IMG-LOGO
Daerah

Catatan Suluk Maleman: Bangsa yang Pudar


Senin 22 Agustus 2016 21:00 WIB
Bagikan:
Catatan Suluk Maleman: Bangsa yang Pudar
Pati, NU Online
Meskipun sekilas hampir sama, namun berbangsa dan bernegara dinilai memiliki sejumlah perbedaan yang berarti. Banyak orang yang mengaku bernegara namun justru kehilangan kebangsaannya.

Sikap berbangsa, atau yang lebih identik dalam sikap hidup bersama untuk mencapai sebuah tujuan bersama lambat laun kian tergeser dengan sikap mengatur kekuasan atas suatu wilayahnya atau sebatas hidup bernegara saja.

Memudarnya sikap berbangsa itulah yang dinilai turut melemahkan negara itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, jika sikap berbangsa begitu kuat tentu negara itu secara otomatis menjadi negara yang kuat.

“Bahkan dalam setiap kemenangan Nabi Muhammad adalah karena Allah dan orang-orang mukmin yang satu. Bukan hanya karena Nabi seorang,” jelas Abdul Ghofur Maimoen di awal diskusi Ngaji Suluk Maleman di Rumah Adab Indonesia Mulia, Pati Jawa tengah, Sabtu (20/8) dini hari kemarin.

Kata-kata yang muncul dari putra kiai Maimoen Zubair situ begitu menggelitik hadirin yang datang. Karena saat ini banyak perilaku yang mengakui sebuah keberhasilan muncul karena diri seorang pribadi.

“Bahkan dijelaskan pula. Meskipun kamu memiliki seluruh dunia, tapi selama kamu masih menganggap semua itu hanya karena kamu suatu saat kamu pasti kalah,” begitu tegasnya.

Pria muda asal Sarang itu juga mengingatkan, jika seseorang berorientasi pada dunia maka sifat yang muncul adalah ego yang kuat. Yang ada orang lain justru dilihatnya sebagai lawan.

“Berbeda jika orientasi pada langit. Semua orang akan menjadi saudara yang akan turut membantu dalam keberhasilan kita. Dunia hanyalah buah, dan pohonnya adalah akhirat,” tuturnya

Dirinya pun menyayangkan pergeseran sikap berbangsa yang kini kian terlihat.  Padahal jati diri bangsa tentu tidak bisa dilepaskan dari sebuah negara. Seperti halnya anak yang tidak bisa dilepaskan dari mana keturunannya, atau nasabnya. Dan agama Islam sendiri memandang nasab menjadi salah satu hal yang penting.

“Karena itulah sudah sangat mendesak membangunkan sifat kebangsaan. Jika negara ini mau maju, segala kebijakan harus turut dimiliki oleh rakyat. Disokong semua pihak,” tegasnya.

Bagi Anis Sholeh Baasyin, budayawan sekaligus penggagas Suluk Maleman mengatakan, pudarnya suatu bangsa rentan terjadi lantaran munculnya konstruksi palsu karena kepentingan kelas sosial di masyarakat.

“Ada yang merasa sok lebih dari yang lain dan sudah berani meminta penghargaan yang lebih kepada orang lain atau bahkan merendahkan. Padahal kalaupun dapat itu hanyalah penghargaan palsu,” tegasnya.

Sikap-sikap semacam itulah yang rentan menimbulkan perselisihan dan konflik antar manusia. Padahal sebagai muslim sifat seperti itu tidak diperbolehkan. Sebagai umat harus mencoba dan terus mencoba menjadi lebih baik lagi.

“Bisa berkasih sayang itu adalah rahmat buat kita,” begitu ujarnya. 

Bagi Anis, kemerdekaan adalah bentuk kemandirian atau kemampuan suatu bangsa untuk berdaulat, berdiri di kakinya sendiri. Langkah itu baru bisa tercapai jika sikap kebangsaan dimiliki setiap rakyatnya. Mampu bersatu dengan tujuan yang bersama, bukan kepentingan pribadi.

Sementara itu Dadang Ishardianto, kepala Adm Perhutani Pati yang turut serta menjadi narasumber juga menilai sikap kebangsaan itu patut menjadi perhatian utama setiap rakyat. Pasalnya, dirinya melihat proses pudarnya bangsa saat ini sudah tersistem.

“Ketika memiliki sikap kebangsaan tentu sudah pasti tidak akan ada korupsi. Karena mereka akan sadar apa yang diambil saat korupsi itu bukan lain adalah milik keluarganya, saudaranya, dan milik bangsanya,” kata Dadang.

Dirinya pun mengaku merindukan saat–saat dimana pejabat dan rakyat tidak memiliki batasan. Bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat bersatu padu membangun negeri yang lebih baik.

“Kalau dirunut, kenapa Bung Karno memakai kata jangan meninggalkan sejarah bukan melupakan? Itu jelas bahwa sejarah itu menjadi bagian bersama seluruh masyarakat Indonesia. Milik seluruh bangsa ini,”tegasnya.

Menurutnya sudah saatnya membentuk barisan penguat kebangsaan yang ada. Dirinya berharap kepudaran hanya terjadi pada sikap merasa benar dari kesalahan, bukan pudarnya sikap kebangsaan.

“Karena saya khawatir kesalahan yang dilakukan berjamaah itu lambat laun akan dibenarkan,” keluhnya.

Hangatnya pembahasan dan topik pada Suluk Maleman itupun tidak terasa membawa sekitar 400 hadirin yang datang hanyut di dalamnya. Antusias hadirin itupun kian meningkat saat Kiai Budi Harjono datang memainkan wayang dengan tokoh para punakawan dan gunungan. Alunan musik dari Sampak GusUran juga turut menambah atraktif diskusi yang baru rampung pada Ahad (21/8) sekitar pukul 03.00 pagi. (Red-Zunus)

Bagikan:
IMG
IMG