IMG-LOGO
Daerah

Audiensi dengan Kemenag, Pergunu Aceh Bahas Persoalan Pendidikan

Kamis 4 Agustus 2016 6:46 WIB
Bagikan:
Audiensi dengan Kemenag, Pergunu Aceh Bahas Persoalan Pendidikan
Banda Aceh, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh di ruangan Kakanwil, Banda Aceh. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam ini membicarakan banyak persoalan dunia pendidikan di Aceh, dan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) guru di Aceh.

Rombongan PW Pergunu Aceh, Selasa (2/8) itu, dipimpin oleh Furqan (ketua), didampingi Muslem Hamdani (sekretaris), dan pengurus lain Azwir dan Ibu Fazillah. Turut hadir pula Dewan Pakar Pergunu Aceh, Jalaluddin, yang juga wakil rektor Universitas Serambi Mekkah (USM).

Secara khusus, pertemuan ini membicarakan agenda pelantikan Pegunu Aceh yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 25 Agustus 2016 mendatang. Menyambut agenda ini, Kakanwil Kemenag Aceh, M. Daud Pakeh menjelaskan, di sela-sela berbagai kesibukannya, ia akan menyempatkan diri untuk hadir pada pelantikan tersebut.

Kakanwil mengaku sangat gembira menyambut kedatangan rombongan Pergunu Aceh untuk audiensi dengannya. M. Daud Pakeh juga bercerita tentang pengalamannya dalam mengajar dan membangun karakter anak didiknya, serta perkembangan kinerjanya dalam membangun pendidikan Aceh dengan cara membangun kerja sama dengan berbagai kalangan.

Sementara itu, Sekretaris PW Pergunu Aceh Muslem Hamdani menyatakan, pelantikan Pimpinan Wilayah Pergunu Aceh akan dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Pergunu KH Asep Saifuddin Chalil.

"Direncanakan akan dihadiri oleh sekitar 300 undangan dari kalangan guru di Banda Aceh dan Aceh Besar dan proses pelantikan akan berlangsung di Anjong Mon Mata," ujar Tgk Muslem. (Teuku Zulkhairi/Mahbib)

Bagikan:
Kamis 4 Agustus 2016 23:2 WIB
Anak Didik Maarif NU Harus Pelajari Ilmu Agama dan Umum
Anak Didik Maarif NU Harus Pelajari Ilmu Agama dan Umum
Blitar, NU Online
Pendidikan umum dan agama harus seimbangkan. Karena, bukan hanya kehidupan dunia yang akan dikejar namun juga kehidupan akhirat. Untuk itu semua siswa dan siswi sekolah Ma’arif NU harus melakukan itu.

Demikian disampaikan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam dari Aswaja NU Center Jawa Timur ketika memberikan ceramah pada halal bihalal Lembaga Pendidikan Ma’arif  NU se-Kecamatan Wonodadi di MI As-Syafi’iyah Wonodadi, Kabupaten Blitar, Rabu (3/80) sore.

Ia mengimbau para guru Maarif NU untuk terus membimbing dan mengajar ilmu agama dan umum kepada semua anak didiknya. “Jadi ustadz dan ustadzah harus mengarahkan ke sana. Jangan hanya mengajar satu sisi. Misalnya dunia saja. Sementara akhirat diabaikan. Jadi harus imbang,” katanya.

Menurutnya, tantangan zaman semakin berat. LP Ma’arif NU harus menghadapi dan mengatasi tantangan global yang ada dengan menyeimbangkan antara agama dan pelajaran umum.

Sementara pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur Ihsanul Haq mengatakan, siswa-siswi di bawah LP Ma’arif harus lebih berkualitas dan mampu bersaing dengan sekolah lainnya. Asatidz dan asatidzah tidak boleh hanya berpangku tangan, tetapi harus mengejar prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Sebagai umat Islam ketika hidup menorehkan prestasi dan mati meninggalkan prestasi,” jelas Ihsanul Haq.

Sedikitnya 1000 orang mengikuti acara ini. Mereka berasal dari ustadz dan ustadzah TPQ, Madin, MI dan lembaga lain yang berada di bawah naungan Ma’arif NU. Tampak hadir Kepala Dinsos Kabupaten Blitar Romelan, Kepala Kementrian Agama setempat, perwakilan PWNU Jatim, Ketua PCNU Blitar KH Masdain Rifai serta pejabat kecamatan Wonodadi.

Acara ini dimulai pada pukul 08.00 dengan penampilan shalawat dari siswa TK Al-Hidayah dan iringan lagu dari SD Hasyim Asy’ari.

Ketua MWCNU Wonodadi H Ahmad Sya’roni menuturkan kegiatan ini adalah salah satu program kerja yang dilaksanakan tiap tahun dan sebagai wadah silaturahmi antar ustadz dan ustadzah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU.

Halal bihalal merupakan sarana memupuk kekompakan dan kebersamaan seluruh lembaga di bawah naungan Ma’arif NU sehingga lembaga pendidikannya bisa lebih maju dan lebih baik dari lembaga lainnya.

“NU harus mandiri, NU harus bisa menyeimbangkan kemajuan dan mengambil peran amar ma’ruf nahi munkar. NU harus siap pula bersaing di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan dengan meningkatkan kualitas pendidikan di LP Ma’arif,” tegas Kiai  Masdain Rifai. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Kamis 4 Agustus 2016 20:0 WIB
Cinta Ulama, Ziarahlah ke Makamnya!
Cinta Ulama, Ziarahlah ke Makamnya!
Pacitan, NU Online
Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, diantaranya dengan sering menziarahi makamnya. Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupanya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad dihadapan ribuan peziarah dalam acara Haul pendiri pertama Pesantren Tremas Almagurlah KH Abdul Manan Dipomenggolo, Senin (1/8) lalu.

Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga setiap hari Kamis dan Jum’at, para santri Pesantren Tremas Pacitan melakukan ziarah ke makam para sesepuh yang berada di makam Semanten dan di Gunung Lembu. Para santri percaya, para ulama walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

“Kita yakini, bahwasanya beliau (para ulama) Ahyaun ‘inda robbihim. Kita memang tidak mengetahui bagaimana wujud kongkritnya, apalagi gusti kanjeng Rasulullah SAW bersabda dan memerintahkan kita untuk Fazuuru, berziarahlah,” jelas Kiai Fuad yang merupakan alumnus Pesantren Krapyak itu.

Memperingati haul para ulama, seperti Almagfurlah KH Abdul Manan Dipomenggolo, merupakan salah satu cara untuk mengetahui kiprah dan perjuanganya. Kiai Fuad menyebut, Kiai Abdul Manan sebagai peletak batu landasan bagi kebesaran Pondok Tremas Pacitan dan bagi generasi sesudahnya, seperti Kiai Abdullah, Syekh Mahfudz Attarmasi, Kiai Dimyathi, Kiai Ali Murtadho, Kiai Bakri Hasbullah, dan generasi lainya.

“Dari beliau Kiai Abdul Manan, kita akhirnya mengerti mana yang harus dikerjakan, dan mana yang harus kita tinggalkan. Alfadlu lil mubtadi, wa inahsanal muqtadi. Keutamaan itu ada pada beliau (Kiai Abdul Manan) yang mengawali. Sekalipun generasi-generasi penerusnya lebih baik, tapi keutamaan tetap pada yang mengawali, kawitaning-kawitan,” pungkasnya.

Dzikra Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo berlangsung khidmat. Haul yang diperingati ini kurang lebih sudah yang ke-147. Rangkaian acara diisi dengan pembacaan manaqib, pembacaan tahlil, dan ditutup dengan pembacaan doa oleh para kiai, seperti KH Rotal Amin, KH Muhammad bin Kiai Harir, Kiai Ahmad, KH Asif Hasyim dan KH Achid Turmudzi (Zaenal Faizin/Zunus)

Kamis 4 Agustus 2016 19:0 WIB
Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama
Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama
Demak, NU Online
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial  keagamaan selama ini punya andil besar dalam mendirikan bangsa Indonesia mulai dari zaman penjajah sampai kemerdekaan seperti sekarang ini. Untuk menjaga keutuhan perjuangan tersebut diperlukan eksistensi organisasi dari pengurus pusat sampai jajaran pengurus paling bawah yakni pengurus ranting dibawah kepemimpinan para ulama NU.

“Kesuksesan yang dibawa para pendiri negara yaitu Ulama NU, kita wajib meneruskan, tanggung jawab dipundak kita untuk menjaganya,” ujar Habib Thohir Al Kaff dari Tegal Jateng pada acara Istightsah kebangsaan, halal bihalal dan lailatul ijtima yang diselenggarakan PCNU Demak di Gedung IHM Muslimat NU Jl Yudomenggalan Bintoro Demak, Selasa (2/8).

Habib Thohir juga menegaskan untuk sukses dan terlaksananya tujuan tersebut, sangat di butuhkan pengorbanan dan sifat kejuangan yang tinggi demi kesolidan dan eksistensi semua pengurus untuk menjadikan organisasi lebih kuat dalam hal konsolidasi organisasi, sehingga apapun produk dan kebijakan organisasi akan didengarkan dan di perhatikan oleh anggota, umat, elemen masyarakat tak terkecuali pemerintah.

“NU akan tetap menjadi  panutan masyarakat terutama pemerintah, makanya dibutuhkan pengorbanan yang tinggi, karena kalau kita tidak mau berkorban, pasti kita akan jadi korban, maka jadi pengurus harus siap berkorban,” tegas Habib Thohir.

Sementara itu, Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif menjelaskan, lailatul ijtima dalam halal bihalal yang dikemas dengan istighotsah kebangsaan ini dimaksudkan untuk mendoakan bangsa dan negara agar senantiasa aman dan sejahtera.

“Halal bihalal ini sengaja kami isi dengan istighotsah kebangsaan, selain sebagai ajang konsolidasi organisasi, juga untuk mendoakan bagsa dan negara agar tetap aman sentosa,” tutur Musadad.

Lailatul ijtima yang dihadiri pengurus cabang hingga pengurus ranting tersebut selain diisi dengan  istighotsah, halal bihalal juga diisi dengan ijazah hizib nashor oleh ketua JATMAN Jateng, KH Zaini Mawardi. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG