Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus

Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus
Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus
Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus

Oleh H. Hadi M Musa Said
Pesantren kilat atau pasaran begitu istilah yang sering digunakan di kalangan pesantren. Pasaran biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan untuk mengisi jadwal Ramadhan di setiap pondok pesantren yang sedang libur dari kegiatan belajar atau mengaji.

Pesantren kilat dilakukan di berbagai daerah, mungkin istilahnya juga berbeda. Ada yang satu bulan penuh, 20 hari, 15 hari atau 10 hari. Kegiatan ini menjadi tradisi di pesantren-pesantren NU, tidak terkecuali yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta, yang di Asuh oleh Abah KH. Adang Badruddin, atau lebih dikenal "Abah Cipulus".

Mungkin bedanya, di pesantren Cipulus kegiatan pesantren kilat dilaksanakan pada bulan Syawal setelah lebaran atau hari ke-5 Idul Fitri sampai tgl 5-15 Syawal setiap tahunnya, kitab yang diajarkan adalah Syarah Fathul Qorib (fikih) dan Tijan Addarori (tauhid) yang dikhatamkan selama 10 hari dimulai sehabis Sholat Subuh ber-Jamaah sampai jam 12 malam. Istirahatnya dilakukan pada waktu sholat dan makan, dan dalam membacakan kitab menggunakan logat dan bahasa Sunda.

Oleh Abah KH Adang Badruddin, pesantren kilat di bulan Syawal ini sudah dilakukan 30 tahun lebih dari tahun 80 an dengan rutin dan istiqomah. Tradisi pesantren yang mungkin sudah sangat jarang, ini harus terus di lestarikan sebagai bentuk dakwah model Islam Indonesia yg menganut ajaran islam ahlussunah wal jamaah Nahdlatul Ulama, atau istilah sekarang Islam Nusantara.

Pesantren Cipulus Purwakarta sendiri didirikan pada tahun 1840 silam dan terus berbenah dengan segala dinamika perkembanganya, dengan tidak meninggalkan tradisi yang sudah dibangun oleh para pendiri sesepuh dan penerusnya. Hal ini menjadi penting karena perkembangan negara bangsa bahkan dunia global terus mengalami perubahan kalau tidak disikapi dengan arif dan bijaksana akan sangat merugikan dan membahayakan generasi bangsa kita, khususnya generasi Islam Rahmaran lil Alamin.

Kemauan untuk berbenah itu juga sesuai dengan Qoidah NU melestarikan tradisi lama yang baik dan mencari hal baru yang lebih baik, banyaknya faham baru yang bermunculan juga harus diantisipasi oleh seluruh umat Islam, faham garis keras yan cenderung Radikal (terorisme) yang mengatasnamakan islam seringkali membuat kegaduhan dan menebarkan kebencian antar umat Islam sendiri. Mengaku paling Islam dengan mrngkafirkan dan menbid'ahkan amalan golongan lainya adalah ciri-ciri kelompok radikal yang menghalalkan darah saudaranya untuk di bunuh dengan melakukan bom bunuh diri, sekali lagi ini bukan ajaran Islam yang sebenarnya, yang penuh dengan kelembutan kesantunan dan penuh dengan rahmat.

Agama Islam NU itu merangkul mengayomi menjadi perekat antar umat manusia, mengajak kebaikan bukan memaksakan krbenaran sepihak. Ini yang dilakukan oleh para kiai, ajengan, ulama2 NU para pengasuh pesantren dan ustadz dan ustadzahnya, menebarkan rasa perdamaian bukan kebencian yang terus memakan korban, meminjam istilah Gus Dur, memanusiakan manusia dengan cara manusia. Artinya “hablu minanas-“nya betul-betul diterapkan sesuai dengan nilai yang diajarkan Islam sebagai Agama, disisi lain Hablu minallah nya terjaga dengan baik, begitu juga Habluminal alam.

Kembali ke tradisi Pesantren, soal pesantren kilat atau ngaji pasaran ini dilakukan di hampir seluruh pesantren NU. Ada berbagai macam jenis kitab yang diajarkan. Ini menjadi lentera, menjadi cahaya, menjadi kekuatan kita dalam bernegara, berbangsa karena dari pesantrenlah Resolusi jihad dikobarkan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari Pesantrenlah NKRI ini masih berdiri kokoh sebagai sebuah Bangsa yang merdeka, harus disadari bersama bahwa kita harus terus melanjutkan perjuangan para ulama pendiri bangsa ini.

Tradisi dan kearifan lokal memang mulai terkikis oleh derasnya arus moderenisasi dan kuatnya cengkeraman global dalam mengubah pandangan dan prilaku kita sebagai manusia. Maka pesantren harus menjadi benteng yang kokoh untuk terus menjadi pelopor kebangkitan Indonesia secara nasional dan internasional, penjaga moral Bangsa dan generasi penerus yang terus diserbu oleh berbagai macam bentuk moderenisasi yang kadang berlebihan dan tidak bertanggungjawab.

Sementara itu kenakalan anak anak kita menjadi masalah tersendiri. Ini menjadi problem  bersama yang harus diselesaikan dengan baik dan bijaksana, sejalan dengan program pemerintah tentang revolusi mental. Tugas ini sudah dilakukan oleh Pesantre  jauh sebelum indonesia merdeka oleh kalangan pesantren. Sekarang tugas kita semua tinggal bagaimana mensinergikan hal ini dengan srmua pihak yang terkordinasi dengan baik dan tentunya butuh dukungan semua pihak. Walahu a'lam bishowab.

H. Hadi M Musa Said, M.Si.
Ketua Komite Sekolah SMK Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta, Ketua PP GP Ansor, Ketua DPP KNPI, dan Kornas JAM PMII.

BNI Mobile