IMG-LOGO
Nasional

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Masih Terjadi di Bandung

Selasa 23 Agustus 2016 15:5 WIB
Bagikan:
Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Masih Terjadi di Bandung
Bandung, NU Online
Duka menyelimuti dunia pendidikan di Kota Bandung. Seorang guru SMP YAS Bandung (22/8) tewas dikeroyok oleh orang tak dikenal tepatnya di jalan Cicaheum Kota Bandung. Guru Besar UPI Bandung Prof Dr Sunaryo Kartadinata menyampaikan rasa duka dan prihatin atas kekerasan yang terjadi berulang dalam dunia pendidikan.

“Akankah dunia pendidikan menjadi korban lagi? Kekerasan dalam dunia pendidikan tak kunjung henti. Kembali seorang guru meninggal akibat dikeroyok preman. Masyarakat sudah sakit dan dunia pendidikan sering jadi korban. Mengapa ini terjadi? Akankah publik menyalahkan dunia pendidikan yang dianggap tidak mampu mendidik bangsa sehingga menjadi preman? Sungguh nasib pendidikan di negeri ini sangat memprihatinkan. Mari bangkit bersama untuk berpikir secara kritis tentang pendidikan dan pebangunan bangsa.” tutur Prof Sunaryo yang juga merupakan Dewan Pakar Pergunu Jawa Barat.

Sementara itu Wakil Ketua Umum PP PERGUNU Dr Rudolf Chrysoekamto mengatakan, apapun yang terjadi dalam dunia pendidikan, para pendidik harus benar-benar bijak menempa sekaligus menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat yang sakit sekalipun. Lengah sedikit maka pendidikanlah yang selalu dijadikan sasaran tembak kemunduran masyarakat.

Ia mengajak segenap perangkat pendidikan mulai membenahi kualitas pendidik. “Agaknya semboyan Ketum PP Pergunu Kiai Asep harus kita pegang dan jadikan sebagai motivasi bagi kita, ‘Jadilah guru yang baik atau tidak sama sekali’.”

Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh berharap kekerasan dalam dunia pendidikan ini harus masuk menjadi agenda penting dalam Kongres Ke-2 Pergunu yang akan berlangsung pada 26-29 Oktober 2016 di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto.

“Kongres ke-2 Pergunu diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi untuk memperbaiki kondisi pendidikan bangsa ini. Politisasi pendidikan harus dihentikan. Pendidikan harus dikelola dengan baik dan benar, bukan hanya semata-mata pembagian kekuasaan,” tutur H Saepuloh. (Red Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Selasa 23 Agustus 2016 23:0 WIB
Ketika Siswa MTs Ma’arif Pontianak Kocok Perut Hadirin di Pembukaan KSM
Ketika Siswa MTs Ma’arif Pontianak Kocok Perut Hadirin di Pembukaan KSM
Siswa MTs Ma'arif Pontianak.
Pontianak, NU Online
Pembukaan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) ke-5 tahun 2016 di Pontianak Convention Center, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (23/8) dimeriahkan oleh 6 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif NU Pontianak. Pasalnya, mereka menampilkan tradisi Tundang (pantun kendang), membawakan pantun dengan bahasa indah dan lucu sehingga cukup mengocok sekitar 865 peserta KSM dan undangan yang hadir.

Tundang dibawakan oleh siswa MTs Ma’arif Pontianak setelah sambutan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan penampilan berbagai tarian tradisional Melayu dan Kalimantan yang dibawakan oleh siswa dan siswi MI Teladan Pontianak, MTsN 2 Pontianak, dan MAN 1 Pontianak. 

Dalam membawakan Senin Tundang ini, 6 siswa yang kompak mengenakan baju tradisional Melayu berwarna hijau dengan sarung warna kuning melingkar di pinggang ini masing-masing mempunyai peran. Tiga siswa menabuh kendang kecil, 1 orang memainkan alat musik kecrek, 1 orang menabuh kendang besar, dan 1 orang membawakan pantun. Dengan kata lain, 5 orang memainkan alat musik dan 1 orang berpantun.

Siswa bernama Arief sang pembawa pantun mampu menyihir ratusan hadirin yang memadati Gedung Serba Guna Pontianak Convention Center (PCC). Diiringi kendang bertalu-talu, ia dengan logat khas Pontianak mengocok perut hadirin dari setiap bait-bait pantun yang dibacakannya. Cucuran keringat dan peluhnya dari hasil energi yang dikeluarkan saat membaca pantun menambah kocak penampilannya.

Satu per satu baris dan bait pantun yang dibawakannya menyapa hadirin, Menteri Agama, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, dan Kepala Kanwil Kemenag Kalbar dengan bahasa teratur dan mimik menggemaskan.

Pada hari ini, saye sungguh bahagie, tampil depan anda be panton dan bergaye
Banyak cewe’-cewe’ yang meratikan saye, saye jadi takot kalau bale’ dikejarnye
Baruga sebentar, dah banyak ngajak kenalan, bahkan ada cewe’ sampai minta tanda tangan
Itulah akibat, muke macam Sharukh Khan, hidop jadi susah, sana’ sini’ jadi rebotan.

Kompetisi sains, madrasah memang perlu, biar kite bisa jadi negara maju
Daripada ngumpol-ngumpol ta’ tentu rudu, Bagoslah bersaing dalam menuntot ilmu 

Bunyi beberapa baris pantun tersebut merupakan sebagian yang dibacakan oleh Arief dari 17 halaman dalam ukuran buku saku berisi baris-baris pantun. Paduan Seni Tundang ini makin menemukan keselarasan karena diiringi tari-tarian dari 5 pemain musik yang mengiringi pembaca pantun. Tepuk tangan meriah diberikan hadirin ketika keenam siswa tersebut mengakhiri penampilan mempesonanya. (Fathoni)

 

Selasa 23 Agustus 2016 21:2 WIB
Perkemahan Pramuka Penegak Ma’arif NU Digelar Tahun Depan
Perkemahan Pramuka Penegak Ma’arif NU Digelar Tahun Depan

Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan mengadakan Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) yang kedua pada tahun 2017. Kegiatan untuk Pramuka Penegak tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/MA/SMK) akan diadakan sekitar bulan Juli atau Agustus pada tahun tersebut.  

Menurut Ketua LP Ma’arif PBNU H Arifin Junaidi, kegiatan tersebut masih belum ditentukan tempatnya. Namun, rencananya akan digelar di Jawa Tengah. “Rencananya akhir Juli atau awal Agustus 2017. Ada tiga alternatif tempat yaitu di Magelang, di Kebumen, Pekalongan,” katanya selepas rapat perdana penyelenggaraan Perwimanas 2017 di gedung PBNU, Jakarta pada Selasa (23/8).

Pentingnya menyelenggarakan kegiatan tersebut, menurut dia, adalah untuk pengembangan diri anak didik di lingkungan Nahdlaltul Ulama, baik dalam ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. “Tekanannya pada pengembangan karakter,” katanya.

Karakter tersebut, tegasnya, adalah yang berciri khas Aswaja NU. Misalnya, pada kegiatan tersebut, peserta Perwimanas akan mengikuti qiyamul lail (shalat malam), berjamaah tiap shalat lima waktu. Tiap selesai shalat subuh diadakan kuliah tujuh menit. Sementara peserta meresume dari kuliah tersebut. “Mereka juga diminta berkenalan dengna tokoh setempat. Misalnya kalau di Pekalongan akan sowan ke Habib Luthfi,” lanjutnya.  

Yang khas lagi, tambahnya, pada Perwimanas, peserta akan berziarah ke Wali Songo. Ketika Perwimanas di Jatim tahun 2013 peserta berziarah ke 5 Wali Songo yang ada di provinsi tersebut. Di Jawa Tengah, peserta akan berziarah ke 3 Wali Songo. “Ini supaya anak-anak kita tidak lepas dari tradisi kita, NU. Kedua supaya anak kita mewarisi sikap-sikap Wali Songo,” jelasnya.

Kegiatan tersebut, sambungnya, juga akan diadakan lomba-lomba pengetahuan. Misanya ada olimpiade sains, Aswaja, keterampilan, kepemimpinan, team work, keterampilan khas pramuka. (Abdullah Alawi)


Selasa 23 Agustus 2016 20:0 WIB
Nadirsyah Hosen Inisiasi Pendirian Pesantren di Australia
Nadirsyah Hosen Inisiasi Pendirian Pesantren di Australia
Nadirsyah Hosen (Foto: Pribadi)
Surabaya, NU Online
Kondisi umat Islam serta tantangan dakwah di Australia tak jauh beda dengan Indonesia. Hal itu disampaikan Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand saat menjadi pembicara utama pada Seminar Nasional dan Lokakarya Perkembangan Dakwah Islam di Eropa dan Asia Pasifik di Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa (23/8).

Menurut dosen senior Monash Law School ini, gerakan radikal di Australia saat ini sudah mulai memasuki masjid dan sekolah-sekolah Muslim. Supaya virus ini tidak terus menebar terlalu jauh, PCINU Australia mengantisipasinya dengan meminta NU di tanah air menginisiasi pendirian pondok pesantren di Australia.

Masuknya Islam radikal di Australia, lanjutnya, disebabkan pemerintah Australia saat ini sedang gencar mengimport imam masjid dari berbagai negara, termasuk negara-negara Timur Tengah. "Merekakan tidak tahu mana Islam radikal dan tidaknya, yang penting muslim dan bacaan Al-Qur'annya bagus," jelas Nardirsyah.

"Kita kenalkan kepada publik Australia sistem pendidikan pesantren itu seperti apa dengan membawa bukti pesantren di Indonesia mampu melahirkan muslim-muslim moderat, progresif dan tentu menebar Islam yang Rahmatal lil Alamin," kata Nardiansyah saat ditemui NU Online usai acara.

Tentu ini bukan pekerjaan yang sederhana. Nasdiansyah berharap tidak hanya NU saja yang turun tangan akan tetapi ada perhatian serius dari pemerintah, khususnya Kementerian Agama maupun Kedubes Australia, menginisiasi pembentukan cabang pesantren di Australia.

Konsep itu tentu harus dimatangkan terlebih dahulu. Saat ini, penggagas NU di Australia ini menjalin komunikasi dengan Akh Muzakki, Sekertaris PWNU Jawa Timur dan para pengasuh pesantren di Jawa Timur.  

Diakui Nardisyah bahwa ini bukanlah pekerjaan yang sederhana. Mendirikan masjid dan sekolah sering kali menjadi persoalan tersendiri. Untuk itu harus ada perencanaan strategis apalagi di tengah-tengah ada kecenderungan masyarakat Autralia antipati terhadap Islam.

"Karena itu kita harus hati-hati menjelaskan ke publik Australia. Bahwa jawaban radikalisme itu bukan menghambat orang untuk belajar Islam, tapi untuk belajar Islam dengan benar," pungkasnya. (Rof Maulana/Zunus)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG