IMG-LOGO
Taushiyah

Seruan Moral PBNU atas Kasus Penipuan Penggandaan Uang

Sabtu 1 Oktober 2016 8:33 WIB
Bagikan:
Seruan Moral PBNU atas Kasus Penipuan Penggandaan Uang
Bangsa Indonesia hari ini menghadapi masalah yang sangat serius yang meliputi krisis global dan juga terorisme. Untuk menghadapi dua keadaan itu, kita perlu semakin mengokohkan dan menguatkan sendi-sendi kehidupan kita dengan cara memupuk pemahaman dalam beragama secara benar dan sekaligus dengan cara mengambil peran-peran yang baik sebagai warga negara.

Hal tersebut dilakukan agar kita dapat mengantisipasi pelbagai macam perkembangan yang terjadi di lingkungan kita. Keadaan ekonomi yang serba sulit, jika tidak dilandasi pemahaman agama yang benar, maka masyarakat akan mudah terombang-ambing untuk turut dalam aktivitas yang pada akhirnya justru merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan sesama.

Menyikapi peristiwa yang berkembang di Probolinggo yang menyangkut Padepokan Kanjeng Dimas dan Yayasan Taat Pribadi yang melakukan pelbagai macam kegiatan yang berujung kepada banyaknya korban penipuan dengan modus investasi dengan penggandaan uang menggunakan baju dan simbol-simbol agama — yang berdasarkan laporan yang diterima, modus seperti ini juga marak terjadi di tempat-tempat lain—dengan ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Allah Swt memberikan kemulian-kemulian kepada makhluknya melalui beberapa keistemewaan, sebagaimana Allah m eberikan mukjizat kepada nabi, karomah pada para aulia, dan memberikan maunah kepada manusia-manusia lainnya. Semua itu merupakan kelebihan dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya dengan tujuan untuk kebaikan dan menolong sesama. Dalam kita Jamiu Karamatil Aulia, Syaikh Yusuf Yusuf An-Nabhani mengatakan bahwa jika kelebihan itu digunakan tidak untuk kebaikan maka hal tersebut dinamakan sihir. Dalam konteks ini, jika ada pihak memiliki kelebihan dan menggunakannya untuk pelbagai macam kegiat an yang tidak dibenarkan agama, maka PBNU tegas mengatakan bahwa hal seperti ini tidak dibenarkan.

2. Islam mengajarkan manusia untuk ikhtiar dan berusaha. Al-Qur ’an mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka bernisiatif untuk mengubah dirinya sendiri (Q.S: Ar-Ra’du: 11) ”

Marilah berpikir secara realistis bahwa pada hakikatnya rezeki yang min haitsu la yahtasib adalah merupakan keberkahan yang diakibatkan oleh usaha kita, tidak kemudian bermalas-malasan dan berpangku tangan hanya menghendaki rezeki yang akan datang tiba-tiba. Marilah kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ikhtiar kita sebagimana dikatakan sebuah diktum:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

“Siapa yang bersunguuh-sungguh, maka pasti ia akan berhasil”

3. Mendesak kepada pemerintah untuk mempertimbangkan sekaligus memberikan bantuan dalam bentuk upaya-upaya menyelamatkan masyarakat yang mejadi korban. Uang investasi harus dikembalikan kepada mereka yang berhak.

4. Meminta kepada aparat kepolisian serta pihak keamanan terkait untuk mengusut secara cepat dan tuntas akar masalah dan persoalan yang terjadi mengingat kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Kesigapan aparat sangat dibutuhkan untuk menjamin rasa aman kepada masyarakat.

5. Mengimbau kepada masyarakat yang sudah terlibat dalam kegiatan semacam itu untuk segera menarik diri dan kembali menjadi manusia-manusia yang memiliki harapan dan masa depan dengan mangawalinya melalui kegiatan yang pasti, realistis, dan terukur sesuai dengan kaidah agama.

Jakarta, 30 September 2016

والله الموفق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Yang bertanda tangan:

KH Ma'ruf Amin (Rais 'Aam PBNU)
KH Yahya Cholil Staquf (Katib 'Aam PBNU)
KH Said Aqil Siroj (Ketum PBNU)
H Hemy Faishal Zaini (Sekjen PBNU)

Bagikan:
Rabu 17 Agustus 2016 15:47 WIB
Pesan Kemerdekaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Pesan Kemerdekaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Bismillahirrahmanirrahim,
Bangsa Indonesia akan menapaki usia 71 tahun sejek diproklamirkan kemerdekaannya tahun 1945. 17 Agustus dipilih oleh founding fathers bukan tanpa pertimbangan, mereka ingin membangun Indonesia dengan 17 Rakaat sesuai dengan bilangan Shalat sehari semalam.

Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari mengatakan “Nasionalisme dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan dan keduanya saling menguatkan”. Bung Karno suatu ketika juga mengatakan “Nasionalisme yang sejati, nasionalismenya itu bukan copie atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi nasionalisme timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan”.

Memasuki usia 71 tahun kemerdekaan Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mencatat beberapa catatan reflektif kaiatannya dengan kondisi kebangsaan terkini:

Hari kemrdekaan ini hendaknya harus kita jadikan momentum untuk memperbaiki segala aspek kebangsaan dan ketertinggalan kemajuan dari segi apapun terutama pada aspek kemandiran sebagai sebuah bangsa dan negara.

Perkuat sektor kelautan dan pertanian 

Sebagai negara maritim yang luas dua pertiga wilayahnya berupa lautan sudah menjadi sebuah keharusan untuk lebih meningkakan pendapatan sektor kelautuan. Pembangunan berbasis laut juga harus menjadi landasan pemerintah dalam mengambil setiap keebijakannya. 

Sebagai negara agraris, Pada 2016 target produksi padi di seluruh Indonesia sebanyak 80,29 juta ton. Angka ini naik dari produksi tahun lalu yang mencapai 75,36 juta ton. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 merilis data produksi beras Indonesia mencapai 73,17 juta ton. 

Perlu diingat bahwa produksi beras di Indonesia paling banyak dipengaruhi  cuaca. Jika kondisi cuaca tidak stabil sebagaimana yang terjadi saat ini, maka produksi beras akan menurun. Pemerintah harus mulai mengkaji diversifikasi pangan.

Dalam sektor ekonomi peringkat kemudahan berusaha di Indonesia masih tertinggal di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Dalam rilis hasil survei Ease of Doing Business (EoDB), Bank Dunia menempatkan Indonesia di posisi 109 dari 189 negara. Posisi Indonesia kalah telak dibandingkan Singapura yang menduduki peringkat satu, Malaysia 18, Thailand 49, Vietnam 90, dan Filipina 103.

Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin merana

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2016 lalu merilis angka kemiskinan Indonesia penurunan pada September 2015. Pada September 2015 angka kemiskinan sebanyak 28,51 Juta jiwa turun pada Maret 2016 menjadi 28,01 juta jiwa.

Meskipun angka kemiskinan mengalami tren menurun, namun perlu dicatata bahwa kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin semakin tinggi. Indeks kedalaman kemiskinan meningkat dari 1,84 pada semptember 2015 menjadi 1,94 pada Maret 2016. Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin merana.

Pada Desember 2015, World Bank melaporkan bahwa 1% orang terkaya Indonesia menguasai sekitar 50,4% aset dan 10% orang terkaya Indonesia menguasai 70,3% total kekayaan di Indonesia. Artinya, pembangunan belum merata dan belum menyentuh rakyat miskin dan kaum papa.

Revitalisasi nasionalisme

Momentum 71 tahun kemerdekaan ini kita dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan. Peristiwa penujukan seorang menteri berkewarganegaraan asing sangat menggangu stabilitas politik dan semangat nasionalisme. Berpindah kewargangeraan adalah ujung akhir dari kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Olah karenanya, sebagai wujud serta ejawantah dari semangat nasionalisme dan loyalitas kepada Negara, setiap pejabat negara harus berkewarganegaraan Indonesia. Semangat nasionalisme itulah yang dari dahulu dibangun oleh founding fathers NKRI seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. M Hasyim Asyari, dan A. Wahid Hasyim.
Dalam konteks global, sudah saatnya umat Islam Indonesia memberikan contoh kepada dunia bahwa Islam di Indonesia tidak mempertentangkan antara agama dan nasionalisme. Indonesia patut dijadikan sebagai kiblat beragama atau teladan dalam kehidupan beragama dan bernegara. Oleh karena itu nasionalisme harus tetap kita jaga “Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh. Barang siapa tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah.

Alakulli hal, jika kehilangan emas, kita bisa membelinya lagi di pasar. Jika kita kehilangan harta benda, tahun depan kita bisa mencari dan mendapatkannya lagi. Tapi jika kehilangan tanah air, akan kemana kita hendak mencari?

Jakarta, 17 Agustus 2016

والله الموفّق إلى أقوم الطّريق
والسّــــــــــــلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ketua Umum PBNU,

Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Sekretaris Jenderal PBNU,

Dr Ir HA. Helmy Faishal Zaini

(Fathoni)

Selasa 5 Juli 2016 7:32 WIB
Tausiyah Idul Fitri
Tausiyah Idul Fitri
السَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Alhamdulillah, kita telah bersama-sama diberi kesempatan untuk masih bisa merayakan hari raya Idul Fitri tahun 1437 H atau 2016 M. Mari bersama-sama menjadikan momentum hari raya ini sebagai tonggak untuk merefleksikan diri, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari satuan kecil yang hidup berdampingan di negeri Republik Indonesia ini.

Pada separuh perjalanan tahun 2016 ini, banyak peristiwa dan banyak pengalaman yang sudah kita lewati bersama. Semua harus bisa kita jadikan pelajaran untuk menapaki hari esok yang lebih baik.

Hari raya Idul Fitri 1437 H adalah momen tepat untuk tetap terus menjaga keutuhan keluarga dalam konteks kecil maupun besar. Keluarga kecil adalah keluarga sanak-famili kita, anak cucu kita. Sementara keluarga besar adalah keluarga yang cakupan dan spektrumnya lebih meliputi bangsa dan negara atau bahkan umat manusia.

Keutuhan keluarga adalah hal yang utama yang harus kita jaga. Menghindari pertikaian antarsesama adalah faktor utama penjaga keseimbangan peradaban. Di dalam keluarga yang utuh, rukun dan guyub, Insyaallah tercurah rezeki yang berlimpah dan penuh berkah.

Terkait dengan peristiwa teror bom baik di dalam maupun luar negeri seperti yang kemarin di Turki ataupun bom bunuh diri dekat Starbucks Sarinah, Jakarta awal tahun 2016, kami sangat kecewa berat dan menyayangkan terjadinya peristiwa sebagaimana yang kita alami bersama yang menyangkut terciderainya rasa kemanusiaan dan kesatuan yang kokoh di era globalisasi. Bangsa Indonesia, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun partai politiknya, apapun alirannya harus bersatu memasuki era globalisasi ini.

Toleransi adalah salah satu kata kunci untuk membangun bangsa Indonesia saat ini. Dalam ajaran agama Islam yang kita kenal sebagai Maqoshidus Syari’ah salah satu diantaranya adalah hifdzun-nafsi (memelihara jiwa). Perbedaan adalah fitrah, maka toleransi mutlak diperlukan adanya. Toleransi berarti bukan sekedar tersedianya ruang dialog dalam diri seseorang untuk mencoba membicarakan perbedaan-perbedaan, namun lebih dari itu toleransi adalah sikap respect terhadap hal-hal yang berseberangan dengan diri kita.

Sebagai umat Islam, kami sangat percaya bahwa keadaan bagaimanapun saja: bahagia ataupun menderita, miskin atau kaya, sukar atau mudah, rumit atau sederhana, jika Allah yang benar-benar menghendakinya, dan kita bisa menerimanya dengan ikhlas dalam takwa dan tawakkal, sesungguhnya hal tersebut tidak akan membuahkan apapun kecuali berkah, hikmah, rezeki, dan juga hidayah.

Mari selalu menjaga rasa syukur kita yang masih diberi kenikmatan bertemu dengan rasa damai di hari penuh kemenangan ini. Mari tetap menjaga keutuhan, persatuan, dan juga kesatuan dalam bingkai hidup rukun berbangsa dan bernegara.

Sehubungan dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan dan masuknya bulan Syawal 1437 H, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1437 H, Ja'alanallahu minal 'aidin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum, dan menyampaikan pesan Idul Fitri 1437 H sebagai berikut:

1. PBNU menyerukan kepada seluruh masyarakat, termasuk penyelenggara negara untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum silaturrahmi nasional dan perbaikan akhlak bangsa agar pembangunan bangsa selalu diberi keberkahan oleh Allah SWT. Idul Fitri sebagai momentum untuk peneguhan komitmen khidmah pengabdian kepada bangsa dan negara mengatasi kepentingan pribadi dan golongan.

2. PBNU menyerukan kepada segenap umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid, dan tahlil di seantero Nusantara, dengan tetap menjaga ketertiban, kekhidmadan dan kekhusyu'an. 

3. PBNU menginstruksikan kepada segenap umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama yang memiliki kelebihan bahan makan pokok di malam Idul Fitri untuk menunaikan ibadah zakat fitrah dan disalurkan secara baik agar di hari raya Idul Fitri, tidak ada satupun orang yang kelaparan dan meminta-minta untuk sekedar makan. Para amil zakat diminta secara aktif mendistribusikan zakat fitrah dan proaktif memastikan tidak ada seorang pun yang kelaparan di hari raya. Zakat fitrah harus sudah terdistribusikan kepada yang berhak sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri.

4. PBNU menyerukan kepada seluruh umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri 1437 H dengan khusyu, khidmat, dan semarak. Untuk itu seluruh pihak diminta berpartisipasi menjamin keamanan, kenyamanan, dan pemastian terselenggaranya ibadah di Idul Fitri ini, khususnya di daerah-daerah yang rawan keamanan. Para khatib hendaknya menyampaikan materi khutbah yang menekankan persatuan umat dan bangsa, jauh dari caci maki dan kebencian, serta dorongan untuk kesediaan berbagi serta pentingnya membangun kebersamaan dan solidaritas sosial.

5. PBNU menyerukan seluruh umat Islam yang melakukan mudik dan balik untuk silaturrahim perlu menjaga ketertiban di jalan raya, dan senantiasa tetap menjaga ibadah, memperhatikan konsumsi pangan halal, serta mewujudkan silaturrahim dan mempererat persaudaraan, dengan tetap menjaga gaya hidup sederhana, meneguhkan solidaritas sosial serta saling berbagi, tidak pamer kekayaan yang justru menyebabkan kecemburuan sosial.

Demikian dan kami ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf atas segala kekhilafan, kesalahan, dan kekeliruan lahir dan bathin.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ
وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sabtu 4 Juni 2016 1:21 WIB
Komitmen Seorang Muslim di Bulan Ramadhan
Komitmen Seorang Muslim di Bulan Ramadhan
ilustrasi: tinoberita
Tanpa disadari, kita sudah berada dipenghujung bulan Sya'ban (bulan kedelapan dalam hitungan Hijriyah). Ini berarti dalam beberapa hari kedepan kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah, melimpah rahmat dan penuh ampunan. Allah Swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang paling mulia dan istimewa. Karenanya, umat Islam sangat bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Mereka menyambutnya dengan penuh keimanan karena berpuasa Ramadhan suatu kewajiban dan termasuk rukun Islam yang ke-4. Allah berfirman:
 
ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون. 

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

Umat Islam juga menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang peningkatan iman dan taqwa kepada Allah Swt dengan berbagai macam ibadah untuk meraih keutamaan-keutamaan di bulan tersebut. Tidak seyogyanya bagi setiap muslim melewati kesempatan ini untuk menambah aset kebaikan untuk diri kita masing-masing dengan menunaikan sholat tarawih, bershodaqah, berdzikir dan memperbanyak baca Al-Qur'an karena di bulan ini diturunkannya Al-Qur'an, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:
 
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان.

Al-Qur'an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Maka tiada musibah yang lebih besar dari perginya bulan Ramadhan. Jika langit dan bumi saja menangis untuk umat Nabi Muhammad, maka lebih-lebih kita harus menangis dan menyesal karena terputusnya segala karunia dan kemuliaan serta kebajikan-kebajikan yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Seorang yang bijaksana harus mengetahui kebesaran dan kemuliaan bulan Ramadhan sambil menjaga dan membersihkan diri, karena tidak ada jaminan apakah kita akan berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang atau tidak, dan kita harus mewaspadai dari sifat-sifat yang akan mengurangi kualitas ibadah puasa kita yang mengakibatkan kurangnya pahala atau sirna sama sekali. Karenanya, jahuilah ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa kita, bahkan menurut sebagian ulama dapat membatalkan puasa. 

Kita perlu mengoptimalkan semangat ibadah dalam Ramadhan ini, tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya' dan ujub. Misalnya menulis di media sosial terkait ibadah yang kita jalani. Meskipun hal tersebut tidak dilarang (haram), tetapi menutup pintu riya' dan ujub jauh lebih baik. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua mendapatkan ampunan-Nya di bulan yang mulia ini. 

Guslik An-Namiri
Rais Syuriyah MWCINU Riyadh dan Ketua Forum Silaturrahim WNI Riyad)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG