IMG-LOGO
Nasional

Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?

Senin 28 November 2016 6:3 WIB
Bagikan:
Jika Banser Murtad, Bagaimana dengan Sayyidina Umar?
Gus Ghofur (kiri) didampingi Ruchman Basori. Foto NU Online/Syamsul Bahri/16.
Batam, NU Online
Salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang III KH Abdul Ghofur Maimoen menyesalkan hujatan murtad terhadap Banser dalam menjaga gereja, padahal fikih Islam, penghormatan terhadap warga nonmuslim sudah selesai.

"Siapa yang berani mengatakan Sayyidina Umar murtad?" ujar pria karib dipanggil Gus Ghofur itu, di Batam Kepulauan Riau, Ahad (27/11).

Doktor Ushuluddin  Tafsir Universitas Al-Azhar, Mesir itu menegaskan, Sayyidina Umar ketika memimpin kekhalifahan tidak membakar gereja karena dalam fiqih Islam, umat Islam juga menjaga warga negara yang nonmuslim.

"Sayyidina Umar bin Khotob tidak merusak tempat ibadah nonmuslim. Siapa yang berani mengatakan beliau murtad. Kalau ada Banser menjaga gereja itu mengikuti fikih Islam dan juga Sayyidina Umar," kata dia pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Gus Ghofur menambahkan, di media sosial (medsos) banyak yang mencibir  Ansor dan Banser. Bahkan ada yang menghujat ketika Banser Riyanto yang menjaga gereja mati karena bom, bukan bersimpati.

"Saya salah satu pimpinan Banser. Kalau ada apa-apa dengan Banser, saya ikut bertanggung jawab. Apa yang dilakukan Banser dalam kerangka menjaga NKRI. Kalau kita bangga dengan Indonesia, itu tidak menjadi soal karena nabi-nabi juga melakukan itu. Anak turun Nabi Ibrahim melahirkan bangsa-bangsa besar, dan mereka bangga dengan bangsanya," ujarnya didamping Ketua Bidang Kaderisasi PP GP Ansor Ruchman Basori.

Islam, demikian Gus Ghofur lagi, disampaikan melalui Nabi Muhammad karena nabi memang hebat dan tahu rumusan masalah.

"Banser tidak akan lagi menjaga gereja jika ada jaminan kelompok radikal tidak lagi meneror gereja. Tapi sebaliknya, kalau teror terhadap gereja masih ada, maka Banser akan tetap menjaga gereja karena dalam fikih Islam itu sudah clear," pungkasnya pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 28 November 2016 16:0 WIB
Ketua KPK: Korupsi Bagian dari Penistaan Agama
Ketua KPK: Korupsi Bagian dari Penistaan Agama
Serang, NU Online
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Raharjo sepakat bahwa korupsi adalah bagian dari penistaan agama. Menurutnya, banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi yang memberikan contoh bahwa korupsi betul-betul menzalimi masyarakat dan menyengsarakan.

"Korupsi tak hanya menzalimi masyarakat tapi juga menzalimi dan penistaan agama. Banyak ajaran berupa ayat atau hadits yang mengajarkan tentang larangan korupsi," ujar Agus pada acara bedah buku "Jihad NU Melawan Korupsi" dan training of trainer (TOT) kader penggerak antikorupsi yang digelar Lakpesdam PWNU Banten di Gedung PWNU Banten, Kota Serang, Sabtu (26/11).

Dalam kesempatan tersebut, Agus Raharjo juga mengajak masyarakat Nahdliyin untuk turun tangan langsung dalam hal pencegahan korupsi. KPK menurut Agus, terus berupaya dalam hal pemberantasan korupsi dan menaikkan indeks persepsi korupsi Indonesia. Walaupun masih di bawah negara seperti Singapura dan Malaysia, menurut Agus, indeks tersebut setiap tahun menunjukkan perbaikan.

"Yang terpenting adalah gerakan masyarakat dalam pencegahan. Untuk penindakan itu urusan aparat penegak hukum. Kita berupaya melakukan pemberantasan tapi perlu dukungan dari masyarakat," kata Agus.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU Rumadi Ahmad mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama bersama berbagai komponen bangsa berkomitmen dalam hal pencegahan korupsi.

Menurut Rumadi, NU sudah memutuskan dan menyerukan bahwa tindak pidana korupsi merupakan musuh agama dan pada dasarnya seseorang yang melakukan korupsi adalah mereka yang juga menistakan agama.

"Intinya dalam buku ini Nahdlatul Ulama sudah menyerukan bahwa korupsi bukan saja musuh bangsa tapi musuh agama. Pada dasarnya dia sudah menistakan agama," kata Rumadi menjelaskan isi buku “Jihad NU Melawan Korupsi dalam diskusi yang berlangsung hingga Ahad (28/11) itu.

(Klik di Sini untuk Mengunduh Buku “Jihad NU Melawan Korupsi”)

Menurutnya, seorang muslim semestinya harus tersinggung saat melihat Muslim lainnya korupsi karena ia juga sudah menistakan agama. (Red: Mahbib)

Senin 28 November 2016 15:2 WIB
PBNU Minta PWNU dan PCNU Intensif Gelar Pertemuan dengan Ranting NU
PBNU Minta PWNU dan PCNU Intensif Gelar Pertemuan dengan Ranting NU
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengharapkan pengurus wilayah dan cabang NU se-Indonesia melakukan pertemuan rutin dengan pengurus ranting NU di daerah masing-masing. Kang Said memandang perlunya pertemuan rutin pengurus wilayah dan cabang NU dengan pengurus ranting.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pertemuan silaturahmi dan sarapan pagi PBNU dan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta di halaman Gedung PBNU, Ahad (27/11) pagi.

“Saya memimpikan majelis-majelis semacam ini bisa direplikasi di tempat-tempat lain. Ini adalah majelis di mana pengurus ranting bisa saling bersilaturahmi dengan pengurus NU di cabang dan wilayah,” kata Kang Said dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Kapolri.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini memandang posisi strategis pengurus ranting NU di desa-desa. Pengurus ranting NU, kata Kang Said, adalah ujung tombak gerakan NU dalam melestarikan paham Aswaja NU dan kebinekaan NKRI.

“Saya berharap nanti akan ada cukup waktu bagi kita untuk berdiskusi dan berdialog. Saya sendiri sangat senang dan terhormat jika di luar majelis ini, Anda berkunjung ke Kramat Raya untuk bersilaturahmi dan membahas masalah-masalah di lingkungan NU berikut jalan pemecahannya,” kata Kang Said kepada ribuan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta.

Di tengah situasi dan kondisi yang dihadapi bangsa ini, ia mengajak segenap hadirin memanjatkan doa dan shalawat, memohon ampunan kepada Allah.

“Semoga Allah menurunkan lindungan dan pertolongan-Nya untuk kita dan NKRI. Semoga aman dan damai selalu menyertai bangsa ini. Karena memang kita sedang diuji kesabaran dan ketekunan, sekaligus digugah kesadaran kita.” (Alhafiz K)

Senin 28 November 2016 14:4 WIB
Aksara Jawi, Pegon, dan Hanacaraka Harus Digunakan Kembali di Sekolah
Aksara Jawi, Pegon, dan Hanacaraka Harus Digunakan Kembali di Sekolah
Jakarta, NU Online
Penulis buku-buku pesantren dan ke-NUan Ahmad Baso mengajukan usul agar instansi dan pejabat pemerintah yang menangani bidang pendidikan memasukkan aksara Jawi, Pegon dan Hanacaraka masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Pasalnya, hanya dengan cara itu pelajar madrasah dan mahasiswa IAIN terbiasa kembali mengenal khazanah di luar bacaan beraksara latin.

Demikian disampaikan Ahmad Baso dalam seminar inventarisasi karya pemuka dan tokoh agama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama di Bekasi sejak Rabu-Jumat (23-25/11).

Menurut Baso, setelah katalogisasi dan digitalisasi karya ulama Nusantara, tugas utama Kemenag adalah melakukan substansialisasi kurikulum bacaan anak sekolah.

“Bahan bacaan buku agama anak-anak kita selama ini hanya latin, bukan bahan bacaan beraksara Arab, Pegon, Jawi, dan Hanacaraka,” kata Baso.

Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat mengakses karya Walisanga. Selama ini mereka tidak membaca karya ulama karena mereka hanya kenal aksara latin.

Semua karya beraksara Jawi dan pegon ini harus menjadi bahan ajaran di sekolah. Karya-karya ini diajarkan secara massif. Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag baiknya melakukan sinkronisasi dengan instansi pendidikan terkait seperti Pendis dan lainnya.

“Selama ini anak-anak kita baca buku-buku di luar karya ulama Nusantara seperti Wahabi, atau karya ulama timur tengah lain seperti Yusuf Qardhawi atau Wahbah Az-Zuhayli. Padahal wajah Islam Nusantara tampak dari karya para ulama. Ini semua bisa digali lewat karya mereka yang antara lain berbahasa Jawi, Pegon, Hanacaraka, dan aksara local Indonesia lainnya,” kata Basor. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG