IMG-LOGO
Pesantren

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Sabtu 3 Desember 2016 6:0 WIB
Bagikan:
Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat
Ilustrasi (republika)
Oleh Anggi Afriansyah

Indonesia beruntung memiliki lembaga pendidikan yang menyejarah seperti pesantren. Apalagi rekam jejak pesantren mendidik masyarakat sudah teruji zaman. Dari rahim pesantren telah lahir beragam tokoh cerdik cendikia.

Pesantren tak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (religion-based curriculum) tetapi juga kurikulum yang berbasis pada persoalan masyarakat (community-based curriculum) (Suyata dalam Zuhri, 2016). Hal tersebut memang menjadi salah satu kekhasan pesantren. Pendidikan yang diberikan di pesantren tak menjauhkan santri dari realitas keseharian. Jika merujuk pada konteks pembelajaran modern, apa yang dilakukan pesantren adalah bagian dari pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

Studi yang dilakukan oleh Anin Nurhati (2010) misalnya mengungkap peran pesantren dalam memberikan materi kewirausahaan kepada para santrinya agar mereka memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan beternak, budi daya perikanan, pengolahan obat-obatan, perdagangan, perbengkelan, otomotif dan permebelan (Zuhri, 2010). Beragam kurikulum tersebut tentu menjadi kekuatan bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman. Ada kesadaran bahwa pemahaman teks-teks keagamaan semata tanpa penguasaan keilmuan yang lain akan menyebabkan santri semakin tertinggal.

Pesantren tak pernah terjebak pada perubahan kurikulum yang terjadi karena berubahnya menteri. Pesantren senantiasa konsisten, karena tujuan awalnya adalah mendidik santri menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi sesama. Maka pesantren tak terjebak pada pola-pola pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai kuantitatif. Tak ada sertifikasi untuk para kiai, karena gelar kiai, ulama, ajengan, ataupun ustadz/ustadzah merupakan rekognisi yang diberikan oleh masyarakat. Penyematan karena kebermanfaatan mereka untuk umat. Bukan karena kepemilikan ijazah tertentu.

Keragaman tipikal lulusan pesantren membuktikan bahwa pesantren sesungguhnya sudah memberikan kontribusi pada penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pilihan profesi, pilihan politik, pilihan sudut pandang tafsir keagamaan dari lulusan pesantren menjadi warna tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun demikian, kemampuan pesantren mengkreasi intelektual-intelektual Muslim yang memiliki kapasitas mumpuni sehingga menjadi cahaya bagi umat harus tetap dijaga. Para intelektual itulah yang akan senantiasa memberikan pencerahan dan pencerdaskan bagi umat. Intelektual yang memberikan kedamaian dan menebarkan ajaran serta ujaran penuh kasih. Kita tentu merindukan almarhum Gus Dur dan Cak Nur, dua tokoh bangsa yang senantiasa berjuang untuk perdamaian, kesetaraan, dan demokrasi. Kita juga melihat kebesaran hati Gus Mus, yang meskipun dicaci oleh mereka yang membencinya, tetap memperlihatkan sifat welas asih dan pemaaf. Gus Mus telah memberikan teladan bagaimana implementasi akhlaqul karimah yang dicontontohkan Rasullah SAW.

Jika saat ini isu mengenai pentingnya pendidikan karakter kembali didengungkan. Sesungguhnya, proses pendidikan pesantren justru sejak awal telah memberikan ruang besar bagi penguatan karakter para santrinya. Pesantren memang memiliki fokus agar santri-santrinya menjadi uswatun hasanah, teladan kebaikan, yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat.

Para santri mendapatkan tempaan setiap waktu ketika mengenyam pendidikan pesantren. Satu hari penuh para santri berada dalam situasi belajar. Maka sesungguhnya, tak perlu lagi ada kebijakan full day school. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan pesantren-pesantren yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Proses pendidikan di pesantren memang menyiapkan para santri agar mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, kiai dan para ustadz/ustadzah di pesantren memegang peran penting dalam konstruksi karakter para santri. Mereka menjadi role model bagi para santri yang diasuhnya.

Keberhasilan pesantren membentuk karakter santri sangat bergantung pada keteladanan para alim di pesantren.  Keteladanan tersebut tak hanya diberikan melalui ceramah-ceramah semata, namun juga melalu tindakan nyata. Kelebihan pesantren mendidik santri terletak pada pembiasaan dan praktik keseharian. Sehingga, kepatuhan santri terhadap aturan tak sekedar karena takut dihukum. Rasa malu jika tak patuh dan disiplin terbentuk karena adanya keteladanan dari para kiai ataupun ustadz/ustadzah.

Di sisi lain pesantren juga memberikan pembelajaran kontekstual kepada para santrinya. materi-materi yang diberikan adalah hal-hal yang relevan yang akan para santri gunakan di masa depan. missal saja, banyak pesantren memberikan penguatan pelajaran bahasa asing kepada santri karena menyadari bahwa penguasaan bahasa yang mumpuni merupakan keniscayaan di era global.

Selain itu, pelatihan mubaligh yang diselenggarakan di pesantren ditujukan agar para santri memiliki public speaking yang baik. Karena para santri harus mampu menyampaikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat secara runut dan terstruktur. Menyampaikan pengetahuan keagamaannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beberapa pesantren juga rutin menyelenggarakan program Bahtsul Masail. Kegiatan tersebut menjadi penting karena membiasakan para santri mendialogkan beragam permasalahan dengan merujuk beragam referensi. Kebiasaan berdiskusi sangatlah penting agar para santri tidak alergi terhadap perbedaan pandangan yang ada di masyarakat kelak. Memperkaya perspektif mereka memandang suatu persoalan. Dan pada akhirnya membuat mereka menyadari sepenuh hati bahwa perbedaan tafsir atas teks keagamaan merupakan hal biasa dan akan mereka hadapi di masyarakat.

Dan yang paling penting, pesantren memberikan para santri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dirinya, manajemen diri. Proses tersebut merupakan bagian dari pendewasaan diri. Pola pendidikan di pesantren menyediakan mekanisme panjang agar santri memiliki kemampuan manajemen diri tersebut.

Keberhasilan mengelola diri sendiri merupakan salah satu kunci penting keberhasilan mereka di masa mendatang. Akan tetapi, meskipun pesantren memberikan segala ruang dan mekanisme pengaderan yang luar biasa, jika santri tak mampu mengoptimalkan hal-hal tersebut, tidak akan memiliki pengaruh kepada diri mereka. Keinginan kuat dari diri sendiri tetap menjadi aspek yang paling penting.

Oleh sebab itu, menjadi harapan bersama agar santri lulusan pesantren memiliki kesadaran penuh untuk memberikan kinerja nyata bagi kemaslahatan Indonesia dan berkontribusi untuk penciptaan Islam yang rahmatan lil alamin. Memberikan kedamaian bagi bangsa dan negara.


Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saat ini menjadi Peneliti di Puslit Kependudukan LIPI

Tags:
Bagikan:
Jumat 2 Desember 2016 18:2 WIB
90 Mahasantri Darul Hikam Terima Ijazah Kitab Fathul Mujib dari Penulisnya
90 Mahasantri Darul Hikam Terima Ijazah Kitab Fathul Mujib dari Penulisnya
Jember, NU Online
Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo KH Afifuddin Muhajir menghadiri silaturahmi yang diselenggarakan Pesantren Darul Hikam Mangli, Kaliwates Jember, Jumat (2/12) pagi. Pada kesempatan ini Kiai Afif mengijazahkan karyanya Fathul Mujibil Qarib kepada sedikitnya 90 mahasantri Darul Hikam.

Sebelumnya Kiai Afif menghadiri undangan bedah Kitab Fathul Mujibil Qarib di Gedung Teater IAIN Jember.

Pengasuh Pesantren Darul Hikam Kiai MN Harisudin dan Ibu Nyai Robiatul Adawiyah beserta beberapa staf pengajar di pesantren setempat menyambut kedatangan Kiai Afif.

Kiai Harisudin menyampaikan terima kasih atas kehadiran Kia Afif. “Alhamdulillah, kami sangat senang atas rawuh-nya Romo KH Afifudin Muhajir. Beliau adalah guru kami di Ma’had Aly Situbondo, selain juga penulis Kitab Fathul Mujibil Qarib yang tadi dibedah di IAIN Jember. Karena itu, nanti kami mohon beliau memberi motivasi kepada mahasantri Pesantren Darul Hikam yang rata-rata mahasiswa IAIN Jember tersebut.”

Kiai Haris memohon Kiai Afif berkenan memberikan ijazah kitabnya. “Sudah satu tahun lebih kitab Kiai Afif dijadikan bacaan wajib di pondok ini,” kata Kiai Harisudin yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember.

Sementara Kiai Afifudin mendoakan ilmu santri-santri nanti bermanfaat. “Saya berdoa semoga mahasantri Pesantren Darul Hikam menjadi anak-anak yang salehah berguna bagi agama nusa dan bangsa. Terus belajar untuk mencapai cita-cita. Jadi apapun, semoga ilmunya berkah,” kata Kiai Afif.

Setelah mengijazahkan kitabnya, Kiai Afif membaca doa di hadapan sedikitnya seratus hadirin. (Anwari/Alhafiz K)

Jumat 25 November 2016 18:1 WIB
Bermodal Kitab Kuning, Pesantren Diharap Siapkan Calon Pemimpin
Bermodal Kitab Kuning, Pesantren Diharap Siapkan Calon Pemimpin
Jombang, NU Online
Puncak Festival Sastra Religi Musabaqoh Hafalan Nadzom tingkat Jawa Timur dilaksanakan di Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Diharapkan dari kegiatan tersebut, para santri menjawab ketersediaan pemimpin bangsa di masa mendatang.

Harapan ini disampaikan H Abdul Halim Iskandar saat memberikan sambutan pada final Festival Sastra Religi yang berlangsung Kamis, (24/11). "Dengan pelaksanaan kegiatan ini, maka para santri dengan kemampuan memahami kitab kuning akan siap menyongsong Indonesia yang lebih baik," katanya di masjid jami' pesantren setempat.

Penggagas kegiatan yang babak penyisihannya berlangsung di 4 zona tersebut mengingatkan bahwa kemampuan memahami kitab kuning sangat dibutuhkan dalam memberikan solusi bagi berbagai permasalahan di negeri ini.

"Paling tidak, mereka adalah generasi penerus ulama yang lebih baik," kata Gus Halim, sapaan akrabnya. Dengan kemampuan menguasai tata bahasa yang diikuti pemahaman makna dari kitab kuning, sejumlah masalah dapat dicarikan solusinya dengan lebih bijak seperti tradisi para ulama terdahulu, lanjutnya.

Ketua DPRD Jawa Timur tersebut menyadari bahwa kegiatan seperti ini memang kurang menarik. "Karenanya, jauh dari hingar bingar dan gebyar," katanya di hadapan Menteri Desa, Pembangunan Daertah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo.

Namun demikian, kurangnya gebyar tidak menyurutkan niatnya untuk terus mentradisikan kegiatan ini pada tahun mendatang. "Tahun depan, seleksi peserta akan dilakukan di 8 zona," katanya. Dengan demikian, peserta yang akan berpartisipasi semakin banyak. Demikian pula tidak semata lomba hafalan nadzom, juga dengan pembacaan kitab kuning, lanjutnya.

"Kitab yang akan dijadikan kajian lomba adalah Fathul Qarib untuk tingkat pemula," katanya. Sedangkan untuk tingkat menengah atau wustha adalah Tafsir Jalalin, dan Ihya' Ulumuddin untuk tingkat ulya atau atas.

Kalau pada pelasanaan kali ini hanya diikuti kalangan santri putra, maka pada pelaksanaan tahun depan juga dengan keiukutsertaan santri putri. "Karenan itu, para santri putri hendaknya mempersiapkan diri mengikuti lomba ini tahun depan," katanya disambut antusias santri putri.

Pada final ini, sejumlah juara hingga harapan mendapatkan piagam, piala dan uang pembinaan dari bapak menteri, Eko Putro Sandjojo. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Jumat 25 November 2016 7:4 WIB
Pesantren Tebuireng Tolak RUU Tembakau
Pesantren Tebuireng Tolak RUU Tembakau
Jombang, NU Online
Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia dalam upaya meraih bonus demografi. RUU ini juga dinilai hanya menguntungkan segelintir pemilik industri rokok dan merugikan kesehatan masyarakat.

"Salah satu indikasinya, daftar 10 orang terkaya di Indonesia ternyata didominasi oleh pengusaha rokok," kata pegiat Social Movement Institute (SMI) Eko Prasetyo dalam diskusi dan konferensi pers Menolak RUU Pertembakauan di Pesantren Tebuireng, Kamis (24/11) sore.

Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) Prijo Sidipratomo yang turut hadir dalam diskusi ini mengaku prihatin melihat fakta bahwa lebih dari 50 persen penduduk miskin ternyata terjebak candu rokok. "Uang yang dibelanjakan masyarakat untuk membeli rokok jauh melebihi belanja untuk kesehatan dan pendidikan," ujarnya.

Mengutip data Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Prijo menyebut rokok menempati peringkat kedua konsumsi rumah tangga termiskin setelah padi-padian. "Belanja rokok juga senilai 14 kali lipat belanja daging, 11 kali biaya kesehatan dan 7 kali lipat biaya pendidikan," tegas Prijo.

Karena itu, Prijo mengajak kalangan pesantren dan tokoh masyarakat untuk mendesak agar RUU Pertembakauan dihapus dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2016-2019. "RUU ini hanya akan melindungi kepentingan perusahaan rokok dan mengancam masa depan bangsa, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi," tandasnya.

Menanggapi hal itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menyatakan kesiapan pesantren yang dipimpinnya untuk secara proaktif mengampanyekan bahaya rokok. "Sejak saya masuk ke Tebuireng pada 2006, larangan merokok itu sudah ada. Saat ini, larangan tersebut juga telah berlaku bagi kalangan guru," ujar Gus Sholah.

Meski demikian, Gus Sholah mengakui, masih banyak kalangan kiai dan pesantren (di luar Tebuireng) yang merokok. "Karena itu, kita ingin memberi informasi kepada kalangan santri kenapa  mereka dilarang merokok. Agar mereka sadar (terhadap bahaya rokok). Mungkin saja mereka merokok karena orang tuanya merokok, atau mungkin kawan dan tetangganya merokok," tutur adik kandung Gus Dur ini.

Gus Sholah mengaku miris menyaksikan data konsumsi rokok yang jauh melebihi belanja kesehatan dan pendidikan. "Tugas kita bersama untuk menyiapkan generasi masa depan, yang kita sebut generasi emas. Jangan sampai bonus demografi malah menjadi bencana demografi," harapnya.

Di akhir acara, Gus Sholah dan para tokoh masyarakat yang hadir dalam kesempatan ini menandatangani pernyataan bersama berjudul Tolak RUU Pertembakauan. Pernyataan yang berisi sepuluh poin tuntutan tersebut antara lain mendorong pemerintah dan DPR RI untuk menarik dan membatalkan RUU Pertembakauan dari Prolegnas 2016-2019 demi melindungi bangsa dari keterpurukan multisektor akibat konsumsi rokok.

Selain Gus Sholah, Prijo Sidipratomo dan Eko Prasetyo, pernyataan bersama itu juga ditandatangani oleh budayawan D Zawawi Imron dan guru besar antropologi hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Djawahir Tantowi. Mudir Pesantren Tebuireng Luqman Hakim dan beberapa anggota Komnas PT juga turut menandatangani pernyataan tersebut. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG