IMG-LOGO
Daerah

Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia

Rabu 10 Agustus 2016 22:0 WIB
Bagikan:
Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia
Jombang, NU Online
Usia harapan hidup bagi mereka yang lanjut usia atau lansia kian meningkat. Dengan memberikan perhatian, diharapkan mereka menjadi lansia yang sehat, tetap aktif dan berdaya guna.

PC Muslimat NU Jombang ikut serta melakukan monitoring terhadap Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Santun Lansia dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia yang ada di kota santri tersebut. 

"Puskesmas santun lansia merupakan bentuk keseriusan pemerinah dalam memberikan peningkatan pelayanan kesehatan pada mereka yang belum berusia lansia maupun para lansia ke atas," kata Titik Ulfah, Selasa (9/8).

Programer lansia Dinas Kesehatan Jombang tersebut menjelaskan bahwa perhatikan harus diberikan kepada mereka yang masuk usia pra lansia yakni 45 tahun hingga 59 tahun, dan lansia yakni berumur 60 tahun ke atas. "Itu agar mereka mendapat pelayanan yang optimal di poli khusus lansia yakni Puskesmas Santun Lansia," terangnya saat berada di Desa Mentaos, Blimbing Gudo.

Keberadaan Puskesmas Santun Lansia menjadi penting lantaran usia harapan hidup kian meningkat menjadi 72 tahun. "Diharapkan mereka nanti menjadi lansia yang sehat, tetap aktif dan berdaya guna," ungkapnya.

Di samping Puskesmas Santun Lansia, di Jombang juga ada Posyandu lansia. Kegiatan di Pos Pelayanan Terpadu itu adalah senam lansia, rekreasi, karawitan, kerajinan tangan, membuat makanan, minuman, pengajian, ziarah wali, dan kegiatan penyuluhan yaitu nenek asuh.

"Peran Muslimat NU dalam Posyandu lansia dan juga Puskesmas santun lansia adalah ikut menggerakkan masyarakat agar aktif datang ke layanan kesehatan tersebut," kata Ny Hj Aisyah Muhammad. Dengan demikian, 

Muslimat NU ikut memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kesehatan, sekaligus turut memantau, serta melakukan monitoring terhadap pelaksanaannya di masyarakat, lanjutnya.

Kini di Kabupaten Jombang baru ada 7 Puskesmas santun lansia. Diharapkan seluruhnya yakni 34 puskesmas yang ada sudah memiliki layanan serupa. "Inilah pentingnya kegiatan monitoring Puskesmas santun lansia dengan lintas sektor dan lintas program, yang salah satunya melibatkan kami," kata Wakil Ketua PC Muslimat NU Jombang ini.(Ibnu Nawawi/Zunus)
Bagikan:
Rabu 10 Agustus 2016 21:2 WIB
Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan
Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan
Malang, NU Online
Warga NU Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur menggelar halal bihalal di Aula Pertemuan PG Krebet Baru. Agenda rutin tiap tahun tersebut dihadiri ribuan warga NU dan pengurus lembaga dan banomnya, santri, dan masyarakat umum. Selain pengurus MWCNU, hadir anggota Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, Pergunu dan LP Ma’arif, dan anggota IPNU dan IPPNU.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PBNU yang menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur H. Syaifullah Yusuf tersebut didahului dengan laporan kegitan MWCNU Bululawang selama setahun. Laporan tersebut disampikan Ketua MWCNU H. Ahmad.

Panitia Halal bihalal yang berlangsung Ahad (7/8) Hasan Bashori, mengatakan, kegiatan tersebut diharapakan menjadi forum silaturrahim antarbanom NU. Silaturahim menjadi ajang meningkatkan keberlangsungan dan keaktifan NU dalam perjuangan li i'lalikalimatillah ala manhaj ahlussunnah wal-jamaah an-nahdliyah. Serta lebih mensinergikan program-progaram kerja serta memfokuskan dalam masalah tindakan preventif dari rongrongan akidah dari kalangan lain.

Rais Syuriyah MWCNU Bululawang KH Syamsul Ma’arif memberikan wawasan keorganisasian. Menurut dia, kuantitas NU yang besar harus diiringi dengan menjadikan organisasi ini lebih baik dan menarik bagi warga NU sendiri dan warga lain.

Untuk tujuan itu, kata dia, sebaiknya didahului dengan menjadi pribadi yang menarik sehingga orang lain mudah terpikat. Tentunya menjadi pribadi menarik harus berkaca pada yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan akhlak yang baik dan berpengetuhuan yang luhur.

Halal bihalal tersebut diwarnai dengan kegiatan lain yaitu pelantikan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Bululawang masa khidmah 2016-2018. Kepengurusan tersebut terbentuk hasil Konferancab VIII di Pondok Pesantren Irsyadut Tholibin Senggrong pada18 Juni lalu. Konferancab tersebut mengamanahkan Wildan Arifullah sebagai Ketua IPNU dan Devi Safitri sebagai Ketua IPPNU.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pelepasan calon jamaah haji. Para calon “tamu Allah” ini didoakan alim ulama dan para hadirin agar menjad haji yang mabrur. (Luthfie Muhammad/Abdullah Alawi)

Rabu 10 Agustus 2016 18:1 WIB
Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija
Uluran Tangan Lesbumi NU Jember untuk Mbok Marija
Jember, NU Online
NU tidak cuma dakwah dengan kata-kata, tapi dakwah dengan kepedulian sosial yang nyata. Hal itu dilakukan salah satu lembaga NU, Lesbumi kepada Mbok Marija, warga Desa Karangharjo, Silo, Jember, Jawa Timur. Perempuan renta ini hidup sebatangkara, rumahnya berdinding gedek reyot dimakan usia, mendapat ularan tangan dari lembaga seni dan budaya tersebut.

Pengurus Cabang Lesbumi Jember mengirimkan bantuan berupa 1 kwintal beras dan uang 1 juta kepadanya. “Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Mbok Marija dengan bahasa Madura saat menerima bantuan itu, Selasa (9/8).

Bantuan tersebut diserahkan H. Fathurrosi, tokoh masyarakat Silo, didampingi Ketua PC Lesbumi Jember H. Rasyid Zakaria dan Wakil Ketua NU Cabang Jember H. Misbahus Salam. Menurut H. Fathurrosi, rumah Mbok Marija hanya salah satu contoh dari sekian banyak rumah tak layak huni yang bertebaran di pelosok desa.

Kendati pemerintah sudah lama mempunyai program bedah rumah, tapi masih cukup banyak rumah orang miskin yang tidak tersentuh program tersebut. Atau, kalaupun dapat bantuan bedah rumah, tapi yang dipermak hanyalah rumah bagian depan saja. Sedangkan badan rumahnya tidak tersentuh, meskipun  sudah lapuk.

“NU harus berperan, memberikan atau mencarikan sumbangan, betapapun kecilnya. Ini agar NU rahmatan  lil’alamin. Karena itu, kita ucapkan terima kasih kepada NU Jember, khususnya Lesbumi yang telah berkenan memberikan bantuan,” ucapnya.

Sementara itu, H. Misbahus Salam berharap agar bantuan tersebut dapat merangsang para aghniya’ (kaya) atau instansi untuk turut serta menyalurkan bantuan bagi wanita tersebut. Menurutnya, masalah sosial yang terkait dengan nestapa kehidupan warga miskin sejatinya cukup banyak, tapi tak pernah terekspos ke luar.

Hal tersebut, katanya, tentu tidak bisa dipasrahkan kepada pemerintah semata. Sebab, anggarannya juga terbatas. “Karena itu, semangat gotong royong harus diabangun, dan kepedulian para aghniya’ juga perlu terus didorong,” ungkapnya kepada NU Online. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Rabu 10 Agustus 2016 17:1 WIB
Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal
Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal
Rembang, NU Online
Seiring dikesampingkannya pendidikan non-formal dalam hal ini sebagai benteng generasi muda oleh sebagian orang tua, membuat Rais MWCNU Kaliori KH Mustain angkat bicara. Ia menyatakan, masyarakat jangan memprioritaskan sekolah formal saja, tetapi setidaknya mengmibangi pendidikan karakter dengan pendidikan keagamaan Islam seperti di pondok pesantren dan madrasah diniyah. 

Kiai Mustain menganjurkan, sebagaimana ulama terdahulu agar senantiasa memperhatikan hal yang berkaitan dengan ilmu dan akhlak. Sebagaimana orang terdahulu, lanjut Kiai Mustain, contoh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ibnu Hambal mereka semua merupakan orang terpandang dihadapan manusia dan Allah SWT. 

"Tidak cukup dengan bersantai-santai bisa menjadi orang yang berilmu. Para ulama banyak mengarang kitab, untuk memacu para santri dalam hal ilmu. Maka di pesantren ada kitab yang namanya Ta'limul Muta'alim,” jelasnya.

Sebagaimana sabda Nabi, kata Kiai Mustain, barang siapa yang ingin dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin akhirat maka juga harus dengan berilmu. Ia menambahkan, kita terlambat dalam mencari ilmu. Jangan orang yang iri ketika melihat kesuksesan orang, baru kita ingin belajar. Orang ini masuk dalam kategori orang yang terlambat.

Dia mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, banyak orang tua yang mengedepankan sekolah formal, dibandingkan dengan pendidikan pesantren dan madrasah diniyah. Demi pelajaran di sekolah umum, orang tua rela mencari seorang guru yang ahli dibidangnya. Bukan hanya itu saja, kata Kiai Mustain, orang tua pun rela antar jemput. Hal ini bertolak belakang jika orang tua berbicara dengan ngaji dan madrasah diniyah, banyak orang tua yang acuh dalam hal ini.

Dia menandaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling profesional dalam hal mendidik. Sebabnya, semua guru yang mengajar dipastikan sudah lebih dahulu melakukan apa yang diajarkan. Meski tidak bisa dipungkiri, sekola umum dinilai penting sebagai perimbangan. (Ahmad Asmu'i/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG