IMG-LOGO
Nasional

Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari Selamatkan Kemerdekaan Indonesia

Jumat 11 November 2016 5:30 WIB
Bagikan:
Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari Selamatkan Kemerdekaan Indonesia
Jakarta, NU Online
Peristiwa 10 November 1945 sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari peran fatwa Resolusi Jihad NU yang menggerakkan warga dan juga kalangan santri untuk menghantam pasukan sekutu di Surabaya.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur, Kamis (10/11) dalam diskusi bertajuk Membangkitkan Spirit Kepahlawanan di Gedung PBNU Jakarta.

71 tahun yang lalu, terang Ghopur, tepatnya 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari, dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad meminta pemerintah untuk segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, dan kontan saja disambut rakyat dengan semangat berapi-api. Meletuslah perang dahsyat. Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non-reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH Masykur. 

Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah.

“Jalur aksi perjuangan melalui Resolusi Jihad NU akhirnya harus ditempuh demi menyelamatkan Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Bagaimanapun ini adalah suatu tanggapan yang cepat, tepat, dan tegas dari NU atas krisis kepercayaan dan kewibawaan sebagai bangsa yang baru menyatakan kemerdekaannya,” jelas Ghopur, intelektual muda NU ini.

Seruan yang dikeluarkan oleh NU ini yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan.

Namun setelah 71 tahun merdeka, Indonesia masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kepahlawanan, kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ujarnya.

Sebagai bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur, kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psicology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. “Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini baik secara vertikal maupun horizontal,” ungkap Ghopur.

“Ini dapat dibuktikan dengan makin maraknya kelompok-kelompok yang berpaham eksklusif dan anti Pancasila sebagai padangan hidup berbangsa dan bernegara. Kelompok fundamentalis yang selalu mengatasnamakan agama bahkan Tuhan,” tambahnya. 

Diskusi ini juga menghadirkan, Wasekjen Perhimpunan Indonesia dan Tionghoa (INTI) Ulung Rusman, Ketua Gerakan Kebangkitan Nusantara Moses Latui Hamallo, dan anak-anak muda dari berbagai lintas iman dan etnis. (Fathoni)


Tags:
Bagikan:
Jumat 11 November 2016 22:0 WIB
Bupati Usul 3 Kiai Pahlawan Asal Jombang Masuk Kurikulum Nasional
Bupati Usul 3 Kiai Pahlawan Asal Jombang Masuk Kurikulum Nasional
Jombang, NU Online
Hingga kini, Jombang setidaknya telah memiliki tiga nama yang telah mendapat gelar pahlawan nasional. Yakni KH M Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah serta KH Abdul Wahid Hasyim. Namun sayang, tidak semua disebut dalam buku sejarah di sekolah.

"Sudah seharusnya, para pahlawan nasional asal Jombang ini masuk dalam kurikulum sekolah sebagai bagian dari pelajaran sejarah," kata Nyono Suharli Wihandoko, pada kegiatan ziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah, Kamis (10/11). Karenanya, Bupati Jombang tersebut akan mengajak kalangan DPRD untuk membahas hal ini, lanjutnya. 

Ikhtiar tersebut akan dilakukan karena kalau berhasil dimasukkan pada kurikulum, nantinya menjadi teladan bagi pelajar dan generasi bangsa. "Tidak hanya untuk kurikulum muatan lokal, kita akan mengusulkan ke pusat nantinya, sehingga sejarah perjuangan ulama bisa diketahui generasi bangsa," tandas Nyono, sapaan akrabnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Jombang didampingi Wakil Bupati Nyai Hj Mundjidah Wahab, Kapolres Jombang AKBP Agung Marlianto serta Dandim 0814, Letkol Arh Fathurrahman. Kegiatan sebagai rangkaian hari pahlawan.

Sebelumnya, bupati, wabup dan jajaran Forum Pimpinan Kepala Daerah atau Forpimda Jombang melakukan tabur bunga di taman makam pahlawan, jalan Kusuma Bangsa, termasuk  berdoa di makam bupati pertama RA Soero Adiningrat. 

Tabur bunga dilakukan usai pelaksanaan upacara peringatan hari pahlawan yang digelar di Alun-alun Kabupaten Jombang. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Jumat 11 November 2016 20:29 WIB
JELANG KONGRES MUSLIMAT
Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU
Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU
Jakarta, NU Online 
Muslimat Nahdlatul Ulama akan menggelar kongres ke-XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 23 sampai 27 November. Hajatan bertema Dengan semangat Islam Nusantara, kita wujudkan Indonesia damai sejahtera tersebut akan diikuti sekitar tiga ribu peserta dari tingkat pusat, wilayah, dan cabang. 

Pimpinan Pusat Muslimat NU yang dipimpin Ketua Umum Khofifah Indar Parawansa menyampaikan hajatan lima tahunan tersebut kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan  Katib Aam Syuriyah PBNU KH Yahya C Staquf di PBNU, Jakarta pada Jumat (11/11).  

Menurut Khofifah rencananya kegiatan tersebut akan dimulai dengan registrasi peserta, ta’aruf, kemudian dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pembukaan kemungkinan diubah di tengah kongres karena Wapres ada agenda ke luar negeri.  

Menteri Sosial RI tersebut menambahkan, kegiatan tersebut akan diwarnai dengan penyampaian materi dengan narasumber beberapa orang menteri. Serta arahan-arahan dari PBNU. 

Pertemuan lebih dari sejam tersebut disambut kesediaan Kiai Said menghadiri kegiatan tersebut. Ia bersedia datang di pembukaan ataupun di penutupan. 

Selain Khofifah, pada kesempatan tersebut hadir pengurus lain yaitu Sekretaris Umum Aniroh Slamet, Bendahara Umum Erna Yulia Sofihara, Ketua Mahfudhoh Ali Ubayd, Ketua Nurhayati Said Aqil, Wakil Sekretaris Nurifah, Ketua Induk Koperasi An-nisa (Inkopan) Ana Muawanah, dan Ketua Sri Mulyati. (Abdullah Alawi)

Jumat 11 November 2016 19:30 WIB
Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan
Lima Hal Penting dalam Merefleksikan Hari Pahlawan
Jakarta, NU Online
Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun pada 10 November memberikan kesan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pejuangnya. Namun demikian, nilai-nilai kepahlawanan yang ada dalam diri para pemuda dan bangsa Indonesia mengalami krisis.

Dalam hal ini, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur dalam diskusi, Kamis (10/11) di Gedung PBNU memberikan 5 hal penting yang perlu direnungkan dalam memperingati Hari Pahlawan.

Berikut lima hal tersebut:

1. Mempertahankan dan menegakkan kembali kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia merdeka dari rongrongan pihak manapun! 

2. Menghindari mental dan sikap individualistis dan eksklusif yang mengarah pada pengkhianatan dasar negara dan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang telah gugur menumpahkan darah, jiwa dan raga demi kemerdekaan Republik Indonesia.

3. Peristiwa perang 10 Nopember 1945 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia yang baru merdeka adalah nyata dari hasil ijtihad para ulama NU melalui “Resolusi Jihad NU” 22 Oktober 1945. Dan, sebagai rasa hormat dan terimakasih yang tak terkira dari generasi penerusnya, maka tonggak bersejarah itu wajib dihormati, dan senantiasa diingat serta ditanamkan kembali dalam sanubari, diteladani dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Semangat heroisme dan rela mengorbankan segalanya dari para perintis dan pendiri bangsa patut bahkan wajib dihormati setinggi-tingginya oleh generasi penerus dan pelurus bangsa dalam bentuk menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan bangsa dengan sikap saling tolong-menolong, berbagi dan mengasihi sesamanya.

5. Bahwa Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah fakta sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat diingkari dan wajib kita jaga dan rawat, setia sekaligus menolak segala bentuk radikalisme dan paham yang bereserangan dengan Pancasila.

(Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG