni dan Alawi bahkan perseteruan etnis Turki dan Kurdi tapi juga berusaha menjaga masyrakat untuk menjauhi konflik-konflik tersebut (Cetin, 2006). 

Gerakan sosial pertama kali dirintis Gulen pada 1963 awalnya berupa kelompok kecil di kota Izmir Turki selatan. Pada pertengahan 1980 gerakan ini baru berkembang dengan cepat dengan membangun institusi pendidikan yang tersebar di seluruh Turki. Sejak awal 1990 gerakan Gulen ini berubah menjadi gerakan transnasional dan telah menarik pengikut dari berbagai suku bangsa. Sekolah Hizmet mulai didirikan di negara-negara Asia Tengah, Eropa dan Australia terutama oleh keturunan Turki di negara-negara tersebut (Celik-Alan; T. Kuru, 2005; Yavuz, 2005). Pada era yang sama Gus Dur adalah ikon intelektual Indonesia. Sosok aktivis HAM, pembela demokrasi dan pejuang kebebasan berpendapat. Seorang pemikir yang berani sekaligus piawai bertarik ulur dengan pemerintahan yang otoriter. Maka bukan sesuatu yang mengagetkan jika pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo KH Asa’d Syamsul Arifin selaku pemegang otoritas di NU saat itu (ahlul halli wal aqdi) memilih Gus Dur sebagai nahkoda perubahan NU setelah memutuskan kembali ke khittah 1926. Kepemimpinan Gus Dur di PBNU ditandai dengan keterbukaan dan ruang bebas bagi kader NU muda untuk mengekspresikan pendapat mereka. Dengan semangat tersebut Gus Dur bersama dengan NU muda-nya mencoba merumuskan jati diri NU, hingga muncullah slogan-slogan yang tak akan dilupakan generasi NU sampai kapanpun yaitu: persaudaraan sesama Nahdliyin (ukhuwah nahdliyah), persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa (ukhuwah basyariyah) dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah). Pada awal 90-an ide perubahan yang dibangun Gus Dur mulai menampakkan hasil. Gagasan beliau untuk mendorong para sarjana dan peneliti asing untuk menulis tentang NU secara perlahan membawa NU berubah dari organisasi kolot menjadi organisasi yang dikenal di Dunia Internasional (Ghazali, 2003; Assyaukanie, 2010).

Gulen dan Gus Dur sama-sama memandang pentingnya toleransi dan humanisme sebagai landasan utama kehidupan berbangsa, terutama dalam konteks Indonesia dan Turki yang plural dan majemuk. Menjadi penting untuk menengok kembali, mengapa Gus Dur dan koleganya KH Ahmad Siddiq sejak awal kepemimpinannya bersikeras mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dengn menolak penerapan syariat Islam? Mengapa Gus Dur merespon dengan antusias setiap undangan seremonial agama lain? Mengapa Gus Dur membela dan menganak emaskan kelompok-kelompok minoritas seperti etnis Tionghoa dan keluarga tahanan politik? Setali tiga uang dengan Gus Dur, Gulen memastikan toleransi sebagai satu-satunya jalan untuk meraih masa depan sebuah bangsa. Toleransi bagi Gulen ibarat sebuah benteng yang sangat kuat untuk menjaga keutuhan sebuah bangsa dari ancaman perbedaan yang berpotensi mendatangkan perpecahan. Gulen menulis:“Thus, while walking toward the future as a whole nation, tolerance is our safest refuge and our fortress against the handicaps that arise from schism, factions, and the difficulties inherent in reaching mutual agreement; troubles that lie waiting at every corner”(Gulen, 2004).

Gulen juga memberi catatan penting bahwa toleransi dan penghargaan kepada orang lain adalah hal yang sama sekali berbeda dengan masalah hubungan seseorang dengan Tuhannya. Menghargai nilai manusia bagi seorang yang percaya kepada Tuhan merupakan sebuah takdir yang tidak akan mampu diingkari. Gulen berujar: “Accepting all people as they are, regardless of who they are, does not mean putting believers and unbelievers on the same side of the scales. According to our way of thinking, the position of believers and unbelievers has its own specific value. The Pride of Humanity has a special position and his place in our hearts is separate from and above all others” (Gulen, 2004). Sebuah catatan yang mungkin dapat memberi sedikit pencerahan mengenai sikap Gus dur yang lebih memilih diam merespon hujatan, cacian dan tuduhan murtad kepada beliau saat menghadiri undangan dari para pemuka agama lain, berdoa di gereja, klenteng dan lain-lain.

Dalam ranah politik, perjuangan Gus Dur dan Gulen juga memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama berangkat dari tradisi politik kultural. Gus Dur selalu mendambakan gerbong besar Nahdliyin nya menjadi elemen civil society. Dalam pandangan Gus Dur NU ormas keagamaan yang lain merupakan unsur paling penting dari kekuatan sipil yang bepotensi menjadi mandiri dan mampu berhadapan dengan negara (Sa’id Ali, 2008). Cita-cita politik Gus dur ini terlihat sangat kuat pada awal 90-an ketika NU memilih mendukung demokrasi dan berhadapan langsung dengan pemerintahan otoriter orde baru. 

Sayangnya cita-tersebut sedikit luntur dengan didirikannya PKB sebagai ‘partai resmi’ warga NU pasca reformasi, bahkan menjadi kabur tatkala Gus Dur diangkat sebagai Presiden RI ke-4 (Sa’id Ali, 2008).

Meneruskan tradisi pendahulunya Sa’id Nursi Gulen agaknya lebih konsisten dalam membangun masyarakat menjadi lebih modern dan menjauhi politik praktis. Bagi Gulen membangun pemahaman agama yang inklusif dan humanis di tengah masyarakat jauh lebih penting dan efektif dibandingkan membiarkan masyarakat jatuh dalam kubangan politisasi agama (Yavuz, 2005). Konsentrasi Gulen seperti diidentifikasi Barton lebih besar dicurahkan pada perbaikan kualitas pendidikan, etika perbankan dan perusahaan media. Selain itu Gulen tetap tekun memobilisasi integritas personal dan kepedulian sosial dari para pelaku bisnis serta pada saat yang sama menyediakan jaringan untuk memacu dan mendukung kegiatan mereka (Barton, 2005). Seperti dinyatakan Yafuz, Gulen tidak memiliki agenda politik tertentu terutama berkaitan dengan gerakan sosial yang dipimpinnya, tetapi kharisma Gulen merupakan daya tarik politik yang tidak bisa diabaikan dalam kancah pepolitikan Turki. Gulen tidak pernah dengan tegas menyatakan sikap politiknya, namun bukan lagi rahasia jika ia tidak bersimpati dengan politisasi Islam ala Milli Gorus yang digawangi Necmetin Erbakan berikut partai-partai politik berada dibawahnya. Gulen justru terlihat lebih intim dengan pemimpin-pemimpin sekuler seperti mantan presiden dan perdana menteri Turgut Ozal dan perdana menteri wanita pertama Turki Tansu Ciller (Yafuz, 2005).

Seperti Gus dur yang mendukung penuh pemerintah menjaga Pancasila sebagai dasar negara, Gulen seringkali menjadi bumper pemerintah dan kekuatan militer Turki terutama ketika berhadapan dengan kelompok Islam Kanan. Namun penting untuk dicatat, kedua tokoh ini memberikan dukungan tersebut tidak gratis, Gus Dur dan Gulen sama-sama meminta demokrasi sebagai harga yang tidak bisa ditawar.(Sa’id Ali, 2008; Yafuz, 2005) Gulen selalu lantang menyuarakan demokratisasi baik kepada pemerintah maupun pada partai-partai Islam sebagaimana pernyataannya berikut: “Democracy and Islam are compatible. Ninety-Wve percent of Islamic rules deal with private life and the family. Only 5 percent deal with matters of the state and this could be arranged only within the context of democracy. If some people are thinking something else, such as an Islamic state, this country’s history and social conditions do not allow it.... Democratization is an irreversible process in Turkey”.(Yafuz, 2005).

Walhasil, di era modernitas dan globalisasi seperti sekarang sosok seperti Abdurrahman Wahid dan Fethullah Gulen merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa dihindari. Sosok yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam bahasa yang dikenal dan mudah diterima masyararakat kontemporer, sekaligus mampu mengejawantahkannya dalam aktivitas nyata yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Apa yang dikatakan Eickelman bahwa dalam era global setiap agama harus bisa menata ulang hubungannya dengan masyarakat, sebab tradisi keagamaan telah menjadi konsumsi massal, tampaknya sudah dimainkan dengan apik oleh Gus Dur dan Gulen. Bagaimana dengan kita? 

*Anggota DPR RI
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG