IMG-LOGO
Nasional

Pandangan Mbah Maimoen soal Fenomena Belajar Islam dari Terjemah dan Internet

Rabu 9 November 2016 13:1 WIB
Bagikan:
Pandangan Mbah Maimoen soal Fenomena Belajar Islam dari Terjemah dan Internet
KH Maimoen Zubair
Jakarta, NU Online
Tidak terpungkiri, saat ini tidak sedikit Muslim yang belajar Islam melalui karya terjemahan dan internet. Hal ini turut mempengaruhi karakter Muslim tersebut dalam memahami Islam sehingga menjadi perhatian tersendiri bagi Mustasyar PBNU, KH Maimoen Zubair.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menilai bahwa zaman sekarang memang sudah berubah. Banyak orang yang sudah masuk pada era terjemah. Banyak orang paham Islam lewat terjemah, malah terkadang orang yang hafal Al-Qur’an tidak tahu artinya.

“Dulu kalau ada orang hafal Al-Qur’an itu pasti orang alim,” ujar Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi 11/Tahun XXXVIII/November 2016, halaman 41.

Fenomena belajar dari terjemah dan internet menurut Mbah Maimoen memberikan pelajaran bahwa masyarakat harus tahu mana yang baik dan tidak. Jangan berkiblat dari terjemah Al-Qur’an atau terjemah kitab, apalagi pada internet yang tak jelas referensinya.

Kiai kelahiran Rembang 28 Oktober 1928 ini juga mengingatkan bahwa saat ini sudah memasuki akhir zaman. Orang Islam pintar-pintar karena pakai huruf latin atau terjemah. Menurutnya, jarang sekali bahkan tidak ada orang yang menulis skripsi dengan Bahasa Arab, andalannya selalu huruf latin.

“Semua itu sudah digambarkan sebelum manusia diciptakan. Jika tidak mengikuti segala aturan qadla Allah, maka cari Tuhan yang lain. Kita harus bisa menyesuaikan. Yang baru harus kita terima, tapi yang dulu harus kita pertahankan,” tandas kiai sepuh berumur 88 tahun ini. (Fathoni) 

Tags:
Bagikan:
Rabu 9 November 2016 19:5 WIB
Perkuat Kelembagaan, LPTNU Rekomendasikan Penyederhanaan Fakultas
Perkuat Kelembagaan, LPTNU Rekomendasikan Penyederhanaan Fakultas
Jakarta, NU Online
Pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) terus melakukan pembenahan internal di tubuh perguruan tinggi NU. Mereka akan mengawalinya dengan penyederhanaan fakultas yang terlalu banyak di sebuah perguruan tinggi.

“Penguatan kelembagaan melalui efisiensi. Jangan terlalu banyak fakultas,” Ketua LPTNU M Nasir dalam pertemuan terbatas di Gedung PBNU, Selasa (8/11) sore.

Menurut M Nasir yang juga Menristek Dikti ini, sebuah kampus ke depan hanya memiliki beberapa fakultas. Satu fakultas boleh menaungi ratusan prodi.

“Kita akan satukan semua prodi yang satu rumpun dalam satu fakultas. Cukup tiga atau empat fakultas dalam satu kampus. Fakultas Fisip dan Humaniora, Fakultas Kesehatan, Fakultas Mipa dan Teknik. Semua prodi yang satu rumpun masuk ke dalam satu fakultas,” jelas M Nasir.

Fakultas hukum, humaniora, kebudayaan, ekonomi, menurutnya, bisa disatukan dalam satu fakultas dengan rumpun ilmu sosial. Sementara semua prodi yang berkenaan dengan sains digabung dalam naungan fakultas MIPA dan teknik.

Penyederhanaan ini, kata M Nasir, akan diujicobakan pada perguruan tinggi di lingkungan NU.

Di samping penyederhanaan fakultas, penguatan kelembagaan itu juga dilakukan dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar. “Profesionalitas ini yang kita junjung tinggi,” pungkasnya. (Alhafiz K)

Rabu 9 November 2016 12:4 WIB
KHR As’ad Syamsul Arifin Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
KHR As’ad Syamsul Arifin Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Jakarta, NU Online
Gelar Pahlawan Nasional tahun ini akan dianugerahkan kepada tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KHR As’ad Syamsul Arifin di Istana Negara hari ini, Rabu (9/11).

Keterangan yang diterima NU Online, KHR As’ad Syamsul Arifin dianugerahi Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November 2016 yang menetapkan Keputusan Presiden tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Negara menilai bahwa KHR As’ad Syamsul Arifin semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

KHR As'ad Syamsul Arifin lahir tahun 1897 di Mekkah dan wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur. Kiai As'ad merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.

Kiai As'ad merupakan putera dari Raden Ibrahim dan Siti Maimunah. Kedua orang tuanya berasal dari Pamekasan, Madura. Ayah dari Kiai As'ad, yakni Raden Saleh lebih dikenal dengan sebutan KH Syamsul Arifin. Dia masih keturunan dari Sunan Ampel. Sedangkan ibunya, Siti Maimunah, masih keturunan dari Pangeran Ketandur yang merupakan cucu Sunan Kudus.

Kiai As’ad menduduki jabatan terkahir di PBNU sebagai Mustasyar (Dewan Penasihat). Beliau juga termasuk salah satu tokoh pendiri NU dan pernah menjadi Anggota Konstituante (1957-1959). (Fathoni)

Rabu 9 November 2016 10:4 WIB
IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat
IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama berharap media menjadi perekat sosial masyarakat, di tengah aparat penegak hukum yang tengah memproses dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Semua media elektronik atau cetak harus memberikan berita yang berimbang dan informasi yang benar kepada masyarakat.

"Kita mengapresiasi kinerja pihak kepolisian sehingga memiliki dasar yang kuat dalam memutuskan apakah kalimat yang diucapkan oleh Ahok dalam kunjungan kerjanya di Pulau Seribu itu benar-benar menghina Al-Quran dan agama Islam atau tidak," ucap  Ketua PP IPNU  bidang Advokasi Kebijakan Publik Ahmad Farikhul Badi’.

Media memiliki peran yang sangat besar untuk menjaga kebhinekaan Indonesia, terlebih televisi yang hingga saat ini menjadi media yang dinikmati oleh mayoritas masyarakat.

"Kita harus benar-benar mengedepankan fungsi penyiaran, dimana penyiaran terlahir sebagai media informasi,pendidikan,hiburan yang sehat serta menjadi kontrol dan perekat sosial," tambahnya.

Lanjut dia, ‎media elektronik harus berada di garda terdepan dalam memperkokoh integrasi nasional sebagai upaya menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam berbangsa dan bernegara.‎

Disamping itu, PP IPNU  juga mendukung penuh pernyataan PBNU dalam menyikapi situasi dan kondisi terkini di tanah air, bahwa seluruh rakyat Indonesia bersatu padu senantiasa membangun ukhuwah dan memperkokoh ikatan kebangsaan.

"Kita dukung pernyataan PBNU dalam menyikapi kondisi terkini sehingga menjaga persatuan rakyat Indonesia," katanya.

Dalam proses gelar perkara penyelidikan kasus dugaan penistaan agama akan dilakukan secara terbuka kepada media dan pihak terkait oleh kepolisian‎. Langkah yang diambil  dengan mendatangkan berbagai saksi ahli untuk memberikan masukan, saran dan pertimbangan kepada penegak hukum dinilai sudah tepat.

"Biarkan aparat penegak hukum menjalankan tugas dan fungsi sesuai dengan kewenangannya," katanya.

Pihak kepolisian jika mengeluarkan keputusan mengatakan, Ahok dinyatakan bersalah, maka semua pihak, khususnya pendukungnya harus bisa menerima dengan lapang dada. Sebaliknya apabila hasil pemeriksaan mengatakan Ahok dinyatakan tidak bersalah, maka semua pihak yang melaporkannya juga harus legowo menerima.

Pada akhirnya, sesuatu yang salah harus dinyatakan bersalah, dan yang benar harus dinyatakan benar sesuai dengan koridor hukum yang ada.

"Tidak bisa dibenarkan siapa pun melakukan main hakim sendiri atas tindakan seseorang, termasuk kasus dugaan penistaan agama ini lebih baik kita serahkan dan percayakan proses hukumnya kepada aparat penegak hukum," tuturnya.

Oleh sebab itu, ‎ semua pihak untuk menahan diri menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Terutama  kader IPNU jangan terpancing dengan munculnya berbagai isu yang justru akan memecah belah umat Islam. ‎

"Semua kader IPNU dimana pun harus bisa menahan diri, jangan sampai terpancing dengan munculnya berbagai isu," tegasnya.‎ (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG