IMG-LOGO
Opini

Memahami NU Saat Ini, Bacalah Sejarahnya

Rabu 30 November 2016 17:52 WIB
Memahami NU Saat Ini, Bacalah Sejarahnya
Kiai Wahab (tengah) bersama KH Saifuddin Zuhri (kiri) dan KH Bisri Syansoeri (kanan)
Oleh Muhammad Imaduddin 
Di tahun 1952, NU dipimpin KH Rais Aam KH Wahab Hasbullah menyatakan keluar dari Partai Masyumi karena kecewa dengan politisi-politisi kaum modernis di partai tersebut yang telah “merendahkan” ulama-ulama pesantren. Menurut politisi-politisi itu kalangan pesantren tidak mengerti apa-apa tentang politik.

Kekecewaan NU tersebut ditambah dengan posisi Menteri Agama yang sejak awal menjadi jatah NU, diberikan kepada kalangan lain. Padahal suara terbesar Masyumi berasal dari warga Nahdliyin. Tak mendapat menteri lain, menteri agama pun lepas. Sehingga kekecewaan NU makin mengkristal. NU akhirnya memilih jalan sendiri.

Akibat keputusan itu, NU dituduh sebagai pemecah belah umat dan Mbah Wahab dituduh sebagai gila jabatan.

Namun lihatlah, pada pemilu 1955 suara Masyumi anjlok. NU menempati posisi ketiga di bawah PNI dan Masyumi. Posisi no 4 adalah PKI. Tak lama setelah itu, Masyumi dibubarkan oleh Sukarno karena beberapa tokohnya terlibat PRRI/Permesta. Bahkan hingga kini Masyumi tak pernah hidup lagi.

"Kontroversi" NU berlanjut. NU dibawah Mbah Wahab, pada era Demokrasi Terpimpin bergabung dengan koalisi NASAKOM (Nasionalis diwakili PNI, Agama diwakili NU, dan komunis diwakili PKI) yang digagas oleh Sukarno. Lagi-lagi NU dicerca dan dicaci maki. Bahkan kiai-kiai NU disebut “kiai Nasakom”.

Ijtihad NU waktu itu adalah, keberadaan PKI di pemerintahan Sukarno harus dikawal supaya tidak mendominasi kebijakan Sukarno. Terbukti, setelah peristiwa G30S/PKI NU menjadi ormas paling depan yang mengganyang PKI dengan pimpinan tokoh muda NU, Subhan ZE.

Selanjutnya, di zaman kepeimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1984-1999), NU lebih kontroversial lagi. Saat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984. Militer dibawah kendali LB Murdani menembaki umat Islam Tanjung Priok menimbulkan ratusan korban. Protes dimana-mana. Bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Gus Dur justru membawa LB Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU.

Gus Dur berpendapat, jika tidak diredam, maka korban dari umat Islam akan bertambah besar lagi. Waktu itu posisi Suharto sedang kuat-kuatnya. Berani melawan Suharto berarti mati.

Tak pelak, Gus Dur mendapat hujatan dan cacian dari sana-sini, bahkan dari warga NU sendiri. Gus Dur dituduh telah murtad karena telah membela kafir Murdani.

Memahami sejarah perjalanan NU dalam menjaga keutuhan bangsa ini, maka tak usah heran jika NU selalu jadi sasaran hujatan, cercaan, dan fitnah.

Tak usah kaget jika ulama-ulama NU dicaci-maki. Karena dalam setiap pengorbanan selalu ada caci-maki, hujatan, tidak populer, dan fitnah yang mengiringi. NU besar karena ia sudah teruji dengan berbagai macam cacian dalam menjaga keutuhan bangsa ini.

Jika hari ini NU dan ulama-ulamanya dihujat, dicaci maki, difitnah, dibully, ini hanya sejarah yang berulang. Jadi biarkan saja. Sebab, sebagaimana Gus Dur pernah mengatakan, "biarlah nanti sejarah yang akan membuktikan.

Muhammad Imaduddin, Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Rabu 30 November 2016 19:2 WIB
Menghujat dan Mencaci-maki Ulama
Menghujat dan Mencaci-maki Ulama
Mbah Moen (kanan) Gus Mus (tengah) dan Gus Yahya (kiri). Sumber foto: FB Terong Gosong
Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Dewasa ini di media sosial banyak lahir penghujat dan penista baru. Dan yang mereka hujat bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang yang berpengaruh, seperti ulama dan presiden. Sebagai contoh, Kiai Said Aqil Siroj dihujat dengan tuduhan fatwa-nya karena duit, Prof Quraish Shihab dituduh Syiah dan Gus Mus dihina dengan umpatan yang, tak tega saya menulisnya di sini. Belum lagi, orasi Ahmad Dhani yang menghujat presiden, pemimpin 255 juta rakyat Indonesia, dengan umpatan yang sungguh mengerikan.

Tak hanya itu, KH Maemoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, ulama sepuh yang dikenal 'alim, dihormati jutaan umat dan dijuluki "kitab kuning berjalan," pun tak luput dari sasaran umpatan. Padahal, banyak kiai yang menyebut bahwa Mbah Moen adalah "paku bumi" Nusantara hari ini. Tak hanya dalam negeri, ulama-ulama luar negeri pun mengakui. Beliaulah yang "menjaga" keberlangsungan ajaran Rasulullah, ditengah ulama-ulama 'alim yang sudah menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi. 

Umpatan, celaan, hinaan dan nistaan itu sesungguhnya adalah bentuk ketidakmampuan memahami apa itu yang disebut kritikan dan apa itu hujatan. Kritikan, adalah koreksi atas perilaku, tindakan atau kebijakan seseorang dengan argumen yang ilmiah dan logis, dengan bahasa yang santun, konstruktif dan proporsional. Hal ini beda dengan umpatan, celaan, hinaan dan nistaan, yang menilai sesuatu atas dasar kebencian, kata-kata kasar dan tidak dengan argumen logis dan ilmiah. Umpatan dan sejenisnya itu merupakan ketidakmampuan seseorang melawan dengan terhormat, kecuali dalam keadaan yang genting dan menyakitkan menghadapi musuh, semisal dalam perang dan penindasan.

Kebebasan di alam demokrasi, selain membawa kita masyarakat Indonesia menuju kebebasan berpikir, bukan berarti tanpa ancaman. Kebebasan itu disalahpahami dengan hak untuk melakukan apa saja: bicara, menulis dan bertindak semau-maunya. Padahal menurut Emha Ainun Nadjib, kebebasan adalah kemampuan untuk memahami batasan. Seperti halnya mutiara kata Arab, yang sering disampaikan guru saya KH Achmad Chalwani: hurriyatul mar'i mahduudun bi hurriyati ghairih; kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Seiring dengan cepatnya arus informasi karena globalisasi, hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bak pisau bermata dua: mengandung kemanfaatan disatu sisi, juga kemafsadatan di sisi lain. Informasi positif, konstruktif dan mencerahkan bisa menyebar dengan cepat. Namun demikian, hal-hal negatif, dari pornografi, fitnah, agitasi, propaganda, hasutan dan hujatan, tak bisa dibendung. Inilah sebuah zaman, yang meminjam istilah novelis Okky Madasari, membuat iri generasi sebelum kita. Meski demikian, hemat saya, bisa juga hal ini dimaknai sebuah kemuduran, yang membuat generasi dahulu menangis pedih melihatnya.

Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan, dengan demokrasi yang kebablasan, orang kini tak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran. Semua manusia dianggap sama. Slogan dan terapan one man one fote dalam demokrasi kita, di satu sisi menegakkan hak setiap orang, namun di sisi lain menyamaratakan "kualitas" seseorang. Padahal tetap saja ada perbedaannya. Nabi Muhammad memang manusia seperti halnya kita, tetapi ia juga bukan manusia biasa. Ibarat ia adalah batu intan permata, dan kita batu kali biasa. Dan ulama adalah pewaris para nabi, yaitu ulama yang benar-benar mengikuti akhlak nabi.

Media adalah legitimasi yang ampuh di jaman demokrasi liberal. Siapa pun yang tampil di televisi dan bisa sedikit dalil atau motivasi, langsung dipanggil ulama atau minimal ustadz dan ustadzah. Untuk dianggap ustadz di media, mesti menjadi preman dulu, mesti non-muslim yang belakangan masuk Islam, baru kemudian publik memiliki ketakjuban dan perhatian. Sedangkan kiai-kiai dan ribuan orang alim yang lahir dari pergulatan kitab-kitab bertahun-tahun, dan lahir dari rahim masyarakat, karena tidak dilegitimasi televisi misalnya, tidak diakui sebagai ulama. Di media, kebenaran dianggap ucapan siapa pun yang sesuai dengan yang mereka suka. Bahkan, umpatan dan celaan bisa datang dari seorang anak ingusan kepada para pemimpin negeri dan ulama.

Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama – yang benar-benar ulama – meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, visi nabi diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak). Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai umatnya.

Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, nabi, bahkan Allah pun boleh untuk tidak disepakati, dengan membebaskan manusia memilih agama sesuai kehendaknya. Namun ketidaksepakatan itu bukan berarti boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Semua manusia harus dihormati sebagai manusiannya, dan boleh tidak disukai perilakunya. Mengkritik seseorang, tokoh, ulama, perlu dengan argumen yang logis serta dengan santun agar tidak dosa, yaitu ketika melukai hatinya. Jika asal misuh, mengumpat, mencerca, itu bukan kritikan tetapi penghinaan. Padahal, Allah SWT, Sang Pencipta sendiri berfirman: Walaqad karramna baani Aadam; sungguh kami (Allah) memulyakan anak keturunan Adam (QS. Al-Isra:70). Jika Sang Penciptanya saja menghormati manusia – ciptaan-Nya – waraskah kita jika saling mencela sesama manusia?

Ahmad Naufa Khoirul Faizun adalah Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo dan Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah (2013-2016).

 

Selasa 29 November 2016 9:3 WIB
Kaum Beragama “Tak Beragama”
Kaum Beragama “Tak Beragama”

Oleh: Slamet
Pelbagai kasus kekerasan, anarki dan teror atas nama agama atau yang dilakukan oleh kaum beragama sebenarnya menunjukkan bahwa mereka bukanlah kaum “beragama”. Kesimpulan singkat ini merupakan analisis dasar dari pemahaman makna agama sebagai sebuah institusi yang mengatur kehidupan manusia untuk menuju kedamaian abadi.

Namun sayangnya, banyak kaum-kaum beragama yang justru memanfaatkan dalil-dalil agama untuk melakukan kekerasan. Bahkan, lebih spesifik lagi untuk kepentingan-kepentingan politik. Tragedi Muslim Rohingya, Bom di Gereja Oikumene Samarinda dan tragedi-tragedi kekerasan atas nama agama lainnya menjadi contoh tentang masih banyaknya kaum beragama yang tak “beragama”.

Padahal, hakikat beragama bukan terletak pada pengakuan seseorang bahwa ia telah memeluk agama tertentu, kemudian menuliskannya di kartu identitas sebagai bukti ia telah beragama. Begitu pula, dalam beragama juga tidak cukup sekadar membaca terjemah kitab suci, kemudian menelan mentah-mentah tanpa melihat aspek historis dan sosiologis yang melatar belakangi ayat tersebut diturunkan.

Namun, hakikat beragama terletak pada seberapa jauh pemeluk agama mengetahui makna dasar agama itu sendiri. Hal ini sangat penting untuk menjadikan kaum yang—mengaku—beragama menjadi benar-benar “beragama.” Oleh karena itu, pemahaman terhadap makna dasar agama adalah prasyarat mutlak bagi kaum beragama untuk memahami agama secara hakiki.

Menilik pengertian agama dari sudut pandang bahasa, maka agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “a” dan “gama”. Huruf “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Lebih gampangnya, agama berarti kedamaian atau menghilangkan kekacauan.

Dari pengertian dasar ini saja, manusia yang mengaku sebagai kaum beragama tidak akan mungkin melakukan kekacauan, karena bertentangan dengan makna agama itu sendiri. Maka, hanya dengan melihat makna agama dari sudut pandang etimologisnya, pantaskah kaum beragama melakukan kekacauan? Atau bahkan lebih dari itu, bolehkan kaum beragama melakukan tindakan anarkis dan teror?

Tentu jawabannya tidak. Karena dengan melakukan hal-hal itu, maka kaum beragama telah mengotori hakikat “agama” itu sendiri. Namun sayangnya, justru yang terjadi hari ini adalah tindak kekerasan, anarkis dan teror yang menggunakan dalil agama, khususnya dalil tentang jihad. Salah kaprah pemahaman tentang jihad inilah yang kemudian membuat makna jihad menjadi sesuatu yang dikonotasikan pada aktivitas yang berbau kekerasan bahkan hingga memunculkan the Holy War Doctrine.

Doktrin “Holy War”
Doktrin ”Holy War” adalah sebuah doktrin yang mengajarkan tentang perang yang dilakukan atas perintah Tuhan. Bahkan, lebih jauh lagi kelompok yang meyakini bahwa Tuhan memerintahkan perang ini menganggap aktivitas ini sebagai sebuah tugas suci dan mulia demi mendapatkan derajat tinggi di sisi Tuhannya. Doktrin ini akan mudah sekali dicerna oleh kaum-kaum tekstualis yang hampir selalu mengabaikan latar belakang sebuah ayat diturunkan.

Singkatnya, kaum tektualis memahami sebuah teks ke dalam alih bahasa yang itu pun sebenarnya tidak mesti sama maknanya. Kelompok-kelompok ini pula yang memahami bahwa perang adalah bagian tak terpisahkan dari jihad. Akibatnya, pemahaman ini seolah membuat relasi antara “jihad” dan “perang” sebagai satu kesatuan yang utuh. Padahal tidak demikian adanya. Jihad tidak semata-mata menyoal perang, namun juga perjuangan intelektual (al Ijtihad) dan perjuangan sprititual (al Mujahadah).

Keberadaan kelompok tekstualis yang pada perjalanannya menjadi kaum ekstrimis tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kesadaran yang sangat rendah terhadap kesetaraan manusia di mata hukum, HAM maupun Tuhan menjadikan mereka gelap mata dengan tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, memanusiakan manusia adalah salah satu tujuan utama adanya agama di muka bumi. Sebaliknya, manusia yang tidak mampu memanusiakan manusia sejatinya belum mampu memahami tentang makna agama yang sesungguhnya.

Kondisi ini masih diperkuat dengan akses informasi tentang pemahaman-pemahaman doktrin ekstrimis yang sangat mudah dijangkau oleh masyarakat melalui teknologi informasi. Blog-blog hingga portal-portal berita yang menyajikan referensi tentang doktrin-doktrin kelompok ekstrimis masih terus bertebaran dan jumlahnya terus meningkat.

Hal ini masih diperparah dengan ketiadaan batas usia untuk bisa mengakses informasi tersebut, sehingga upaya filterisasi terhadap informasi sangatlah rendah. Alhasil, informasi yang didapat langsung ditelan mentah-mentah tanpa melihat dari mana sumbernya, siapa yang menyampaikan dan dari media apa.

Oleh karena itu, demi menjaga toleransi yang sudah sekian lama dibangun di Indonesia sekaligus menjadi kekuatan bangsa, pemerintah harus tegas terhadap aktivitas-aktivitas yang membahayakan keutuhan bangsa, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Keterbukaan informasi memang sudah menjadi hal yang wajib di era globalisasi. Begitu pula dengan kebebasan berpendapat yang menjadi nilai utama dari berdemokrasi.

Namun, jangan sampai keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat justru menjadi bumerang bagi bangsa ini. Khusus untuk hal ini, Indonesia perlu mengingat kembali sejarah Uni Soviet yang justru hancur karena kebijakan Glasnost di masa pemerintahan Mikhail Gorbachev pada pertengahan 1980-an. Kebijakan tentang keterbukaan informasi (Glasnost) ini justru menjadi bumerang hingga menyebabkan runtuhnya Uni Soviet pada 26 Desember 1991 selain kebijakan Perestroika (restrukturisasi ekonomi) dan Uskoreniye (percepatan pembangunan ekonomi).

Jika pemerintah Indonesia belum juga bertindak tegas pada aktivitas-aktivitas kelompok ini yang sudah semakin merajalela dalam arus informasi digital, maka bukan tidak mungkin kelompok-kelompok ekstrim yang menganggap aktivitas teror sebagai bagian dari Holy War akan terus bertambah. Termasuk ancaman terhadap toleransi dan keberagamaan di Indonesia akan semakin pudar. Sekali lagi, bahwa pemerintah memiliki peran vital dalam mengontrol dan mengatur aktivitas kehidupan masyarakatnya demi menjaga keutuhan bangsanya.

Penulis adalah Direktur NU Care – LAZISNU dan Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Islamic Studies UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Senin 28 November 2016 20:30 WIB
Nasihat KH Sholeh Darat agar Negara Tidak Rusak
Nasihat KH Sholeh Darat agar Negara Tidak Rusak
Oleh M Rikza Chamami

Banyak nasihat-nasihat kehidupan yang ditinggalkan oleh Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat). Di antara nasihat tentang kehidupan dunia adalah mengenai menjaga negara agar tidak rusak.

Dalam kitab karangannya Minhajul Atqiya' fi Syarhi Ma'rifatil Adzkiya' ila Thariqil Auliya', Mbah Sholeh Darat menjelaskan begini: "Lamun negoro ora ono iku kabeh, maka yekti rusak menusane ora biso luru pangan kerono kabeh ngarah manfaate menuso ingdalem dunyo supoyo biso lumaku marang tha'atillah lan marang akhirat".

Mengagumkan memang ketika menyimak nasihat ini. Kurang lebih, artinya: "Jika negara tidak memiliki itu semua, maka rusak manusianya dan tidak bisa mencari makanan sebab itu terkait kemanfaatan manusia hidup di dunia agar dalam berbakti pada Allah dan akhirat".

Kenapa tiba-tiba Mbah Sholeh Darat membuat pernyataan demikian yang membuat kita kaget? Tentunya ada penjelasan-penjelasan yang mendahului.

Ternyata sebelum menyatakan itu, Mbah Sholeh Darat lebih dahulu menjelaskan tentang dunia keilmuan yang mengenalkan ada ilmu fardlu 'ain dan fardlu kifayah. Sebelumnya, ia juga membeberkan tentang tata krama seorang kiai dan santri secara panjang lebar.

Khusus dalam bahasan ilmu fadlu kifayah ini, Mbah Sholeh menyinggung tentang istilah negara. Inilah yang patut dijadikan perhatian. Kurang lebih, nadzam yang dijelaskan awalnya berupa kalimat:

وفروعها انشاء نثر والنظام ∞ ومحاضرات والخطوط فاجملا

Nadzam ini memberikan pengertian tentang penjelasan mengenai ilmu sastra: insya' natsr, muhadlarat, khuthut yang harus dipelajari dengan baik.

Semua ilmu-ilmu itu dijelaskan oleh Mbah Sholeh Darat memiliki hukum fardlu kifayah untuk dipelajari. Banyak guna manfaat ketika mempelajari ilmu-ilmu yang sekarang mulai langka itu. Maka bagi Mbah Sholeh Darat, harus dipelajari dengab baik.

Manfaat dari ketiga ilmu adalah untuk memperbaiki bacaan sastra agar tahu hakikat makna bahasa, mengetahui kisah-kisah masa lampau dan tepat dalam menulis huruf hijaiyyah. Sehingga garis besarnya adalah ilmu itu dapat digunakan memahami masa lampau dengan nilai-nilai sastra dan sejarah.

Apakah ada lagi ilmu fardlu kifayah yang perlu dipelajari? Dengan tegas Mbah Sholeh Darat menyebut tujuh ilmu lainnya, yaitu: kedokteran, hisab (penulis: matematika, faraidl dan lain-lain), pande besi, tukanh kayu, tukang jahit, canthuk dan pertanian.

Tujuh ilmu itulah yang disebut sangat penting untuk dipelajari di masa sekarang, agar negara tidak rusak manusianya. Ilmu kedokteran dilakukan agar orang bisa sehat dan ilmu hisab untuk membagi warisan.

Lima ilmu yang disebut belakang tidak dijelaskan secara detail dalam kitab itu. Penulis mencoba untuk memaknai sendiri bahwa bahwa lima ilmu ini memiliki banyak manfaat dalam pengembangan ilmu sains dan teknologi.

Mbah Sholeh Darat sejak tahun 1894 M ketika menulis kitab ini sudah jauh-jauh berpikir soal sains dan teknologi dalam pengembangan ilmu fardlu  kifayah ini. Termasuk Mbah Sholeh Darat mencoba menetralisir tentang dikotomi ilmu agama dan umum.

Jika ilmu besi ini dikuatkan, maka lahirlah disiplin ilmu kimia, fisika dan industri. Dari tukang kayu lahir disiplin ilmu arsitektur, kehutanan dan teknologi ketahanan alam. Dari ilmu jahit lahir disiplin tata busana. Dari canthuk lahir disiplin kesehatan masyarakat, pengobatan alternatif dan lingkungan. Dari pertanian lahir disiplin ketahanan pangan dan industri makanan halal.

Apa kaitannya dengan negara bisa rusak? Benar. Jika negara tidak menghadirkan orang-orang pandai dalam ilmu fardlu kifayah ini, maka sumber daya manusia akan lemah. Jika lemah, maka keberlangsungan hidupnya terancam. Dan negara akan rusak.

Pesan singkat dan nasihat Mbah Sholeh Darat ini mengingatkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi bangsa dan negara. Santri-santri dapat belajar dari nasihat Mbah Sholeh Darat dengan tidak mengkotak-kotakkan ilmu dunia dan akhirat.

Sebab ilmu dunia juga sangat menunjang untuk kehidupan akhirat dalam rangka menguatkan berbakti pada Allah Swt. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang


IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG