IMG-LOGO
Opini

Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara

Sabtu 23 Juli 2016 5:45 WIB
Bagikan:
Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara
Foto: ilustrasi
Oleh Fathoni Ahmad
Keselarasan atau harmoni Negara Republik Indonesia yang telah tercipta selama beberapa dasawarsa oleh instrumen bernama Pancasila tetap saja mendapat rongrongan dari beberapa kelompok. Untuk melegitimasi gerakannya, mereka bahkan menenteng panji agama Islam sehingga seolah mampu mengobarkan militansi semua dari diri seseorang.

Terkait hal ini, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sering menekankan, pada hakikatnya mental intoleran ada pada setiap manusia. Sikap ini akan meledak-ledak ketika mendapat sedikit percikan api untuk melakukan rongrongan terhadap dasar negara sehingga pemahaman anti-Pancasila menyeruak. Mereka menilai bahwa sudah semestinya sebagai negara mayoritas muslim, dasar negara yang harus diterapkan juga harus berdasarkan syariat Islam.

Di titik inilah mereka memahami Islam secara simbolik yang harus bertengger menjadi formalisasi agama dalam sistem negara. Padahal Gus Dur sendiri menyampaikan bahwa Islam tak perlu dikerek menjadi bendera. Dalam konteks bangsa Indonesia yang plural, tentu arogansi sebagian kelompok Islam yang ngotot dengan khilafah akan membuat bangsa Indonesia tercerai berai. Apalagi kelompok tersebut tak segan-segan menghabisi nyawa manusia jika tak sepaham dengannya. Inilah yang disebut radikalisme berbaju agama sehingga muncul tindakan terorisme. Padahal terorisme sendiri tidak mempunyai agama. Artinya, agama dan keyakainan mana pun tidak mengajarkan kekerasan, apalagi membunuh sesama manusia.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa konsep negara di kalangan kaum muslimin masih belum mendapat kesepakatan. Setidaknya kaum muslim harus menyadari dan meletakkan agama Islam sebagai ruh kehidupan bangsa dan negara. Bukan sebaliknya, agama berusaha diformalisasikan ke dalam sistem negara. Apalagi di negara yang majemuk seperti bangsa Indonesia. Belajar dari Gus Dur, seluruh bangsa hanya perlu berempati dan mempunyai rasa toleransi tinggi untuk mewujudkan persatuan sehingga dapat memperkuat negara.

Menurut Gus Dur, hal ini berimplikasi pada kesadaran bela negara yang muncul dari sebagian elemen bangsa, seperti Gerakan Santri Bela Negara dan gerakan serupa yang akan digelar di Pekalongan, Jawa Tengah pada 27-29 Juli 2016 mendatang. Namun Gus Dur (1991) menekankan bahwa konsep bela negara jangan serta merta dipahami sebagai perjuangan fisik karena selama ini kewajiban bela negara selalu ditekankan sebagai kewajiban kemiliteran sehingga warga negara harus mengikuti wajib militer. 

Terminologi bela negara di beberapa negara juga diartikan sebagai bela diri. Namun demikian, seperti yang dijelaskan Gus Dur di atas, kewajiban bela negara sebagaimana tentara Jepang dikatakan sebagai self defend force (kekuatan bela diri Jepang). Jadi jangan dikira memakai pedang, toya, main karate, dan sebagainya. Tetapi bela diri modern menggunakan kapal laut, kapal terbang yang mutakhir, dan senjata berteknologi modern.

Begitu juga dengan bela diri di Israel for self defend forces, kekuatan bela diri Israel. Konsep ini di tempat-tempat lain masih berarti yang sangat sempit, yaitu menyatakan kesanggupan untuk membela secara fisik dan militer tiap ancaman, serangan dari luar, atau bahkan ketika menyerang keluar (Gus Dur, 1991).

Paradigma ini agaknya tertanam pada diri sebuah kelompok yang kini mengangkat senjata, menginvasi, hingga membunuh orang lain untuk sebuah jargon negara Islam, contoh ISIS (Islamic State in Iraq and Sham). Dengan alasan rindu kejayaan kekhalifahan Islam masa lalu, mereka merasa perlu bahkan harus mendirikan negara khilafah Islam agar agama mayoritas penduduk dunia ini kembali menemukan kejayaannya. Padahal junjungan umat muslim, Muhammad SAW tidak pernah secarik kalimat pun mendeklarasikan negara Islam. Bahkan yang Ia dirikan adalah negara Madinah dengan dasar Piagam Madinah. Undang-undang negara ini poin pentingnya adalah setiap bangsa, kelompok agama, suku, dan lain-lain harus mengedapankan toleransi satu sama lain demi memperkuat negara dan mewujudkan harmonisasi antarbangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) beberapa langkah lebih maju karena memahami bela negara maupun bela diri secara luas, tidak sempit. Artinya, kewajiban membela negara diekspresikan dan diartikulasikan dengan saling berempati, memperkuat wawasan kebangsaan, menjaga dan melestarikan tradisi, adat maupun budaya lokal sebagai modal identitas bangsa, serta meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, bahkan ia mampu memperkuat nilai-nilai keislaman sehingga para ulama Indonesia, khususnya pesantren menilai bahwa mengamalkan Pancasila senilai dengan menjalankan syariat Islam. Inilah yang disebut pemahaman Islam substantif, bukan paham Islam simbolik yang ingin memformalisasikan agama ke dalam sistem negara.

Meskipun mampu mengejawantahkan konsep bela negara secara luas, tetapi bangsa Indonesia tak segan-segan mengangkat senjata demi kewajiban membela negara dari rongrongan penjajah seperti yang dilakukan para kiai dan santri dalam pertempuran di Surabaya tahun 1947 untuk mengusir kolonialisme. Oleh sebab itu, tantangan bangsa Indonesia untuk memperkuat negara menjadi krusial ketika rongrongan terhadap negara telah dibungkus dalam baju agama sebagai bentuk kolonialisme modern.
Dalam hal ini, Gus Dur (1991) memberikan penjelasan substantif apa yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi yang didirikan para kiai pesantren dengan konsistensinya dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Pertama, menurut Gus Dur, NU mampu menjaga agar tetap lurus dalam memandang kenegaraan sebagai sebuah bangsa. Terminologi bangsa dalam hal ini adalah kemajemukan, keberagaman, dan perbedaan yang harus terus dirawat. Karena menurut Gus Dur, semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita sebagai bangsa. 

Pandangan negara bangsa (nation state) yang terus dirawat oleh NU karena ada kecenderungan manusia ketika menjadi modern menghendaki negara ini salah satu di antara dua: lepas dari agama sama sekali (menjadi negara sekuler) atau negara dimotivasi oleh agama seperti gairah mendirikan negara Islam. Tentu paradigma ini tidak terlepas dari kehidupan bangsa Indonesia yang semakin modern. Dalam konteks ini, menjadi bangsa Indonesia yang mampu memodernisasi tradisionalitas dan mentradisionalisasi modernitas menjadi penting seperti prinsip NU dalam menyikapi perubahan global dengan tetap berpegang teguh pada: al-muhafadzah alal qadimis sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). 

Kedua, NU mampu menjaga agama untuk tetap mewarnai kehidupan bangsa dan negara. Artinya, kehidupan beragama tetap menjadi penopang keharmonisan bangsa karena agama pada intinya mengajarkan kebaikan. Di titik inilah masyarakat muslim penting menempatkan Islam sebagai agama publik, yakni agama yang mampu menjaga harmonisasi interaksi sosial sesama anak bangsa. Bukan sebaliknya, menempatkan agama di menara gading sehingga buta akan kebersamaan yang justru bisa diwujudkan oleh sesama penganut agama dengan dasar muwafaqah atau kesamaan sebagai anak bangsa dari sebuah negara bangsa.***

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan.

Tags:
Bagikan:
Jumat 22 Juli 2016 7:27 WIB
PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila
PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila
Oleh Falihin Barakati

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan suatu organisasi kader yang di dalamnya diisi para mahasiswa Muslim yang landasan teologinya Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja). Selain menggunakan paham Aswaja, PMII juga menetapkan Pancasila sebagai asas organisasinya. Pancasila diyakini sebagai suatu komitmen bersama the founding fathers bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga keutuhannya sebagai dasar Negara. Karena PMII merupakan organisasi kepemudaan yang lahir di bumi Pancasila, maka PMII pun wajib membela dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia di tengah kemajemukan dan kepluralan masyarakat Indonesia.

Jika kita kembali pada sejarah lahirnya Pancasila, sebelum Pancasila ditetapkan sebagai landasan atau dasar Negara, berbagai benturan pandangan terjadi. Dalam sidang BPUPKI misalnya, peserta sidang terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kalangan nasionalis dan kalangan agamis. Kedua kelompok ini masing-masing memiliki pandangan berbeda terhadap gagasan Soekarno yang menawarkan Pancasila sebagai ideologi Negara. Yang paling menonjol dalam perdebatan tersebut adalah terkait apakah Negara Indonesia akan menjadi negara sekuler atau negara agama. Namun di tengah perdebatan panjang diambilah suatu kesepakatan bersama, bahwa Indonesia dengan Pancasilanya bukanlah negara sekuler dan juga bukan negara agama. Dari kesepakatan ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila.

Sungguh menakjubkan, ide pemikiran politik yang terkandung di dalam Pancasila merupakan ramuan sempurna dan solutif. Para pendiri Negara mampu meramunya dengan sangat kreatif, dengan mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, Negara sekuler atau negara agama. Mereka menyusunnya dengan rumusan yang begitu imajinatif di mana negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Coba bandingkan dengan Turki, di mana saat mencari jalan keluar dari kemerosotan Dinasti Utsmani yang berkuasa selama hampir delapan abad, akhirnya memilih negara sekuler yang ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan pada Maret 1924. Turki pun menjadi negara sekuler pertama di tengah masyarakat Muslim.

Begitu pun di Pakistan. Negeri yang berdiri di atas bekas wilayah Dinasti Mogul itu, dari dua arus pemikiran politik yang bersaing saat menuju kemerdekaan, antara Ali Jinnah sebagai representasi gagasan negara sekuler dan Maududi sebagai representasi gagasan negara agama, toh akhirnya memilih jalan sebagai Negara Islam, setelah gagal mensenyawakan format yang solutif untuk sebuah dasar negara modern.

Pancasila, sebagai jalan tengah antara dua pemikran apakah Indonesia sebagai negara sekuler atau negara agama. Inilah konsensus bersama para pendiri bangsa saat menetapkan dasar atau ideologi Negara Indonesia. Kesepakatan yang mampu menyatukan pendapat dua kelompok baik kelompok nasionalis dan keslaompok agamis. Tidak ada satu pun kelompok yang dikecewakan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi Negara.

Itulah sedikit petikan sejarah pergulatan tentang penetapan Pancasila sebagai ideologi Negara. PMII sebagai organisasi kepemudaan yang tidak bisa terlepas dari sejarah Indonesia tentu harus wajib mempertahankan Pancasila. Apalagi melihat realitas sekarang Pancasila begitu dikerdilkan bahkan terlupakan. Meski tak dapat dipungkiri trauma Orde Baru masih ada dalam bayang-bayang di segenap pemikiran rakyat Indonesia bagaimana Pancasila begitu ditegakkan dan dimasyarakatkan tetapi berdasarkan pengertian penguasa kala itu sehingga hanya dijadikan alat untuk memperthankan kekuasaan. Tetapi bukan karena itu kemudian kita meninggalkan Pancasila, karena Pancila adalah kesepakatan, komitmen dan konsensus bersama pendiri bangsa kita yang mampu menyatukan beragam pemikiran pendiri bangsa Indonesia sehingga Indonesia tetap kokoh sampai hari ini.

Setelah terbukanya kran demokrasi yang ditandai dengan reformasi, saat inilah kebebaasan begitu diagung-agungkan sehingga kebebasan pun mulai kebablasan, Pancasila mulai digoyang kembali oleh beberapa pemikiran ideology baik dari liberalism dan kapitalisme ataupun sosialisme-komunisme serta ideology islam radikal. Pancasila sudah dimasuki dengan neoliberalisme, sehingga kebijakan pemerintah pun terkadang lebih condong dari dasar neoliberalisme dari pada Pancsila itu sendiri. Begitupun ideologi Islam radikal, yang mulai tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Teroris di mana-mana, tindakan kekerasan atas nama Islam merajalela dan penanaman pemikiran Islam yang tekstual dan inkontekstual yang begitu jauh dari semangat dan nilai-nilai Pancasila.

PMII dengan pemikiran Pancasilais dan nasionalisnya harus melawan pemikiran neoliberalisme yang merongrong bangsa Indonesia, begitupun dengan Islam radikal. PMII harus kembali membumikan Islam Indonesia di bumi Nusantara. Begitulah yang dikehendaki Pancasila dan para pendiri bangsa kita. Harus tetap menjaga orisinalitas bangsa di tanah air kita, jangan sampai terongrong oleh ideologi-ideologi yang begitu bertentangan dengan Pancasila. Pancasila lah pemersatu bangsa, Pancasila lah yang menjaga keutuhan NKRI, ini lah warisan luhur kita yang harus tetap kita jaga dan pertahankan sebagai ideologi Negara. Ketika Pancasila sudah terganti oleh ideologi-ideologi lain, maka NKRI bubar, perjuangan para pahlawan dan the founding fathers kita untuk memerdekakan dan membentuk bangsa dan negara ini sia-sia. Kita sebagai kader PMII yang berasaskan Pancasila tentu tidak mau hal itu sampai terjadi. Pancasila dan NKRI adalah Final.

Penulis adalah Wakil Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tenggara

Kamis 21 Juli 2016 9:0 WIB
Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus
Mengikuti Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus
Pesantren Kilat Bulan Syawal Bersama Abah Cipulus

Oleh H. Hadi M Musa Said
Pesantren kilat atau pasaran begitu istilah yang sering digunakan di kalangan pesantren. Pasaran biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan untuk mengisi jadwal Ramadhan di setiap pondok pesantren yang sedang libur dari kegiatan belajar atau mengaji.

Pesantren kilat dilakukan di berbagai daerah, mungkin istilahnya juga berbeda. Ada yang satu bulan penuh, 20 hari, 15 hari atau 10 hari. Kegiatan ini menjadi tradisi di pesantren-pesantren NU, tidak terkecuali yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta, yang di Asuh oleh Abah KH. Adang Badruddin, atau lebih dikenal "Abah Cipulus".

Mungkin bedanya, di pesantren Cipulus kegiatan pesantren kilat dilaksanakan pada bulan Syawal setelah lebaran atau hari ke-5 Idul Fitri sampai tgl 5-15 Syawal setiap tahunnya, kitab yang diajarkan adalah Syarah Fathul Qorib (fikih) dan Tijan Addarori (tauhid) yang dikhatamkan selama 10 hari dimulai sehabis Sholat Subuh ber-Jamaah sampai jam 12 malam. Istirahatnya dilakukan pada waktu sholat dan makan, dan dalam membacakan kitab menggunakan logat dan bahasa Sunda.

Oleh Abah KH Adang Badruddin, pesantren kilat di bulan Syawal ini sudah dilakukan 30 tahun lebih dari tahun 80 an dengan rutin dan istiqomah. Tradisi pesantren yang mungkin sudah sangat jarang, ini harus terus di lestarikan sebagai bentuk dakwah model Islam Indonesia yg menganut ajaran islam ahlussunah wal jamaah Nahdlatul Ulama, atau istilah sekarang Islam Nusantara.

Pesantren Cipulus Purwakarta sendiri didirikan pada tahun 1840 silam dan terus berbenah dengan segala dinamika perkembanganya, dengan tidak meninggalkan tradisi yang sudah dibangun oleh para pendiri sesepuh dan penerusnya. Hal ini menjadi penting karena perkembangan negara bangsa bahkan dunia global terus mengalami perubahan kalau tidak disikapi dengan arif dan bijaksana akan sangat merugikan dan membahayakan generasi bangsa kita, khususnya generasi Islam Rahmaran lil Alamin.

Kemauan untuk berbenah itu juga sesuai dengan Qoidah NU melestarikan tradisi lama yang baik dan mencari hal baru yang lebih baik, banyaknya faham baru yang bermunculan juga harus diantisipasi oleh seluruh umat Islam, faham garis keras yan cenderung Radikal (terorisme) yang mengatasnamakan islam seringkali membuat kegaduhan dan menebarkan kebencian antar umat Islam sendiri. Mengaku paling Islam dengan mrngkafirkan dan menbid'ahkan amalan golongan lainya adalah ciri-ciri kelompok radikal yang menghalalkan darah saudaranya untuk di bunuh dengan melakukan bom bunuh diri, sekali lagi ini bukan ajaran Islam yang sebenarnya, yang penuh dengan kelembutan kesantunan dan penuh dengan rahmat.

Agama Islam NU itu merangkul mengayomi menjadi perekat antar umat manusia, mengajak kebaikan bukan memaksakan krbenaran sepihak. Ini yang dilakukan oleh para kiai, ajengan, ulama2 NU para pengasuh pesantren dan ustadz dan ustadzahnya, menebarkan rasa perdamaian bukan kebencian yang terus memakan korban, meminjam istilah Gus Dur, memanusiakan manusia dengan cara manusia. Artinya “hablu minanas-“nya betul-betul diterapkan sesuai dengan nilai yang diajarkan Islam sebagai Agama, disisi lain Hablu minallah nya terjaga dengan baik, begitu juga Habluminal alam.

Kembali ke tradisi Pesantren, soal pesantren kilat atau ngaji pasaran ini dilakukan di hampir seluruh pesantren NU. Ada berbagai macam jenis kitab yang diajarkan. Ini menjadi lentera, menjadi cahaya, menjadi kekuatan kita dalam bernegara, berbangsa karena dari pesantrenlah Resolusi jihad dikobarkan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari Pesantrenlah NKRI ini masih berdiri kokoh sebagai sebuah Bangsa yang merdeka, harus disadari bersama bahwa kita harus terus melanjutkan perjuangan para ulama pendiri bangsa ini.

Tradisi dan kearifan lokal memang mulai terkikis oleh derasnya arus moderenisasi dan kuatnya cengkeraman global dalam mengubah pandangan dan prilaku kita sebagai manusia. Maka pesantren harus menjadi benteng yang kokoh untuk terus menjadi pelopor kebangkitan Indonesia secara nasional dan internasional, penjaga moral Bangsa dan generasi penerus yang terus diserbu oleh berbagai macam bentuk moderenisasi yang kadang berlebihan dan tidak bertanggungjawab.

Sementara itu kenakalan anak anak kita menjadi masalah tersendiri. Ini menjadi problem  bersama yang harus diselesaikan dengan baik dan bijaksana, sejalan dengan program pemerintah tentang revolusi mental. Tugas ini sudah dilakukan oleh Pesantre  jauh sebelum indonesia merdeka oleh kalangan pesantren. Sekarang tugas kita semua tinggal bagaimana mensinergikan hal ini dengan srmua pihak yang terkordinasi dengan baik dan tentunya butuh dukungan semua pihak. Walahu a'lam bishowab.

H. Hadi M Musa Said, M.Si.
Ketua Komite Sekolah SMK Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta, Ketua PP GP Ansor, Ketua DPP KNPI, dan Kornas JAM PMII.

Selasa 19 Juli 2016 21:32 WIB
Gulen dan Gerakan Sosial Akar Rumput Hizmet
Gulen dan Gerakan Sosial Akar Rumput Hizmet
foto aksam.com
Oleh Gumilar Rusliwa Somantri 
Pemerintah Turki menuduh kudeta dilakukan oleh para Pamen berhaluan “hijau” Hizmet. Gerakan sosial akar rumput Hizmet  sangat terinspirasi oleh pemikiran Hujjah Effendi Fethullah Gulen. Beliau adalah intelektual islam yang salih dan sangat kharismatik. Beliau kini tinggal di sebuah kamp di Philadelphia AS, menjauh dari jangkauan pemerintahan militer Turki di masa silam yang menilainya berbahaya.

Erdogan berkuasa semula secara signifikan turut didukung oleh jaringan kelompok ini. Mereka yang mempunyai jaringan luas ini sangat kritis dan mengambil jarak pada pemerintah yang dinilai mereka tidak bersih dari korupsi dan polugri acap kontroversial.

Di kemudian hari, mereka menilai Erdogan telah jauh dari asas memimpin dengan hati dalam rangka beramal salih dan amanah. Pada titik ini, mereka beranggapan pemerintahan terlalu berbau kepentingan politik dan ekonomi partikularistik sekular. Beberapa tahun terakhir ini Erdogan pun berang dan tidak bersahabat pada elemen kekuatan Muslim ini.

Hizmet berarti pengkhidmatan atau beramal salih dengan ikhlas. Mengerjakan sesuatu semata dengan mengharap barakah Allah. Mereka memang sangat romantis kejayaan Ottoman Empire (Turki Usmani). Hizmet mempunyai gerakan sosial dan amal yang luar biasa. Pengikutnya mengumpulkan dana secara massif, mulai dari anak sekolah yang menyisihkan uang jajan hingga pengusaha yang menyisihkan 20 persen dari keuntungan.

Ia mempunyai jaringan hampir di seluruh negara penting dunia di bidang perdamaian, pendidikan terutama science, dan budaya sufistik ala Jalalludin Rumi yang meraih kebesaran karyanya di era Turki Usmani.

Gerakan Hizmet  di AS berperan dalam dakwah damai yang effektif pasca 9-11 attack sehingga banyak warga AS asli  yang memeluk Islam karena penasaran dengan Al-Quran ditambah akhlak baik yang ditunjukan kalangan muda Turki tersebut.

Di Washington mereka membentuk Rumi Foundation. Mereka ada hampir di semua kota atau negara bagian seperti New York, Virginia, Texas, LA. Mereka dikenal sebagai pengusaha, akademisi, dan pendidik di kampus-kampus. Sekolah-sekolah dibangun mereka dengan profesional dan mendapat subsidi negara.

Di beberapa kampus, bahkan ada professorship chair Fethullah Gulen yang diisi ilmuwan Turki. Oleh karena itu pascakudeta, pemerintah Turki melalui PM melontarkan pernyataan keras terhadap AS yang dianggap melindungi Gulen. Katanya siapa saja yang melindungi Gulen adalah bukan teman Turki.

Siapakah Fethullah Gulen? Beliau adalah intelektual Muslim salah satu pengagum Said Nursi. Selama kariernya beliau aktif menulis dan menjadi inspirator kekuatan gerakan sosial di tingkat akar rumput. Jumlah buku yang ditulis mencapai lebih seratus buku.

Saking sibuk dalam pengabdian terhadap umat beliau tidak sempat menikah. Kehidupan sehari-sehari ditandai dengan berpuasa, bangun setiap jam 1 malam untuk shalat tahajud bermunajat kepada Rabb yang Maha Agung untuk keselamatan umat Islam di seluruh dunia yang banyak dalam posisi terzalimi, dilanda fitnah, dan kesulitan.

Dalam shalat-shalat yang diikuti para peziarah di kamp, linangan air mata beliau selalu mengundang isak tangis jamaah yang mengamini doa-doa khusyuk di malam-malam yang hening bahkan beku.

Hujjah Effendi Fethullah Gulen sudah sepuh dan sakit-sakitan sehingga sudah jarang bepergian. Namun tulisan dan seruannya sangat menggetarkan semua pengikutnya terutama di Turki. Termasuk dalam mendukung atau tidak mendukung pemerintah sah berdasarkan penilaian atas komitmennya pada Al-Quran dan Sunnah.

Di Indonesia sendiri kalangan Hizmet ini telah hadir lebih dari 30 tahun. Mereka mendirikan sekolah-sekolah, melakukan kegiatan sosial kebudayaan, dan seminar-seminar. Di UIN Jakarta ada Chair Gulen untuk pengajaran dan riset yang diisi orang Turki warga negara AS yang salih.

Mereka, seperti halnya di AS dan Eropa, tidaklah menimbulkan masalah. Karena pada dasarnya mereka moderat, pro perdamaian, gandrung ilmu dan teknologi. Mereka dikenal sebagai Muslim rendah hati dan bekerja keras karena keinginan memperoleh pahala dan ridla Allah. Jadi, ia bukan gerakan poltik ideologis anti kemapanan (rezim berkuasa) seperti tergambar dalam sepak terjang organisasi di Mesir yang dimotivasi gagasan Al-Banna.

*Penulis adalah sosiolog, Guru Besar FISIP UI. (pemuatan ulang tulisan ini sudah seizin penulis)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG