IMG-LOGO
Nasional

Asal Kata Sembahyang dan Ngaji

Ahad 2 Oktober 2016 0:1 WIB
Bagikan:
Asal Kata Sembahyang dan Ngaji

Sidoarjo, NU Online
Ikatan Silaturahim Madrasah Diniyah (Islamadina) Sidoarjo bekerja sama dengan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) menggelar “Ngaji Budaya” di halaman Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji, Buduran. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Wakil Katib PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen.

KH Agus Sunyoto pada kesempatan itu memaparkan tentang madrasah diniyah, pendidikan pesantren dan sejarah intelektual Islam Nusantara. Menurutnya, sejarah masuknya Islam ke Indonesia tidak luput dari perjuangan Wali Songo. Pada masa itu, mereka mengajarkan kepada masyarakat tentang beribadah. Pada saat itu istilah ibadah disebut sembahyang dari kata “sembah” dan “hyang”.

"Awal mulanya Wali Songo mengajarkan ibadah dan sebutannya bukan shalat, melainkan sembahyang. Modal awal yang dibawa oleh Wali Songo untuk mensyiarkan Islam yakni melalui budaya, ibadah melalui budaya," papar Kiai Agus Sunyoto, Sabtu (1/10).

Ia menambahkan ngaji itu berasal dari bahasa Jawa, dan disebut juga dengan budaya. Bahkan di Arab tidak ada istilah tersebut. Ngaji budaya kali ini, untuk kembali menguatkan budaya, yang dahulu merupakan modal awal dalam syiar ibadah di Indonesia.

Wakil Khatib PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen menyampaikan tentang peranan pesantren dan madrasah diniyah di era kekinian antara tantangan dan harapan. Kiai Ghofur mengaku bahwa pendidikan di pesantren itu sangat penting. Pasalnya, banyak orang-orang hebat dan penting berasal dari pesantren.

"Banyak orang-orang penting di Indonesia justru berawal dari pesantren. Contohnya, KH Wachid Hasyim yang dari pesantern pernah menjadi Menteri Agama RI dan masih banyak Kiai lainnya," jelasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)



Bagikan:
Ahad 2 Oktober 2016 23:2 WIB
Pembangunan Masjid dan Gedung Muslimat NU Sleman Dimulai
Pembangunan Masjid dan Gedung Muslimat NU Sleman Dimulai
Yoyakarta, NU Online
Sejumlah pengurus NU Sleman melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid, kantor dan raudlatul athfal (RA) Muslimat NU Kabupaten Sleman, Ahad (2/10). Pembangunan gedung ini diperkirakan akan memakan waktu 1 hingga 2 tahun.

Peletakan batu pertama ini dilakukan oleh Camat Mlati Drs Suyudi, Rais Syuriyah PCNU Sleman KH Masud Masduki, Ketua PCNU KH Ismail, dan Ketua Muslimat NU Sleman Dra Hj Dwi Nurhayatinah, dan perwakilan PW Muslimat NU DIY.

Tampak hadir anggota Muslimat NU se-Kabupaten Sleman, perwakilan PCNU, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, dan tokoh masyarakat setempat.

"Dengan adanya masjid dan kantor ini akan menjadi pusat kegiatan Muslimat di Kabupaten Sleman," ujar Sekretaris panitia pembangunan Arina Fauziah di sela-sela acara.

Arina menjelaskan, selama ini kegiatan Muslimat NU Kabupaten Sleman masih menjadi satu di PCNU Sleman yang berlokasi di Pangukan, Tridadi, Sleman. Selain untuk kantor, di lokasi ini juga akan dibangun gedung RA Muslimat NU Sleman. "Nanti setiap hari juga akan digunakan untuk ruang kelas RA," kata Arina.

KH Masud Masduki menyatakan gembira dengan mulainya pembangunan masjid dan kantor Muslimat ini. Bangunan yang akan berdiri diharapkan bisa digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan ibadah dan perjuangan syiar Islam. "Karena itu tujuan dari wakif (yang memberikan wakaf) mewakafkan tanah ini," harapnya.

Drs Suyudi juga berharap pembangunan masjid dan gedung juga harus segera dilakukan agar bisa segera digunakan. "Pada prinsipnya kami siap memberikan bantuan sepenuhnya," ujarnya.

Gedung Muslimat NU dibangun di atas tanah dengan total luas sekitar 550 meter. Tanah ini merupakan wakaf dari keluarga almarhum RH Zamroni beserta ahli warisnya. Di kompleks ini akan dibangun masjid, kantor Muslimat NU, dan RA Muslimat. (Sam/Alhafiz K)

Ahad 2 Oktober 2016 20:8 WIB
Bantu Korban Garut, NU Care-Lazisnu Luncurkan Sedekah Sejuta Pohon
Bantu Korban Garut, NU Care-Lazisnu Luncurkan Sedekah Sejuta Pohon
Garut, NU Online
Korban di Garut dan Sumedang tidak hanya membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar. Mereka juga memerlukan penyelesaian sistematis atas penyebab bencana tersebut. Karenanya, NU Care meresmikan program Sedekah Sejuta Pohon untuk Garut dan Sumedang, sebagai program konkret untuk menyelamatkan lingkungan.

“Kita tidak boleh berhenti hanya fokus pada penyelesaian atas akibat yang ditimbulkannya. Itu baik. Namun, yang tak kalah penting adalah fokus menyelesaikan penyebabnya, yaitu penyebab perusakan lingkungan besar-besaran di Garut, salah satunya penebangan pohon-pohon Gunung Papandayan. Maka itu, di hari ini kita lakukan penghijauan atau reboisasi untuk menyelamatkan jutaaan masyarakat dan anak-cucu kita di hari depan,” ujar Direktur Utama NU Care-PP LAZISNU Syamsul Huda.

Dalam kesempatan itu, NU Care menggandeng Dik Doank selaku aktivis lingkungan untuk mengajak masyarakat agar menjaga-mencintai lingkungan. Pada program ini, hadir pula Kelompok Pecinta Alam “Alam Jabar”, relawan PKH Kemensos Kabupaten Banyumas, Komunitas Fans Club Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, jajaran Muspika Kecamatan Pasirwangi, Relawan NU Care Tangerang Selatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tampak hadir Wakil Ketua NU Care Abdullah Mas‘ud, Direktur Fundraising Nur Rohman, dan Direktur Penyaluran Slamet Tuharie.

“Mulai hari ini, kita akan buka donasi ‘Sedekah Sejuta Pohon’ untuk Garut dan Sumedang. Dan bagi yang sudah berdonasi dan menyukseskan acara peluncuran hari ini, saya harap menjadi permulaan untuk bekerja sama dengan NU Care dalam program-program selanjutnya,” pungkas Syamsul Huda.

Pascabencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Garut pada 20 September kemarin, NU Care-Lazisnu terus berupaya untuk membantu para korban melalui berbagai bantuan baik berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan anak-anak, perlengkapan masjid, juga bantuan berupa uang tunai.

Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian NU Care di seluruh Indonesia, hingga NU Care Cabang Korea Selatan dan Cabang Taiwan bersama-sama meringankan beban korban di Garut dan Sumedang.

Syamsul juga memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh Cabang NU Care yang ada di Indonesia, Korea Selatan dan Taiwan yang telah bersama-sama dan bahu membahu membantu meringankan beban saudara-saudara di Garut dan Sumedang. (Red Alhafiz K)

Ahad 2 Oktober 2016 17:0 WIB
Prof Quraish Shihab: Al-Qur’an Sejajarkan Agama dengan Tanah Air
Prof Quraish Shihab: Al-Qur’an Sejajarkan Agama dengan Tanah Air
Prof KH Quraish Shihab (foto: kemenag.go.id)
Jakarta, NU Online
Ulama pakar tafsir Al-Qur’an Prof KH Quraish Shihab berpendapat, sejarah hijrah Rasulullah mengandung pelajaran tentang cinta tanah air. Pesan tersebut antara lain terlihat dari kisah umat Islam di Madinah yang mengungkapkan kekahawatiran bahwa Nabi Muhammad ketika meraih kemenangan kelak akan kembali ke tanah kelahirannya, Makkah.

Kecemasan penduduk Madinah sebagai pihak yang mengundang Nabi ini menandakan bahwa Rasulullah memang dikenal sebagai pribadi yang cinta tanah air. Atas permintaan untuk menetap di Madinah, Nabi menyanggupi. Namun, katanya, komitmenya untuk tinggal di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib itu tak membuatnya melupakan tanah air Makkah.

“Tidak melupakan anggota masyarakatnya di Makkah, sampai-sampai (saat kembali ke tanah airnya pada peristiwa Fathul Makkah, red) yang pernah melakukan keburukan kepada Nabi pun beliau maafkan. Beliau berkata, ‘Pergilah kalian, semua bebas, kalian adalah saudara-saudara kami’,” jelas Quraish pada acara Talkshow Tafsir al-Mishbah bertema “Makna Hijrah” yang disiarkan Metro TV, Ahad (2/10).

Penulis Tafsir al-Mishbah ini juga menguraikan tentang cinta tanah air yang disingung Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an sebagaimana tercermin dalam Surat Surat Al-Mumtahanah Ayat 8 menyejajarkan antara agama dan tanah air.

Terjemahan ayat yang dimaksud berbunyi, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari tanah airmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi Menteri Agama RI ini juga berpesan, walaupun seseorang berada di luar negeri, perjuangan tetap harus untuk tanah air.

 “Semakin cinta Anda kepada tanah air maka itu salah satu aspek dari tandanya keimanan. Itu sebabnya dikatakan hubbul wathan minal iman. Itu yang diajarkan Nabi,” tuturnya. (Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG