IMG-LOGO
Nasional

Slank dan Santri Bersumpah untuk Bersatu

Sabtu 5 November 2016 9:1 WIB
Bagikan:
Slank dan Santri Bersumpah untuk Bersatu
Yogyakarta, NU Online 
Akhir bulan lalu, Oktober, menjadi bulan istimewa bagi para santri di Indonesia. Mereka telah “berlebaran” di tanggal 22. Hiruk-pikuk peringatan yang dilatarbelakangi Resolusi Jihad NU 71 tahun lalu itu dilakukan dengan beragam kegiatan dan cara. Sebagian santri, di berlaga di final Liga Santri Nusantara di Yogyakarta. Kemudian diakhiri dengan penampilan grup musik Slank. 

Pada manggung di lapangan Maguwoharjo, Sleman, (30/10), tempat laga puncak Liga Santri, Slank memulai dengan lagu Generasi Biru, lalu Memang, dan halal

“Di depan slankers dan santri, saya bersumpah hidup saya ke depan akan memilih yang halal-hala saja, ke depan tidak akan korupsi, tidak culas kepada teman. Mari kita memilih yang halal,” ujar Kaka Slanks sebelum nyanyi Halal

Kemudian melalui Kaka juga, Slank bersumpah, bahwa ke depan akan memerangi dan menyapu bersih pungutan liar (pungli). “Kalau mau bikin apa-apa di Indonesia, di Yogya, gampang, mau dagang gampang, mau usaha gampang,” katanya yang disusul kemudian Birokrasi Kompleks yang bercerita tentang jelimetnya birokrasi.

Mau bikin usaha
Harus lewat sini,,lewat sana,,meja sini, meja sana
Sogok sini, sogok sana,, izin sini, izin sana
Komplek..
Birokrasi Kompleks

Mau punya jabatan
Pake topeng ini, topeng itu,,sikut sini, sikut situ
Bual ini, bual itu, jilat sini, jilat 

Selepas lagu itu, ia mengatakan, “Santri dan slanker bersatu untuk bekerja keras menjaga perdamaian antara slankers dan santri dan masayarakat luas. Saya bersumpah untuk mempersatukan slanker dan santri menjadi satu kesatuan yang kuat, menjadi Indonesia. Kemudian menyanyian Mars Slank.

Di sini tempat cari senang
Salah tempat kalo kau cari uang
Di sini orang-orang penuh kreativitas
Tempat orang-orang yang terbaik


Di sini bukan anak-anak malas
Tempatnya para pekerja keras
Di sini bukan anak-anak manja
Sedikit kerja banyak mintanya

Dua slankers yang ditemui NU Online pada konser tersebut berpendapat, sumpah yang dilisankan Kaka adalah suatu gerakan yang bagus. “Untuk menyatukan perdamaian. Slankaers Jepara dan Rembang,” katanya hampir berbarengn yang pada malam itu berkaos oblong merah bergambar slank, celana jeans, dan sepatu. Sementara kepalanya ditutupi peci hitam sebagaimana santri. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Sabtu 5 November 2016 20:25 WIB
Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat
Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat
Bekasi, NU Online
Sesi workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza yang digelar Direktorat RSKP Napza Kemensos RI, Jum'at (4/11)  berlangsung meriah dan dinamis.

Peserta tak hanya antusias mengikuti pemaparan narasumber, salah satunya Staf Ali Mensos, Prof M Mas’ud Said PhD, tapi juga aktif mengajukan beragam pertanyaan seputar narkoba terutama terkait penyembuhan korban.

Ketua PCMNU Bojonegoro, Imroatul Azizah, menyoroti efektifitas terapi sosial yang dibutuhkan eks pengguna karena selama ini kehadiran mereka belum sepenuhnya diterima masyaraat. Hal sama ditanyakan Binti Muslikah dari PCMNU Way Kanan, Lampung serta Hj Munawaroh dari PCMNU Jakarta Utara seperti dikutip dari laman muslimat-nu.com.

Menjawab pertanyaan peserta, Prof Mas’ud menuturkan, mindset keluarga yang anggota keluarganya terkena narkoba harus diubah.

“Harusnya korban disembuhkan, bukan malah disembunyikan. Ini memang agak berat, tetapi Kemensos sudah membuat SOP (Standart Operating Prosedure). Konsultasikan jika menemukan orang yang terpapar ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor),” katanya.

Kemensos, kata Prof Mas’ud, memiliki 160 IPWL yang tersebar di 27 provinsi. Biaya operasional dibantu Kemensos dengan uang tenaga dan pelatihan, termasuk Abah Nyong (pemilik terapi metode rebus yang turut hadir dalam workshop).

“Jika ada yang terpapar bisa dibawa ke IPWL dan dijamin gratis. Siapa yang membiayai? Pertama tentu pemilik terapi. Kedua dari Kemensos karena memang ada anggaran setiap tahun untuk rehabilitasi,” tandasnya.

Menurut Prof Mas’ud , terapi tidak hanya soal mental tapi juga fisik. Korban bakal disuruh lari, renang maupun TC (therapeutic community) agar badannya bergerak dan keluar keringat keluar.

“Kalau keringat keluar maka zat-zat adiktif juga ikut keluar. Tapi kalau anak di kamar saja, mikirnya menjadi nggak karu-karuan dan bisa bunuh diri,” ujarnya.

Menariknya, Kemensos tak membatasi metode penyembuhan ke-160 IPWL. Selain metode rebus, ada pula metode yang meminta korban mengembangkan potensi apapun kesukaannya asal positif.

Sebab, kata Prof Mas’ud, anak-anak nakal bisa saja bohong tapi kalau disuruh main musik, olahraga atau seni hasilnya bagus. Mereka punya talenta yang perlu dikembangkan tanpa harus dimarahi setiap hari karena dampaknya si anak justru bisa lari.

“Pendekatan Kemensos itu holistik. Tak hanya kasih ayat sama hadits saja. Tentu bukan salah ayat dan hadits-nya, tapi cara menyampaikan tidak tepat dan tak jelas,” katanya.  Red: Mukafi Niam
Sabtu 5 November 2016 20:0 WIB
Rapat Akbar Aktualisasi Resolusi Jihad Lahirkan Piagam Tebuireng
Rapat Akbar Aktualisasi Resolusi Jihad Lahirkan Piagam Tebuireng

Jombang, NU Online
Sejumlah ulama, kiai, habaib, dan akademisi serta unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkumpul di Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur, Sabtu (5/11). Dari pertemuan tersebut tercetus piagam yang ditandatangani bersama.

Ada Tuan Guru Turmudzi, Habib Sholeh al-Jufri, KH Anwar Manshur, Tuan Syech Akbar Marbun, KH Ahmad bin Zain al-Kaff, KH Mahfudz Syaubari, Habib Nabil al-Musawwa, KH Imam Suprayogo, KH Hanif Muslih, serta tuan rumah KH Salahuddin Wahid.

Masing-masing membubuhkan tanda tangan pada Piagam Tebuireng Aktualisasi Resolusi Jihad yang juga dikuatkan oleh kehadiran Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI, Mayjend TNI Wiyarto.

Dalam salah satu butir pernyataan bersama tersebut diserukan kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah kongkrit dalam jihad mewujudkan kemandirian bangsa. "Sehingga bermartabat dan berdaulat," kata Miftahurrahim selaku pembaca piagam.

"Menggugah para cendekiawan, profesional dan ulama untuk berperan lebih aktif dan tepat sasaran dalam jihad mencerdaskan kehidupan bangsa agar mampu menghadapi segala tantangan di masa mendatang," katanya sesuai poin kedua.

Sedangkan poin berikutnya adalah mengajak segenap elemen di negeri ini untuk berjihad. "Mewujudkan keadilan, mempertahankan kedaulatan dan menjaga persatuan bangsa menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur," ungkapnya di hadapan ratusan hadirin yang memadati aula pesantren setempat.

Sebelum dibacakan piagam, sejumlah narasumber memberikan wawasan bagaimana menjaga kedaulatan negara dari berbagai rongrongan. Tampil sebagai pemateri pertama adalah guru besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, KH Imam Suprayogo. Sedangkan narasumber kedua adalah Edi Setiadi, Deputi Komisioner Pengawas dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)
 


Sabtu 5 November 2016 19:28 WIB
Kemensos: Hancurkan Negara, Hancurkan Ketahanan Keluarga
Kemensos: Hancurkan Negara, Hancurkan Ketahanan Keluarga
Bekasi, NU Online
Selama empat hari, 3-6 November, Direktorat RSKP (Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan) Napza Kementerian Sosial (Kemensos) RI menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza di Bekasi, Jawa Barat.

Acara yang diikuti para tokoh agama, yang di dalamnya termasuk dari unsur Muslimat NU se-Indonesia, tersebut dibuka Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Marzuki. Hadir pula Direktur RSKP Napza Kemensos Waskito Budi Kusumo.

Dalam sambutannya Marzuki menuturkan, ketahanan keluarga menjadi filter utama dalam pencegahan bahaya narkoba. “Sampai ada ungkapan kalau mau menghancurkan negara, hancurkan lewat ketahanan keluarga,” katanya sebagaimana dikutip dari laman muslimat-nu.com.

Marzuki memberi ilustrasi, jika dalam keluarga anak-anak tak patuh lagi dengan nilai atau norma, maka bisa dipastikan tak akan ada lagi rasa hormat anak pada orang tua. Mereka tak lagi mengapresiasi nasihat yang diberikan, cenderung nakal bahkan bisa terjerat kriminal karena penanaman nilai-nilai moral tak dirasakan si anak.

Alhamdulillah, ibu-ibu dan bapak-bapak sebagai tokoh agama harus mengupayakan bagaimana memberikan atau meningkatkan ketahanan keluarga serta masyarakat dan ini sangat dibutuhkan,” ujarnya, Kamis (3/10) malam.

Selain ketahanan keluarga, Kemensos juga mendorong adanya kerjasama Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). “Lembaga ini bisa berbasis apa saja, agama, kesenian atau lainnya dalam upaya melakukan pencegahan, rehabilitasi serta pengembangan potensi kepada korban napza,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Marzuki, Kemensos memiliki mitra 160 IPWL dan akan terus berkembang. Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas IPWL, Kemensos juga memiliki kerjasama dengan badan akreditasi dan lembaga sertifikasi.

“Badan akreditasi ini untuk memberikan penguatan kepada SDM yang ada di lembaga tersebut. SDM ini nanti yang akan mengatasi masalah-masalah napza,” katanya.

Sementara sertifikasi, yakni berkaitan dengan pelatihan-pelatihan khusus, “Kami juga ada badan pendidikan dan pelatihan yang menghasilkan SDM yang mampu menanggulangi napza. Kalau itu sudah diperoleh tentu akan lebih berkembang lagi,” katanya.

Berikutnya berkaitan dengan manajerial, bagaimana melakukan pengolaan kegiatan maupun program yang bisa dikolaborasikan dengan Kemensos sehingga dari sisi administrasinya bisa tertib.

“Begitu pula dengan networking-nya. Bagaimana mengembangkan jaringan kerja antara Kemensos dengan IPWL dan lembaga-lembaga lain yang memang konsen terhadap upaya penanggulangan. Juga dari sisi anggaran yang bisa dikolaborasikan dengan kegiatan mulai pencegahan sampai dengan rehabilitasi,” paparnya.

Tak kalah penting, tambah Marzuki, mendorong Pemda agar bisa memastikan regulasi yang berpihak pada pencegahan napza karena korban sudah di berbagai level bahkan sampai anak SD.

“Ini membutuhkan kerjasama semua pihak. Saya berterima kasih kita sudah bergabung untuk meneruskan upaya-upaya untuk mengatasi masalah napza. Mudah-mudahan generasi berikutnya lebih baik lagi dan bebas dari napza,” ujarnya. Red: Mukafi Niam
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG