IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Trump dan Masa Depan Dunia Islam

Jumat 11 November 2016 21:0 WIB
Bagikan:
Trump dan Masa Depan Dunia Islam
Donald Trump (nbcnews.com)
Dunia kini semakin banyak mengalami kejutan dan perubahan pola yang mungkin saja memiliki efek jangka panjang yang pengaruhnya juga belum semuanya bisa diperkirakan. Setelah kejutan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), kini dunia dikejutkan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat. Ia merupakan kuda hitam yang kini akan memimpin negara adidaya selama empat tahun ke depan.

Ucapan-ucapan Trump pada masa kampanyenya yang terkait dengan Islam menimbulkan kontroversi. Hal ini menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh presiden yang juga miliarder ini? Ia pernah menyatakan akan menutup Amerika Serikat bagi Muslim, meskipun kemudian diubah lagi, tetapi nuansa islamophobia yang dikatakan olehnya masih tetap terlihat.

Sekalipun sebuah negara memiliki sistem pembagian kekuasaan yang sudah mapan dan jelas antara legislatif, yudikatif, dan eksekutif, tetapi kebijakan seorang presiden masih memiliki pengaruh yang sangat besar. Ia bukanlah raja yang berkuasa mutlak, tetapi di tangannya, ada kekuasaan yang memungkinkan banyak hal terjadi, apalagi pada sebuah negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Era Bush II menunjukkan akibat kebijakannya yang sampai sekarang masih menimbulkan akibat-akibat buruk yang belum terselesaikan, bahkan menimbulkan masalah-masalah baru yang tak terduga sebelumnya. Dan pemahaman Trump terhadap Muslim yang mungkin saja sangat awam, bisa saja menimbulkan efek yang tak terduga di masa mendatang. 

Selama pemerintahan George W Bush pada 2001-2009 ia menyerang Irak dengan alasan adanya senjata kimia pemusnah massal yang ternyata tidak terbukti. Jumlah korban jiwa akibat perang ini mencapai 460 ribu jiwa lebih. Hingga kini luka-luka akibat perang belum sembuh. Keberadaan ISIS merupakan kelanjutan dari ketidakstabilan di Irak akibat perang yang dimulai 13 tahun lalu. Keamanan menjadi barang mahal di Irak. Afganistan juga menjadi sasaran dari Amerika Serikat selama era Bush. Semuanya dilakukan dengan alasan preemtive war atau penyerang terlebih dahulu untuk menghancurkan kekuatan potensial lawan sebelum pihak musuh menyerang. 

Jika Trump menggunakan pendekatan keras terhadap Muslim, yang kini jumlahnya 1.6 miliar, maka hal ini bisa saja mendorong kelompok ekstrimis untuk mengambil kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya atas nama membela Islam yang sedang “dikuyo-kuyo” oleh Trump. Muslim mayoritas yang diam, akan menjadi kelompok yang paling menderita. Akan lebih banyak lagi korban yang tidak seharusnya menderita.  

Kawasan Timur Tengah yang labil mungkin akan terkena dampak paling besar dari kebijakan AS. Hingga kini, masalah Palestina, Suriah, Irak, Iran dan negara-negara sekitaranya masih menunggu kebijakan presiden baru tersebut apakah tetap sebagaimana yang dilakukan oleh Obama atau ada solusi baru yang lebih baik. Yang tak boleh dilupakan, kemungkinan lebih buruk mungkin saja terjadi. Yang jelas, PM Israel Benjamen Netanyahu menyatakan kegembiraannya atas terpilihnya Trump. Sementara Iran, menekankan pentingnya menjaga perjanjian nuklir. Palestina, masih akan menjadi persoalan yang mengemuka. 

Bagi kita, warga Indonesia dan dunia Muslim ada banyak hal yang perlu kita apresiasi dan ambil pelajaran dari pemiihan presiden Amerika Serikat ini. Pemilu bisa berlangsung dengan damai. Permasalahan seputar pemilu yang dialami di Indonesia seperti adanya politik uang juga tidak terdengar. Pihak yang kalah dengan segera mengakui kekalahannya, tidak perlu proses panjang untuk membawanya ke pengadilan sebelum akhirnya benar-benar mengaku kalah. Ini menunjukkan kematangan masyarakat Amerika Serikat dalam berdemokrasi. Pemilu di negara-negara Muslim, masih menyisakan berbagai persoalan ketika penyelenggaraan selesai. 

Di tengah globalisasi ini, semua kepala negara dipilih untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya di hadapan berbagai kepentingan lainnya seperti kepentingan regional dan global. Apa yang terjadi di Inggris dan Amerika Serikat ini menunjukkan fenomena tersebut. Jika perlu menggunakan kekuatan bersenjata, hal tersebut akan tetap dilakukan demi kepentingan nasional, meskipun hal tersebut melanggar atau mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Seorang presiden, hanya bertanggung jawab kepada pemilih di negaranya masing-masing, tidak kepada komunitas internasional. Akhirnya, jika orientasinya hanya dalam skup negara, masyarakat internasional bisa dirugikan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, memiliki kekuatan untuk menggerakkan dunia menjadi lebih baik. Pemimpin yang di tangannya ada kekuatan besar, tetapi jika ditujukan hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau negaranya saja sementara di sisi lain mengabaikan kepentingan kemanusiaan secara luas, bisa menjadi ancaman dunia. 

Seorang tokoh dunia adalah mereka yang mampu menembus sekat-sekat kepentingan dan lintas batas geografis, merekalah para pengabdi kemanusiaan. Inilah yang dilakukan para nabi dan rasul, yang membawa manusia kepada pencerahan dan dunia yang lebih beradab. Sayangnya, dalam dunia yang lebih canggih dan semakin banyak orang pintar, semakin susah mencari figur seperti itu. Dunia, semakin dipenuhi oleh sifat-sfiat keserakahan dan kepentingan yang semakin sempit. (Mukafi Niam)

Bagikan:
Jumat 4 November 2016 13:1 WIB
Menyampaikan Aspirasi dengan Damai
Menyampaikan Aspirasi dengan Damai
Sumber: Newsth.com
Jakarta diguncang unjuk rasa besar-besaran pada Jumat 4 November 2016. Ini merupakan unjuk rasa jilid kedua. Sebelumnya, aksi serupa telah dilakukan dengan damai. Unjuk rasa bertema Aksi Membela Islam tersebut menuntut penanganan dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Unjuk rasa karena ketidakpuasan publik terhadap penanganan hukum terhadap kasus Ahok atas pernyataannya tentang Surat Al Maidah 51. 

Unjuk rasa atau demonstrasi merupakan hak dari warga negara untuk menyampaikan pendapat. Namun berkumpulnya orang dalam jumlah banyak di satu tempat, rawan menimbulkan situasi yang tidak terkendali. Apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang ingin menumpang aksi tersebut untuk kepentingannya sendiri atau kelompok tertentu, seperti agenda pendirian negara khilafah. 

Karena itulah PBNU menyerukan seluruh perangkat organisasinya untuk tidak ikut dalam aksi tersebut. Ada banyak cara untuk menyampaikan aspirasi. Para tokoh NU juga memahami keresahan masyarakat tentang kasus tersebut. Dalam hal ini Rais Aam KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj bersama sejumlah jajaran NU lainnya sudah bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan tuntutan publik terkait penanganan kasus tersebut. Bagi NU, permintaan maaf yang sudah disampaikan Ahok harus diterima, tetapi tuntutan hukum, biarlah peradilan yang berbicara.  

Sebagai negara hukum, maka dugaan penistaan agama tersebut harus diproses dengan baik tanpa intervensi siapa pun. Publik merasa kasus ini baru dikebut prosesnya menjelang pelaksanaan aksi 4 November ini. Biarlah para ahli hukum menilai apakah yang dilakukan Ahok benar atau sebaliknya. Di kalangan umat Islam sendiri juga masih banyak tafsir atas pernyataan yang disampaikan Ahok tersebut, ada yang menganggap menistakan Islam, ada yang sekadar menyinggung, tetapi ada yang menganggapnya biasa saja. Karena itu, dari proses hukum dan hasilnya juga harus dihormati. Jika Ahok dinyatakan bersalah, maka harus dihormati, tetapi jika diputuskan tidak bersalah, juga harus dihormati.  

Demonstrasi kali ini mengandung banyak nuansa, apalagi menjelang pelaksanaan pilkada 2017. Tak dapat dipungkiri bahwa kepentingan politik berupa adanya pertarungan di antara para calon gubernur DKI Jakarta juga menjadi bagian dari aksi ini. Banyak yang berkepentingan agar Ahok, petahana yang masih populer ini dan kemudian diusung lagi oleh beberapa partai politik untuk maju lagi ini memiliki peluang untuk memenangkan pemilu. Berbagai cara digunakan untuk menurunkan popularitasnya. 

Aparat keamanan, dalam hal ini harus mampu memastikan keamanan warga dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Yang berdemo silahkan berdemo, tetapi aktivitas masyarakat lainnya juga harus berjalan dengan lancar. Masing-masing memiliki kepentingan yang harus dihormati. Mereka yang beraktivitas untuk mencari nafkah bagi keluarga di rumah juga menjalankan ajaran agama sehingga kegiatan mereka tidak boleh terganggu para pendemo.

Pada akhirnya, semua harus dibuktikan Jumat ini, apakah umat Islam juga mampu berperilaku baik dalam menyampaikan aspirasinya. Jangan sampai kita menuntut dihapuskannya keburukan, tetapi upaya yang dilakukan menggunakan cara-cara yang juga buruk. Umat Islam Indonesia dikenal menunjung tinggi kedamaian ini harus mampu menunjukkan bahwa sikap tersebut terus dipegang, dalam kondisi apa pun, termasuk saat meminta keadilan. (Mukafi Niam)
 

Jumat 28 Oktober 2016 7:0 WIB
Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang
Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang
Ilustrasi
Era sekarang adalah era ekonomi pengetahuan. Zaman di mana mesin dan komputer sudah menggantikan sebagian besar pekerjaan fisik manusia. Pengetahuan dan kreativitaslah yang belum bisa dilakukan oleh benda canggih tersebut. Karena itu, negara yang maju adalah yang memiliki orang-orang yang kreatif dan inovatif. Untuk menciptakan manusia yang berpengetahuan dan kreatif, maka salah satu kuncinya adalah di guru yang mengajar tunas-tunas muda harapan bangsa.

Para guru menentukan baik buruknya sebuah masyarakat pada 20-30 ke depan saat para siswanya sudah menduduki jabatan strategis sebagai pengambil keputusan. Jika siswa diajar dengan baik, maka peradaban juga berkembang dengan baik, hal sebaliknya juga berlaku. Negara-negara yang memperhatikan sektor pendidikannya, seperti Finlandia, Swedia, dan Denmark terbukti menjadi negara yang maju dengan karya-karya yang inovatif.

Kesadaran publik tentang pentingnya meningkatkan kualitas guru sudah meningkat. Jika dulu profesi guru disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa, artinya diminta bekerja keras untuk memintarkan murid, tetapi imbalan yang diterima sangat kecil, kini semuanya sudah berubah. Banyak orang tertarik menjadi guru karena penghasilannya memadai setelah pemerintah menggulirkan dana tunjangan sertifikasi yang berlaku baik bagi guru PNS atau non-PNS yang sudah memenuhi standar tertentu. Harapannya, jika penghasilan memadai, maka mereka bisa fokus mengajar para siswa yang ujung-ujungnya, siswa menjadi pintar. Untuk itu, juga ada aturan bahwa guru harus mengajar sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Tidak bisa seorang lulusan fakultas agama mengajar matematika sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu. Semuanya dengan harapan agar kualitas pengajaran menjadi lebih baik.

Meskipun pemerintah sudah mengalokasikan dana yang besar, misalnya pada 2016 ini saja, terdapat 46.4 triliun untuk tunjangan profesi guru, kualitas pendidikan belum juga beranjak naik. Berbagai indikator pendidikan internasional menunjukkan posisi Indonesia masih rendah. Human Development Index (HDI) Indonesia dalam lima tahun terakhir masih di kisaran 110, setara dengan nilai 0.684 dan dalam urutan negara ke-110, di bawah Botswana (106), Moldova (107), Mesir (108), Turkmenistan (109), dan menempati posisi yang sama dengan Gabon (110).

Jumlah guru yang mencapai angka sekitar 3 juta sebenarnya sudah cukup dilihat dari rasio siswa dan guru yang menanganinya. Sayangnya, penyebarannya yang kurang merata, terutama di luar Jawa yang infrastrukturnya belum memadai. Guru masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dengan fasilitas penunjang lengkap.

Ada persoalan lain terkait dengan jumlah guru yang sudah mendapat dana tunjangan sertifikasi. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan dana tunjangannya bukan untuk mengembangkan ilmu atau kapasitasnya sebagai guru sebagaimana diniatkan oleh pemerintah, tetapi memanfaatkannya untuk kepentingan yang sifatnya konsumtif seperti beli mobil, beli tas atau baju mahal, dan hal-hal yang tidak mendorong produktivitas dirinya sebagai guru. Ini tentu problem lain yang lebih mendasar sebagai sebuah bangsa tentang etos kerja atau kebutuhan untuk pencapaian sesuatu yang lebih rendah. Ini berangkat dari budaya yang kurang kompetitif dalam menghadapi dunia masa depan yang lebih keras. Mereka sudah puas dengan apa yang ada, dan mengajar kepada para siswanya apa adanya.

Para guru yang bergabung dengan Persatuan Guru NU (Pergunu) menghadapi problem yang lebih kompleks lagi karena terdiri dari guru-guru swasta yang masih berjuang dalam mengatur dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang belum mendapat dana tunjangan sertifikasi, mengajar di sekolah swasta yang pendanaan dan fasilitasnya juga masih terbatas serta problem-problem pendidikan lain. Kongres Perguru yang berlangsung pada 26-29 Oktober di Mojokerta diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan mendasar tersebut. Apa yang dihadapi oleh Pergunu, menjadi cermin dari permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan NU. (Mukafi Niam)

Sabtu 22 Oktober 2016 17:0 WIB
Santri Berjuang Membangun Kesetaraan
Santri Berjuang Membangun Kesetaraan
Pada 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo mengesahkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri. Kita patut bersyukur atas apresiasi dari pemerintah pada peran yang dijalankan oleh kelompok santri dalam berbagai bidang kehidupan. Santri merupakan kelompok masyarakat yang paling gigih dalam menentang penjajahan Belanda dengan melakukan berbagai perlawanan yang tersebar di berbagai daerah. Kini pun, santri mengawal perjalanan bangsa agar tetap pada jalurnya di tengah-tengah ancaman radikalisme.

Di tengah gencarnya upaya membangun dan memperbaiki pendidikan di Indonesia, yang ditunjukkan dengan alokasi anggaran sebesar 20 persen untuk sektor pendidikan dalam UUD 1945, dunia pesantren, khususnya pesantren salaf, luput dari perhatian. Alokasi dana untuk madrasah pun jauh lebih kecil dibandingkan dengan sekolah umum. Belajar di pesantren seolah tidak layak mendapat dukungan negara untuk perbaikan kualitas sebagaimana sistem pendidikan sekolah. Tidak ada dana biaya operasional pesantren seperti biaya operasional sekolah (BOS) yang diberikan kepada setiap murid di sekolah. Tidak ada alokasi beasiswa bagi santri yang sedang mondok. Tidak ada dana sertifikasi bagi para ustadz yang mengajar di pesantren, dan para santri harus tinggal di asrama ala kadarnya. Semuanya dilakukan secara swadaya dengan semangat tafaqquh fiddin.

Sesungguhnya santri juga pelajar, hanya fokusnya saja yang beda karena yang dipelajari adalah ilmu-ilmu agama. Bidang ini juga tak kalah pentingnya bagi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Mereka membina masyarakat setelah pulang dari pesantren. Mereka dididik untuk memiliki karakter dan akan mendidik masyarakat agar berkarakter. Begitulah proses pendidikan berlangsung dari generasi ke generasi sampai akhirnya menjadi sebuah ciri Muslim Nusantara yang khas. Tak ada ceritanya tawuran di kalangan santri. Mereka sangat menghormati guru dan orang tua, serta menyayangi yang muda. Pendidikan karakter yang digember-gemborkan di sekolah belakangan ini, toh masih sangat jauh dari standar yang berlaku di lingkungan pesantren. Toh, dengan peran yang sedemikian besar, pesantren belum mendapatkan banyak perhatian.

Akibat minimnya dukungan bagi pesantren, proses belajar mengajar dilakukan secara sederhana, apa adanya. Tetapi hal ini tak mengurangi semangat untuk belajar. Jika ada dukungan fasilitas yang lebih memadai, tentu hasilnya akan luar biasa. Akhirnya, para pengasuh pesantren, harus mati-matian untuk mencari dana buat operasional pesantren. Tak mungkin pula menarik iuran yang memadai kepada santri karena rata-rata dari mereka berlatar belakang keluarga sederhana dengan pendapatan terbatas. Tak ada pula komersialisasi pesantren sebagaimana terjadi di sekolah yang kini menunjukkan gejala yang semakin memprihatinkan. Pendidikan di pesantren didasari niat luhur untuk mendidik manusia menjadi lebih beradab.

Peringatan hari santri yang kini sudah berlangsung untuk kedua kalinya, tak boleh sekadar upacara seremonial bahwa eksistensi santri sudah diakui negara. Tak boleh bangga hanya karena banyak yang ikut upacara atau karena para pejabat yang datang. Hal itu penting, tetapi ada yang lebih penting: peringatan Hari Santri adalah titik awal untuk memperjuangkan hak-hak santri sebagai pelajar sebagaimana yang diperoleh dalam sistem pendidikan sekolah. Kirab Hari Santri yang mengambil titik awal di Banyuwangi, Jawa Timur, yang kemudian menyinggahi puluhan kota sebelum akhirnya berakhir di Jakarta diharapkan tidak sekadar menunjukkan besarnya jumlah massa santri, tetapi harus mampu membangun kesadaran dari pemerintah daerah yang dilewati oleh rombongan kirab tersebut untuk lebih memperhatikan para santri dalam proses belajar mengajar di pesantren.

Salah satu kendala dalam pemberdayaan santri adalah belum adanya payung hukum yang memberi dukungan atau melegalkan alokasi anggaran untuk pesantren. Upaya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menginisiasi Rancangan Undang-Undang Pendidikan Pesantren dan Madrasah layak diapresiasi dan didukung. Dengan adanya payung hukum, maka hak-hak pelajar santri akan diakui secara formal dalam pembuatan kebijakan negara. Sungguh menyenangkan membayangkan para santri bisa belajar di pesantren dengan fasilitas yang memadai. Sungguh bahagia melihat  para ustadz mengajar tidak sekadar didasarkan untuk mengabdi dengan bayaran ala kadarnya. Jika mereka juga mendapatkan dana sertifikasi atas pengabdiannya dalam mengajar, mereka bisa hidup lebih layak, bisa membeli kitab-kitab terbaru sebagai bahan rujukan atau bisa meneruskan pendidikan yang lebih tinggi untuk peningkatan kapasitas intelektualnya.

Jika pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai model Islam yang pas di era globalisasi atau menjadikan Indonesia sebagai rujukan Islam dunia sebagaimana yang belakangan didengung-dengungkan, tentu dukungan bagi pesantren yang merupakan inti dari Islam di Indonesia harus dilakukan secara penuh. Untuk melahirkan ahli-ahli agama kelas dunia, yang pandangannya diakui, dihormati dan menjadi rujukan dalam berperilaku sebagai Muslim yang baik tak cukup dengan pujian bahwa pesantren telah berbuat banyak bagi negeri ini. Perlu dukungan kitab dan buku-buku yang memadai untuk belajar dengan baik, perlu para ulama yang mumpuni agar potensi santri bisa terasah secara maksimal. Tanpa dukungan yang memadai, cita-cita itu hanya omong kosong belaka. (Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG