IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

Selasa 1 November 2016 1:3 WIB
Bagikan:
Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa
Makassar, NU Online
Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar, Sulawesi Selatan Ahmad Ahsanul Fadhil menegaskan Pesantren adalah instrumen startegis mencegah radikalisme di Indonesia. Karena Lembaga pendidikan Islam klasik dan tertua di Indonesia tersebut senantiasa mengajarkan Islam ramah.

"Pesantren adalah Lembaga yang sangat strategis untuk menebar ajaran Islam rahmatan lil alamin, mencegah munculnya paham radikal yang merongrong kedaulatan NKRI dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa," ujar Ahsanul dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PMII STIE Tri Dharma Nusantara bekerjasama dengan IKA-MDIA Bontoala Makassar.

Senada dengan Ahsan, Sekretaris KNPI Kota Makassar, Irwan Ade Saputra mengamini apa disampaikan Ahsan dalam Forum Dialog tersebut. Dia menerangkan, posisi Santri sebagai bagian dari pemuda sangat strategis untuk melakukan gerakan mengawal keutuhan NKRI, dengan pemahaman keagamaan yang ramah.

“Paham Islam tersebut diharapkan mampu memberikan pencerahan terhadap pemuda yang tidak mengenyam pendidikan di Pesantren hingga paham bahwa Agama dan NKRI bukan hal yang harus dipertentangkan,” ungkap Ade dalam diskusi di ruang redaksi Tribun Timur, Ahad (30/10).

Pendiri Sekolah Kebangsaan, Arqam Azikin yang juga hadir sebagai Panelis meminta Pemuda dan Pesantren berbagi peran namun tetap saling mensupport dalam menjaga NKRI.

Menurutnya, sejarah Pemuda dan Pesantren adalah sejarah yang tak terpisahkan dari Sejarah Bangsa. Keduanya memiliki peran penting dalam memerdekakan Indonesia.

"Saya berani mengatakan andai bukan KH Hasyim Asy'ari bersama kalangan pesantren lain dan bangsa Indonesia secara umum, maka tidak akan lahir gerakan yang mampu memerdekakan Indonesia,” tegas Arqam. (Rahman/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Selasa 1 November 2016 23:6 WIB
Islam Tidak Menjadi Hina Walau Dihina
Islam Tidak Menjadi Hina Walau Dihina
Purworejo, NU Online
Islam pasti akan jaya, tidak akan menjadi agama hina hanya karena dijelek-jelekkan oleh siapapun. Demikian disampaikan Mubaligh dari Kedung Sari, Purworejo KH Yusuf Rosyadi saat mengisi ceramah di Senepo, Kutoarjo, Jawa Tengah.

Di Purworejo, Selasa (1/11), Kiai Yusuf mengatakan, umat Islam mempunyai pendapat berbeda-beda menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) beberapa waktu lalu. Hampir pada setiap pertemuan nonformal mereka membicarakan pernyataan tersebut. Tingkat keilmuan yang beragam menjadikan pemahaman yang simpang siur. 

"Di sini peran para kiai, ustad atau tokoh-tokoh agama menjadi sangat penting. Jangan sampai umat menjadi terpecah belah karena pemahaman yang keliru," ujar Kiai Yusuf memberikan penjelasan terkait marak pemberitaan penistaan agama di media elektronik lokal ataupun nasional. 

Umat Islam mempunyai kewajiban untuk membela agama yang disampaikan Rasulullah SAW. "Sudah semestinya kita membela jika agama Islam diinjak-injak. Setidak-tidaknya sebagai muslim kita harus mengingkari apa-apa yang bertentangan dengan akidah kita, itulah serendah-rendahnya iman. Jangan sampai kita terjebak dengan pernyataan keliru yang disebarkan mereka musuh-musuh Islam," ujarnya.

Ceramah disampaikan KH Yusuf Rosyadi membuka pemahaman baru bagi jama'ah. Bahwa Islam adalah agama yang haq (benar disisi Alloh SWT) dan harus menjadi i'tikod (kepercayaan) setiap muslim. Bahwa Islam tidak akan pernah menjadi hina. Namun kehinaan bisa menimpa kepada siapa saja orang Islam yang tidak peduli ketika agamanya dihina.

Tapi penyelesaian persoalan atas dugaan penistaan agama dengan jalan hukum akan lebih baik. (Muhamad Ghufron/Abdullah Alawi)
Selasa 1 November 2016 21:1 WIB
Lembaga Falakiyah NU Banyuwangi Miliki Alat Canggih Pemantau Hilal
Lembaga Falakiyah NU Banyuwangi Miliki Alat Canggih Pemantau Hilal
Banyuwangi, NU Online
Beberapa orang santri dari beberapa pesantren tampak sedang sibuk dengan berbagai peralatan yang terlihat canggih itu. Alat yang menyerupai teropong bintang itu diarahkan ke garis cakrawala. Mata mereka dipicingkan ke alat tersebut.

“Mereka sedang memantau posisi hilal untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan,” ungkap Sekretaris Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Banyuwangi Gufron Musthofa yang mendampingi kegiatan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di Pusat Observasi Bulan (POB) Pantai Pancur, wilayah Balai Taman Nasional Alas Purwo, Tegaldlimo, Senin (31/10).

Tak berapa lama, hasil pengamatan sudah terlihat dari monitor yang tersambung ke alat yang semacam teropong itu. “Sayang, kondisi langit yang sedang tertutup kabut, jadi hilal tidak bisa terlihat. Tapi, bulan baru sudah bisa diperkirakan jatuh pada besok (hari ini, red),” jelas Gufron.

Meski pengamatan hilal tidak tampak secara langsung, tim LFNU Banyuwangi dan para santri pegiat ilmu falak itu merasa puas. Alat-alat yang dipergunakannya bekerja secara optimal. “Ada tiga alat yang kami gunakan, Telescope Computerised, William Optic Tripled, dan Total Station Nikon D22+,” papar Gufron.

Dengan alat-alat tersebut, kerja-kerja pengamatan bisa optimal. Proses rukyatul hilal tak lagi menggunakan peralatan sederhana seperti batang pipa yang dimodifikasi sedemikian rupa. Hasil pengamatan bisa terlihat secara digital sehingga bisa lebih akurat dalam menentukan hilal dan peristiwa astronomi lainnya.

“Ini alat-alat yang cukup canggih untuk rukyatul hilal. Karena harganya yang mahal, tak banyak yang memilikinya. Bisa jadi di Banyuwangi hanya NU yang punya, karena Kemenag (Kementerian Agama) Banyuwangi saja tidak punya,” tutur Ketua LFNU Banyuwangi Mustain Hakim beberapa waktu lalu.

Dengan berbagai peralatan tersebut, sangat membantu kerja LFNU Banyuwangi. Selain itu, juga memberikan semangat baru para pengurus untuk mengembangkan kajian falakiyah di Banyuwangi.

“Selain rukyatul hilal pada bulan-bulan tertentu, seperti awal dan akhir Ramadhan, serta awal Dzulhijah, mulai bulan ini, kita akan mengadakan pengamatan rutin tiap akhir bulan hijriyah,” terang Hakim.

Untuk proses rukyatul hilal itu sendiri, LFNU bekerja sama dengan pihak Administrasi Balai Taman Nasional Alaspurwo, Banyuwangi. “Sedangkan pesertanya kami mengajak para santri yang berminat dengan studi falakiyah,” tuturnya.

Selain aktif melakukan rukyatul hilal, LFNU Banyuwangi juga melakukan pelatihan-pelatihan falakiyah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Bulan kemarin diadakan di PP. Al-Azhar, Sempu. “Untuk bulan ini di Pesantren Gumirih, Singojuruh,” terang Gufron. 

Pelatihan maupun rukyatul hilal sendiri, menurut Gufron, terbuka untuk umum. “Siapa saja yang berminat boleh untuk ikut. Bagi yang berminat bisa datang ke sekretariat kami di Kantor PCNU Banyuwangi,” pungkasnya. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Selasa 1 November 2016 20:1 WIB
LPBINU DKI Jakarta Sosialisasikan Kesiapsiagaan Bencana Lewat Dongeng
LPBINU DKI Jakarta Sosialisasikan Kesiapsiagaan Bencana Lewat Dongeng
Jakarta, NU Online
Banyaknya bencana yang terjadi dan membuat anak-anak usia yang menjadi korban, hal ini bukan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan anak-anak, tapi karena anak–anak tidak paham apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. 

Melihat kondisi diatas Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) DKI Jakarta, Selasa (01/11) menyelenggarakan Road Show Dongeng Anak NUsantara, yang bertujuan mengedukasi dan mensosialisasikan nilai-nilai tentang berbhakti pada orang tua, guru dan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana serta cara menyayangi lingkungan hidup. 

Penyampaian nilai-nilai melalui media dongeng sangat efektif, karena penyampaian Kak Toni dan Dodo dinikmati oleh anak-anak, sehingga secara emosional pun terbangun kesadaran berwawasan lingkungan sejak dini. Dongeng ini tidak hanya dinikmati anak-anak semata, namun banyak orang tua dan guru yang mendampingi, sehingga bisa tersampaikan juga pada orang dewasa.

Ketua HIMPAUDI Kecamatan Kebon Jeruk Elitia, didampingi Manajer Dongeng Anak Nusantara LPBINU DKI Jakarta Desi Setyowahyuni menyatakan, dongeng kali ini diikuti oleh murid-murid, dari 4 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), PAUD Bungevile, PAUD Melati 02 plus, PAUD Heeryyen dan PAUD Garuda. 

Semua murid didampingi wali murid, dongeng kali ini dilaksanakan di RPTRA Kedoya Jakarta Barat, hal ini terlaksana atas kerjasama LPBI NU DKI Jakarta dengan HIMPAUDI Kebon Jeruk, total di kecamatan Kebon Jeruk ada 40 PAUD, yang insya Allah terus akan bergilir.

M. Wahib, Ketua LPBINU DKI Jakarta dalam sambutannya mengatakan, kegiatan dongeng ini sangat positif. Karena adanya penanaman nilai-nilai kepada anak usia dini, yang akan terus diingat oleh anak-anak, sebagai laporan bahwa ada kebahagiaan dari para wali murid.

“Karena setelah mendengarkan dongeng, anak–anak mau membuang sampah di tempatnya, dan makin sayang dengan orang tuanya, sehingga kedepan anak-anak juga paham tentang kesiapsiagaan dalam bencana,” ujar Wahib.

Selain di sekolah dongeng juga dilaksanakan pada fasilitas umum, hal ini sekaligus memperkenalkan fasilitas umum yang ada di DKI Jakarta, diantaranya RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan juga perpustakaan daerah.

Pada saat yang sama juga disampaikan donasi dari HIMPAUDI kepada LPBINU DKI Jakarta yang diterima oleh Asep Sabar Utama (Wakil Ketua LPBINU DKI Jakarta) yang selanjutnya Donasi akan disalurkan bagi penyintas yang terkena bencana, dan membantu pendidikan kebencanaan. (Red: Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG