IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

KHR As’ad Syamsul Arifin: Pahlawan Nasional Pejuang NU Berpancasila

Rabu 9 November 2016 14:30 WIB
Bagikan:
KHR As’ad Syamsul Arifin: Pahlawan Nasional Pejuang NU Berpancasila
KHR As'ad Syamsul Arifin.
Oleh M. Rikza Chamami

Bangsa Indonesia kembali mendapat hadiah dari Presiden Jokowi. Gelar pahlawan nasional resmi disandang oleh KHR As’ad Syamsul Arifin lewat Kepres Nomor 90 yang disahkan 3 November 2016.

Sosok Kyai As’ad sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia. Perjuangannya dalam melawan penjajah dilakukannya dengan penuh tulus ikhlas dan total. Tidak segan, Kiai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah bersama TNI menumpas penjajah.

Siapakah sosok fenomenal KHR As’ad Syamsul Arifin itu? Ia bernama As’ad putra pertama dari KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram. 

Garis kerurunannya berasal dari Sunan Ampel Raden Rahmat, yakni: Kiai As’ad bin Kiai Syamsul Arifin bin Kiai Ruhan (Kiai Abdurrahman) bin Bujuk Bagandan (Sidobulangan) bin Bujuk Cendana (Pakong Pamekasan) bin Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Perjuangannya dalam menegakkan agama Islam ahlussunnah wal jama’ah sungguh luar biasa. Termasuk Kyai As’ad dikenal sebagai figur yang gagah berani mengatakan kebenaran. Tidak salah jika kemampuan agamanya dipadukan dengan beladiri yang membuatnya dikenal sakti mandra guna.

Kiai As’ad menempuh pendidikan di Makkah sejak usia 16 tahun dan kembali ngaji di Jawa. Guru-gurunya di Makkah antara lain: Sayyid Abbas Al Maliki, Syaikh Hasan Al Yamani, Syaikh Bakir Al Jugjawi dan lain-lain.

Sepulangnya ke tanah Jawa, ia belajar di berbagai pesantren: Ponpes Sidogiri (KH Nawawi), Ponpes Siwalan Panji Sidoarjo (KH Khazin), Ponpes Kademangan Bangkalan (KH Kholil) dan Ponpes Tebuireng (KH Hasyim Asy’ari).

Wajar bila keilmuan agama Kiai As’ad sangat luar biasa. Dengan bekal ilmu itu, ia meneruskan perjuangan ayahandanya membesarkan Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah. Sejak 1938, Kyai  As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al-Ibrahimy (sesuai nama asal ayahandanya).

Peran Kiai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sangat nampak sekali. Dimana ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan yang diutus menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU.

Dua kali Kiai As’ad diminta sowan Mbah Hasyim. Yang pertama dijalani dengan jalan kaki dari Bangkalan Madura menuju Tebuireng. Adapun yang kedua dilakukan dengan naik mobil angkutan.

Dua “restu” KH Kholil pada Mbah Hasyim itu berupa tongkat dengan bacaan Surat Thaha ayat 17-23 dan tasbih dengan bacaan dzikir: Ya Jabbar Ya Qahhar. Ketika pertama menerima tongkat itu, Mbah Hasyim menangis. “Saya berhasil mau membentuk jam’iyyah ulama” tegas Mbah Hasyim di hadapan Kyai As’ad.

Atas jasa Kiai As’ad sebagai penyampai isyarat langit dari Syaikhana Kholil inilah, NU berdiri. Maka ada sebutan empat serangkai ilham berdirinya NU itu terdiri dari: KH Kholil, KH Hasyim Asy’ari dan KH As’ad Syamsul Arifin.

NU bagi Kiai As’ad bukan organisasi biasa, tapi organisasi para waliyullah. Maka harus dijaga dengan baik. Sebab dengan NU itu Indonesia akan dikawal waliyullah, ulama dan seluruh bangsa Indonesia.

“Saya ikut NU tidak sama dengan yang lain. Sebab saya menerima NU dari guru saya, lewat sejarah. Tidak lewat talqin atau ucapan. Kamu santri saya, jadi kamu harus ikut saya! Saya ini NU jadi kamu pun harus NU juga,” tegas Kiai As’ad.

Perjuangan Kiai As’ad dalam mengusir penjajah sangat nyata. Bahkan Pondok Pesantrennya pernah diserbu pasukan penjajah. Berkat kegigihannya, 10.000 orang yang ada disana sudah bisa terevakuasi dengan baik. Kemahiran Kyai As’ad dalam beladiri dan seni perang menjadikan pasukannya memenangkan pertempuran di Bantal Asembagus dimana Belanda sempat mengepung markas TNI.

Ketegasan Kiai As’ad dalam menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi NU sudah tidak diragukan lagi. Saat Pemerintah mewajibkan penggunaan Pancasila tahun 1982/1983, NU merespon cepat dengan menggelar Munas Alim Ulama di Ponpes milik Kiai As’ad.

Tanggal 21 Desember 1983, Munas memutuskan menerima Pancasila dan revitalisasi Khittah 1926. Pada bulan Desember 1984 dalam Muktamar NU XXVII diputuskan asas Pancasila dan Khittah NU. Dan NU menjadi Ormas pertama yang menerima Pancasila.

Gagasan besar KH Achmad Shiddiq dalam menerima Pancasila ini diiyakan oleh KH As’ad bersama KH Mahrus Ali, KH Masykur dan  KH Ali Ma’shum. Akibat dari menerima Pancasila itu, KH As’ad sering mendapatkan teror, surat kaleng dan ancaman mau dibunuh.

Itu semua ia lewati dengan penuh kebijaksanaan. Sehingga secara pelan-pelan Kiai NU dan para nahdliyyin bisa menerima dan memahami di balik makna NU berpancasila, semata-mata untuk keutuhan NKRI.

Di usianya ke 93, Allah Swt memanggil Kiai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin berpulang keharibaan-Nya pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah. ***

Penulis adalah Dosen UIN Walisongo dan Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang.

Tags:
Bagikan:
Senin 7 November 2016 13:0 WIB
Bahasa dan Literasi Dakwah Islam Nusantara
Bahasa dan Literasi Dakwah Islam Nusantara
Gambar ilustrasi
Oleh Muhammad Farid

Bahasa penting disinggung dalam obrolan tentang dakwah kekinian. Bahasa juga merupakan kunci utama dakwah Islam di Nusantara. Para Da’i itu dengan santun dan lembut menjadikan bahasa sebagai media akulturasi budaya. Saling bertutur kata, bertukar pengalaman dan tradisi, bahasa memunculkan kesepakatan adanya Islamisasi budaya di Nusantara. Tahlilan, selametan, maulidan adalah merupakan beberapa diantara sekian banyak tradisi yang ada. 

Sehingga kini tradisi-tradisi itu mengakar sebagai identitas yang tak lekang oleh masa. Muballigh zaman dahulu menjalankan amanah dakwah itu sesuai dengan wahyu dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Kata iqra’ (baca) merupakan kunci dari segala tradisi, ibadah dan prinsip yang melekat dalam dakwahnya.

Bersama itu istilah literasi menjadi bagian dari eksistensi tradisinya. Tahlilan, manaqiban, talqin, maulidan, adalah beberapa tradisi yang mustahil dilakukan tanpa sumber literasi. Masyarakat membaca banyak sejarah (biografi) kenabian, wali dan ulama. Memasukkannya sebagai bagian dari doa, menjadi jembatan penghubung agar cepat sampai kepada Tuhan. 

Bagi sebagian yang mampu memahami itu digunakan sebagai bahan ceramah kepada umat dan diteladani demi kemashlahatan. Sebagian lain menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal sebagai bacaan masyarakat awam. Tidak jarang juga menggubahnya dalam bentuk syair atau nadham agar mudah diingat dan dihafal. 

Peran santri

Tradisi berliterasi itu sebanarnya tidak bisa dilepaskan dari pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan pertama di Nusantara. Kader-kader dari pondok pesantren (baca : santri) adalah kaki tangan para kiai yang digadang menjadi pelopor kebangkitan kaum urban. Dakwah dan gerakannya mampu menyusup di setiap lapisan.

Itu merujuk pada keteladanan kiai yang mempunyai semangat mengabdikan diri untuk masyarakat sampai pelosok negeri. Para ulama itu memberi petuah dan pendidikan secara tekun dan istiqomah (konsisten). 

Di lingkungan pondok pesantren berbagai jenis sumber literasi diajarkan melalui hubungan (sanad) yang tiada terputus (muttasil). Dalam hal ini sumber literasi utama kaum santri ialah kitab kuning. Sumber literasi yang umumnya memakai aksara arab itu kemudian diterjemahkan, dibacakan, dijelaskan secara gamblang berdasar pengalaman kiai maupun santri. Sebuah literasi wajib yang tidak habis dimakan usia. Relevansi ilmunya terjaga dan dinamis sesuai perkembangan zaman, bahkan sampai sekarang.

Berbagai disiplin ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, tata bahasa, akhlak dan pendidikan, fikih sampai dalam tatanan sosial kemasyarakatan diajarkan. Kebiasaan untuk berdiskusi masalah (Bahtsul Masail) santri kian diakrabkan dengan tradisi berliterasi. Maka tak heran jika kedalaman ilmu seorang santri mampu bersaing dengan cendekiawan perguruan tinggi, bahkan di tingkat internasional. Hebat!

Sebagai turunan adanya kitab kuning, literasi juga turut andil dalam akulturasi budaya, yaitu antara Arab dan Nusantara. Akulturasi itu teraktualisasi dalam bentuk aksara yang istilahnya seringkali disebut dengan pegon. Yaitu bahasa asli pribumi yang dituliskan dalam bentuk aksara arab (Hijaiyah). Pegon amat terkenal dikalangan santri. Ia menjadi identitas kedua setelah kitab kuning.

Dengan pegon makna per kosakata mampu dipahami secara terperinci. Penggunaan pegon-jawa dalam memaknai kitab kuning dirasa mendekati sempurna. Demikian itu sebab bahasa jawa mempunyai berbagai tingkatan bahasa dan makna yang berbeda.

Inilah upaya dari dai dan ulama Nusantara dengan menjadikan literasi sebagai jalan akluturasi budaya. Tujuan utamanya tentu menyatukan Islam dengan penduduk Nusantara. Bijaksana bukan?

Tantangan modernitas

Semakin berkembang ke era modern, literasi bisa terus diaktualisasikan dalam hal penulisan buku, jurnal, bahkan media massa. Tradisi dakwah sebagaimana diuraikan diatas kini harus mampu bersaing. Pun demi kontinuitas disertai penyempurnaan pemikiran serta gerakan untuk ikut serta membangun negeri.

Melalui bahasa dan literasi mempertahankan semangat Nusantara menjadi misi penting. Menyiarkan ajaran ulama-ulama Nusantara secara masif  membahana. Berupaya mengimbangi digitalisasi era yang terus membabi buta. Sehingga akulturasi budaya, kedamaian dan kemashlahatan umat tetap terjaga. 

Kita tahu, kini tak peduli siapa pun mampu mengakses berbagai informasi tanpa filter dan dasar yang kuat. Generasi kita perlahan dijejali dengan pengetahuan yang beragam, berikut pula berbagai ideologi, aliran dan paham. Tanpa dasar cinta dan pemikiran moderat siapa saja bisa terjerat. Terbawa arus yang menjadi musuh kita bersama, yaitu radikalisme dan ancaman perpecahan.

Jadi, seberapa siap kita mempertahankan dakwah Islam Nusantara yang damai dan mengutamakan kemashlahatan?

Penulis pernah Nyantri di Pesantren Miftahul Falah Kudus. Sekarang aktif di Lembaga Pers Mahasiswa “Paradigma” STAIN Kudus. Peneliti di Paradigma Institute Kudus.

Ahad 6 November 2016 6:2 WIB
Mempertanyakan Media "Islam" yang Menyebarkan Marah
Mempertanyakan Media
Foto: Ilustrasi
Oleh Gatot Arifianto
Islam berasal dari kata as-silmu (damai), aslama (menyerahkan diri/pasrah), istalama mustaslima (penyerahan total kepada Allah), saliimun salim (bersih dan suci), dan salamun (selamat). Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini terbukti mampu membawa masyarakat kegelapan menuju dunia baru, yang terang serta melampaui zaman.

Apakah yang tidak tepat dalam Al-Quran sebagai kitab suci, petunjuk, tuntunan? Alam semesta telah dibahas dalam QS Al-Anbiya ayat 30. Bahkan dermatoglyphics alias studi ilmiah sidik jari yang ngetren beberapa tahun ini dengan tegas telah dinyatakan dalam QS Al-Qiyaamah ayat 3-4. Termasuk bagaimana ketentuan lisan hingga berita yang baik telah ditegaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 6.

Sudahkah ayat tersebut dipahami? Pertanyaan ini layak disodorkan ketika sejumlah media yang mengaku Islam justru tidak menunjukkan bagaimana Islam dengan membuat dan menyebarkan berita-berita bombastis, propaganda, benci, dan acapkali tanpa verifikasi.

Pasca-Aksi Bela Islam Jilid II di Jakarta, Jumat 4 November 2016, sejumlah media massa nasional menulis berita di mana M Arifin Ilham tertembak. Lalu sejumlah media yang mengaku bernafaskan Islam memuat berita berjudul Astaghfirullah, Ustadz Arifin Ilham Dikabarkan Tertembak, Begini Keadaannya Sekarang. Berita propaganda dan dusta lain berjudul Darah telah Tertumpah, Ust. Arifin Ilham Tertembak.

Di negeri dengan pemahaman teks yang tidak terlampau bagus, hal tersebut akhirnya menjadi konsumsi publik, viral yang fatal. Bahkan serombongan peserta aksi dari Lampung yang pagi ini, Sabtu (5/11) sampai di museum Lampung setelah kemarin turut membela Al-Quran di Jakarta, dengan tanpa dosa mengabarkan M Arifin Ilham tertembak kepada masyarakat. Padahal?

Pengasuh Majelis Az-Zikra itu membantah kabar dirinya tertembak. Menurut dia, gambar dirinya yang beredar itu tersingkap baju bukan terkena peluru. Berbanding terbalik dengan pernyataan media yang mengaku bernafas Islam dan para rombongan peserta aksi dari Lampung.

Karena itu, selain pertanyaan sejauhmana pemahaman terhadap QS Al-Hujurat ayat 6, pertanyaan lain harus disodorkan ialah pemahaman terhadap QS An-Nur ayat 15: "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar."

"Dengan menyebar berita bohong, itu sama saja menuntut penistaan Al-Quran dengan menistakan Al-Quran," ujar aktivis Keluarga Mahasiwa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung M Nurhidayat Rosihun setelah merampungkan satu surat pendek pada kegiatan sema'an Al-Quran rutin di Sekretariat Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) Lampung.

Jika pengertian Islam menurut Al-Quran mengandung pesan, agar pemeluknya cinta damai, pasrah kepada ketentuan Allah SWT, bersih dan suci dari perbuatan nista, serta dijamin selamat dunia-akhirat jika melaksanakan risalah Islam. Kenapa perilaku tidak terpuji yang bertentangan dengan Islam masih juga ada?

Media massa yang mengaku bernafas Islam justru banyak menyebarkan amarah, provokasi, termasuk kita yang seringkali share dan forward informasi sampah melalui media sosial. Semua itu malah mengesankan Islam yang datang ke Indonesia dengan damai, merangkul bukan memukul, dan bukan sehari dua hari, adalah agama yang dianut mendadak karena tidak dipahami penganutnya sendiri.

Pepatah menyatakan, kebohongan satu akan ditutupi dengan kebohongan lain. Dalam sejumlah media online yang mengaku bernafas Islam tapi tidak sejalan dengan semangat Islam, hal tersebut seolah menjadi tuntunan. Produksi berita propaganda yang merekayasa fakta demi tujuan manipulasi hingga fitnah seolah tiada henti mereka unggah untuk disebarluaskan. Kenapa memilih gagal ketimbang gemilang memahami Islam dan Al-Quran?

Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, kata pepatah lain. Umat Islam bisa memosisikan diri dengan cerdas. Share dan forward berita tidak mashlahat dengan trengginas atau menimbang manfaatnya terlebih dahulu.

Umat Islam yang baik, ujar Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid,  adalah yang meninggalkan yang tidak ada manfaatnya. Jaga tangan dan jari ketika menulis di Facebook dan media sosial lainnya. Fitnah seseorang bisa datang dari ujung jari. Jika dulunya fitnah menyebar dari lisan, kini fitnah lebih cepat menyebar dari media sosial.

An-Nuur ayat 11 juga telah menegaskan, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar."

Perlukah mengatasnamakan Islam jika hanya untuk mengobarkan dusta hingga amarah? Perlukah meneriakkan Islam jika tak memahami Islam? Tidakkah Islam sudah meriah dan memiliki muruah dengan segala ajarannya yang lempang? Bagaimana tidak menyimpang itulah esensi tugas kita sebagai penganutnya.


*) Penulis adalah Founder Hijamah Sambil Beramal (Halal). Ia bergiat di GP Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Sabtu 5 November 2016 17:2 WIB
Slank dan Kita yang Masih Kagetan
Slank dan Kita yang Masih Kagetan
Oleh Abdullah Aniq Nawawi 

Kita ini adalah muslim yang kagetan-Gus Mus-

Barangkali ada benarnya perkataan Gus Mus itu. Kita memang kagetan. Ada Lady Gaga kaget. Ada Irshad Manji kaget. Itu dulu. Sekarang? Ternyata masih berlanjut. Hobi gampang kagetan itu nampaknya memang sulit dihilangkan. Saya bertanya: apa penyebab utamanya? Kita mungkin punya jawaban yang berbeda. Tetapi jawaban saya hanya satu: kita semua kurang “baca”.

Dulu, ketika Syekh Muhammad Abduh mengunjungi Eropa, beliau sempat ngendiko: “ra’aytu al-islma huna wala nara al-muslima, wa ra’aytu al-muslima hunaka wala ara al-islama” saya melihat islam di sini (Eropa), meskipun tak ada muslim. Dan saya melihat muslim di sana (Dunia Arab), tetapi tidak melihat Islam. Kira-kira seperti itu beliau ngendiko. Tentu saja perkataannya itu dalam wadah totem pro parte, atau ithlaqul kull wa urida bihi al-ba’dh, tetapi dawuh beliau ini bukan asal-asalan. Kita, mungkin muslim. Tapi apakah sudah menerapkan nilai-nilai islam? Sepertinya belum.

George  Washington University pernah melakukan suatu penelitian untuk melihat Negara mana yang paling islami. Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), kebersihan. Keadilan, toleransi, dan semua nilai-nilai islam yang terkandung dalam Al-Qur’an juga akhlak Nabi SAW. Indikator-indikator tersebut mereka sebut sebagai islamicity index. Mereka lalu datang ke lebih dari 200 negara untuk mencari siapa negara paling islami. Hasilnya? Selandia Baru adalah Negara paling islami. Indonesia? Kita berada di urutan 140. Lalu Negara-negara Arab lainnya? Ya Tidak jauh beda. Antara 100-200. Kesimpulannya: Abduh tidak keliru.

Kita harus sadar bahwa kita masih memerlukan plang bertuliskan an-nadzafatu minal iman agar tak buang sampah sembarangan. Tetapi masih tetap seperti itu. Sementara di Selandia Baru atau negara-negara Eropa yang islami, mereka tak butuh plang “annadzafatu minal iman” agar tak buang sampah sembarangan. Di negara Arab tempat saya berkuliah banyak tembok yang bertuliskan “la tabul huna / jangan kencing di sini”. Tetapi tiap hari tembok itu akrab dengan bau pesing. Itu contoh sederhana bagimana kita adalah seorang muslim tanpa menerapkan nilai-nilai islam.

Nah, budaya kagetan itu sepertinya karena kita tak menjalankan nilai Islam yang utama: Membaca. Saya rasa tidak ada satupun kitab suci yang permulaan wahyunya berisi seruan untuk membaca selain Al-Qur’an. Tetapi sekarang siapa yang paling banyak melaksankan seruan itu? Bukan kita. Kita yang katanya Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia menempati urutan ke 60 dari 61 negara soal minat membaca. Bagaimana mungkin Negara dengan jumlah muslim terbanyak, yang awal wahyu di kitab sucinya berisi seruan untuk membaca berada di urutan kedua terbawah soal minat membaca? Kita hanya lebih baik dari Bostwana.

Sekarang kita bersama Slank. Siapa yang tak kenal Slank. Grup band legendaris Indonesia itu belum lama ini dinobatkan sebagai duta santri oleh RMI (rabithah ma’had islamiy). Ada sebagian kalangan yang mengkritik langkah RMI ini. Mereka bilang: “kok bisa orang yang pernah foto hampir telanjang dijadikan duta santri”. 

Sekali lagi, budaya kagetan muncul. Kenapa? Ya karena kita kurang baca. Karena kalau kita membaca sejarah, bagaimana orang-orang kafir Quraish yang punya kelakuan lebih buruk dari slank oleh nabi dijadikan duta muslim. Bagaimana Umar yang pernah membunuh putrinya sendiri kemudian menjadi tokoh Islam. Kalau kita membaca sejarah kita pasti faham arti ‘afallahu ‘amma salaf. Bahwa kesalahan masa lalu tak penting. Karena yang terpenting adalah ketika kita berusaha memperbaikinya. 

Slank memang pernah foto hampir bugil. Tapi kan itu dulu. Kaana wala yakun. Justru barangkali, dengan dijadikan duta santri, itu akan menjadi wasilah (perantara) bagi Slank untuk menjadi lebih baik. Setidaknya kalau kita membaca, kita tak akan terlalu kaget dan bisa mencari hikmah dari kejadian ini. Sekali lagi: kalau kita baca.

Kita nampaknya memang akan selalu kagetan jika kita masih tidak membaca, masih mendahulukan belanja emosi dari menyicil buku, dan masih suka menghujat terlebih dahulu daripada menganalisa dan mencari fakta sebenarnya. Sudah saatnya kita membaca lagi, sinau lagi, belajar lagi. Tentu saya juga begitu.

Abdullah Aniq Nawawi, PCINU Maroko



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG