IMG-LOGO
Taushiyah

Pernyataan Sikap PBNU soal Penindasan Muslim Rohingya

Senin 21 November 2016 21:45 WIB
Bagikan:
Pernyataan Sikap PBNU soal Penindasan Muslim Rohingya
السَّــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
مِنْ أَجْلِ ذٰلِكَ كَتَبْنَا عَلىٰ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
المائدة: 32  

Tragedi kemanusiaan kembali dialami saudara-saudara Muslim Rohingya di Myanmar. Muslim Rohingya makin terjepit dengan kebijakan pemerintah Myanmar. Di beberapa titik di negara bagian Rakhine, aksi militer Myanmar menyebabkan korban berjatuhan. Apapun yang melatarbelakangi peristiwa berdarah tersebut, militer tidak dibenarkan menyerang sipil dan menciderai hak-hak dasar Muslim Rohingya.

Menyaksikan dan mencermati represi yang dilakukan oleh militer Myanmar kepada Muslim Rohingya di sebelah utara negara bagian Rakhine, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menegaskan:

1. Mengecam segala tindakan kekerasan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa segala bentuk tindakan kekerasan adalah tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

2. Islam mengutuk kekerasan. Bahkan tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. Umat Islam umumnya ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa saudara-saudara seiman yang berada di Myanmar.

3. Mengajak seluruh kepala negara dan pemimpin negara di dunia untuk pro-aktif melawan segala bentuk kekerasan. Represi adalah musuh bersama dan harus dilawan sekuat tenaga guna menciptakan upaya perdamaian dan harmoni.

4. Mengajak seluruh umat sedunia untuk terus menggalang solidaritas kemanusiaan untuk menciptakan perdamaian bagi segala bangsa.

5. Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pihak-pihak terkait, terutama kepada komunitas Internasional dan PBB untuk segera mengambil langkah nyata dalam peristiwa kekerasan terhadap Muslim Rohingya yang terjadi di Myanmar. 

6. Mendesak ASEAN untuk mengambil sikap dan langkah konkrit, khusunya pada pemerintah Myanmar agar segera mengakui status kwarganegaraan Muslim Rohingnya.

7. Mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah diplomasi bagi terwujudnya penghormatan atas hak azasi manusia di Myanmar.

Demikian, semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita semua.

Jakarta, 21 November 2016/21 Shafar 1438

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ
وَالسَّــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

DR. KH. Ma'ruf Amin
Rais Aam

KH. Yahya C Staquf
Katib Aam

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj
Ketua Umum

DR. H. A. Helmy Faishal Zaini
Sekjen

(Red: Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Jumat 28 Oktober 2016 16:15 WIB
Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November
Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November
Pesan Moral
Berpecah adalah Musuh Utama Ukhuwah: Jaga Ukhuwah untuk Indonesia yang Aman dan Damai

Bismillahirrohmanirrohim 

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur kepada Allah SWT, Indonesia terus berkembang menjadi sebuah negara yang hidup berdasarkan kepada nilai-nilai luhur bangsa dimana masyarakatnya dapat hidup aman-tenteram saling menghormati, dan rukun berdampingan secara harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Hari ini, Indonesia dikenal publik Internasional sebagai negara yang patut dijadikan percontohan dan teladan, terutama dalam menjadikan faktor kebhinnekaan (keanekaragaman) justru sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia telah berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal.

Agama tidak lagi dipertentangkan dengan negara. Nilai agama melebur dengan budaya lokal yang baik, melahirkan spirit wathoniyah (nasionalisme yang tumbuh subur dengan berkembangnya nilai keagamaan). Sebagaimana yang disampaikan Hadlratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari, pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama yakni:

حب الوطن من الإيمان

"Cinta tanah air adalah bagian dari Iman"

Tidak begitu halnya yang terjadi di beberapa negara, terutama di negara-negara Teluk ataupun di negara-negara sekuler.

Hari ini negara-negara teluk seperti Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman dan lainnya, memasuki suatu babakan baru yang disebut sebagai "failed-state", negara gagal, diakibatkan keliru menerapkan hubungan agama dan negara, sehingga keduanya dipertentangkan satu sama lain yang akibatnya menimbulkan kekacaubalauan.

Ratusan ribu bahkan jutaan manusia menjadi korban atas peperangan yang timbul akibat kesalahpahaman. Sementara di negara-negara sekuler yang hanya mengedepankan rasionalitas tanpa agama justru melahirkan titik balik suatu peradaban yang tidak lagi "memanusiakan manusia".

Dewasa ini, kita tengah menghadapi suatu diskursus publik yang luas, terutama dalam penyikapan masyarakat atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, yang menimbulkan kontroversi di hampir seluruh kalangan. Bahkan sebagian kalangan mengatasnamakan "Aksi Bela Islam II" akan menggelar aksi besar tanggal 4 November mendatang.

Mencermati eskalasi dan perkembangan keadaan terkini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama ini menegaskan:

1.  Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pererat tali silaturahim antar komponen masyarakat. Berpecah adalah musuh utama dari ukhuwah. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan setanah air) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.

واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا

 “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangan berpecah-belah (QS: Ali-Imran, 103)”

2.  Kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan. PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU.

3.  Mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki.

4.  Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI.

5.  Mari tengadahkan tangan mohon petunjuk dan berdoa semoga Indonesia selalu diberi kesejukan dan kedamaian dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.

اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعودالسلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دارالسلام

حسبناالله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصي


Jakarta, 28 Oktober 2016/27 Muharram 1438

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ

وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


DR KH Ma’ruf Amin

Rais Aam PBNU

 

KH Yahya C. Staquf

Katib Aam PBNU


Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU


DR HA. Helmy Faishal Zaini

Sekretaris Jenderal PBNU



(Red: Fathoni)
Sabtu 22 Oktober 2016 8:0 WIB
HARI SANTRI 2016
Amanat PBNU di Hari Santri Nasional 2016
Amanat PBNU di Hari Santri Nasional 2016
AMANAT
PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
MENYAMBUT HARI SANTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين اللهم صل وسلم على سيدنا  ومولانا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين.
أما بعد 

Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kita karunia Iman Islam, sehat jasmani dan rohani, serta keselamatan sehingga kita dapat dipertemukan dalam keberkahan dan kebersahajaan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya, dengan harapan semoga kita semua mendapatkan syafa’at dari Baginda Rasulullah SAW.

Hari ini Keluarga Besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati sebuah peristiwa yang sangat penting dalam rangka mengenang jasa para ulama dan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dari rongrongan penjajahan. Penghormatan dan pengakuan negara atas jasa serta peran para ulama dan kaum santri ini termaktub dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang HARI SANTRI.

Sejarah mencatat bahwa para ulama dan santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagai pintu gerbang menuju masyarakat adil dan makmur. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, mengajarkan tentang arti kemerdekaan, kedaulatan dan kebhinekaan bangsa Indonesia.

Hari ini, 71 tahun yang lalu, bangsa Indonesia hampir saja mengalami situasi pelik dan hampir tidak bisa melepaskan diri dari penjajahan.

Meletusnya pertempuran tanggal 26 Oktober hingga 9 Nopember 1945 di Surabaya antara rakyat sipil dengan tentara sekutu NICA, pemicu utamanya adalah fatwa RESOLUSI JIHAD NU yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh para ulama di bawah komando Rois Akbar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yakni KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Resolusi Jihad NU adalah perintah lurus dari para alim ulama kepada umat Islam di sekitar pulau Jawa yang masuk pada radius masafatul qosr (مسافة القصر‬) dimana dihukumkan WAJIB bagi mereka untuk membela Tanah Air. Kewajiban membela tanah air artinya saat itu adalah perintah untuk melawan tentara sekutu NICA.

Ketika itu, ulama-ulama dari Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dipimpin langsung oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, dan diikuti tokoh-tokoh antara lain: KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Ahmad Hasan, Kiai Mas Abdurrahman, KH. Abdul Halim, dan banyak lagi. Rapat ini sempat tertunda sampai dengan datangnya ulama yang dikenal dengan julukan“Singa dari Jawa Barat” yakni KH. Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon yang kemudian ditunjuk sebagai komandan LASKAR HIZBULLAH.

Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain KH. Abd. Wahab Hasbullah, Bung Tomo, Cak Roeslan Abdulgani, KH. Mas Mansur, dan Cak Doel Arnowo. Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT. ALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR.

Fakta sejarah perlawanan terhadap NICA yang berujung pada pertempuran sengit inilah yang kemudian kita kenal dengan peristiwa 10 Nopember. Kaum santri berhasil merobek bendera Merah Putih Biru yang diganti dengan bendera Merah Putih di atas Hotel Oranje Surabaya. Kaum santri berhasil merebut kembali keadaan dengan mengalahkan pasukan NICA yang dipimpin oleh Brigjen Mallaby. Tak kurang dari 20.000 santri gugur dalam pertempuran tersebut.

Atas peranannya yang begitu dahsyat, Sayyid Muhammad As’ad Shihab menyebutkan dalam salah satu karyanya bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari adalah awwalu wadi’ labinati istiqlali Indonesia ( أول واضع لبينة استقلال اندونيسيا ), “Peletak dasar-dasar kemerdekaan Indonesia”.

Selang beberapa bulan setelah terjadi pertempuran dahsyat di Surabaya, di mana sipil dan santri menjadi aktor utamanya, mata dunia perlahan mulai terbuka. Mereka mengakui fakta baru bahwa “Indonesia” adalah negara yang telah merdeka dan berdaulat.

Tanpa RESOLUSI JIHAD NU tentu tidak pernah ada peristiwa 10 Nopember. Tanpa RESOLUSI JIHAD NU, kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945, tentu akan tercabik-cabik kembali oleh upaya pengambilalihan kedaulatan yang dimotori tentara NICA. Inilah wujud ajaran dari Hadratussyeikh yang meletakkan kewajiban bela negara adalah sama pentingnya dengan kewajiban membela agama. 

" حب الوطن من الإيمان",

Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman

Marilah kita jadikan momentum Hari Santri 22 Oktober ini untuk meneguhkan kesetiaan mengawal dan mempertahankan Pancasila, NKRI serta UUD 1945.

Membaca sejarah nasional tidak mungkin mengabaikan kaum santri yang telah teruji dalam mengawal negeri ini. Di tengah berbagai masalah yang mendera bangsa Indonesia saat ini, perlu kiranya seluruh elemen bangsa merenungi kiprah dan etos jihad kaum santri. Etos jihad kaum santri berdiri di atas tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (pilar kebangsaan), Tashwîrul Afkâr (pilar ke-cendekia-an), dan Nahdlatut Tujjâr (pilar kemandirian). 

Pilar kebangsaan perlu terus dipupuk dan dikembangkan di tengah tarikan faham fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Pilar ke-cendekia-an harus ditegakkan karena kecendekiaan adalah pilar peradaban dan syarat sebuah bangsa meraih harkat dan martabatnya di hadapan bangsa lain. Kecendekiaan tidak hanya diukur dari pendidikan formal tetapi mental dan nalar intelektual yang terbuka terhadap pemikiran dan inovasi baru, dengan berpedoman pada kaidah; al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah (Melestarikan tradisi lama yang baik dan menciptakan tradisi baru yang lebih baik). 

Khazanah intelektual Islam yang diakrabi pesantren merupakan modal intelektual tak ternilai yang menempatkan santri sebagai pewaris sah kebangkitan Islam masa depan. Inklusivisme kaum santri perlu dipupuk di tengah ketertinggalan umat Islam dalam penemuan-penemuan ilmiah dan inovasi sains dan teknologi. Jihad santri adalah memerangi kebodohan dan mengintegrasikan penguasaan ilmu duniawi dan ukhrawi. 

Pilar kemandirian adalah prasyarat mutlak maju-mundurnya sebuah bangsa. Tidak ada bangsa yang maju dengan tergantung kepada bangsa lain. Bangsa kita belum mandiri dalam memenuhi hajat hidup pokok warganya. Sebagian besar kebutuhan pangan dan energi diperoleh dari impor, padahal Indonesia negara agraris yang dikaruniai berbagai sumber daya alam di laut, hutan, dan di bawah permukaan bumi. Harus diingat, ketergantungan adalah antitesis kemerdekaan. 

Hari ini adalah saat terbaik bagi kita untuk dapat memaknai Hari Santri sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman yang berkembang. Tantangan yang kita hadapi hari ini meskipun berbeda, akan tetapi semangat dan integritas berbangsa dan bernegara tidak boleh terputus. Apalagi di tengah arus budaya popular dan juga silang sengkarut ideologi trans-nasional yang sudah sedemikian masif ini, penguatan nasionalisme dan patriotisme rakyat Indonesia sangat-sangat dibutuhkan.

Tantangan kita yang pertama, menghadapi berbagai ancaman seperti ideologi yang mengancam eksistensi kesatuan Republik Indonesia harus kita lawan. ISIS dan sekelompok organisasi yang menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai wahana untuk berdakwah, harus kita lawan. Sudah terlalu banyak negara yang hancur diakibatkan cara pandang yang keliru meletakkan makna jihad yang justru melahirkan kekacau-balauan. Demikian juga dengan segenap organisasi masyarakat yang anti serta menolak ideologi Pancasila, mereka juga harus kita luruskan. 

Nahdlatul Ulama senantiasa mengajarkan Islam menjadi pionir dalam mewujudkan perdamaian dunia. Nahdlatul Ulama senantiasa mengajarkan dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Islam yang mengajak bukan mengejek. Islam adalah agama yang mengajarkan kita dapat merangkul, bukan memukul.

Tantangan kedua, masih tingginya angka kemiskinan dan Gini Rasio kita yang menyebabkan adanya ketimpangan sosial antara yang kaya dan miskin, adalah masalah yang harus kita tuntaskan.

Pada Desember 2015, World Bank merilis bahwa 1% orang terkaya Indonesia menguasai sekitar 50,4% aset dan 10% orang terkaya Indonesia menguasai 70,3% total kekayaan di Indonesia. Artinya, pembangunan belum merata dan belum menyentuh rakyat miskin dan kaum lemah. Padahal Islam mengajarkan, ekonomi harus tumbuh atas azas keadilan dan pemerataan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Hasyr ayat 7; 

" كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ "

“Janganlah harta itu berputar-putar diantara orang-orang kaya saja diantara kalian”.

Tantangan ketiga adalah meluasnya penggunaan narkoba di seluruh kelas sosial masyarakat. Ini keprihatinan nasional kita. Negara tengah menghadapi Darurat Narkoba. Data menunjukkan sampai tahun 2016 jumlah pengguna Narkoba sebanyak 4 juta orang. 1,6 Juta pernah mencoba. 1,4 Juta orang rutin mengkonsumsi dan 943 ribu orang sudah dalam kondisi kecanduan. Data ini menunjukkan bahwa hari ini kita sedang mengalami DARURAT NARKOBA.

Maka dalam memperingati Hari Santri, tugas kita hari ini adalah:

1. Jihad melawan segala bentuk anarkisme, radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan Pancasila & NKRI.
2. Jihad memerangi kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan kita.
3. Jihad melawan narkoba, dan bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersih dari peredaran Narkoba.

Dalam momentum hari santri kali ini, yang paling utama dan penting untuk diteladani adalah bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari adalah sosok kiai yang sepanjang hayatnya tetap mengindentifikasi dirinya sebagai santri. Sikap santri inilah yang melahirkan sikap tawaddu’ dan juga rendah hati di hadapan siapapun. 

Kita harus bersyukur memiliki seorang ulama yang bukan saja jernih melihat, namun juga cerdas bertindak, dan teguh dalam memegang prinsip. KH. Muhammad Hasyim Asy’ari tidak lahir kemudian menjadi tokoh begitu saja. Hadratussyeikh sebagaimana lazimnya manusia lainnya, digembleng melalui pendidikan agama yang penuh kedisiplinan dan ketaatan.

Hari Santri 22 Oktober adalah milik semua golongan. Maka dalam momentum peringatan Hari Santri 22 Oktober ini, marilah kita jadikan sebagai tonggak untuk bersatu, jangan sekali-kali kita berpecah belah. Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Mari kita songsong kehidupan yang lebih baik, yang maslahah untuk semua. Selamat Hari Santri.

شكرا ودمتم في الخير والبركة والنجاح
والله الموفق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 22 Oktober 2016 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,


Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA

Sabtu 1 Oktober 2016 8:33 WIB
Seruan Moral PBNU atas Kasus Penipuan Penggandaan Uang
Seruan Moral PBNU atas Kasus Penipuan Penggandaan Uang
Bangsa Indonesia hari ini menghadapi masalah yang sangat serius yang meliputi krisis global dan juga terorisme. Untuk menghadapi dua keadaan itu, kita perlu semakin mengokohkan dan menguatkan sendi-sendi kehidupan kita dengan cara memupuk pemahaman dalam beragama secara benar dan sekaligus dengan cara mengambil peran-peran yang baik sebagai warga negara.

Hal tersebut dilakukan agar kita dapat mengantisipasi pelbagai macam perkembangan yang terjadi di lingkungan kita. Keadaan ekonomi yang serba sulit, jika tidak dilandasi pemahaman agama yang benar, maka masyarakat akan mudah terombang-ambing untuk turut dalam aktivitas yang pada akhirnya justru merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan sesama.

Menyikapi peristiwa yang berkembang di Probolinggo yang menyangkut Padepokan Kanjeng Dimas dan Yayasan Taat Pribadi yang melakukan pelbagai macam kegiatan yang berujung kepada banyaknya korban penipuan dengan modus investasi dengan penggandaan uang menggunakan baju dan simbol-simbol agama — yang berdasarkan laporan yang diterima, modus seperti ini juga marak terjadi di tempat-tempat lain—dengan ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Allah Swt memberikan kemulian-kemulian kepada makhluknya melalui beberapa keistemewaan, sebagaimana Allah m eberikan mukjizat kepada nabi, karomah pada para aulia, dan memberikan maunah kepada manusia-manusia lainnya. Semua itu merupakan kelebihan dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya dengan tujuan untuk kebaikan dan menolong sesama. Dalam kita Jamiu Karamatil Aulia, Syaikh Yusuf Yusuf An-Nabhani mengatakan bahwa jika kelebihan itu digunakan tidak untuk kebaikan maka hal tersebut dinamakan sihir. Dalam konteks ini, jika ada pihak memiliki kelebihan dan menggunakannya untuk pelbagai macam kegiat an yang tidak dibenarkan agama, maka PBNU tegas mengatakan bahwa hal seperti ini tidak dibenarkan.

2. Islam mengajarkan manusia untuk ikhtiar dan berusaha. Al-Qur ’an mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka bernisiatif untuk mengubah dirinya sendiri (Q.S: Ar-Ra’du: 11) ”

Marilah berpikir secara realistis bahwa pada hakikatnya rezeki yang min haitsu la yahtasib adalah merupakan keberkahan yang diakibatkan oleh usaha kita, tidak kemudian bermalas-malasan dan berpangku tangan hanya menghendaki rezeki yang akan datang tiba-tiba. Marilah kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ikhtiar kita sebagimana dikatakan sebuah diktum:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

“Siapa yang bersunguuh-sungguh, maka pasti ia akan berhasil”

3. Mendesak kepada pemerintah untuk mempertimbangkan sekaligus memberikan bantuan dalam bentuk upaya-upaya menyelamatkan masyarakat yang mejadi korban. Uang investasi harus dikembalikan kepada mereka yang berhak.

4. Meminta kepada aparat kepolisian serta pihak keamanan terkait untuk mengusut secara cepat dan tuntas akar masalah dan persoalan yang terjadi mengingat kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Kesigapan aparat sangat dibutuhkan untuk menjamin rasa aman kepada masyarakat.

5. Mengimbau kepada masyarakat yang sudah terlibat dalam kegiatan semacam itu untuk segera menarik diri dan kembali menjadi manusia-manusia yang memiliki harapan dan masa depan dengan mangawalinya melalui kegiatan yang pasti, realistis, dan terukur sesuai dengan kaidah agama.

Jakarta, 30 September 2016

والله الموفق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Yang bertanda tangan:

KH Ma'ruf Amin (Rais 'Aam PBNU)
KH Yahya Cholil Staquf (Katib 'Aam PBNU)
KH Said Aqil Siroj (Ketum PBNU)
H Hemy Faishal Zaini (Sekjen PBNU)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG