IMG-LOGO
Nasional
HARI SANTRI 2016

Panglima TNI: Fatwa KH Hasyim Bangkitkan Semangat TNI Usir Penjajah

Rabu 28 September 2016 5:7 WIB
Bagikan:
Panglima TNI: Fatwa KH Hasyim Bangkitkan Semangat TNI Usir Penjajah
Jombang, NU Online
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta prajurit TNI untuk meneladani semangat perjuangan para Pahlawan Kemerdekaan. Hal itu disampaikan saat melakukan ziarah ke makam KH Hasyim Asyari di Pesantren Tebuireng Jombang, Selasa (27/9).

Jendral Gatot menceritakan peran penting KH Hasyim Asyari yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Dengan fatwa jihadnya almarhum telah mengobarkan semangat warga dan tentara untuk melawan penjajah. Saat awal terbentuknya TNI pada 5 Oktober 1945  terdengar kabar, bahwa pasukan penjajah Belanda kembali lagi dibonceng sekutu.

"Mendapat informasi akan ada serangan NICA, kemudian sejumlah petinggi negeri ini meminta fatwa kepada KH Hasyim Asyari di Tebuireng. Karena kekuatan TNI jelas tidak mumpuni menghadapi kekuatan penjajah," ujarnya.

Kemudian keluar Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 yang mewajibkan seluruh warga dengan radius tertentu yang boleh menjamak shalat, wajib hukumnya untuk mengangkat senjata melawan penjajah. "Dengan adanya fatwa jihad KH Hasyim ini semangat tentara dan warga kembali bangkit," tuturnya.

Peran KH Hasyim Asy'ari masih berlanjut. Menurut Panglima TNI ini, pada 9 November 1945 seluruh warga dan juga tentara sudah siap untuk bertempur, namun diminta untuk menunda KH Hasyim Asyari. Alasannya menunggu seorang ulama asal Cirebon yang memimpin perang, yakni KH Abbas. "KH Hasyim mengatakan, kita tunggu singa dari Jawa Barat datang," ujar Gatot menambahkan.

Karenanya, Jenderal Gatot mengatakan zairah ke makam pahlawan seperti KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng ini penting dilakukan agar generasi muda prajurit TNI bisa meneladani perjuangan para pendahulunya.

"Generasi TNI harus bisa mencontoh melanjutkan perjuangan yang sekarang semakin sulit, seperti kata Bung Karno. Kalau dulu berjuang hanya mengusir penjajah, kini yang dihadapi adalah bangsa sendiri. Karenanya berjuang harus tanpa pamrih," imbuhnya.

Ziarah ke makam pahlawan di era Panglima TNI Gatot Nurmantyo ini diharapkan terus berlanjut dilakukan menjelang peringatan HUT TNI yang jatuh pada 5 Oktober. "Hasil diskusi kita sudah sepakat, membudayakan melakukan ziarah menyongsong peringatan HUT TNI," tandasnya. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Rabu 28 September 2016 22:2 WIB
KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan
KPAI: Makin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan
Jakarta, NU Online
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan proses radikalisasi anak pelaku terorisme terjadi di dalam rumah tahanan. Hal itu merupakan akibat terjadinya interaksi dan doktrinasi dari narapidana terorisme dewasa. Padahal, Undang-Undang mengatur anak pelaku terorisme dikualifikasi sebagai korban yang harus mendapat perlindungan khusus. Dan, penanganannya harus mengedepankan pendekatan pemulihan (restoratif justice).

"Ini PR besar bagi kita semua dalam penanganan kasus terorisme di Indonesia. Di satu sisi kita harus keras memberi hukuman terhadap pelaku demi melahirkan efek jera, namun di sisi lain kita harus memutus mata rantai terorisme anak dengan pendekatan rehabilitatif dan restoratif," kata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh, melalui siaran pers, setelah melakukan kunjungan ke Lapas Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (28/9).

Menurutnya, khusus terhadap anak yang terpapar ajaran terorisme, harus ada pendekatan khusus, yaitu pendekatan pemulihan (restoratif), bukan pendekatan penghukuman dan pemenjaraan (punitif) sebagaimana orang dewasa yang dijerat kasus terorisme.

"Ini harus menjadi konsen kita bersama. Untuk menangani masalah ini, KPAI dan BNPT saling menjalin komunikasi guna merumuskan mekanisme dan model pencegahan dan penanggulangan anak-anak yang terpapar terorisme dengan pendekatan re-edukasi," jelasnya.

Kasus IAH (terdakwa terorisme anak di Medan) yang sekarang sedang proses peradilan, harus dijadikan momentum untuk penerapan pendekatan keadilan restoratif sebagaimana diatur UU Sistem Peradilan Pidana Anak.

Untuk itu, tambahnya, Jaksa dan Hakim harus berpedoman dan mengedepankan prinsip-prinsip restoratif justice seperti tertuang dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dalam pertimbangan dan putusannya.

"Apalagi, anak sudah mengaku salah, menyesali perbuatannya, meminta maaf, dan meminta untuk dibina. Ini adalah momentum besar untuk menyelamatkan anak dari doktrinasi yang lebih mendalam. Jaksa dan hakim punya kewajiban untuk pemulihan," kata Niam.

Dari hasil assesment yang dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas), penjelasan yang diberikan oleh Kalapas, dan pendalaman yang dilakukan KPAI terhadap anak, menunjukkan bahwa anak masih polos, doktrin terorisme belum terlalu masuk dan peluang untuk pemulihan sangat besar.

KPAI berharap, vonis yang dijatuhkan hakim kepada IAH dalam kerangka pemulihan, misalnya penempatan di lembaga pembinaan khusus untuk reedukasi, bukan vonis yang membunuh masa depan anak, apalagi yang menyuburkan benih radikalisme yang sempat tersemai. (Red: Abdullah Alawi)

Rabu 28 September 2016 13:0 WIB
Agus Sunyoto Bakal Isi Seminar 200 Tahun Serat Centhini di Magelang
Agus Sunyoto Bakal Isi Seminar 200 Tahun Serat Centhini di Magelang
Purworejo, NU Online
Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto akan mengisi seminar “200 Tahun Serat Centhini” di Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2016 yang akan digelar di Magelang, Rabu-Sabtu (5-8/10) mendatang. Pria asal Malang ini akan menyampaikan materi pada Kamis, 6 Oktober 2016 di The Heritage, Convention Center, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pukul 13.00-16.00 WIB.

Menurut Direktur  Festival Yuki Darmawan dalam situs resmi BWCF, acara ini sudah Festival ini sedah memasuki tahun ke-5 dan konsisten mengangkat tema-tema budaya klasik Nusantara. “Perayaan Serat Centhini dan I La Galigo adalah suatu upaya untuk menggali khazanah klasik guna memahami dan membentuk kebudayaan Nusantara dalam konteks kekinian dan masa depan,” tulisnya di laman borobudurwriters.com.

Menurutnya, Serat Centhini adalah karya besar kesusastraan Jawa yang disusun pada awal abad ke-19, dengan genre puisi panjang yang digubah dalam bentuk lagu. Serat Centhini digagas oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III yang kemudian menduduki tahta dengan gelar Sunan Paku Buwana V. 

“Setelah menjadi raja, Sunan Paku Buwana V meminta tiga pujangga keraton, yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II dan Sastradipura untuk meneruskan penulisan cerita mengenai segala hal tentang kehidupan dalam bentuk tembang macapat. Serat Centhini ditulis selama kurang lebih 9 tahun, dari tahun 1814 hingga 1823 Masehi,” jelasnya.

Yuki menambahkan, bahwa Isi  Serat Centhini meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, falsafah, agama, mistik, ramalan, sulapan, ilmu kekebalan, perlambang, hingga perihal flora, fauna, dan seni. Dalam kitab ini juga terdapat ulasan mengenai khazanah erotika. Naskah ini dapat dikatakan sebagai ‘ensiklopedi’ kehidupan orang Jawa sampai awal abad ke-19. 

“Khusus mengenai ulasan tentang seksualitas, hal itu memperlihatkan pandangan khas yang bertolak dari Tantrayana yang berkembang pada masamasa sebelumnya, yaitu pada masa Singasari dan Majapahit. Pandangan tentang seksualitas semacam itu tidak hanya terdapat pada kitab-kitab sastra klasik, melainkan berlanjut pada karya sastra kontemporer,” imbuhnya.

Dalam kurun 10 tahun terakhir, lanjutnya, Serat Centhini muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dengan versi lebih singkat, pelbagai novelisasi, seni tari, teater, fotografi, ziarah perjalanan tempat-tempat dan rekontruksi kuliner yang tercantum di dalamnya. Segala kegiatan tersebut menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap Serat Centhini sebagai kitab klasik budaya Jawa.

Selain Serat Centhini, masih menurut Yuki, di Nusantara terdapat epos panjang, bahkan dapat dikatakan yang terpanjang di dunia, yaitu Sureq Galigo atau I La Galigo yang diciptakan oleh masyarakat Bugis pada abad ke-13. Yaitu kitab besar yang berisi kisah penciptaan manusia dan petualangan tokoh Sawerigading ke berbagai penjuru dunia. Kitab ini dapat dikatakan sebagai “esiklopedi” dari Bugis tentang kehidupan manusia dan segala hal yang berkaitan dengan alam semesta.

Selain Agus Sunyoto, Panitia BWCF juga mengundang berbagai tokoh yang selama ini dikenal bergelut dengan dunia tulis, seni, sastra, tradisi dan kebudayaan. Dalam situsnya resminya, panitia mengaku sudah menutup tiket gratis peserta karena sudah membludak. (Ilham Erda/Fathoni) 
 

Rabu 28 September 2016 12:1 WIB
Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta
Pesan Rais Aam PBNU kepada Wisudawan-Wisudawati STAINU Jakarta
KH Ma'ruf Amin berikan orasi di Wisuda ke-5 STAINU Jakarta.
Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin turut hadir dan memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan-wisudawati Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta pada prosesi Wisuda Ke-5 di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta Timur, Selasa (27/9).

Dalam orasinya, Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menuturkan bahwa seorang yang lulus dari perguruan tinggi sudah selayaknya berpikir dan bertindak beda dengan orang yang tidak memiliki kesempatan kuliah. Para sarjana diharapkan peran besarnya di tengah masyarakat.

“Kepada para wisudawan dan wisudawati, saya berharap menjadi sarjana yang mampu berpikir akademis, kritis, metodolgis, dan komprehensif,” jelas Cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini.

Kiai Ma’ruf berkisah tentang tukang perahu dan seorang Perdana Menteri yang diuji seorang Raja. Raja tersebut meminta tukang perahu untuk naik ke darat dan melihat apa yang ada di darat. Tukang perahu itu melaporkan kepada Raja bahwa di darat ada kucing beranak 5 dengan berbagai macam warna.

Kemudian sang Raja bertanya kepada tukang perahu, ada berapa kucing dan warnanya apa saja. Untuk menjawab Raja, tukang perahu tersebut naik lagi ke darat berkali-kali. Lalu sang Raja memerintahkan perdana menteri untuk melihat apa yang dilihat tukang perahu. Perdana menteri begitu cakap dan hanya sekali untuk menjawab pertanyaan Raja yang persis sama seperti ditujukan kepada tukang perahu.

“Itulah sedikit gambaran tantang perbedaan sarjana dan orang biasa. Seorang sarjana cukup hanya sekali melihat tetapi mampu menjelaskan secara komprehensif atau menyeluruh,” terang Kiai Ma’ruf.

Dia juga berharap kepada para lulusan STAINU Jakarta untuk berupaya menjadi tokoh perubahan ke arah yang lebih baik untuk umat dan masyarakat. Karena menurutnya, saat ini masyarakat sangat membutuhkan orang-orang yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. 

“Masyarakat kita membutuhkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik secara terus-menerus sehingga mewujudkan kemajuan bangsa dan negara,” tuturnya.

Hadir dalam wisuda STAINU Jakarta ini antara lain, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta H Mastuki HS, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Ketua PP LP Ma’arif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta. (Fathoni) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG