IMG-LOGO
Nasional

Ahok Minta Maaf Kepada Umat Islam

Senin 10 Oktober 2016 11:14 WIB
Bagikan:
Ahok Minta Maaf Kepada Umat Islam
ilustrasi (ist)
Jakarta, NU Online
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang akan mengikuti pemilihan kepala daerah tahun depan, meminta maaf kepada umat Islam soal perkataannya yang menyebut Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 51 di hadapan warga Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Ahok mengakui ucapannya menimbulkan kegaduhan dan menyinggung perasaan umat Islam. 

"Yang pasti, saya sampaikan kepada umat Islam atau orang yang tersinggung, saya mohon maaf," kata Basuki di Balai Kota DKI Jakarta, Senin. 

Ahok menegaskan dia tidak bermaksud menyinggung perasaan umat Islam apalagi sampai menistakan agama. 

"Tidak ada maksud saya melecehkan Al-Qur’an. Kalian bisa lihat suasananya seperti apa," katanya.  

"Saya bukan anti-Islam. Saya sejak kecil, bisa dilihat --bukan untuk riya-- sekolah Islam kami bantu izin, sudah berapa kita bantu izin. Untuk madrasah, juga bantuan masjid. Bisa dilihat tindak-tanduk saya, apakah musuhin Islam atau melecehkan Al-Qur’an," katanya.

Ahok menjelaskan bahwa ia menyebutkan Surat Al Maidah ayat 51 dengan harapan tidak ada warga yang salah menafsirkan. 

"Orang Pulau Seribu pun tidak ada satu pun yang tersinggung, kami tertawa-tawa kok. Niatnya waktu itu hanya ingin menunjukkan, sebetulnya saya enggak mau orang yang punya tafsiran seperti itu bingung," katanya. 

Namun dia akhirnya menyadari bahwa agama adalah urusan pribadi yang tidak boleh dibicarakan di hadapan publik secara luas. 

"Makanya saya mengerti sekali. Ini memang urusan pribadi, tafsiran pribadi, semua orang punya hak yang sama. Urusan agama adalah pribadi jangan dikeluarkan di publik," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)
Tags:
Bagikan:
Senin 10 Oktober 2016 21:3 WIB
HARI SANTRI 2016
Ra Kholil Asad Situbondo Dukung Satu Milyar Sholawat Nariyah PBNU
Ra Kholil Asad Situbondo Dukung Satu Milyar Sholawat Nariyah PBNU

Jakarta, NU Online
KHR Muhammad Kholil Asad Syamsul Arifin mengapresiasi langkah PBNU yang memasyarakatkan sholawat nariyah melalui Satu Milyar Sholawat Nariyah dalam rangka memperingati Hari Santri 2016. Kiai kharismatik dari Situbondo yang lazim disapa Ra Kholil ini berdoa agar pembacaan sholawat ini menjadi salah satu solusi bagi permasalahan yang dihadapi warga NU dan warga Indonesia secara umum.

Ia menyarankan pembacaan sholawat ini diniatkan untuk menguatkan cinta dan keimanan kepada Allah, semakin mudahnya masyarakat menerima dan mengikuti tuntunan, husnul khatimah, selamat dari bala lahir dan batin, dan terwujudnya hajat serta cita-cita para pendiri, pengurus, dan warga NU secara umum terkait masalah sosial, kebangsaan, dan keagamaan.

“Sejumlah fakta menunjukkan, banyak warga kita yang sudah termakan oleh pengaruh ideologi-ideologi non-NU akhirnya bisa dikembalikan ke pangkuan NU. Alfaqir (Ra Kholil-red) percaya, begitulah hasilnya jika sholawat telah bekerja di dalam diri siapapun,” kata Ra Kholil dalam surat yang ditujukannya kepada PBNU tertanggal 5 Oktober 2016.

Sementara ia menyaksikan saran-sarana yang semestinya digunakan untuk perbaikan disalahgunakan oleh sejumlah pihak secara terbuka untuk mengadakan kerusakan.

“Tentu saja, pantang bagi kita untuk berkecil hati. Karena dari zaman ke zaman, sejarah selalu membuktikan betapa pertolongan Allah, syafa’at Rasulullah SAW, dan karamah para waliyullah adalah segalanya.”

Ra Kholil berharap pembacaan sholawat Nariyah ini tidak hanya berhenti pada momentum hari santri. Pembacaan sholawat Nariyah, kata Ra Kholil, mesti dilazimkan secara rutin mingguan atau bulanan yang berkelanjutan melalui instruksi PBNU ke semua tingkatan pengurus NU dan masyarakat. (Alhafiz K)

Senin 10 Oktober 2016 20:5 WIB
Seratus Lebih Kiai Muda Lombok Tengah Ikuti Madrasah Kader
Seratus Lebih Kiai Muda Lombok Tengah Ikuti Madrasah Kader
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) memantau proses kaderisasi NU yang lazim dikenal dengan program Madrasah Kader di Lombok Tengah, Sabtu (8/10) malam. Kang Said menyatakan optimis terhadap program kaderisasi untuk kelanjutan NU di masa mendatang.

“Lombok Tengah tadi malam mengadakan madrasah kader. Selama dua hari kita kader mereka dengan sangat baik. Insya Allah NU NTB ke depan semakin baik,” kata Kang Said, Ahad (9/10) malam.

Pemateri yang hadir pada program madrasah kader ini antara lain Ketua PBNU Robikin Emhas, Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Wasekjen PBNU Suwadi Pranoto, dan Wasekjen PBNU Endin Sofihara.

Madrasah kader ini diikuti oleh pengurus NU dan ulama muda Lombok Tengah. Peserta kaderisasi sedikitnya 120 kader.

Sementara pada Ahad (9/10) siang Kang Said menghadiri pelantikan PCNU Lombok Barat. Tampak hadir dalam pelantikan PCNU Lombok Barat semua tuan-tuan guru di NTB, Mustasyar PBNU Tuan Guru Turmudzi, Bupati Lombok Barat, dan Ketua PWNU NTB. (Alhafiz K)

Senin 10 Oktober 2016 19:46 WIB
Rabu, NU Online-Populi Center Bahas Perang Kampanye Hitam Pilgub DKI
Rabu, NU Online-Populi Center Bahas Perang Kampanye Hitam Pilgub DKI
Jakarta, NU Online
NU Online bersama lembaga survei Populi Center berencana menyelenggarakan diskusi bertema “Perang Digital Kampanye Hitam Pilgub DKI” di Lantai 5 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (12/10), pukul .

Forum diskusi terbuka untuk umum dan menghadirkan narasumber Direktur Populi Center Usep S Ahyar, anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta M Jufri, dan pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) Uday Abdurrahman.

“Pilgub DKI memang unik. Hawa panasnya terasa secara nasional. Bersama Populi Center, NU Online ingin mencermati fenomena black campaign di dunia maya, sekaligus memberi pendidikan politik bagi masyarakat tentang pentingnya berpolitik secara sehat,” kata M Zunus, koordinator acara.

Menurutnya, dunia maya kini telah menjadi ruang publik yang mudah diakses oleh siapa pun. Bila tak terkelola dengan baik dan bijak, produk kecanggihan teknologi itu bisa berdampak buruk bagi peradaban politik di Indonesia.

“Kita tidak ingin ada propaganda tak penting, seperti sentimen SARA, sehingga memicu permusuhan. Memilih atas dasar pertimbangan SARA adalah hak tiap individu. Tapi ketika itu naik ke level politisasi, cara-cara kasar, dan melibatkan instrumen media sosial menjadi sangat berbahaya bagi kerukunan dan masa depan demokrasi di Tanah Air,” tambah Zunus.

NU Online dan Populi Center berharap dari diskusi ini akan terumuskan hasil analisa media, gambaran solusi, hingga langkah-langkah konkret yang bisa dibawa oleh para penentu kebijakan, lembaga swadaya masyarakat, atau warga secara umum. (Mahbib)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG