Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Wacana Full Day School Bisa Rugikan Pesantren

Wacana Full Day School Bisa Rugikan Pesantren
Ilustrasi (cnnindonesia.com)
Ilustrasi (cnnindonesia.com)
Jember, NU Online
Wacana penerapan full day school yang digagas Mendikbud Muhajir Efendi terus menggelinding sebagai perbincangan publik. Mereka terbelah kepada yang pro, dan juga yang kontra. Tapi sesungguhnya, bagi dunia pesantren, full day school bukan sesuatu yang baru. Bahkan durasi dan pola pengajaran di pesantren lebih dari sekadar full day.

Pendapat ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Jember H Hobri Ali Wafa. Menurutnya, jika memang salah satu latar belakang munculnya ide full day school adalah karena pendidikan di rumah dinilai kurang berkualitas, maka pesantren seharusnya menjadi alternatif.

"Full day school yang sesungguhnya yaitu memondokkan anak di pesantren. Hal ini jika diasumsikan bahwa pendidikan anak di rumah kurang berkualitas," kata H Hobri kepada NU Online di Jember, Kamis (11/8).

Ia menyatakan bahwa sah-sah saja full day school diterapkan asalkan tidak mengabaikan unsur-unsur edukasi dan bermain anak. Menurutnya, full day school bisa membantu orang tua dalam melakukan 'perlindungan' terhadap anak dengan menitipkannya lebih lama di sekolah. Untuk masalah bermain, di rumah juga kadang-kadang cara bermain anak tidak terkontrol dan kurang berkualitas, apalagi sekarang zamannya game.

"Full day school bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah memondokkan anak di pesantren. Apalagi sekarang banyak pesantren yang memiliki lembaga formal dengan kualifikasi modern dan maju," jelasnya.

Hobri mengaku khawatir penolakan terhadap full day school, imajnya akan menjalar ke pesantren dengan asumsi-asumsi yang tidak menguntungkan. Sebab, bisa jadi kegiatan pendidikan di pesantren yang begitu padat, juga akan dicap tidak memberikan ruang bermain pada anak serta memforsir mereka untuk belajar.

"Asumsi ini sangat keliru. Pesantren walaupun disiplinnya tinggi, tapi sistem pengasuhannya seperti ibu dan anak," kata mantan aktivis PMII Universitas Jember ini. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Posisi Bawah | Youtube NU Online