IMG-LOGO
Nasional

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

Sabtu 3 September 2016 5:2 WIB
Bagikan:
Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat
Foto: ilustrasi santri
Ponorogo, NU Online
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan kekagumannya setiap kali berbicara tentang pesantren dan tradisi yang tumbuh didalamnya. Sebab, menurut pengalaman Menag, pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genuine, otentik, dan tidak mudah lekang di makan zaman.

Pesantren, lanjut Menag, sudah tumbuh sejak 7 abad yang lalu bersamaan dengan prosesi Islamisasi Nusantara. Dan hingga kini, pesantren tetap bertahan dan tidak tercerabut dari akar kulturalnya. Bahkan, Menag menegaskan, pesantren begitu dinamis, kreatif, inovatif dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan elemen kehidupan lainnya.

"Yang tak kalah penting lagi adalah saat pergumulan pesantren bersama dengan elemen bangsa melahirkan tradisi keberagaman yang inklusif dan moderat, yang menjadikan ciri khas keberagaman di Indonesia. Melalui pesantren inilah, watak ke Islaman dan ke Indonesiaan terbentuk seperti sekarang ini,” kata Menag saat berbicara dalam kesempatan menghadiri pertemuan akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersamaan dengan Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor, Jumat (2/9).

Dikatakan Menag, lembaga pendidikan pesantren di Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, akan tetapi juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, dan bahkan pusat peradaban Islam.

"Pesantren telah banyak memberikan kontribusi yang luar biasa dalam melakukan pelayanan pendidikan keagamaan Islam,” papar Menag yang juga berkisah suka dukanya saat menjadi santri Gontor.

Di luar kegiatan tersebut, Menag melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar yang pimpinannya sekarang Kiai Syaiful Anwar merupakan sahabat Menag satu angkatan (marhalah) saat menimba ilmu di Pondok Gontor.

Bersama santri dan pimpinan pondok Ngabar, Menag melaksanakan Shalat Jumat dilanjutkan dengan memberikan nasehat dan motivasi bagi santri-santri Ngabar agar terus berkhidmat menimba ilmu.

"Anak-anakku sekalian, inilah masa terbaik, kalian semua bisa berkesempatan belajar di pesantren. Lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman bagaimana ilmu itu diajarkan, dan diamalkan," ujar Menag.

"Ilmu menjadikan manusia akan semakin baik dan arif. Orang yang ilmunya sempit, cenderung bersikap kurang bijak. Di pesantrenlah tempat kita menimba ilmu dan berbagi pengalaman,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 3 September 2016 23:2 WIB
LSN 2016
Nuris United FC Susah Payah Taklukkan Al-Badri FC
Nuris United FC Susah Payah Taklukkan Al-Badri FC
Jember, NU Online
Pesantren Al-Badri FC tidak bisa dianggap remeh. Buktinya, Nuris United FC harus bersusah payah untuk menaklukkan tim yang bermarkas di Pesantren Al-Badri, Kotok, Kalisat, Jember itu. Sang juara bertahan tersebut baru bisa memastikan kemenangan di injury time babak kedua. Gol semata wayang itu terjadi lewat tendangan penalti.

Kedua tim menyajikan pertandingan menarik dalam babak perempat final Liga Santri Nasional (LSN) Region V Jawa Timur  yang dihelat di lapangan Pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi, Sabtu (3/9) tersebut.

Serangan silih berganti dilakukan. Sejumlah peluang juga sama-sama diperoleh. Namun tidak berhasil dikonversi jadi gol. Kendati Al-Badri FC sedikit lebih dominan dalam penguasaan bola, tapi hingga 30 menit babak pertama usai, tak sebuah gol pun tercipta.

Di babak kedua, penampilan Nuris United tetap menawan. Namun serangan yang bertubi-tubi dilakukan  barisan depan Nuris United tak mampu menggetarkan jala gawang Al-Badri FC. Pertandingan pun diprediksi akan berlanjut dalam adu tendangan penalti. Tapi memasuki injury time, pemain belakang Al-Badri dinyatakan hands ball oleh wasit saat menyundul bola di kotak penalti sendiri.

Wasitpun tanpa ragu  mengusir pemain tersebut dengan kartu merah sekaligus memberi hadiah penalti kepada Nuris United FC. Meski sempat terjadi protes yang keras dari para pemain Al-Badri FC, namun wasit bergeming. Richard Rahmad yang menjadi algojo berhasil menunaikan  tugasnya dengan baik.

Di pertandingan lain, Al-Qodiriyah FC berhasil menaklukkan Bustanul Makmur FC dengan skor 2-0. Sementara tuan rumah, Darussalam FC memastikan maju ke semifinal setelah mengelontor Mambaul Huda dengan 4 gol tanpa balas. Sedangkan Al-Mubarok menang tipis atas  Persatuan  Sepak Bola Nurul Jadid (PSNJ),  Probllinggo dengan angka 1-0.

"Babak semifinal insya Allah semakin seru," tukas Wakil RMI Jember kepada  NU Online melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Sabtu 3 September 2016 18:2 WIB
Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy
Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy
Jakarta, NU Online
Ignasius Sandyawan Sumardi (Romo Sandy) mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Romo Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996.

Romo Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.

Menurut Romo Sandy, sejak perjumpaan pertamanya yang terjadi saat Gus Dur masih sebagai intelektual muda NU yang vokal dan cerdas, telah menggunggah inspirasi baginya. Ia menilai pemikiran Gus Dur sangat orisinil dan otentik.

Hal lainnya yang juga sangat mengesankan dari Gus Dur adalah setiap Romo Sandy, datang Gus Dur selalu sudah bersentuhan dengan perkara sehingga Gus Dur menjadi ‘tukang kompor’.

“Kalau sudah ingin melakukan (niat baik), ya sudah. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Artinya Gus Dur itu sangat total. Dalam hal apa pun selalu begitu,” terang Romo Sandy.

Kesan ketotalan dari Gus Dur itu mengingatkan Romo Sandy kepada salah satu pesan guru silatnya saat mengambil pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyodan Magelang.

”Kowe nek dadi pendekar, dadio pendekar beneran (kalau  kamu ingin menjadi pendekar, jadilah pendekar sejati atau sungguhan),” kata Romo Sandy mengutip pesan gurunya.

Pesan tersebut, berpadu dengan sosok Gus Dur, menjadikan Romo Sandy semakin bersemangat dan mantap dalam perjuangan membela kemanusiaan. Romo Sandy lalu menyebut beberapa gerakan yang ia lakukan dan menyebabkannya sering berinteraksi dengan Gus Dur.

Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Gus Dur, menurut Romo Sandy membaur dengan rakyat kecil, tanpa kesan pencitraan atau dibuat-buat. Hal yang sangat berbeda dengan para politikus lainnya.

Terhadap dunia politik, Gus Dur menjadikan politik sebagai sesuatu yang substansial, artinya politik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari. Gus Dur sama sekali jauh dari politik artifisial atau politik dagang sapi, di mana politik hanya menjadi ajang tawar menawar kekuasaan.

“Yang paling ujung di dalam politik adalah kemanusiaan. Oleh karena itu Gus Dur sangat demokratis, tidak pernah menolak berdialog dengan siapa pun,” kenang Romo Sandy.

Romo Sandy meneruskan, Gus Dur juga menjadi semacam pantulan dari setiap orang yang datang, termasuk Romo Sandy. Saat bertemu dengannya, ia tidak akan menceramahi. Hal itu memberi pelajaran bahwa pendidikan yang diberikan Gus Dur seperti model pendidikan dalam filsafat Yunani, di mana ada persentuhan yang kuat.

Adalah tugas kita dalam mengembangkan pendidikan seseorang, seperti bidan yang membantu melahirkan ilmu yang sudah ada dalam jiwa atau roh orang tersebut. Dan itulah yang dilakukan Gus Dur karena substansi pendidikan adalah fasilitator pembebasan manusia.

Romo Sandy meyayangkan, saat ini sangat sulit menemukan—kalau bukan tidak ada—sosok seperti Gus Dur. Menurut Romo Sandy, anak-anak muda sekarang tidak orisinil. Dalam mencari pendidikan atau pengetahuan, bahkan membentuk dirinya, mereka mendasarkannnya pada apa yang disajikan oleh internet, mendengar dan menonton audio visual yang tersedia di ineternet. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)



Sabtu 3 September 2016 16:1 WIB
KH Anwar Zahid: Pemimpin Harus Berikan Manfaat kepada Rakyatnya
KH Anwar Zahid: Pemimpin Harus Berikan Manfaat kepada Rakyatnya
KH Anwar Zahid
Blitar, NU Online
KH Anwar Zahid, ulama NU asal Kabupaten Bojonegoro menyampaikan Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh teladan untuk menjadi pemimpin yang baik. Nabi terakhir ini memiliki sifat kenabian yang terdiri dari Sidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), Amanah (dapat dipercaya), dan Fathonah (cerdas).

“Dengan sifat kenabian itu, beliau telah banyak memberikan contoh kepada kita untuk menjadi pemimpin atau khalifah yang bermanfaat untuk orang banyak. Senantiasa menyambung tali silaturahim dan mampu menjadi pribadi yang sabar,’’ ujar KH Anwar Zahid.

Hal ini disampaikan dirinya saat memberikan taushiyah dalam pengajian di Alun-Alun Kabupaten Blitar di Kanigoro, Jumat (2/9). Pengajian itu diselenggarakan oleh Pemkab Blitar dalam rangka rangkaian Hari Jadi Blitar ke-692.

Ia juga mengingatkan, tentang pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani terutama kesehatan hati secara lahir batin. “Jika hati bersih secara lahir batin, bekerja juga bersih dan ikhlas,’’ katanya, pada acara yang dihadiri oleh Formimda, Kepala SKPD dan karyawan, serta tokoh masyarakat itu.

Sementara itu, Bupati Blitar, H. Rijanto dalam sambutannya mengingatkan agar masyarakat Kabupaten Blitar menjaga kerukunan, guyub rukun bersama seluruh anggota Forpimda serta jajaran Pemerintah Kabupaten Blitar. Ia meminta pengajian-pengajian diadakan secara rutin. 

“Taushiyah dan pengajian seperti ini harus rutin diselenggarakan agar dalam melaksanakan amanah masyarakat bisa sesuai dengan koridor aturan dan tatanan yang berlaku sehingga tercipta pemerintahan yang stabil, kondusif, dan terpercaya,’’ katanya. 

Sebelum acara pengajian, didahului dengan penampilan hadrah dan tari saman anggota Polres Blitar. Penampilan itu menambah semarak dan gayengnya acara. (Imam Kusnin Ahmad/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG