IMG-LOGO
Nasional
SULUK MALEMAN

Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan


Senin 21 November 2016 02:38 WIB
Bagikan:
Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan
Dalang Sigit Ariyanto memainkan lakon Bale Sigolo-golo
Pati, NU Online
Ngaji NgAllah Suluk Maleman kembali digelar di rumah Adab Indonesia Mulia, Pati, Jawa Tengah pada Sabtu (19/11). Tema Darurat Kewarasan dipilih dalam diskusi yang turut menghadirkan dalang Sigit Ariyanto dari Rembang dan Kiai Budi Harjono tersebut.

Meski sekilas sederhana namun tema yang dibawakan itu terbukti mampu menghangatkan diskusi yang digelar hingga Minggu (20/11) dini hari tersebut. Sisi “waras” atau sehat dalam hal kejiwaan dinilai sudah mendesak atau darurat untuk diberi perhatian.

Pasalnya saat ini sikap kewarasan manusia dalam menyikapi suatu persoalan banyak yang dikesampingkan. Bahkan sejumlah manusia menjadi begitu mudah saling membenci sekalipun dengan orang yang tidak dikenalnya.

“Kita lihat dengan apa yang ada di media sosial seperti saat ini. Hanya gara-gara beda pendapat di media sosial orang mudah untuk saling membenci bahkan bermusuhan. Padahal kadang kenal saja tidak,” ujar Anis Sholeh Baasyin memberi pengantar dialog melalui siaran pers.

Sikap seperti itu pun diakuinya semakin mudah ditemui di sejumlah kalangan. Banyak masyarakat yang kemudian kehilangan kewarasan. Bisa menjadi pembela habis-habisan ataupun memusuhi habis-habisan orang atau pihak yang dikenalnya saja tidak, apalagi dikenali rekam jejaknya.

“Rasanya, kini harus mulai disadari oleh semua pihak bahwa berdakwah itu tidak sederhana, apalagi sebatas mencari kebenaran versinya sendiri saja; melainkan juga harus menghitung parameter-parameter pembangun peradaban yang lebih baik,” tambah pengurus Lesbumi PBNU ini.

Menurut Anis, situasi yang terjadi saat ini semakin mempertegas kebutuhan untuk membentuk semacam dewan syuro kebangsaan. Dewan syuro yang melibatkan kyai-kyai sepuh maupun tokoh-tokoh negarawan. Tentu saja dalam dewan syuro tersebut tidak lagi berbicara terkait perbedaan maupun perpecahan melainkan bersatu padu membahas kebaikan bangsa.

“Jadi tidak ada lagi kepentingan kecuali untuk kebaikan untuk bangsa ini,” tambahnya.

Sementara itu Kiai Budi Harjono menambahkan untuk mengantisipasi kondisi darurat kewarasan dirinya menilai bisa diminimalisir dengan keberadaan seniman maupun budayawan. Apalagi saat ini Indonesia telah dijaga dengan budaya dan tradisi yang begitu luhur.

“Kalau orang Indonesia itu sebenarnya sudah bagus seperti fiosofi caping. Dimana masyarakat Indonesia bisa menggapai keindahan Tuhan tak bertepi untuk diturunkan ke bumi melalui seni,” ujarnya.

Hal itu pun terlihat dari sejumlah tradisi seperti mendatangi tetangga yang tengah berduka maupun tengah berbahagia. Dengan keindahan seperti itu justru membuatnya bertanya apa yang menyebabkan orang ingin merubah budaya seindah itu.

“Seringkali manusia terkecoh hegemoni politik dan ekonomi sedangkan posisi kebudayaan yang seharusnya sebagai panglima justru tersisihkan,” tambahnya.

Dirinya juga menekankan pentingnya menjaga perbedaan itu sendiri. Seharusnya perbedaan jusru memperkuat bukan justru sebaliknya. Seperti halnya wayang yang tampil menarik lantaran adanya beragam sifat dalam satu wadah.

“Kalau ada orang yang merokok misalnya meski kita tidak suka ya biarkan saja, itu lebih baik dari pada digunakan mulutnya untuk berbicara yang menyakitkan,” ujarnya.

Diskusi berjalan dengan hangat dan menarik sehingga tidak terasa diskusi baru berakhir pada Minggu (20/11) sekitar pukul 02.00. Antusias masyarakat kian meningkat saat dalang Sigid Ariyanto memainkan lakon Bale Sigolo-golo dalam pakeliran padat yang atraktif selama hampir 1,5 jam. Sebuah lakon yang diramu dengan apik oleh Sigid, sebagai sebuah kritik terhadap kondisi aktual masyarakat.

Tampilan Sampak GusUran, kelompok musik Kalimosodo, pembacaan puisi, juga lawak oleh Konyik dan Konyil yang menyentil kesana-kemari, turut melengkapi jalannya diskusi yang dihadiri 800-an orang itu. (Red: Abdullah Alawi)


Bagikan:
IMG
IMG