IMG-LOGO
Nasional

Para Mursyid Tarekat Syattariyah Agendakan Pertemuan Nasional

Rabu 5 Oktober 2016 15:0 WIB
Para Mursyid Tarekat Syattariyah Agendakan Pertemuan Nasional
Madiun, NU Online
Para mursyid tarekat Syattariyah se-Indonesia dijadwalkan akan berkumpul di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejomulyo Barat, Magetan, Jawa Timur, pada 28-30 Oktober 2016. Rencananya, acara bertajuk “Pesamuan Agung Mursyid Syattariyah Nusantara” ini bakal dihadiri sejumlah tokoh nasional maupun mancanegara.

“Insyaallah, kegiatan tersebut akan diikuti 125 mursyid tarekat Syattariyah se-Nusantara, dan Kasultanan Cirebon, serta undangan dari ulama Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia,” kata Didik Karyanto, wakil ketua panitia, via sambungan telepon, Selasa (4/10).

Forum yang mengusung tema “Peranan Syattariyah dan Tantanganya dalam Sejarah Menuju Kejayaan Masa Depan Umat, Negara dan Bangsa” tersebut juga mengundang Rais Aam Idarah Aliyah Jatman (asosiasi tarekat NU) Habib Luthfi Bin Yahya, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nachrowi, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Pada September kemarin, panitia sudah melakukan rapat persiapan di lokasi acara, Pondok Pesantren Darl Ulum Rejomulyo Barat. Acara ini digelar antara lain berangkat dari keprihatinan para mursyid tarekat atas merosotnya mental bangsa yang ditandai dengan kian maraknya ekstremisme.

KH Muhammad Nurwaji dari Grobogan dalam rapat itu berpendapat, berbagai kasus dekadensi moral, perpecahan umat serta kedangkalan dalam pemahaman agama juga semakin tumbuh subur saja di negeri yang mayoritas Muslim ini.

Beragam usaha, katanya, juga telah dilakukan oleh berbagai pihak baik dengan pendekatan politik, hukum maupun ekonomi. Nyatanya, bangsa Indonesia khususnya umat Islam sebagai kelompok mayoritas masih saja terjebak kepada kepentingan-kepentingan sesaat. Sehingga perlu upaya lain, yakni dengan pendekatan spiritual atau kehidupan sufistik. (Ali Makhrus/Mahbib)

Rabu 5 Oktober 2016 23:0 WIB
Mewarisi Semangat Pahlawan Santri
Mewarisi Semangat Pahlawan Santri
Malang, NU Online
Selama ini perjuangan para kiai-santri tidak mendapat ruang dalam narasi sejarah kebangsaan. Buku-buku sejarah yang ditulis oleh akademisi, tidak memihak pada sejarah pergerakan komunitas santri. Itulah yang mengilhami Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menulis buku tentang kisah-kisah perjuangan para pahlawan dari pesantren.

Narasi ini tercermin dalam bedah buku Pahlawan Santri yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Rabu (5/10) di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Bedah buku ini menghadirkan Munawir Aziz (periset dan penulis buku) dan Joko Saryono (Guru Besar Universitas Negeri Malang).

Munawir Aziz mengungkapkan bahwa sudah saatnya sejarah pesantren mendapat ruang dalam narasi sejarah di negeri ini. "Momentum penetapan Hari Santri, pada 22 Oktober 2016 lalu menjadi refleksi yang tepat untuk menjelaskan posisi santri dalam perjuangan kebangsaan," ungkap Munawir. Penulis buku ini, menjelaskan bahwa menulis sejarah santri, berarti mengokohkan identitas, menguatkan mental dan konstruksi komunitas.

"22 Oktober 1945 merupakan titik sejarah Resolusi Jihad, yang digelorakan Kiai Hasyim Asy'ari. Resolusi Jihad inilah yang menggerakkan perjuangan arek-arek Jawa Timur, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan," terang Munawir, yang telah beberapa buku bertema Islam Nusantara.

Pada sisi lain, Munawir mengungkapkan  bahwa sosok-sosok kiai yang menjadi simpul perjuangan kemerdekaan, layak disebut sebagai pahlawan. "Banyak sekali kiai yang layak disebut sebagai pahlawan bangsa. Mereka menjadi simpul perjuangan kebangsaan dari Aceh, hingga kawasan Indonesia timur.

Prof Joko Saryono menambahkan bahwa status pahlawan yang dibutuhkan adalah legitimasi. "Memang secara formal administratif, ada beberapa hal yang menjadi syarat tokoh layak dianugrahi gelar pahlawan. Namun, bagi saya, yang paling penting adalah legitimasi bagi para tokoh sebagai pahlawan bagi masyarakatnya. Apa artinya gelar tanpa legitimasi," jelas Joko Saryono.

Lebih lanjut, Saryono mengungkapkan bahwa narasi dalam buku Pahlawan Santri, menjelaskan tentang suara-suara kaum santri, dalam konsep the others atau liyan. "Penting untuk menyuarakan aspirasi komunitas santri, dalam lingkup sebagai the Others/Liyan. Senada dengan gagasan pasca kolonial yang dikembangkan Spivak," ungkap Saryono.

Bedah buku Pahlawan Santri merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren dalam rangka Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016. (Muiz/Fathoni)

Rabu 5 Oktober 2016 22:0 WIB
LSN 2016
LSN 2016 Masuki Putaran Final 32 Besar Nasional
LSN 2016 Masuki Putaran Final 32 Besar Nasional
Jakarta, NU Online
Liga Santri Nusantara yang melibatkan sekitar 1.024 pesantren seluruh nusantara ini, akan memasuki seri 32 besar nasional atau putaran final yang rencana akan dilaksanakan pada 21-30 Oktober 2016 di Yogyakarta.

Seperti yang disampaikan Mukafi Makki Direktur Pelaksana LSN, 32 pesantren yang juara  mewakili  masing-masing regional akan bertanding di seri 32 nasional yang dibagi menjadi 8 grup, per grup terdiri dari 4 tim, dengan sistem semi kompetisi.

Sedangkan juara grup dan runner up akan melaju ke babak 16 besar dengan sistem gugur, hingga nanti masuk pada babak final yang akan berlangsung di Stadion Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta.

Perhelatan seri nasional ini akan dilaksanakan di enam lapangan anatara lain; Stadion Maguwoharjo, Tridadi, Sultan Agung, Baturetno, Dwi Windu, dan dua lapangan AURI Yogyakarta.

Mukafi menambahkan, penutupan LSN akan dilakukan setelah final yang rencananya akan dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj. "Insyaallah Liga Nusantara akan ditutup langsung oleh Presiden Joko Widodo,” ucapnya.

Menurut KH Abdul Ghaffar Rozin Ketua Pelaksana LSN yang sekaligus Ketua RMI Pusat, semangat besar yang mendorong lahirnya Liga Santri Nusantara, diharapkan mampu mengangkat prestasi santri pada bidang olahraga.

"Dengan potensi pesantren yang berjumlah 27 ribu seluruh Indonesia dan 3,6 juta santri, jika digali pasti akan ditemukan ribuan santri yang memiliki potensi dalam bidang olahraga,” ungkapnya.

Begitupun yang diungkapkan oleh Menpora Imam Nahrawi bahwa LSN merupakan salah satu bukti kehadiran negara atau pemerintah pada setiap komponen masyarakat, serta memastikan bahwa setiap anak bangsa begitupun santri melihat dan menjadikan olaharaga sebagai sesuatu yang penting dalam membentuk karakter, watak, dan mental anak bangsa.

Di samping itu menurut Menpora gelaran LSN seri nasional juga untuk menyambut Hari Santri Nasional yang telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober, yang merupakan peristiwa terjadinya Resolusi Jihad.

Bagi juara I LSN 2016 akan mendapat uang pembinaan sebesar Rp150 juta, juara II Rp100 juta, juara III Rp75 juta, dan Rp50 juta untuk juara IV. Di samping itu, tim fair play akan diberikan hadiah uang Rp30 juta, pemain terbaik Rp10 juta, dan Rp10 juta bagi top skor. (Red: Fathoni)

Rabu 5 Oktober 2016 21:3 WIB
HARI SANTRI 2016
Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas
Perguruan Tinggi NU Akan Lepas 22 Balon dan Merpati di Monas
Jakarta, NU Online 
Lembaga Perguruan Tinggi PBNU akan melepaskan 22 balon dan 22 burung merpati area Monumen Nasional (monas) pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang.

Menurut Sekretaris LPT PBNU Lukmanul Hakim, pelepasan merpati dan balon adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan bangsa Indonesia. Salah satu elemen yang turut berjuang adalah kalangan santri.

“Salah satu simbol perjuangan kalangan santri adalah ketika mengeluarkan Resolusi Jihad NU yang ditetapkan Presiden sebagai Hari Santri pada tanggal 22 Oktober,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, (4/10) selepas rapat persiapan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bulan depan. 

Jumlah 22 balon dan merpati, lanjutnya, simbol dari tanggal ditetapkannya Hari Santri pada 2015 lalu. 

LPTNU kata dia, meminta seluruh perguruan tinggi NU untuk memperingati Hari Santri. Tak hanya itu, Hari Santri harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat di bidang intelektual dan spiritual. 

Menurut dia, peserta pelepasan merpati dan balon di Monas akan diikuti mahasiswa dan santri dari perwakilan pendidikan tinggi NU di Jakarta dan sekitarnya. 

“Pelepasan balon dan merpati akan dilakukan sambil membaca Shalawat Nariyah untuk mendoakan agar bangsa kita bersatu, aman lepas dari segala bencana. Dan berharap seluruh bangsa Indonesia mengedepankan akal sehat. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG