IMG-LOGO
Puisi

Ketika Mata Mati

Ahad 25 September 2016 09:03 WIB
Ketika Mata Mati

Sajak-Sajak Gatot Arifianto
kacalah sayyidina umar, agar tahu, bahwa mungkar bukan semata garis lurus, tapi juga berkesempatan melingkar, pulang ke jalan benar

Netrahyahimsa Institute, 22 September 2016


Sesudah Sedih Kesekian

bencana adalah rencana. tidakkah bisnis bengis para kapitalis iklan datang berulang? selalu kembali, menaburkan serbuk cabai dan lada pada mata, yang kenal atau sebaliknya, tak kuasa hingga diam terhadap kerakusan abai, bahwa nyawa tak sanggup dibuat, teh poci gula batu, papan bunga pernikahan dan kematian

tapi hidup tak boleh nestapa, sepi dari perut lapar, menjalankan hati semau kaki dan panggilan peninggi derajat, bukan?

jika setuju ar-rum 41, desakkan pada dada, ruang penuh raung di sudutsudut kota yang menjelma selokan, diamuk anak dan ibu, cikamiri dan cimanuk, gunung yang terus digali, kawah yang disulap jadi mesin uang

peraslah susu kambing atau sapi, jangan air mata. cabutlah segala ubi, jangan kehidupan agar tak ada iba. tanamlah padi, jangan pedih bagi mereka yang ingin mencicipi secuil nikmat merdeka, di negeri yang membiarkan diri diteror impor pangan

sesudah sedih kesekian, dan tuhan menegaskan diri bukan badut bersafari pendek ingatan, adakah pengetahuan sampai di kepala selain uban?

Lantai 5 Gedung PBNU, 23 September 2016

Mencintai Tuhan Dengan Sederhana

mencintai hutan ialah tanda seru mencintai tuhan dengan sederhana

Lantai 5 Gedung PBNU, 23 September 2016


Gatot Arifianto. Nahdliyin. Sejumlah tulisannya dibukukan dalam buku, Merajut Jurnalisme Damai di Lampung, Aliansi Jurnalis Independen Bandar Lampung, 2012. Menelisik Korupsi Anggaran Publik 2013, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia. NU Mengawal Perubahan Zaman, Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Lampung, 2015. Bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan
SIEJ (The Society of Indonesian Environmental Journalists).


Tags:
Bagikan:
IMG
IMG