Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji!

Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji!
Ilustrasi (blog.umy.ac.id)
Ilustrasi (blog.umy.ac.id)
Jakarta, NU Online
Sebagai salah satu rukun kelima dalam Islam, ibadah haji wajib dilakukan oleh setiap umat Islam. Namun kewajiban itu hanya diperuntukkan bagi yang mampu (mustathî‘), baik secara ekonomi, fisik, maupun keamanan. Rasulullah mewanti-wanti bagi mereka yang mampu tapi tak mau melaksanakannya.

“Tapi bagi yang tidak mampu, juga jangan memaksakan diri,” kata KH Muhaimin Zain saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid An-Nahdlah, di Lantai 1 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (12/9).

Menurut ketua umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Nahdlatul Ulama (JQHNU) ini, untuk memenuhi kewajiban haji tak boleh mengorbankan kewajiban lain, seperti memutus keberlangsungan matapencaharian atau mengganggu terpenuhinya kebutuhan dasar.

“Tidak boleh menjual modal usaha. Tida menjual tanah yang menjadi kebutuhan inti. Tidak boleh menjual yang menjadi kebutuhan keluarga,” tuturnya.

Kiai Muhaimin dalam kesempatan itu juga menjelaskan tentang perjalanan haji sebagai simbol keseteraan semua manusia. Di tanah suci, hamba Allah dari berbagai penjuru dunia berkumpul tanpa membedakan jabatan, status sosial, kelas ekonomi, ras, atau bangsa.

“(Semua) memakai pakaian dua lembar yang sama, mengucapkan kalimat yang sama, dan melakukan amalan yang sama,” katanya.

Momen Idul Adha ini, lanjutnya, juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang hampir tak pernah makan daging selama setahun karena tak mampu membelinya. Merekalah para fakir dan miskin. Momen tersebut berlangsung hingga hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) selesai.

“Jangan sampai kita terus menyimpan daging untuk diri sendiri. Jika hari tasyriq masih ada kelebihan daging, maka harus dibagikan kepada tetangga,” pintanya. (Mahbib)

BNI Mobile