IMG-LOGO
Tokoh

Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

Rabu 14 September 2016 11:1 WIB
Bagikan:
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

KH Ruhiat atau dikenal dengan panggilan Abah Ruhiat lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 November 1911 dan wafat pada tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397.

Ayah Ruhiat bernama Abdul Gofur dan ibunya Umayah. Ia adalah Rais Syuriyah PCNU Tasikmalaya, pendiri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, sebuah pesantren yang kelak dilanjutkan putranya KH Ilyas Ruhiat yang menjadi Rais Aam PBNU setelah Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994.

Pada usia belia, ia belajar ilmu agama di pesantren Cilenga, sebuah pesantren terkenal saat itu, yang diasuh oleh KH Sobandi atau Syabandi yang merupakan murid dari KH Mahfudz Tremas. Ia mengaji di pesantren tersebut dari tahun 1922 sampai tahun 1926. kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu ke pesantren-pesantren lain.

Pada tahun 1927 sampai dengna tahun 1928, ia mengaji ke Pesantren Sukaraja Garut dibawah asuhan KH Emed, Pesantren Kudang Cigalontang, Tasikmalaya asuhan KH Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana asuhan Kiai Toha.  Dengan demikian, silsilah keilmuannya bersambung dengan tokoh-tokoh NU lain yang juga berguru ke kiai tersebut.

Pada tahun 1931, Ruhiat bermukim di Cipasung. Kemudian mengajar santri dan masyarakat sekitar tempat itu. Mulanya mengajar di masjid untuk selanjutnya membangun pesantren yang masih berdiri hingga sekarang. Pesantren tersebut didirikan secara resmi pada tahun 1932 dengan nama Pesantren Cipasung.

Dalam mengajarkan ilmu-ilmu pesantren, Ruhiat menggunakan ngalogat dengan bahasa Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda maka harus digunakan bahasa Sunda. Santri pertamanya berjumlah sekitar 40 orang. Mereka adalah para santri yang dititipkan gurunya dari Cilenga.  

KH Ruhiat dipandang sebagai seorang kiai yang berpikiran maju pada zamannya, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1935, ia mendirikan Madrasayah Diniyah. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin. Pada tahun 1949 mendirikan Sekolah Pendidikan Islam.

Pada tahun 1953 mendirikan Sekolah Rendah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1959 mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam dan ditembah Sekolah Menengah Atas Islam. Serta pada tahun 1969 mendirikan Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah menjadi MAN.   

Selain sebagai seorang kiai pendidik, Ruhiat adalah seorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah ditangkap Belanda dan dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada masa penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa sehingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada masa Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949).  

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya.  

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. (Abdullah Alawi)



Bagikan:
Selasa 30 Agustus 2016 18:1 WIB
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut

Enas Mabarti dikenal sebagai staf pengajar perguruan tinggi swasta di Kabupaten Garut, politisi serta penulis di beberapa penerbitan. Pers bahkan kerap memposisikan dirinya sebagai kolumnis, karena cukup produktif memaparkan analisanya termasuk dikenal sebagai wartawan hutan karena kerap menulis di majalah Kehutanan.

Semasa kuliah di jurusan FISIP UGM Yogyakarta, ia nyantri di Pondok Pesantren Krapyak pimpinan KH Ali Ma’shum. Pada masa itu, ia aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Ketika pulang kampung ia melanjutkan aktivitasnya dengan menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU kabupaten Garut.

Dalam politik, dosen politik Universitas Garut (Uniga) ini pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) II (1982-1987) perwakilan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pada tahun 1999 menjadi ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sekaligus Ketua PCNU.

Dalam dunia kepenulisan, Enas berkarya sejak duduk di bangku SMA. Karyanya dimuat Pikiran Rakyat, Sipatahoenan, majalah bahasa Sunda Mangle, dll. Ia juga pernah menjadi wartawan Bina Rimba Perhutani (1978-1988). Selain itu, pria yang dijuluki lelaki sutra karena melankolis ini, sering menerjemahakan Al-Quran dalam bentuk puisi.

Bakatnya dalam sastra, dituangkannya dengan menulis buku Rencep Sidem Gunem, sebuah buku berbahasa Sunda. Buku yang pernah dimuat secara berkala di majalah Mangle tersebut mengungkap masalah sehari-hari menjadi bahan renungan. Kemuadian dituangkan dalam bentuk tulisan yang dilengkapi ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits Nabi Muhammad dan qaul-qaul ulama. Alhasil, tulisan itu berbuah ajaran moral dengan gaya yang indah penuh artistik.  

Sebagai seorang politikus, Enas menuangkan pemikirannya dalam Elmu Politik keur Warga NU  (Ilmu Politik untuk warga NU). Posisi buku itu sangat unik. Pertama, Enas menulis dalam bahasa Sunda di tengah jarangnya penulisnya menggunakan bahasa daerah. Kedua, yang dibahas adalah masalah politik. Tentu saja Enas berniat warga nahdliyin di Kabupaten Gaut khususnya, dan urang Sunda pada umumnya, melek politik.

Dalam buku tersebut, ilmu politik harus dengan tujuan ibadah. Enas menyebutkan pondasi untuk berpolitik warga nahdliyin adalah kaluhungan (ketinggian) ilmu, kaimanan jeung (dan) kaahlian, takwa.

Enas Mabarti meninggal pada bulan April tahun 2014. Sebagai bentuk kecintannya kepada Sunda, ia berwasiat kepada keluarganya agar honorarium karya-karyanya disumbangkan untuk pengembangan Pusat Studi Sunda (PSS) . (Abdullah Alawi)

Ahad 28 Agustus 2016 19:18 WIB
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dari Sedan
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dari Sedan
Foto acara haul Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang
KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Ma'shum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Di Desa Gandrirojo dulu terkenal dengan budaya joget (tarian Melayu tradisional), kelompok pemain joget pun berdatangan untuk menghibur masyarakat pada saat itu. Dan pada suatu hari di jalan perempatan desa setempat ada kelompok joget yang datang, kemudian Mbah Dimyathi menghampiri, dan kemudian gendang/kendang (instrumen dalam gamelan) ditendang oleh beliau sambil berkata "Lereni nang mire!" (berhenti dan bubar). Spontan penonton bubar dan pemain joget bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa terucap satu kata pun.

Dalam sebuah cerita menyebutkan, bahwa Mbah Dimyathi merupakan orang yang gampangan (mudah) jika dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan hanya di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan saja yang merasakan jasa beliau, melainkan juga masyarakat luar daerah.

Beberapa peninggalan yang masih dapat diketahui hingga saat ini adalah Masjid Jami' Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masjid yang berada di tengah desa tersebut berdiri begitu kokoh dengan arsitek kuno yang begitu mencolok.

Menuntut Ilmu hingga ke Makkah


Ulama yang satu ini memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.

Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa  Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).

Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau. Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.

Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).

Punya Santri dari Kalangan Jin


Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH Mawardi Gandrirojo, KH Ghozali Gandrirojo, KH Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH Sidiq Narukan, KH Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH Suyuti Menoro, KH Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH Darkum Gambiran, KH Maskur Galengan, KH Shodiq Ngroto, KH Mastur Lemahputih, Kiai Nuh Dadapan, Kiai Mawardi Macanireng, Kiai Barhud Bonang, KH Joned Bonang, KH Sendang Agung Pamotan, dan lain sebagainya.

Pada masa puncak keemasannya, Mbah Dimyathi memiliki 1000 santri dari berbagai penjuru, sehingga rumah beliau dibuat sekat-sekat kamar untuk menginap santri-santrinya. Ada yang menceritakan, Mbah Dimyathi juga memiliki santri dari kalangan jin. Jin tersebut merupakan bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Beberapa jin yang menolak ajakan beliau untuk masuk Islam pergi dari tempat tersebut, dan sebagian lagi mengikuti ajakan beliau.

Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur


Menguak kealiman dan kesohoran ilmu beliau tidak akan pernah luput dari proses belajar beliau di beberapa pesantren ternama di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang. Di sanalah Mbah Dimyathi mendalami pendidikan ilmu agama kepada ulama besar Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari.

KH Hasyim Asy'ari yang merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Nusantara juga turut menularkan loyalitas beliau dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Pernah dua kali KH Hasyim Asy'ari berkunjung ke rumah Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo, yang pertama karena rasa penasaran beliau tentang sosok karismatik dan alimnya Mbah Dimyathi. Kemudian kunjungan yang kedua oleh KH Hasyim Asy'ari adalah saat akan dilaksanakannya seuah pertemuan di Blora kira-kira tahun 1927/1928 M. Mbah Hasyim mengajak sang murid untuk mengikuti acara tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua dengan ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yakni Mbah Ma'shum.

Mbah Dimyathi termasuk salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Ia  bersama dengan adiknya (Mbah Ma'shum) juga pernah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu. (Aan Ainun Najib)

Sumber :
1. Catatan KH Sahlan M Nur, hasil cerita dari KH Mawardi Alm (menantu Mbah Dimyathi)
2. Wawancara KH Sahlan M Nur (27 Januari 2016)
3. Wawancara KH Muhdi Mawardi, cucu Mbah Dimyathi (27 Agustus 2016)
4. Wawancara KH Saefuddin (27 Agustus 2016)
 
 

Kamis 25 Agustus 2016 22:0 WIB
KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara
KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara
Makam KH Ahmad Dahlan berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang.

Salah satu ulama Nusantara yang dikenal ahli dalam bidang ilmu falak adalah KH Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan lahir di Termas Pacitan Jawa Timur 1862 dan wafat di Semarang 1911. Makam beliau berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang. Menyebut nama Ahmad Dahlan memang orang menjadi tertuju pada sosok pendiri Muhammadiyah. Dan ternyata dua sosok bernama yang sama itu, KH Ahmad Dahlan Termas dan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, sama-sama mengaji di Pondok Pesantren KH Sholeh Darat.

KH Ahmad Dahlan Termas (sebagian orang menyebut KH Ahmad Dahlan Semarang) merupakan putra dari Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang Dipomenggolo I yang merupakan keturunan Ketok Jenggot punggawa Keraton Surakarta, tokoh cikal bakal berdirinya daerah Termas. Dipomenggolo I merupakan seorang santri ahli agama yang berdarah bangsawan yang mendirikan Pesantren Semanten. Salah satu putra Dipomenggolo bernama Mas Bagus Sudarso juga dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Di pesantren yang juga mengkaji budaya ini diasuh Bagus Burhan atau Ronggowarsito.

Kakak dari KH Ahmad Dahlan adalah KH Mahfudz Termas (1842-1920) dan adiknya bernama KH Dimyati Termas (wafat 1934). Tiga bersaudara ini memiliki keilmuan yang sangat luar biasa. Dunia pesantren sangat mengakui peran besar kakak-beradik ini dalam keilmuan-keilmuan agama Islam terutama paham ahlussunnah wal jama’ah.

Sosok KH Ahmad Dahlan yang sangat pandai tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarganya. Keluarga Termas memang sudah dikenal melahirkan ulama Nusantara yang sangat berkontribusi besar dalam dunia pesantren. Misalnya KH Mahfudz Termas dikenal sebagai ulama yang memiliki puluhan karya kitab dan spesialis di bidang hadits, telah mencetak murid yang menjadi ulama pesantren. 

Keahlian KH Ahmad Dahlan Termas dalam bidang ilmu falak ditandai dengan penyebutan namanya dengan sebutan KH Ahmad Dahlan Alfalaky. Kepandaiannya dalam ilmu agama, menjadikannya diambil sebagai menantu KH Sholeh Darat. Ia dinikahkan dengan putri KH Sholeh Darat bernama RA Siti Zahra dari jalur istri RA Siti Aminah binti Sayyid Ali. Dari pernikahan ini, pada tahun 1895, melahirkan anak bernama Raden Ahmad Al Hadi yang kelak ketika dewasa menjadi tokoh Islam di Jembrana Bali.

KH Ahmad Dahlan memulai pendidikannya dari para kiai yang ada di Termas kemudian melanjutkan belajar kepada kakaknya KH Mahfudz Termas yang ada di Makkah. Saat di tanah suci inilah KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari Bawean Madura (wafat 1921). Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari mempunyai karya Kitab Muntaha Nataiji al Aqwal.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19.

Setelah selesai belajar di Arab, kemudian ia pulang ke tanah air. Berdasarkan saran dari kakaknya, sesampai di tanah air KH Ahmad Dahlan bersama dengan Syaikh Hasan Asy’ari diminta untuk belajar agama dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Maka pesan itu dilaksanakan. KH Ahmad Dahlan mengaji dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Dan sudah menjadi tradisi para ulama Nusantara, para santri yang sudah belajar di Arab tetap diminta belajar di Indonesia lagi, terutama dengan KH Sholeh Darat atau KH Cholil Bangkalan.

Karya-karya di bidang Falak yang dilahirkan oleh KH Ahmad Dahlan adalah: Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati (selesai ditulis 1901), Natijah al Miqat (selesai ditulis 1903) dan Bulughu al Wathar (selesai ditulis 27 Dzul Qa’dah 1320 di Darat Semarang). Ditengarai, masih banyak karya-karya KH Ahmad Dahlan yang sampai sekarang belum terlacak. 

Dalam kitab Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati ditegaskan oleh Zainul Milal Bizawie sebagai kitab hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Ini menjawab atas dugaan selama ini bahwa kitab hisab awal bulan yang pertama ditulis adalah Sullam Nayyirin yang baru ditulis 1925. Pola kitab karya KH Ahmad Dahlan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.

Kitab Natijah al Miqatberisi tentang kaidah ilmu falak tentang penggunaan rubu’ mujayyab dalam penentuan awal waktu shalat dan arah kiblat. Dalam kitab ini juga dirangkumkan pemikiran-pemikiran guru KH Ahmad Dahlan: Syaikh Husain Zaid Mesir, Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Mesir, Syaikh Muhammad bin Yusuf Makkah dan KH Sholeh Darat. Kemudian pada tahun 1930, kitab Natijah al Miqatdisyarahi oleh Syaikh Ihsan Jampes (wafat 1952) dengan kitabnyaTashrihu al Ibarat.

Kitab Bulughu al Watharini merupakan kitab falak pertama yang ditulis ulama Nusantara dengan sistem haqiqi tahqiqi. Kitab ini selesai ditulis bersamaan dengan kitab Muntaha Nataij al Aqwal karya Syaikh Hasan Asy’ari Bawean. Induk kitab yang dirujuk dalam membuat Bulughu al Wathardan Muntaha Nataij al Aqwal berasal dari ilmu zaij kitab Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri.

Khazanah keilmuan falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Hasan Asy’ari Bawean ini yang turut serta mewarnai perkembangan ilmu falak di Pondok Pesantren. Dinamika keilmuan falak di dunia pesantren selalu merujuk pada kajian-kajian ilmiah ulama Nusantara yang mampu mengembangkan ilmu falak yang berasal dari Arab.

KH Ahmad Dahlan dalam kesehariannya, bersama keluarga menempati rumah di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. KH Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai ulama, juga ahli dalam bidang dagang dan tergolong berekonomi kuat (punya banyak toko di Pasar Johar). Bekal itulah yang digunakan untuk berjuang membangun dakwah Islam di Kota Semarang. Dan sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan.

Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri yang belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Darat. Dengan segala dedikasi penuh, para santri yang mengaji di Pondok tersebut diajar sebagaimana cara KH Sholeh Darat mendidik. Termasuk KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu falak kepada para santri-santrinya dengan menggunakan tiga kitab falak yang ditulisnya.

Keahlian ilmu falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari keahlian falak yang dimiliki oleh KH Sholeh Darat. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa KH Sholeh Darat yang merupakan guru dari ulama Jawa ini sangat tepat dalam menghitung waktu shalat dan penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. 

Proses penegasan dalam penentuan waktu shalat dan Ramadhan ia tegaskan dalam beberapa karyanya. Termasuk keterbukaan KH Sholeh Darat dalam mengawal tradisi “Dugderan” di Kota Semarang sebagai bentuk kepedulian ilmu falak dan ilmu sosial. Dimana ketika masyarakat Semarang ingin menyambut kehadiran Ramadhan dirayakan dengan bunyi-bunyi bedug dan petasan, maka disebut dug der (dug bunyi bedug dan der bunyi petasan).

Keahlian falak yang dimiliki KH Sholeh Darat adalah ketika diminta menghitung jumlah palawija yang ada di dalam karung oleh Belanda. Dengan sangat cepat berdasar ilmu hitung falaknya, maka KH Sholeh Darat memberikan jawaban dengan tepat. Kekaguman Belanda pada prediksi jumlah isi palawija itulah yang menjadikan Belanda kagum dengan ilmu falak KH Sholeh Darat.

Putra KH Ahmad Dahlan yang bernama Raden Ahmad Al Hadi berdakwah menuju Loloan Timur Jembrana Bali adalah karena mendapatkan isyarat dari KH Cholil Bangkalan (1820-1925) selaku gurunya. Selain itu, setelah KH Ahmad Dahlan wafat, Ibunya menikah lagi dengan KH Amir dan pindah ke Simbang Kulon Pekalongan. Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki itu, putra KH Ahmad Dahlan bernama Ahmad ini berdakwah ke Bali. 

Sebagaimana ayahnya, Raden Ahmad Al Hadi sangat senang dengan ilmu pengetahuan agama. Walaupun sejak kecil sudah dilatih berdagang di Pasar Johar Semarang, namun Raden Ahmad Al Hadi tetap semangat mengaji. Sehingga di usia 16 tahun ketika ia ditinggal wafat KH Ahmad Dahlan ia ikut belajar di Pondok Pesantren ayah tirinya, KH Amir. Setelah itu ia merantau dari pondok ke pondok hingga pernah belajar Makkah.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH Fathur RA (anak kandung Raden Ahmad bin Ahmad Dahlan), bahwa Raden Ahmad sangat tinggi minat belajarnya. Pondok Pesantren yang dijadikan tempat mencari ilmu adalah: Pondok Pesantren Kaliwungu (berteman dengan KH Abul Choir selama dua tahun), Pondok Pesantren Buntet Cirebon (belajar ilmu silat), Pondok Pesantren Kiai Umar Sarang (belajar ilmu alat), Pondok Pesantren KH Munawwir Krapyak Yogyakarta (belajar Al Qur’an), Pondok Pesantren KH Dimyati Termas, Pondok Pesantren KH Idris Jamsaren Solo.

Setelah tamat dari Pondok Manbaul Ulum Jamsaren Solo dengan bekal Beslit dari Governoor Belanda Jawa Tengah, Raden Ahmad melanjutkan belajar ke Makkah dan Madinah berguru dengan pamannya sendiri, KH Mahfudz Termas. 

Sepulang dari Arab, Raden Ahmad masih mengaji dengan KH M Hasyim Asy’ari di Jombang (satu tahun) dan KH Cholil Bangkalan Madura (satu tahun). Saat di Bangkalan inilah ia bertemu dengan KH Kusairi Shiddiq (mertua KH Abdul Hamid Pasuruan). Perintah Kiai Cholil pada Raden Ahmad adalah menuju Bali bertemu dengan murid Kiai Cholil yang bernama Tuan Guru Haji Muhammad di Loloan Timur Jembrana Bali. Dan ia jalani hingga mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum di Jembrana Bali. Nama “Manba’ul Ulum“ adalah tabarukan dengan almamaternya saat mondok di Jamsaren.Wallahu a’lam.


M. Rikza Chamami

Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG