IMG-LOGO
Fragmen

Sepotong Sejarah Perdebatan Nama “Nahdlatul Ulama”

Sabtu 24 September 2016 3:0 WIB
Bagikan:
Sepotong Sejarah Perdebatan Nama “Nahdlatul Ulama”
Sebagaimana nama-nama organisasi besar pada umumnya, nama Nahdlatul Ulama juga lahir dari pemikiran dan proses perdebatan yang intensif. Nama itu bermula dari bertemunya para kiai terkemuka pada 31 Januari 1926 di kampong Kertopaten Surabaya. Mereka berkumpul dalam rangka membahas dan menunjuk delegasi komite Hijaz—utusan yang hendak dikirim untuk menyampaikan pesan kepada Raja Abdul Aziz Ibnu Sa’ud.

Seperti tercatat dalam sejarah, Ibnu Sa’ud yang menjadi penguasa baru Hijaz (Saudi Arabia) waktu itu terkenal dengan kebijakannya yang meresahkan umat Islam di berbagai belahan dunia. Selain memberangus pluralitas madzhab, sang raja juga berniat menggusur situs-situs peradaban Islam, termasuk makam Rasulullah.

Yang beredar di benak para ulama waktu itu adalah organisasi apa dan apa pula namanya yang akan bertindak selaku pemberi mandat kepada delegasi tersebut?

Di sinilah perdebatan sengit seputar nama organisasi berlangsung, seperti diceritakan oleh Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010 (Surabaya: Duta Aksara Mulia). Setidaknya ada dua nama atau usulan. Kedua nama ini secara prinsip sebenarnya sama namun memiliki implikasi yang berbeda.

KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama disertai penjelasan bahwa para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Pendapat ini disambut oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz dengan sebuah sanggahan. Menurutnya, kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya saja, kata Kiai Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisasi secara rapi.

Lewat argumentasi itu, Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi”.

Forum para kiai secara aklamasi menerima usulan KH Mas Ali bin Abdul Azis. Nama “Nahdlatul Ulama” pun ditetapkan pada hari itu juga, 16 Rajab 1344 H, tanggal bersejarah lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang diperingati setiap tahun hingga kini.

Penjelasan sejarah ini menggambarkan kesan bahwa pendirian NU tak ubahnya seperti mewadahi suatu barang yang sudah ada. NU hanyalah sebagai penegasan formal dari mekanisme informal para ulama yang sepaham, serta pemegang tradisi dan cita-cita yang sehaluan.

Tentang nama “Nahdlatul Ulama”, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga punya pendapat. Dalam sejumlah kesempatan ia mengatakan bahwa nama ini diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab al-Hikam yang populer di kalangan pesantren itu.

Akar kata “Nahdlatul Ulama” termuat dalam salah satu aforismenya yang berbunyi: “Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah)”. Menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering mengutip ungkapan itu. Kata 'yunhidlu', artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah jalan Allah. (Mahbib Khoiron)

Tags:
Bagikan:
Jumat 23 September 2016 12:3 WIB
Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku
Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku
Lukisan ilustrasi Islam di Maluku.
Maluku yang dikenal dengan sebutan Jazirah al-Mamluk (Kepulauan Raja-raja) adalah sebuah negeri di Timur Indonesia yang yang sangat berpengaruh dengan empat kerajaan yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. 

Islam  masuk di Maluku melalui jalur perdagangan di abad ke-15. Alasan kenapa Islam masuk lewat jalur perdagangan, karena pada awal abad ke-15 Maluku Sohor sebagai kepulauan rempah-rempah yang menjadi sasaran pada pedagang asing untuk mendapatkan cengkeh dan buah pala. Pedagang-pedagang itu diantaranya dari Asia-Arab, Gujarat, Cina, dan pedagang-pedagang Jawa serat Melayu yang telah memeluk agama Islam.

Syekh Mansur adalah salah satu pedagang dari Arab yang meyiarkan Islam di Tidore pada masa pemerintahan Calano Caliati. Sementara Datu Maulana Hussein adalah salah satu pedagang  dari Jawa yang juga berpengaruh dalam penyebaran Islam di Ternate pada masa pemerintahan Kalano Marhum. 

Sementara itu, Portugis menyebut bahwa Islam masuk di Maluku semenjak pelantikan Sultan Zainal Abidin ditahun 1486. Namun, sumber lain menyebut Islam sudah ada di Maluku sekitar 50-60 tahun sebelum tahun 1486. 

Setelah Islam masuk di Maluku, pengaruh dan perkembangan Islam belum kuat terutama di Ternate. Oleh sebabnya, Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk mempelajari Islam secara langsung dari Sunan Giri. Sunan Giri adalah salah satu ulama atau wali terkenal di tanah Jawa. Dari sinilah muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja).

Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500); Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Mansur; Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati; Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko.

Penyebaran Islam di Maluku, tanpa terkecuali tidak dapat dipisahkan dari kerja keras seorang pedagang sekaligus muballigh asal Jawa bernama Datu Maulana Hussein. Ia tiba di Ternate pada 1465. Hussein adalah seorang muballigh besar pada masanya. Ia memiliki pengetahuan agama Islam yang luas dan dalam, serta pakar tilawah dan kaligrafi Arab. 

Dikisahkan pada suatu hari Hussein, dengan suara yang merdu dan keahlian membuat kaligrafi, setiap ia mendendangkan lantunan ayat-ayat suci membuat banyak orang berdatangan untuk mendengarkannya. Dengan demikian masyarakat perlahan-lahan mulai menerima Islam. (Sidra Sofyan) 

Rabu 21 September 2016 3:0 WIB
Haul Mbah Sambu dan Agenda Kebudayaan Lasem
Haul Mbah Sambu dan Agenda Kebudayaan Lasem
Setiap setahun sekali tanggal 14 Dzulhijjah, selama 3 hari  Masjid Jami’ Lasem menyelenggarakan Haul Mbah Sambu, Adipati Tejakusuma I atau Mbah Srimpet dan Masyayih Lasem. Acara haul tersebut bukan hanya diisi kegiatan ritual atau keagamaan seperti tahlil, hataman Al Qur’an, sunatan massal dan prosesi pemberangkatan/ pemulangan jamaah haji. Tapi juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan berdimensi budaya. Seperti karnaval, lomba hadrah, dan lomba pidato.

Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat secara swadaya dan diselenggarakan cukup meriah, sebagai event budaya terbesar di Lasem bahkan Rembang. Sehingga wajar jika dalam workshop penguatan budaya lokal  tanggal 9-10 Desember 2011 di Yogyakarta yang  diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta atas kerjasama Direktorat Pendidikan Masyarakat Kemendikbud penulis yang diundang sebagai Ketua RB3/ Sambua memasukkannya dalam Agenda Kebudayaan Tahunan Rembang.

Mbah Sambu atau Sayyid Abdurrahman Basayaiban wafat 1671. Beliau putera Pangeran Benawa, putera dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya Raja Kerajaan Pajang, cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak. Mbah Sambu berjasa menyiarkan agama Islam di Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya menjaga stabilitas keamanan itu Mbah Sambu yang  juga menantu  Adipati Lasem diberi tanah perdikan kampung Kauman termasuk lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang.

Keturunan Mbah Sambu meninggalkan Rumah Gedong di Kampung Kauman Desa Karang Turi. Memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus boro selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak. Sampai sekarang Rumah Gedong tua peninggalan abad 17 itu masih berdiri megah, masih ditempati beberapa kepala keluarga. Pemerintah seharusnya tanggap menetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Mbah Sambu juga tercatat dalam sejarah asal usul masyayikh Lasem, Pesantren Tebuireng dan Tambakberas Jombang sebagai leluhur mereka. Puncak acara haul pada Jumat 16 September 2016 diisi pembacaan Tahlil oleh Gus novian Azis mas’ud, sambutan Nadzir oleh KH M. Zaim Ahmad Ma’shoem dan Mauidzoh Hasanah oleh KH.Agus Qayyum. Malam hari sebelumnya diisi Gema Shalawat dan pembagian hadiah lomba hadrah al banjari se Kab.Rembang dan sekitarnya 

Pagi sebelumnya pembacaan tahlil di makam Mbah Srimpet Adipati Lasem Tejokusumo 1. Dilanjutkan siangnya hataman Al Qur’an bi Ghaib di berbagai masjid dan musolla sekitar. Kemudian di makam Mbah Sambu. Sehari sebelumnya pada siang hari juga ada sunatan massal yang diikuti 25 anak. Masyarakat Lasem dihibur Karnaval berkeliling jalan raya Surabaya-Semarang  di seputar Lasem tidak kurang 3 jam diikuti puluhan regu, sekitar 2000 orang, dari berbagai  sekolah, pondok pesantren. Organisasi kemasyarakatan, sekolah dan perguruan tinggi termasuk UT Pokjar Lasem, yang 2 tahun kemarin dilepas oleh Gubernur Ganjar Pranowo. Mereka berpartisipasi secara sukarela. Berbagai corak ditampilkan peserta pawai. Ada beberapa SD/ MI menurunkan 8 Group Marching Band yang tampil sangat dahsyat. Saya menyaksikannya cukup terharu, sangat membanggakan.

Peserta lainnya ada yang berpakaian daerah dan modis tapi ada juga yang apa adanya mencerminkan kesederhanaan namun penuh semangat berjalan kaki yang cukup jauh sembari membawa sepanduk bertuliskan pesan-pesan penuh makna, mengusung tema-tema tertentu, slogan atau ajakan melanjutkan perjuangan masyayih, atau bercanda menggunakan atribut seperti topi petani yang beraroma kritik membangun, berperan laskar sabil’, busana karnaval batik. Seperti Universitas Terbuka PP Kauman Lasem mengusung tema pendidikan “pembelajaran sepanjang hayat” seperti tema Hari Aksara Internasional yang jatuh tanggal 7 oktober. Karnaval tahun ini  ini juga ada  Kirab Piala Mbah Sambu FC Juara Liga Santri Nasional Regional Jateng

Di sepanjang jalan yang dilalui peserta karnaval berderet ratusan pedagang kaliki lima dadakan. 2 Tahun haul sebelumnya juga ada lomba pidato. Mereka tampil di panggung yang dipersiapkan panitia cukup apik dan megah. Penampilan mereka tidak main-main, semuanya tampil semangat dan  cukup serasi. Dengan thema Menjadi generasi muda yang berprestasi dan berakhlakul karimah.

Sebagaimana dawuh Kyai Habib Ridwan dalam pembacaan manaqib tahun lalu, perlu juga diikuti tahlil pahlawan Islam dalam perang kuning 1750 dalam Babad Lasem disebutkan RM Margono, Tumenggung Widyaningrat atau Oei Ing Kiat dan Kyai Baidlowi Awwal atau Ki Joyo Tirto  bakda sholat Jumat di Masjid Jami Lasem weworo perang sabil menyerang Markas Kompeni Belanda di Rembang. Sehingga wajar semangat persatuan semua etnis yang terjalin sejak dulu itu dalam FGD Pelestarian Kota Pusaka yang diselenggarakan BAPPEDA Rembang dan Kementerian PU tanggal 18 September 2014 penulis dari Padepokan Sambua mengusulkan Lasem Kota Harmoni, mengusung nilai luhur kebersamaan.

Setelah puncak acara nanti masih menyisakan acara prosesi pemulangan jamaah haji beberapa hari kemudian, menunggu kedatangan dari tanah suci. Insyaallah 4 oktober 2016. Pesan yang ingin disampaikan pemberangkatan haji dipusatkan di masjid agar mendapat doa keselamatan dari jamaah masjid bagi jamaah haji asal Indonesia. Sedangkan kedatangan jamaah haji langsung ke masjid tidak ke rumah untuk melakukan sujud syukur dengan menunaikan sholat kemudian membacakan doa untuk kaum muslimin dilanjutkan bersalaman dan selanjutnya diantar jamaah masjid ke rumah masing-masing. 

Kegiatan berbasis budaya local di atas dalam rangkain kegiatan haul tersebut diharapkan nantimya dikembangkan terus. Tahun depan dari elemen masyarakat dapat mengusulkan tambahan beberapa agenda rangkaian kegiatan Haul Mbah Sambu, seperti pameran seni budaya Islam termasuk kaligrafi dan batik, tentu saja sangat positif selama sejalan dengan nilai-nilai perjuangan dan dakwah masyayikh Lasem. (Abdullah Hamid/Fathoni)

Senin 19 September 2016 6:0 WIB
Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung
Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung
Tidak terasa Muktamar ke-33 NU di Jombang sudah berakhir setahun yang lalu dengan terpilihnya KH Said Aqil Siroj sebagai ketua tanfidziah dan KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. Dengan terpilihnya kembali calon incumbent ini menunjukkan keberhasilannya memimpin NU selama lima tahun terakhir. Meskipun pro-kontra pasca-muktamar pada saat itu masih sangat panas hingga muncul menjadi pemberitaan di berbagai media nasional. 

Membincang soal Muktamar, persoalan di Muktamar NU ke-33 adalah hal biasa sebagai bagian dari dinamika organisasi. Justru, Muktamar NU ke-29 yang digelar 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat lah sebagai Muktamar yang paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah NU. Mengapa? Pasalnya, pada Muktamar ini merupakan puncak terjadinya kedholiman rezim orde baru terhadap NU. Pada saat itu, NU dan sosok Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang oleh Soeharto sebagai ancaman yang paling membahayakan. 

Tak pelak, hal ini membuat Soeharto dengan kekuasaannya, ingin ‘memutus’ kewenangan Gus Dur di PBNU yang sejak tahun 1984 dipimpinnya. Salah satu cara yang ditempuh Soeharto adalah menumbangkan Gus Dur di Muktamar NU Cipasung. Presiden Soeharto melakukan berbagai intervensi dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai incumbent. Apa skenario yang dijalankan pada saat itu?

Ya, Soeharto memunculkan penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur yakni Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya itu. Oposisi Gus Dur inilah yang melakukan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asal Bukan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur yang kerap kali ‘berseberangan’ dengan pemerintah di anggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri. Itulah berbagai isu yang mereka buat untuk mengambil hati seluruh muktamirin.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima TNI Jenderal Faisal Tandjung, serta para menteri rezim orde baru turut hadir di forum tersebut. Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung. 

Beberapa dari mereka bahkan diketahui menyamar dengan seragam Banser. Dari berbagai sumber, sedikitnya, diketahui tentara yang berjaga di sekitar Cipasung berjumlah sampai 1500 personil dan 100 intel. Sebagian dari mereka diberi tugas untuk memonitor delegasi-delegasi daerah dan membantu memberikan pertimbangan-pertimbangan.  

Pada proses pemilihan, sempat menghadirkan empat calon. Selain Gus Dur dan Abu Hasan, ada juga nama Chalid Mawardi dan Fahmi Saifuddin yang ikut maju mencalonkan diri. Pada tahap awal, Gus Dur memperoleh suara 157 suara, Abu Hasan 136 suara, Fahmi Saifuddin 17 suara, dan Chalid Mawardi 6 suara. Situasi tersebut benar-benar diluar dugaan kubu Gus Dur yang semula diperkirakan akan memperoleh dukungan sekitar 65 persen. Akan tetapi, kenyataannya hanya memperoleh dibawah 50 persen. 

Dengan enam suara Chalid Mawardi (juga kubu Soeharto) yang kemungkinan jatuh ke tangan Abu Hasan, maka pemilihan ketua umum ditentukan oleh 17 delegasi yang memberikan suara mereka kepada Fahmi Safudin. Kemungkinan kekalahan di putaran berikutnya dengan segala konsekuensinya jika NU jatuh ke tangan Abu Hasan sudah terbayangkan oleh kebu Gus Dur sehingga membuat mereka panik. 

Beberapa kiai yang duduk dekat dengan Gus Dur bahkan banyak yang meneteskan air mata seraya berdoa dengan khusyu. Singkat cerita, berdasarkan perhitungan suara yang dilaksanakan hingga pukul 03.00, Gus Dur ternyata memeperoleh 174 suara, sementara Abu Hasan hanya mendapatkan 142 suara. Kekhawatiran itu ternyata tidak berbuah kenyataan. Pendukung Gus Dur pun merayakan kemenangan dengan penuh sukacita dan rasa syukur. 

Tentu kemenangan ini tidak diperoleh dengan cara yang instan, kehebatan, intelektualitas, dan kemampuan berpikir kritis yang berani melawan pemerintahan yang dholim pada saat itu, ditunjang dengan kebijakan-kebijakannya di internal  NU yang dirasa sangat strategis untuk kemaslahatan masyarakat. Social capital inilah yang menjadi modal penting kepercayaan warga NU sekaligus menjadi investasi yang mengantarkannya menjadi ketua PBNU tiga periode berturut-turut.

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini sebagai Chief Editor Media Santri NU (MSN)/mediasantrinu.com, santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG