IMG-LOGO
Fragmen

Mimpi Mbah Baedhowi Bertemu Rasulullah untuk Mendirikan Cabang NU

Kamis 4 Agustus 2016 13:0 WIB
Bagikan:
Mimpi Mbah Baedhowi Bertemu Rasulullah untuk Mendirikan Cabang NU
Salah satu sudut Kota Lasem
Munculnya kesepakatan bersama antara Mbah Ma'soem, Mbah Baedhowi, Mbah Cholil dengan Mbah Wahab Hasbullah dan Mbah Hasyim Asyari. Kelima ulama ini merupakan kerabat karib, yang kesehariaan sering berbincang dan berdiskusi bersama. Awalnya yang memiliki gagasan untuk mendirikan Nahdlatul Ulama adalah Mbah Wahab Hasbullah. Dimana beliau pernah berriyadhoh hingga 41 hari untuk mendirikan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.

Pada awal tahun 1926 bersamaan dengan akan didirikannya Jam'iyah Nahdlatul Ulama, suatu ketika Kiai Baedhowi bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sedang duduk bersama dengan Mbah Baedhowi. Kemudian datanglah para tokoh NU bertamu di kediaman Mbah Baedhowi. Melihat para tokoh NU ini, kemudian Nabi Muhammad mempersilahkan para tokoh NU untuk masuk dan duduk bergabung dengan Mbah Baedhowi bersama Nabi yang sedang duduk berbincang.

Datangnya mimpi ini, diartikan oleh Mbah Baedhowi, bahwa Rasulullah mengizinkan NU masuk Lasem. Kemudian Mbah Baedhowi membicarakan hal ini dengan sejumlah ulama di Lasem diantaranya Mbah Ma'soem dan Mba Cholil,  mengenai sudah saatnya Lasem untuk mendirikan Cabang Nahdlatul Ulama di Lasem. Maka dalam hal ini, NU Cabang Lasem secara Nasional dan Jawa Tengah termasuk urutan cabang yang berdiri ke-11.

Setelah melalui mufakat bersama dengan seluruh ulama yang ada di Lasem, dalam hal pendirian NU, masyarakat dari kaum santri pun menyambut baik kabar pembentukan Cabang NU di Lasem. Meskipun di lain pihak, sebagian orang Lasem terdiri dari bermacam golongan, diantaranya Masumi yang menjadi mayoritas, PKI, dan Wong Abangan yang tidak memihak manapun.

Mulai awal berdirinya Cabang NU di Lasem pada tahun 1926-1960 NU di Lasem mendapatkan respon dari kaum santri yang sangat luar biasa, meski belum merata. Hanya bisa mendominasi wilayah tertentu, dan beberapa desa yang menjadi simpatisan NU di level paling bawah.

Pada masa ini, perjuangan NU pun sangat luar biasa. Persaingan dalam hal mempertahankan idiologi menjadi hal yang biasa. Perjuangan Nahdliyin yang mempertahankan idiologi Nusantara mendapatkan perlawanan dari sejumlah kelompok yang menebar pemikiran mereka untuk mendirikan negara khilafa yang di motori oleh sejumlah ormas. Belum lagi komunisme yang juga melakukan sejumlah agresi untuk menanam faham komunis dikalangan pemuda dan generasi muda NU dan kelompok pelajar santri di Lasem melalui berbagai metode.

Perjuangan warga NU di Lasem bukan hanya dalam mempertahankan idiologi nusantara saja, tetapi perlawanan secara tidak langsung melalui parlemen sebagai upaya mematikan dan melinghilangkan Nahdlatul Ulama pun sangat kuat. Tetapi, persatuan dan ketakziman para santrilah yang membuat NU secara kultural menjadi sangat kuat mulai dari level yang paling bawah.

Ahmad Asmu'i
Ditulis berdasarkan ngobrol sejarah NU Lasem dengan sesepuh Habib Ridwan (Wakil Ketua Tanfidiyah PCNU Lasem)
Bagikan:
Rabu 3 Agustus 2016 8:0 WIB
Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang
Kisah Kiai Abbas Buntet Selamat dari Bom Tentara Jepang
Umat Islam yang ikhlas dalam melaksanakan ibadah haji akan diselamatkan oleh Allah dari berbagai hambatan dan rintangan, sebagaimana kisah yang disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas saat memberikan tausiyahnya dalam acara walimatus safar di Pesantren Al-Huda, Pungangan, Subang, Ahad (31/7).

Pengasuh Pesantren Darussalam Buntet Pesantren Cirebon ini mengisahkan bahwa pada tahun 1940-an Kiai Abbas Buntet beserta istri dan dua anaknya yaitu KH Mustamid Abbas yang pada saat itu baru aqil baligh dan KH Nahduddin Abbas yang baru saja menginjak usia empat tahun.

"Kalau Kiai Mustamid itu bisa haji berkat burung perkutut yang dapat nemu dari kebun belakang rumah dan dibeli oleh Kuwu (Lurah) di Cikedung Inderamayu seharga ONH (Ongkos Naik Haji, red)," ujarnya.

Kiai yang biasa disapa Kang Entus itu melanjutkan, saat Kiai Abbas dan ribuan calon haji lainnya berada di tengah tengah samudera Indonesia, sang Kapten kapal mendapat telegram berisi ancaman dari tentara Jepang yang akan membombardir dan menenggelamkan kapal beserta isinya.

"Ribuan penumpang itu panik, namun sebagian dari mereka mengadu kepada Kiai Abbas. Akhirnya kiai sepuh ini istikharah," katanya.

Hasil istikharah Kiai Abbas, kata dia, jamaah calon haji yang berada di kapal itu boleh melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci, boleh juga balik lagi ke kampung halaman, namun Kiai Abbas beserta keluarganya tetap melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan separuh penumpang kapal, sisanya pulang kampung dengan kapal susulan.

"Akhirnya, jamaah haji ini tiba di Makkah dengan selamat, namun kemudian saat kapal balik lagi ke Indonesia, ternyata kapal yang tadi membawa jamaah haji ini benar-benar di bom oleh Jepang dan teggelam beserta ABK-nya," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Senin 1 Agustus 2016 19:0 WIB
KH Mas Subadar dan Gerakan Massa Jelang Pelengseran Gus Dur
KH Mas Subadar dan Gerakan Massa Jelang Pelengseran Gus Dur

Almaghfurlah KH Mas Subadar yang baru dimakamkan Ahad (31/7) kemarin adalah seorang kiai yang sangat berwibawa dan heroik. Saat marak aksi demonstrasi menjelang penjatuhan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 2001 beliau  didaulat menjadi pimpinan massa pendukung Gus Dur yang datang ke Jakarta dari seluruh tanah air, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tdk rela saat itu Gus Dur secara inkonstitusional akan dilengserkan.

KH Mas Subadar memimpin ratusan ribu warga nahdiyyin datang ke DPR. Barisan sangat panjang. Massa di bagian depan baru sampai jembatan Semanggi tapi buntutnya masih di kawasan Sarinah.

Sesampainya di depan gedung, beliau meminta pintu DPR dibuka, namun pihak aparat tidak mengijinkan massa masuk. Atas komando beliau, pagar pintu DPR roboh dalam hitungan detik. Massa kemudian bisa masuk, namun kembali tertahan kawat duri baja.

Kembali KH Mas Subadar memohon dibukakan, namun juga tidak diijinkan. Atas komando beliau kawat baja pengaman juga putus dalam hitungan detik. Kini hanya tinggal satu pengaman yaitu tembok air. Sementara di balik tembok air itu tentara siaga dengan peralatan tempurnya.

Massa sudah siap berhadapan dengan aparat keamanan. Suasana makin memanas.

Siang itu, tiba-tiba ada instruksi Gus Dur agar massa nahdiyin membubarkan diri. Gus Dur tidak ingin ada satu tetes pun darah jatuh karena mempertahankan kekuasaan. Kiai Subadar pun menyerukan massa menarik diri dari gedung DPR. Meski beberapa kecewa. Semua akhirnya mematuhi perintah Sang Kiai. Perlahan massa meninggalkan DPR. Bentrok pun terhindarkan.

Allahu yaghfir wa yarham
untuk Sang Kiai karismatik.

Jamil Wahab

Peneliti di Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, saat peristiwa itu sebagai kader GP Ansor DKI Jakarta yang bertugas memandu massa pro Gus Dur ke kantor DPR RI


Jumat 29 Juli 2016 17:0 WIB
Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU
Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU
KH Abdurrahman Wahid

Waktu itu, Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri menginap di rumah putrinya, Nyai Sholihah, atau ibunda Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kawasan Matraman Jakarta Pusat. Ada Gus Dur juga di rumah itu. Sekitar pukul 08.00 WIB, KH Bisri memanggil sang cucu.

“Dur antarkan saya ke kantor PBNU sekarang!” kata sang kakek.

“Kenapa pagi-pagi sudah ke PBNU Mbah?,” jawab Gus Dur.

“Mau ada rapat gabungan.”

“Lho kan masih pagi Mbah?”

“Rapatnya jam sembilan.”

“Ah paling juga pada telat datangnya Mbah.”

“Biar saja. Biar ada bedanya antara yang tepat waktu dan yang telat.”

Jarak antara rumah Nyai Sholihah dengan kantor PBNU dl Kramat Raya tidak begitu jauh, sekitar 2,5 km saja. Tahun 1970-an Jakarta juga belum macet.

KH Bisri Syansuri sampai di kantor PBNU sebelum pukul 09.00 WIB. Kira-kira 10 menit sebelum jam rapat, mereka berdua bergegas masuk ke ruangan rapat. Benar saja, belum ada satu pun pengurus NU yang datang.

”Belum ada yang datang Mbah,” kata Gus Dur.

“Biar saja. Kita tunggu di sini saja,” kata Kiai Bisri. Kemudian beliau duduk di kursi Rais Aam. Sebentar kemudian bibir sang kiai terlihat komat-kamit, seperti sedang membaca wirid atau dzikir, sambil menunggu pengurus PBNU yang lain. Gus Dur bergegas ke ruang samping menyiapkan minuman untuk kakeknya. (A. Khoirul Anam)

 
* Cerita ini disampaikan oleh KH Muhammad Musthofa, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an di Parung Bogor, yang pernah mendampingi Gus Dur di kediaman Jl Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG