IMG-LOGO
Tokoh

KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional

Ahad 18 September 2016 10:1 WIB
Bagikan:
KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional

H Mahbub Djunaidi, kolumnis kenamaan itu, dalam tulisannya yang kocak “Wajah”, menggambarkan KH Idham Chalid sebagai berikut: perawakannya tipis tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar.

Meski demikian, menurut Ketua Umum PB PMII pertama tersebut, Kiai Idhamlah yang memegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956. Dan paling lama pula menjabat ketua NU. Idham memiliki kelincahan logika tinggi.

KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 M di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Keterkaitannya dengan NU dimulai pada tahun 1952 ketika ia aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor, organisasi kepemudaan dibawah NU. Dua tahun kemudian ia dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal PBNU. Kemudian menjadi Ketua Umum PBNU. Mulai mengemban amanat itu, Idham otomatis sebagai tokoh termuda saat berusia 34 tahun yang pernah memimpin PBNU. Ia memimpin NU pada tahun 1956 sampai tahun 1984. Kepemimpinannya selama 28 tahun adalah sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.

Kepemimpinan Idham di PBNU mematahkan mitos Jawa dan luar Jawa. Juga menghapus mitos bahwa Ketua Umum PBNU harus memiliki darah biru, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang.  

Ayah Idham hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional. Idham menjadi pemimpin besar baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama.

Pada masa Perang Kemerdekaan, Idham berjuang di Kalimantan Selatan. Ia bergabung dengan badan perjuangan Serikat Muslim Indonesia (Sermi). Kemudian dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK). Bersama dengan Komandan Divisi IV ALRI, Letnan Kolonel Hassan Basri, ia mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan. Ia ikut bergerilya bersama anggota divisi IV ALRI, bahkan diangkat sebagai penasihat. Pada bulan Maret 1949 ia ditangkap Belanda dan baru dibebaskan pada bulan November.

Dalam bidang pendidikan, pada tahun 1940, Idham menjadi guru di Madrasah Pondok Modern Gontor, bekas almamaternya. Setelah kembali ke daerah kelahirannya di Kalimantan Selatan pada tahun 1944, ia memimpin Normaal Islam School. Ia juga menghimpun sejumlah pesantren dengan mendirikan Ittihad Al Ma’ahid Al Islamiyyah. Kegiatan di dunia pendidikan masih dilanjutkan Idham ketika ia sudah menjadi pimpinan NU. Pada tahun 1956 ia mendirikan perguruan Islam Darul Ma’arif di Jakarta dan pada tahun 1960 mendirikan Pendidikan Yatim Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.

Di bidang pemerintahan, beberapa kali Idham Chalid duduk dalam kabinet dengan jabatan antara lain Wakil Perdana Menteri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Juanda (1957-1959). Menteri Utama bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Ampera I (1966-1967), Menteri Negara Kesejahteraan dalam Kabinet Ampera II (1967-1968), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977) dan Ketua MPR (1972-1977), Ketua DPA (1978-1983).

Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University Kairo, Mesir ini yang yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi, wafat pada 11 Juli 2010. Ia dimakamkan di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Setahun kemudian, KH Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011. Ia merupakan putera Banjar ketiga yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry. Dan kini, sebentar lagi akan menghiasi mata uang Rupiah 5.000. (Abdullah Alawi)


Tags:
Bagikan:
Rabu 14 September 2016 11:1 WIB
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

KH Ruhiat atau dikenal dengan panggilan Abah Ruhiat lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 November 1911 dan wafat pada tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397.

Ayah Ruhiat bernama Abdul Gofur dan ibunya Umayah. Ia adalah Rais Syuriyah PCNU Tasikmalaya, pendiri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, sebuah pesantren yang kelak dilanjutkan putranya KH Ilyas Ruhiat yang menjadi Rais Aam PBNU setelah Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994.

Pada usia belia, ia belajar ilmu agama di pesantren Cilenga, sebuah pesantren terkenal saat itu, yang diasuh oleh KH Sobandi atau Syabandi yang merupakan murid dari KH Mahfudz Tremas. Ia mengaji di pesantren tersebut dari tahun 1922 sampai tahun 1926. kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu ke pesantren-pesantren lain.

Pada tahun 1927 sampai dengna tahun 1928, ia mengaji ke Pesantren Sukaraja Garut dibawah asuhan KH Emed, Pesantren Kudang Cigalontang, Tasikmalaya asuhan KH Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana asuhan Kiai Toha.  Dengan demikian, silsilah keilmuannya bersambung dengan tokoh-tokoh NU lain yang juga berguru ke kiai tersebut.

Pada tahun 1931, Ruhiat bermukim di Cipasung. Kemudian mengajar santri dan masyarakat sekitar tempat itu. Mulanya mengajar di masjid untuk selanjutnya membangun pesantren yang masih berdiri hingga sekarang. Pesantren tersebut didirikan secara resmi pada tahun 1932 dengan nama Pesantren Cipasung.

Dalam mengajarkan ilmu-ilmu pesantren, Ruhiat menggunakan ngalogat dengan bahasa Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda maka harus digunakan bahasa Sunda. Santri pertamanya berjumlah sekitar 40 orang. Mereka adalah para santri yang dititipkan gurunya dari Cilenga.  

KH Ruhiat dipandang sebagai seorang kiai yang berpikiran maju pada zamannya, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1935, ia mendirikan Madrasayah Diniyah. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin. Pada tahun 1949 mendirikan Sekolah Pendidikan Islam.

Pada tahun 1953 mendirikan Sekolah Rendah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1959 mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam dan ditembah Sekolah Menengah Atas Islam. Serta pada tahun 1969 mendirikan Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah menjadi MAN.   

Selain sebagai seorang kiai pendidik, Ruhiat adalah seorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah ditangkap Belanda dan dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada masa penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa sehingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada masa Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949).  

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya.  

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. (Abdullah Alawi)



Selasa 30 Agustus 2016 18:1 WIB
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut

Enas Mabarti dikenal sebagai staf pengajar perguruan tinggi swasta di Kabupaten Garut, politisi serta penulis di beberapa penerbitan. Pers bahkan kerap memposisikan dirinya sebagai kolumnis, karena cukup produktif memaparkan analisanya termasuk dikenal sebagai wartawan hutan karena kerap menulis di majalah Kehutanan.

Semasa kuliah di jurusan FISIP UGM Yogyakarta, ia nyantri di Pondok Pesantren Krapyak pimpinan KH Ali Ma’shum. Pada masa itu, ia aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Ketika pulang kampung ia melanjutkan aktivitasnya dengan menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU kabupaten Garut.

Dalam politik, dosen politik Universitas Garut (Uniga) ini pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) II (1982-1987) perwakilan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pada tahun 1999 menjadi ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sekaligus Ketua PCNU.

Dalam dunia kepenulisan, Enas berkarya sejak duduk di bangku SMA. Karyanya dimuat Pikiran Rakyat, Sipatahoenan, majalah bahasa Sunda Mangle, dll. Ia juga pernah menjadi wartawan Bina Rimba Perhutani (1978-1988). Selain itu, pria yang dijuluki lelaki sutra karena melankolis ini, sering menerjemahakan Al-Quran dalam bentuk puisi.

Bakatnya dalam sastra, dituangkannya dengan menulis buku Rencep Sidem Gunem, sebuah buku berbahasa Sunda. Buku yang pernah dimuat secara berkala di majalah Mangle tersebut mengungkap masalah sehari-hari menjadi bahan renungan. Kemuadian dituangkan dalam bentuk tulisan yang dilengkapi ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits Nabi Muhammad dan qaul-qaul ulama. Alhasil, tulisan itu berbuah ajaran moral dengan gaya yang indah penuh artistik.  

Sebagai seorang politikus, Enas menuangkan pemikirannya dalam Elmu Politik keur Warga NU  (Ilmu Politik untuk warga NU). Posisi buku itu sangat unik. Pertama, Enas menulis dalam bahasa Sunda di tengah jarangnya penulisnya menggunakan bahasa daerah. Kedua, yang dibahas adalah masalah politik. Tentu saja Enas berniat warga nahdliyin di Kabupaten Gaut khususnya, dan urang Sunda pada umumnya, melek politik.

Dalam buku tersebut, ilmu politik harus dengan tujuan ibadah. Enas menyebutkan pondasi untuk berpolitik warga nahdliyin adalah kaluhungan (ketinggian) ilmu, kaimanan jeung (dan) kaahlian, takwa.

Enas Mabarti meninggal pada bulan April tahun 2014. Sebagai bentuk kecintannya kepada Sunda, ia berwasiat kepada keluarganya agar honorarium karya-karyanya disumbangkan untuk pengembangan Pusat Studi Sunda (PSS) . (Abdullah Alawi)

Ahad 28 Agustus 2016 19:18 WIB
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dari Sedan
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dari Sedan
Foto acara haul Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang
KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Ma'shum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Di Desa Gandrirojo dulu terkenal dengan budaya joget (tarian Melayu tradisional), kelompok pemain joget pun berdatangan untuk menghibur masyarakat pada saat itu. Dan pada suatu hari di jalan perempatan desa setempat ada kelompok joget yang datang, kemudian Mbah Dimyathi menghampiri, dan kemudian gendang/kendang (instrumen dalam gamelan) ditendang oleh beliau sambil berkata "Lereni nang mire!" (berhenti dan bubar). Spontan penonton bubar dan pemain joget bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa terucap satu kata pun.

Dalam sebuah cerita menyebutkan, bahwa Mbah Dimyathi merupakan orang yang gampangan (mudah) jika dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan hanya di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan saja yang merasakan jasa beliau, melainkan juga masyarakat luar daerah.

Beberapa peninggalan yang masih dapat diketahui hingga saat ini adalah Masjid Jami' Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masjid yang berada di tengah desa tersebut berdiri begitu kokoh dengan arsitek kuno yang begitu mencolok.

Menuntut Ilmu hingga ke Makkah


Ulama yang satu ini memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.

Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa  Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).

Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau. Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.

Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).

Punya Santri dari Kalangan Jin


Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH Mawardi Gandrirojo, KH Ghozali Gandrirojo, KH Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH Sidiq Narukan, KH Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH Suyuti Menoro, KH Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH Darkum Gambiran, KH Maskur Galengan, KH Shodiq Ngroto, KH Mastur Lemahputih, Kiai Nuh Dadapan, Kiai Mawardi Macanireng, Kiai Barhud Bonang, KH Joned Bonang, KH Sendang Agung Pamotan, dan lain sebagainya.

Pada masa puncak keemasannya, Mbah Dimyathi memiliki 1000 santri dari berbagai penjuru, sehingga rumah beliau dibuat sekat-sekat kamar untuk menginap santri-santrinya. Ada yang menceritakan, Mbah Dimyathi juga memiliki santri dari kalangan jin. Jin tersebut merupakan bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Beberapa jin yang menolak ajakan beliau untuk masuk Islam pergi dari tempat tersebut, dan sebagian lagi mengikuti ajakan beliau.

Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur


Menguak kealiman dan kesohoran ilmu beliau tidak akan pernah luput dari proses belajar beliau di beberapa pesantren ternama di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang. Di sanalah Mbah Dimyathi mendalami pendidikan ilmu agama kepada ulama besar Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari.

KH Hasyim Asy'ari yang merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Nusantara juga turut menularkan loyalitas beliau dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Pernah dua kali KH Hasyim Asy'ari berkunjung ke rumah Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo, yang pertama karena rasa penasaran beliau tentang sosok karismatik dan alimnya Mbah Dimyathi. Kemudian kunjungan yang kedua oleh KH Hasyim Asy'ari adalah saat akan dilaksanakannya seuah pertemuan di Blora kira-kira tahun 1927/1928 M. Mbah Hasyim mengajak sang murid untuk mengikuti acara tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua dengan ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yakni Mbah Ma'shum.

Mbah Dimyathi termasuk salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Ia  bersama dengan adiknya (Mbah Ma'shum) juga pernah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu. (Aan Ainun Najib)

Sumber :
1. Catatan KH Sahlan M Nur, hasil cerita dari KH Mawardi Alm (menantu Mbah Dimyathi)
2. Wawancara KH Sahlan M Nur (27 Januari 2016)
3. Wawancara KH Muhdi Mawardi, cucu Mbah Dimyathi (27 Agustus 2016)
4. Wawancara KH Saefuddin (27 Agustus 2016)
 
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG