IMG-LOGO
Tokoh

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem

Rabu 3 Agustus 2016 11:0 WIB
Bagikan:
KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem
Makam KH Mahfudz Cholil Lasem.
Kakak alm Mbah Abdus Salam, Pak Udin berpenampilan sederhana dan rendah hati putra Kiai Mahfudz mewakili keluarga turun langsung selama jalannya renovasi. Makam pejuang tanpa pamrih itu yang telah ditata rapi oleh Pengurus Masjid semakin nyaman bagi peziarah dengan dibangun lantai kramik oleh pihak keluarga. 

Letak makam di sebelah selatan Makam Mbah Sambu, hanya berjarak 6 meter. Mudah ditemui, jika berjalan menuju pintu masuk makam Mbah Sambu, sebelumnya peziarah akan menemukan makam Kiai Mahfudz. Di Komplek Masjid Jami Lasem juga terdapat makam tokoh perang sabil yang dikenal juga dengan nama perang kuning tahun 1751 yaitu KH Ali Baidlowi atau Ki Joyo Tirto, timur makam Mbah Sambu

Kiai Mahfudz kakak Kiai Mansyur ayah dari Gus Qayyum. Putra KH Cholil Lasem salah satu pendiri NU, terbilang Keponakan Mbah Ma'shoem Lasem, merupakan putra Kyai Abdur Rasyid mantan Kepala Desa Soditan yang selama hidupnya tercatat sebagai Kontraktor pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, sehingga banyak warga Lasem diikutkan bekerja. 

Untuk mengenangnya, dulu tokonya di Alun-alun Lasem diberi nama Toko Tanjung Perak, kemudian dibongkar terkena pelebaran jalan raya Lasem-Jatirogo. Jiwa pejuang KH Mahfudz Cholil juga menurun dari kakek jalur ibu yaitu juga bernama Kyai Mahfudz ayah dari KH Sahal Mahfudz Kajen Pati, yang gugur dalam Perang Palagan Ambarawa melawan penjajah, wilayah perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman. 

Dari garis ibu juga ada pertalinan kerabat dengan KH Abdullah Salam Kajen dan KH Syansuri Badawi Denanyar.  Teman seperjuangan Kyai Mahfudz Cholil antara lain KH A Hamid Syarif Pohlandak, KH Zuber ayah KH Maemun Zuber Sarang, dan Kolonel Suyono mantan Bupati Jember.

Selama masa perjuangan di Kab Rembang hidup berpindah-pindah, bergrilya di Watu Pecah, Sedan, Lasem dll, sehingga Pak Udin anaknya lahir di Luar Lasem. Kyai Mahfudz lahir tahun 1920, wafat tahun 1973, pada usia 53 tahun. Beliau biasa disapa Gus Fud, di akhir hidupnya banyak berhidmat di Masjid Jami Lasem aktif mengelola dan merenovasi Madrasah Jailaniyah.

Pasca perjuangan fisik, di masa damai mengundurkan diri dari barak militer kembali ke pesantren atau pengabdian di masyarakat berpangkat Letnan, sebagian teman beliau mengurus status veteran, ada pula yang melebur/ masuk TNI melalui proses seleksi pangkat, tes baca tulis dan lain-lain. Sebagaimana tertulis dalam sejarah Laskar Mujahidin Hizbullah, PETA, BKR, TKR sampai pembentukan TNI.

Tahun 1966 beliau menjadi Kordinator Latihan Tutup Tahun Wisuda AKABRI dulu bernama AMN, Posko latihan berpusat di Soditan Lasem. Berupa latihan darat, laut dan terjun payung di Pemotan, Sedan dan Lapangan sekarang jadi  Pasar Lasem. 

Dihadiri langsung Jenderal Ahmad Taher selaku Gubernur AKMIL, pemerintah kemudian memberikan Piagam Penghargaan atas suksesnya latihan tersebut. Ahmad Taher kemudian menjadi menteri, termasuk Jenderal Agum Gumelar menantunya dan anaknya. (Abdullah Hamid)

Tags:
Bagikan:
Kamis 21 Juli 2016 17:15 WIB
Abah Afandi, Kedalaman Ilmu Kitab Kuningnya Diakui Para Kiai
Abah Afandi, Kedalaman Ilmu Kitab Kuningnya Diakui Para Kiai
Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’I yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Beliau adalah pengasuh Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu, Jawa Barat.

Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren besar, salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas  Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962.  Ia siswa angkatan pertama Madrasah Muallimin Pesantren Tambakberas yang didirikan oleh Mbah KH Fattah Hasyim Idris pada tahun 1953.

Selain itu, di luar madrasah, Abah Afandi beliau juga aktif mengikuti pengajian kitab- kitab pada Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim.

Semasa hidup, Mbah Yai Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim sering mengunjungi muridnya yang bernama Afandi itu di desa Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat.

Untuk kitab aJ-Jurumiyah (kitab dasar ilmu nahwu), Abah Afandi diajar langsung oleh Mbah Yai Wahab diulang sampai empat kali khataman. Mbah wahab bilang: “Afandi, kalau mengaji kitab aJ-Jurumiyah cuman sekali saja, itu belum sempurna, sedikitnya empat kali khatam”.


Menurut cerita abah saya (Mbah Kiai Fatah), saat menuntut ilmu di Pesantren Tambakberas Jombang, selain sebagai santri yang sungguh-sungguh, rajin dan tekun, kelebihan lain Abah Afandi (muda) juga terletak di lisannya yang fasih, tutur katanya jelas dan suaranya keras ketika mengajar, sehingga tidak aneh jika beliau disenangi oleh para santri.

Setiap Mbah Kiai Fattah mengaji, maka pasti menyuruh santri bernama Afandi asal Indramayu itu untuk membaca kitab yang diajarkan. Mbah Yai Fattah hanya mendengarkan dan kemudian menjelaskan isi dari kitab yang dibaca oleh Afandi muda.

Karena itulah kalangan santri dan kiai Tambakberas waktu itu, Abah Afandi mendapat sebutan “qori”, yaitu santri yang selalu ditugaskan oleh Mbah Yai Fattah sebagai “tukang baca kitab” yang diajarkan oleh guru-guru dan kiainya. Demikian, cerita paman saya, KH. Moh. Faiq Hasyim Idris Pondok Pesantren Kedunglo Kediri, Jawa Timur.

Beberapa tahun sebelum wafatnya Almaghfurlah KH Chudori, yang akrab di sapa Pak Chudori, wali kelas Abah Afandi waktu sekolah di Madrasan Muallimin Tambakberas, dalam beberapa kesempatan beliau bercerita, ”Bertahun-tahun saya mengajar di Madrasah Muallimin, belum menemukan siswa yang pemahaman dan penguasaan kitab kuningnya sangat luar biasa seperti Afandi. Ia belum ada yang menandingi dalam matangnya pemahaman nahwu, sharaf, mantiq, dan balaghahnya,” tutur Pak Chudori.

Atas prestasinya dalam belajar, meski masih muda dan masih menjadi siswa Madrasah Muallimin, Abah Afandi selalu dipercaya oleh guru-gurunya setiap ada ujian untuk mengoreksi lembaran-lembaran jawaban para santri seangkatannya.

Karena kemampuan penguasaan kitabnya Abah Afandi yang diakui oleh teman-temannya waktu itu, banyak teman-teman sesama santri yang minta mengaji kitab tertentu pada Abah Afandi kala muda itu di pesantren Tambakberas.

Awalnya hanya satu-dua santri, di dalam bilik atau kamar santri, namun seiring waktu, jumlah santri yang ikut pun bertambah, sehingga peserta meluber di teras-teras depan asrama santri,

Melihat antusiasme para santri yang mengikuti pengajian kepada santri bernama Afandi itu, Mbah KH Fattah Hasyim dan Mbah KH Wahab Chasbullah (sesepuh Pesantren Tambakberas waktu itu) diam- diam memperhatikannnya, dan atas izin dua kiai sepuh tersebut, akhirnya santri Tambakberas bernama Afandi kala itu, dipersilakan mengaji di masjid Pesantren Tambakberas. Pesertanya pun membeludak.

Tidak sedikit para santri yang diajar oleh Abah Afandi sewaktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, di kemudian hari menjadi kiai besar, seperti Almaghfurlah KH Masruri Abdul Mughni, yang pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah selama dua periode dan pengasuh Pesantren al-Hikmah Dua Benda Sirampog, Brebes, Jawa Tengah dengan tujuh ribu santri, dan kini menjadi besannya Abah Afandi.

Waktu Abah Afandi berdiskusi dengan saya di Pesantren Gedongan, Astana Japura, Ender Cirebon ( asuhan buyut KH Said Aqil Siroj) Abah Afandi dengan tawaduknya bilang, “Dulu waktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang yang mengajar saya, tetapi ketika pulang yang menjadi kiai dia (Kiai Masruri). Pondoknya besar, santrinya ribuan,” tuturnya .

Hal ini mengingatkan saya kepada gurunya Abah Afandi, yaitu Mbah KH Abdul Fattah Hasyim Idris. Ketika mondok di Tebuireng Jombang, beliau juga sering ditugasi “mbadali” ngaji di masyarakat. Di samping itu juga ditugasi mengajar di kelas sifir awal dan seterusnya sebagai guru kelas.

Karena disenangi murid-muridnya, ketika beliau Mbah yai Fattah pindah ke Denanyar Jombang memenuhi panggilan sang mertua, yakni KH Bisri Syansuri, sekitar 25 muridnya ikut pindah ke Denanyar. Pada akhirnya, mereka juga ikut boyongan ke Tambakberas ketika beliau diminta Pak Denya, KH Abdul Wahab Chasbullah untuk kembali ke Tambakberas membantu pamannya, KH. Hamid Chasbulloh.

Antara Abah Afandi dan Mbah Kiai Fattah Hasyim ada kesamaan dan perbedaan. Keduanya sama-sama dipercaya oleh kiainya untuk mengajar santri-santri junior. Keduanya sama-sama digemari murid-muridnya. Keduanya sama-sama mempunyai lisan yang fasih, tutur kata yang jelas, suara yang keras, dan seterusnya.

Perbedaanya, yang paling nampak, adalah ketika boyong, dari Tebuireng ke Denanyar dan dari Denanyar ke Tambakberas, diikuti oleh murid-muridnya. Tidak demikian dengan beliau Abah Afandi ketika beliau boyong dari Jombang ke kampungnya di Indramayu, tidak diikuti oleh murid-muridnya. (Baca: Kembali ke Semangat Awal Pendiri NU)

Di antara rutinitas Mbah Yai Fattah adalah membangunkan santri di sepertiga malam, agar para santri shalat Tahajjud. Tetapi, di kala itu, setiap melewati bilik atau kamar yag ditempati oleh santri bernama Afandi, Mbah Yai Fattah tidak akan menggedor pintu tesebut. Karena kalaupun pintu diketuk atau dibuka, sudah dipastikan santri dalam kamar tersebut sedang muthalaah (mempelajari) kitab-kitab. Bukan sedang tidur seperti umumnya santri-santri yang lain.

Dalam kesehariannya, setelah Abah Afandi menetap di kampungnya hingga wafatnya, beliau menjadi rujukan para kiai pecinta kitab kuning, baik dari Indramayu maupun daerah sekitarnya, yang bertanya tentang masalah-masalah “kelas berat” yang berkaitan dengan kitab kuning papan atas.

Bahkan Abah Afandi oleh Mbah Yai Wahab, waktu masih di Pesantren Tambakberas mau dinikahkan dengan seorang gadis putri kiai besar yang tak lain adalah sahabat dekatnya dan pengasuh pesantren di Jawa Tengah.

“Afandi, saya pilih kamu untuk menjadi menantu seorang kiai, yang mencari menantu ahli kitab kuning,” kata Mbah Wahab dalam bahasa Jawa Timur-an.

Tetapi saat ditawari itu, Abah Afandi malah menangis.

Mbah Wahab pun menanggapi dengan becanda, “Lho mau saya nikahkan dengan gadis cantik, putrinya kiai, pesantrennya besar, kok malah kamu menangis?”

Afandi menjawab, “Mohon maaf, Mbah Yai. Saya sudah menikah”.

Mbah Wahab menimpali, “Oh, ya sudah, berarti belum jodoh,” tuturnya.

Karena memang Abah Afandi waktu itu sudah menikah dengan seorang gadis bernama Sofiyah putri KH Habib Hasan, pilihan orang tuanya yang menjadi pendamping hingga akhir hayatnya. Keduannya sudah melalui akad nikah, meskipun waktu itu belum tinggal serumah, karena masing-masing masih belajar di pesantren. Abah Afandi di Jombang, sedangkan istrinya belajar di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
    
KH DR (HC) Fuad Hasyim Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat, salah satu kerabat terdekat Abah Afandi, dalam beberapa kesempatan ia pernah bilang, “Abah Afandi ini ‘mutiara yang terpendam’. Beliau seorang kiai yang luar biasa penguasaan kitab kuningnya, dan sangat tawaduk, sahabat dekatnya Gus Dur, namun sungguh sayang beliau kurang begitu dikenal oleh masyarakat luas secara nasional.”

Hal itu, lanjut Kiai Fuad, kiranya disebabkan karena Abah Afandi menetap di Indramayu, sedangkan sudah terkenal bahwa masyarakat Indramayu kurang bisa menghormati para kiai. Padahal penghormatan masyarakat luas kepada kiai tertentu itu tergantung bagaimana masyarakat sekitar tempat kiai itu menetap member penghormatan. “Contoh paling sederhana: Masayarakat sekitar memanggil ‘gus’ maka masyarakat luas di luar daerahnya juga akan memangil ‘gus’. Kalau masyarakat sekitar memanggil ‘Mbah Yai’, maka masyarakat luas di luar daerahnya pun pasti akan memanggil demikian pada kiai itu. Selain itu, di Indramayu juga ada mitos susah jadi kiai,” tutur Kiai Fuad.

Abah Afandi juga meninggal dunia dengan warisan karya tulis berjudul “Risalah al-Muin, fi Aqaid al-Khamsin”. Kitab ini mengulas penjelasan soal ilmu tauhid.

Oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas, Jombang.

Selasa 19 Juli 2016 8:13 WIB
KH Muhammad Ridwan, Ulama Tawaduk Pecinta Ilmu dari Blitar
KH Muhammad Ridwan, Ulama Tawaduk Pecinta Ilmu dari Blitar

”Tingkah yang kita contohkan itu lebih utama daripada hanya sekadar ucapan. Nasihat inilah yang selalu disampaikan Abah kepada putra-putri dan santri-santrinya,” terang Nyai Hj Rodiah, putri pertama Almaghfurlah KH Muhammad Ridwan saat ditemui penulis di kediamannya, Kompleks Pondok Pesantren Maftahul Ulum Blitar, beberapa waktu lalu.

KH Muhammad Ridwan adalah salah seorang kiai kharismatik yang pengabdiannya kepada umat tidak perlu diragukan lagi. Lahir di Blitar pada 1908. Beliau merupakan anak dari pasangan KH Abdul Karim dan Nyai Hj Rokibah.

Sejak kanak-kanak, Kiai Ridwan, sapaan akrab KH Muhammad Ridwan dikenal kawan-kawannya sebagai anak yang punya keinginan kuat dalam menuntut ilmu. Kiai yang terkenal dengan keteguhan pendiriannya ini, dididik langsung oleh ayahnya sendiri tentang cara hidup sebagai seorang santri. Kiai Ridwan diajak shalat berjamaah dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajud.

Kemudian, sang ayah Kiai Abdul Karim membimbingnya untuk menghafal Al-Qur’an dengan tartil dan fasih. Dan yang paling getol diajarkan Kiai Abdul Karim dalam mendidik Kiai Ridwan adalah mengenal kitab-kitab kuning. Dari kitab paling kecil yang isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari hingga kitab-kitab besar karya ulama Ahlussunah wal Jamaah terkemuka di dunia.

Kemauan keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak sejak masa kecil. Kiai Ridwan tekun dan sangat cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Hingga berusia 12 tahun, Kiai Ridwan diasuh langsung oleh ayahnya.

Setelah bekal ilmunya dianggap cukup, Kiai Ridwan merantau untuk menuntut ilmu. Dia pergi ke satu pesantren, lalu ke pesantren lainnya untuk ”ngalap” barokah. Dan yang paling lama, beliau nyantri di Tremas. Ketika itu Kiai Ridwan diasuh langsung oleh guru yang terkenal telah melahirkan ratusan kiai besar di Indonesia, yakni KH Dimyathi. Pada masa di Tremas, Kiai Ridwan termasuk salah satu santri yang paling disayang oleh gurunya tersebut. Di masa inilah kapasitas keilmuan Kiai Ridwan mulai terlihat akan mengantarkannya menjadi kiai besar di kemudian hari.

Beberapa tahun di Tremas tidak membuat Kiai Ridwan cepat berpuas diri. Kiai yang memiliki 19 anak ini melanjutkan perantauannya ke Makkah untuk menuntut ilmu. Delapan tahun lamanya di Makkah membuat keluarga memaksa Kiai Ridwan untuk pulang ke Indonesia. Akhirnya, sekitar tahun 1932, Kiai Ilyas yang masih keluarga dengan Kiai Ridwan tersebut menjemput paksa beliau untuk pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Kiai Ridwan langsung dinikahkan dengan wanita pilihan keluarganya, yakni Nyai Hj Hasanah.

Di blitar, tempat beliau dilahirkan inilah, Kiai Ridwan memulai perjuangan sesungguhnya. Ada cerita menarik sebelum beliau merintis Pesantren Maftahul Ulum. Kiai Ridwan pernah mufarroqoh dari salah satu kiai kampung yang ada di sekitar desanya. Pasalnya, di masjid salah satu kiai kampung tersebut hanya keturunan dan keluarganya yang boleh menjadi imam shalat. Hal inilah yang menjadi titik awal Kiai Ridwan memutuskan untuk membangun Mushala Baiturrahman yang menjadi cikal bakal Pesantren Maftahul Ulum. ”Jarene Abah sopo wae sing taqwa kaliyan Allah, sing alim oleh ngaji lan ngimami (kata ayah, siapa saja yang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT, mengerti tentang agama boleh menjadi imam dan memberikan pengajian),” ujar Nyai Hj Rodiah kepada penulis. Memang, Kiai Ridwan dikenal sebagai seorang ulama yang tidak pernah membedakan seseorang dari status keluarga ataupun status sosial lainnya.

Karena keteguhan prinsip dan keilmuan yang mempuni inilah, Kiai Ridwan sering diundang untuk ngaji di mana-mana. Hari-hari beliau hanya digunakan untuk mengurusi umat. Perjuangan tanpa pamrih membuatnya menjadi salah satu ulama yang disegani di Blitar dan sekitarnya. Materi pengajian dari Kiai Ridwan pun membuat pendengarnya merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaah.

Sering ketika beliau mengaji, kalau menjelaskan tafsir Al-Qur’an tentang adab dan neraka, di saat itu pula tiba-tiba Kiai Ridwan meneteskan air mata dan menangis. “Abah itu, kalau ngajar dengan hati. Sehingga bisa membuat jamaah yang mendengar ceramah Abah merasakan betul apa yang beliau sampaikan,” tambah Nyai Hj Rodiah.

Dalam berdakwah, Kiai Ridwan sangat menjunjung tinggi kearifan lokal di daerahnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya beliau yaitu Nahwu Jawan (Nahwu Jawa) dan beberapa syiir-syiir ketauhidan yang disesuaikan dengan bahasa dan nada yang mudah dipahami masyarakat setempat.

Kiai Ridwan juga dikenal sangat menjaga tradisi–tradisi keilmuan salaf. Meskipun demikian, bukan berarti beliau mengesampingkan pendidikan umum. Beliau sendirilah yang secara langsung ikut merintis pendirian Yayasan Maftahul Ulum dan Yayasan Hasanudin yang sekarang telah menyediakan sekolah formal seperti, SMP, MTS dan MA.

Hampir seluruh masyarakat dan ulama di Blitar telah mengakui kapasitas keilmuan Kiai Ridwan. Namun hal ini tidak membuat beliau jumawa (tinggi hati). Di tengah kepopulerannya sebagai sosok kiai yang menguasai banyak bidang keilmuan, Kiai Ridwan masih saja menuntut ilmu kepada salah seorang kiai sepuh di Blitar saat itu, Mbah Yai Mansyur Kalipucung. Hal inilah yang kemudian menjadi pelajaran berharga bagi putra-putri serta santri-santrinya bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban hingga akhir hayat. Selain itu, nilai-nilai ketawadukan yang beliau contohkan, menjadi pelajaran penting bagi siapapun yang mengenal beliau.

Pagi, Kamis legi 20 Oktober 1988 atau bertepatan 9 Maulid 1409 H sekitar pukul 06.00 WIB, Kiai Ridwan mengembuskan napas terakhir, menghadap Allah SWT. Kepergiannya membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri merasa sangat kehilangan. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, kiai yang hidup dengan ketawadukan ini wafat dengan meninggalkan ilmu, teladan dan kenangan yang begitu dalam.

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN), santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.

*Diolah dari berbagai sumber.

Sumber utama:
1. Nyai Hj Rodiah (Putri pertama, KH Muhammad Ridwan)
2. Gus Muhammad Taqiyuddin (Cucu, KH Muhammad Ridwan)


Kamis 14 Juli 2016 7:0 WIB
Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan
Syekh Kasyful Anwar, Ulama Besar dari Kalimantan Selatan
Seyogyanya bagi orang yang alim apabila dia ditanya akan hal yang tidak diketahuinya maka dia akan berkata ‘Aku tidak mengetahuinya’ dan hal tersebut tidak akan mengurangi martabatnya tetapi menunjukkan akan wara’ dan sempurna ilmu.” Demikian sebagian nasihat Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang pembaharu sistem pendidikan sekaligus pimpinan periode ketiga Pondok Pesantren Darussalam Martapura yang merupakan pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar lahir di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, pada tanggal 4 Rajab 1304 H/29 Maret 1887 pukul 10 pagi malam Selasa. Syekh Muhammad Kasyful Anwar adalah putra al-Allamah KH Ismail bin Muhammad Arsyad bin Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Maulana Kamaluddin.

Memasuki usia tamyiz, jiwanya sudah dipenuhi dengan cahaya Al-Qur’an dan diasuh langsung oleh orang tuanya sendiri. Di masa mudanya ia tidak belajar di bangku sekolah, karena pada saat itu di Kampung Melayu belum ada madrasah formal. Jadi beliau belajar ilmu agama dengan beberapa masyayikh di antaranya:

- Al-Alim Al-Allamah Syekh Ismail bin Ibrahim bin Muhammad Sholeh bin Mufti Syekh Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
- Al Alim Al Allamah Syekh Abdullah Khatib bin Muhammad Sholeh bin Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Pada usia 9 tahun Muhammad Kasyful Anwar dibawa oleh kakek, nenek dan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama kepada ulama di Kota Makkah.

Sebagai pendatang yang belum pandai berbahasa Arab, beliau belajar kepada Al-Alim Al-Allamah Syekh Muhamamd Amin bin Qadhi Haji Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama yang berasal dari Kampung Pasayangan Martapura dan sudah lama menetap di Kota Makkah.

Selama belajar di Makkah beliau berguru dengan ulama-ulama besar di antaranya:
1. Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar Syatha, anak dari pengarang kitab I’anah Al Thalibin;
2. Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas penulis kitab Tadzkirunnas;
3. Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki yang bergelar Sibawaihi pada zamannya, sangat alim dan memiliki berbagai keahlian bidang ilmu;
4. Syekh Umar Hamdan Al-Mahrusi;
5. Syekh Umar Ba Junaid Mufti Syafi’iyah;
6. Syekh Sa’id bin Muhammad Al Yamani;
7. Syekh Muhammad Sholeh bin Muhammad Ba Fadhal;
8. Syekh Muhammad Ahyad Al Bughuri;
9. Sayyid Muhammad Amin Al Kutbi.

Setiap cabang ilmu yang dipelajari, selalu ditelusuri sanadnya, terutama di bidang fiqih, hadits, wirid, dan hizib-hizib. Di bidang hadits, beliau mempelajari secara langsung sebanyak 40 hadits musalsal yang disusun oleh Syekh Mukhtar Atthatih kepada Syekh Muhammad Ahyad Al Bughuri beserta praktiknya baik memakai sorban, libasul hirqah as-shufiah, dzikir, mushafahah, musyabaqah, munawalatussubhah, dan lainnya yang termaktub di kitab tersebut.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar juga mengambil ijazah Dalailul Khairat dan Burdatul Madih Al Mubarakah dari Syekh Muhammad Yahya Abu Liman, Syekh Dalaiul Khairat dengan sanad yang mutthasil kepada penyusun keduanya.

Murid-murid beliau sangat banyak dan menjadi ulama besar di antaranya:
1. Syekh Anang Sya’rani Arif seorang muhadits dan juga salah satu Pimpinan Pesantren Darussalam Martapura;
2. Syekh Muhammad Syarwani Abdan Pimpinan PP Datuk Kalampayan Bangil;
3. Syekh Ahmad Marzuki;
4. Syekh Muhammad Samman bin Abdul Qadir;
5. Syekh Abdul Qadir Hasan;
6. Syekh Husien bin Ali;
7. Syekh Salman Yusuf;
8. Syekh Muhammad Samman Mulia.

Selain aktif berjuang di dunia pendidikan sebagai pengajar, Syekh Muhammad Kasyful Anwar juga berjasa memperkaya khazanah perpustakaan Islam dengan berbagai karya tulis yang bermanfaat. Di antara karya tulis beliau:

1. Risalah Tauhid;
2. Risalah Fiqh;
3. Risalah Fi Sirah Sayyidil Mursalin (Ilmu Tarikh);
4. Targhib Al-Ikhwan Fi Tajwid Al Qur’an;
5. Durutsuttashrif (Ilmu Sharaf 4 Jilid);
6. Terjemah kitab Hadits Arbain dalam bahasa Arab Melayu berjudul Al-Tabyin Ar-Rawi Bisyarhi Arba’in An-Nawawi;
7. Terjemah kitab Jauarah Al Tauhid yang berjudul Al Durrul Farid Syarh Jawhar Al Tauhid;
8. Risalah Hasbuna.

Pembaharu Pesantren

Syekh Muhammad Kasyful Anwar menjadi Pimpinan Pesantren Darussalam Martapura pada periode ketiga selama 18 Tahun (1922-1940). Dalam kepemimpinan beliau terjadi perubahan-perubahan fundamental baik di bidang sistem pendidikan, penyusunan kurikulum, pemberdayaan tenaga pengajar, maupun peningkatan infrastruktur yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik bangunan. Cara pengajian Pesantren Darussalam yang sebelumnya berupa halaqah diubahnya menjadi model pengajaran klasikal dan berjenjang.

Dengan adanya pembaharuan sistem dan metode pendidikan yang dilakukan Syekh Muhammad Kasyful Anwar di Pesantren Darussalam Martapura, maka banyak berdatangan dan berduyun-duyun para santri dari berbagai daerah di Kalimantan yang belajar di Pesantren Darussalam Martapura. Dalam beberapa tahun saja para alumnusnya terlah tersebar ke berbagai pelosok Kalimantan dan mendapat kepercayaan dari masyarakat kaum muslimin setempat untuk membuka pengajian majelis taklim, mendirikan madrasah dan pondok pesantren. Di antara salah satu alumnus Pesantren Darussalam Martapura yang sangat terkenal dan memimpin majelis taklim yang diikuti oleh ratusan ribu jamaah adalah KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan panggilan guru sekumpul.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar termasuk orang yang berkecukupan. Beliau adalah pedagang emas dan intan yang dijalankan saudara iparnya di Jakarta. Selain usaha tersebut, beliau juga memiliki sawah dan kebun karet yang dikerjakan oleh tenaga upahan. Di sela-sela kesibukannya, beliau tetap menyempatkan diri turun ke sawah dan kebun bekerja bersama pekerja upahan.

Kemandirian yang Syekh Muhammad Kasyful Anwar miliki menjadikannya tidak mau menerima zakat, bahkan atas kemampuan tersebut beliau mengeluarkan zakat dan memberikan bantuan kepada orang lain. Bahkan gaji guru-guru Pesantren Darussalam Martapura banyak diberikan dari uang pribadi beliau. Walaupun sebagai seorang yang berada namun beliau tetap dalam hidup kesederhanaan karena perilaku zuhudnya. Begitulah kehidupan pribadi seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang memegang teguh disiplin ilmu dan kemasyarakatan.

Syekh Muhammad Kasyful Anwar menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Halimah pada bulan Syawwal 1330 H dalam usia 26 tahun dan dikaruniai 6 orang anak, 4 putra dan 2 perempuan.

Setelah berjuang tanpa kenal lelah dari masa belajarnya hingga masa mengajar dalam rangka menyampaikan amanah sebagai pewaris baginda Rasulullah SAW kepada umat baik melalui pendidikan formal dan pengajian nonformal maupun dengan tulisan yang tersebar dan menjadi bahan bacaan terutama di Pesantren Darussalam Martapura, akhirnya pada malam Senin pukul 9.45 WITA, tanggal 18 Syawwal 1359 H/18 September 1940 M Syekh Muhammad Kasyful Anwar berpulang ke Rahmatullah dalam usia 55 tahun dan dimakamkan di Kampung Melayu Martapura. (Erfan Maulana)

 
Dikutip dari Kitab Nurul Abshar (Sebagian Riwayat Hidup) Syekh Muhammad Kasyful Anwar susunan KH Munawwar Gazali Pimpinan Majelis Ta’lim Raudlatul Anwar

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG