IMG-LOGO
Opini

Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212

Jumat 2 Desember 2016 19:23 WIB
Bagikan:
Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212
Aksi 212 di Monas Jakarta.
Oleh Fathoni Ahmad

Tidak ada yang mengetahui persis Presiden RI Joko Widodo akan hadir di tengah ratusan ribu massa aksi damai 2 Desember di Monas dan sekitarnya. Meskipun pada akhirnya, Jokowi sendiri yang memutuskan sangat perlu hadir dan shalat Jumat bersama mereka di detik-detik terkahir menjelang kumandang adzan.

Di antara alasan Jokowi yaitu akankah menembus hujan deras untuk bergabung dengan mereka. Meskipun pertanyaan ini begitu menggelitik bagi dirinya. Itulah Jokowi, sebuah gorong-gorong saja mampu ditembusnya apalagi sekadar hujan. Hal itu harus dilakukannya, sebab massa yang telah rapi dan tertib sudah tentu menunggu dirinya.

Bagi Mantan Wali Kota Solo ini, tidak menemui pendemo dalam aksi Bela Islam II pada 4 November lalu, bukan berarti ia tidak mau berinteraksi dengan rakyatnya, tetapi tentu hal ini hanya persoalan waktu. Terbukti pada Aksi Bela Islam III pada 2 Desember, ia bersama para menteri dan Jenderal menembus kepungan hujan dan merangsek ke dalam ratusan ribu kermununan massa yang telah memadati Monas dan jalan-jalan di sekitarnya.

Data kepolisian menyebutkan, Aksi 212 ini mencapai 200.000 orang yang datang dari berbagai daerah. Meskipun menurut taksiran penulis, massa yang kompak berkumpul dengan mengenakan dress code putih-putih itu bisa mencapai 450.000 orang. Bahkan ada yang bilang jutaan. Kemungkinan data tersebut jika digabung dengan mereka yang juga mengadakan aksi serupa di berbagai daerah di Indonesia.

Namun demikian, penulis tidak ingin membahas data, melainkan sebuah hujan kerap yang menyapa massa aksi 212 di Monas. Ada yang menyebut bahwa hujan yang turun diawali awan gelap atau mendung pekat itu akan mengganggu massa yang dari awal khidmat mengikuti aksi.

Namun penulis melihat, justru dengan turunnya hujan akan memberikan nuansa lain. Apa itu? Mari sejenak mengingat materi pelajaran kimia di sekolah. Meskipun mengandung unsur asam, air hujan juga membawa partikel yang dapat memunculkan sensasi damai dan sejuk di tubuh manusia sehingga rasa senang dan gembira akan mucul. Tak heran jika anak-anak kecil serasa senang bermain di tengah guyuran hujan.

Sebagian orang juga memaknai turunnya hujan sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa. Hal ini karena hujan mampu menyuburkan yang kering dan menumbuhkan yang sedang berkembang. Hujan juga bisa mendatangkan musibah jika intensitasnya berlebihan sehingga dapat mengakibatkan banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Lagi-lagi, hal ini juga bisa dilihat dari sudut pandang berkah karena manusia diajarkan untuk merawat alam.

Bagaimana konteksnya dengan aksi 212? Mudah sekali membacanya. Jika manusia berkumpul di satu tempat apalagi dalam jumlah yang sangat banyak, partikel yang ada di tengahnya hanyalah unsur panas karena pada dasarnya manusia adalah makhluk berdarah panas. Hal itu ditambah dengan berbagai tuntutan aksi yang seketika dapat memunculkan suasana lebih panas lagi sehingga bisa meletupkan keributan.

Hujan kerap yang cukup deras mengguyur massa aksi 212 tak terpungkiri adalah berkah dari Allah SWT. Ia membuat ratusan ribu massa yang berkepala panas menjadi dingin, dada yang membara menjadi tenang, otot-otot yang kencang menjadi kendor, dan tulang-tulang kaku menjadi luwes kembali sehingga aksi yang tadinya damai menjadi super damai.

Petunjuk hujan inilah yang tadinya dinilai Jokowi sebagai rintangan untuk bergabung dengan massa, menjadi berkah yang harus ditembus sebagai energi positif untuk menjawab pandangan-pandangan nyinyir yang ditujukan kepadanya yang dinilai tidak berani mendatangi para pendemo ketika aksi 4 November lalu. Lebih dari itu, persatuan dan kesatuan dalam rajutan merah putih dan dekapan NKRI bisa tetap menjadi milik kita bersama selamanya.

Pesan hujan yang diturunkan oleh Allah dalam aksi 212 juga harus menjadi renungan bersama, betapa kepala dingin, kesabaran, dan sikap tidak memaksakan kehendak harus dikedepankan. Proses hukum tersangka Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang senantiasa menjadi tuntutan aksi harus dipercayakan penuh pada ranah hukum. Karena hal itulah yang menjadi kesepakatan bersama di negara hukum seperti Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

Jika hukum sudah berjalan, serahkanlah pada prosesnya, toh masyarakat yang menuntut bisa mengawalnya diberbagai tahapan serta mengawasinya sebagai bagian dari transparansi. Upaya ini juga bagian dari perwujudan supremasi hukum itu sendiri. Berbeda jika tuntutan tersebut disertai dengan pemaksaan kehendak, yang ada hanyalah kekacauan proses yang jelas tidak kita inginkan sebagai warga yang taat pada konstitusi.

Para pendiri bangsa (founding fathers) ini telah bekerja keras merancang pondasi dan dasar negara sebagai konsensus atau kesepakatan bersama dalam membangun bangsa yang beradab. Mereka bukanlah para pemimpin amatir, tetapi mereka adalah pemikir dan pekerja keras yang secara ikhlas mengusir penjajah dan mendirikan negara ini demi kelanjutan generasi yang lebih baik. 

Kita sebagai pewaris para founding fathers harus memperkuat jiwa dan mental bahwa bangsa dan negara ini mesti dijaga kebersamaannya. Problem politik, agama, budaya, dan entitas-entitas lain jangan sampai membuat bangsa yang telah kuat karena kesepakatan bersama ini terpecah belah. 

Kerugian jiwa dan raga yang ditimbulkan oleh berbagai kepentingan sesaat, apalagi begitu gencar mengatasnamakan agama hanya akan membuat Indonesia seperti negara-negara gagal (failed states) di berbagai kawasan di Timur Tengah. Lagi-lagi, hujan yang turun tepat pada aksi 212 di Monas Jakarta cukup memberikan pelajaran bahwa bangsa ini harus terus dijaga kesejukannya. Semoga!

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan.

Tags:
Bagikan:
Jumat 2 Desember 2016 15:0 WIB
Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita
Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita
Oleh Ahmad Faizal Amin

Pernah suatu masa, bangsa kita sangat disanjung oleh bangsa lain. Bukan hanya karena kekayaan alamnya, namun juga perilaku kita. Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh sopan santun, gotong royong, dan sikap religius yang sangat kuat. Tak heran jika banyak warga asing yang langsung jatuh cinta kepada Indonesia karena melihat bagaimana orang-orang kita yang sangat beragam dapat hidup dengan damai dengan suasana penuh kekeluargaan dan saling menghargai dengan menjunjung tinggi sopan-santun.

Orang jawa menyebutnya sopan-santun ini sebagai unggah-ungguh. Orang arab menyebutnya sebagai adab. Orang Inggris menyebutnya sebagai attitude. Meski berbagai macam sebutan, namun dapat ditarik definisi umum bahwa sopan-santun ini mempunyai arti sebagai sikap menghargai dan menghormati orang lain baik yang lebih mudah, lebih tua, maupun karena posisinya di dunia professional.

Meski bangsa kita dikenal dalam tempo sejarah yang panjang sebagai bangsa yang penuh sopan-santun dan religius. Namun, akhir-akhir ini kita melihat ada sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan. Pergeseran pola komunikasi face to face menjadi komunikasi melalui dunia maya sedikit demi sedikit mulai membuat sopan-santun kita juga mulai bergeser. Orang yang dikenal dengan penuh keramahan dan sopan-santun di dunia nyata mendadak menjadi macan yang siap mencengkeram dan menerjang dengan kata-kata yang kasar di media sosial. Caci-maki dan saling lempar umpatan seolah menjadi menu harian yang hampir selalu kita temui di kolom komentar terutama karena perbedaan pendapat dan pandangan terkait isu-isu yang sensitif. Tidak ada lagi batasan umur maupun kedudukan seseorang, asal pendapatnya berseberangan, ya hajar saja.

Yang lebih memprihatinkan akhir-akhir ini adalah fenomena bagaimana ulama kita yang bertahun-tahun belajar, mengaji, kemudian mengajarkan ilmunya ke santri-santrinya dengan mudah diperolok dan dicaci-maki seolah-olah beliau-beliau baru belajar kemarin sore. Ketika seorang yang konon berpendidikan dengan mudahnya menghina sosok ulama kharismatik sekaliber Gus Mus dengan menyebut bagian tubuh yang melambangkan kehormatan dengan sebutan yang amat tidak pantas karena tweet yang berseberangan. Ketika seorang yang notabene lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan mudahnya share foto pribadi wakil ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, dengan caption yang sangat tidak pantas terkait dengan fatwa MUI yang dianggap politis. Atau ketika para santri gugel dengan mudahnya merendahkan sosok ulama besar semacam Prof. Quraish Shihab dan Prof. Syafi’i Ma’arif karena berbeda pendapat dengannya.

Apa yang salah dengan kita? Mengapa bangsa yang dulu dikenal dengan sopan-santunnya dengan sangat cepat berubah menjadi kumpulan orang-orang celelekan dan tidak tahu adab ketika sudah berada di depan layar gadget? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Apapun agama kita, di manapun kita belajar, setidaknya kita akan selalu mendapat pelajaran mengenai sopan-santun ini, yang termaktub dalam bab budi pekerti. Di dalam agama Islam, kita menyebutnya sebagai akhlak. Salah satu akhlak tersebut adalah tawadhu’ (rendah hati dan hormat) kepada orang-orang berilmu. Kita akan mudah melihat teladan ini kepada ulama-ulama yang sempat direndahkan ini, salah satu yang paling nyata adalah bagaimana Gus Mus menangis dan memohon bahkan menyatakan bersedia mencium kaki para kiai sepuh untuk menenangkan suasana muktamar NU tahun lalu. Di sinilah kita melihat betapa tinggi rasa tawadhu’ beliau dan seberapa tinggi derajat akhlak beliau.

Bagaimanapun juga agama tidak hanya mengajarkan mengenai akidah, namun juga akhlak. Akidah tanpa akhlak akan membuat orang tinggi hati, merasa dirinya paling mulia hingga merendahkan pendapat orang lain. Akhlak tanpa akidah hanya akan membuat kita bingung dan lupa jati diri kita sebagai muslim, lupa siapa Tuhan kita dan bagaimana kita harus beribadah. Maka, mempelajari keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan.

Sungguh amat tidak pantas kita sebagai orang yang beragama dan terpelajar dengan mudahnya merendahkan para ulama. Bagaimanapun juga, akhlak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan di era social media ini, terlebih jika sudah berurusan dengan ulama. Pun juga dengan orang selain ulama, akhlak juga perlu deperhatikan. Tentu kita tidak mau mendapat masalah di kemudian hari karena ketidakhatihatian kita dalam ber-social media bukan? Tidak sedikit pelajaran yang dapat kita ambli dari teman-teman kita harus berurusan dengan hukum karena salah memanfaatkan social media. Atau beberapa orang harus kehilangan pekerjaan karena menghina orang lain di media sosial yang ternyata merupakan orang atau relasi penting di perusahaan. Atau beberapa orang yang sulit mendapat pekerjaan karena siulan di media sosialnya membuat recruiter ogah merekrut dirinya. Cukuplah kasus mereka menjadi pelajaran bagi kita. Mari lebih bijak dalam dalam ber-social media. Selalu perhatikan adab dalam ber-social media dan selalu berhati-hati dalam menulis. Ingat, lisanmu adalah pedangmu, socmed-mu adalah harimaumu!

Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi UGM; Exchange Student Tohoku University, Japan; anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)-Sendai, Japan
Jumat 2 Desember 2016 14:5 WIB
Menahan Emosi Demi NKRI
Menahan Emosi Demi NKRI
Aksi Super Damai 2 Desember. (Foto: istimewa)
Oleh M. Rikza Chamami

Umat Islam Indonesia menunjukkan kemuliaan di hadapan dunia internasional. Do'a bersama untuk kedamaian negeri dalam rangkaian aksi super damai 212 begitu luar biasa hingga tulisan ini selesai. Sejak pagi lautan jama'ah berjumlah jutaan muslim Indonesia berkumpul di Ibukota.

Monas yang menjadi titik utama berkumpul tidak mampu menampung jama'ah. Allah menyatukan umat Islam Indonesia yang berbeda-beda ideologinya. Karena jelas, jama'ah itu berlatar belakang dari lintas ideologi Islam. 

Di luar dugaan, kesan Islam yang galak dan ganas tidak ada sama sekali di hari ini. Sungguh mulia niat untuk jama'ah bersama melaksanakan shalat jum'at dengan do'a memuji Allah SWT. Terselip sebuah pesan "tegakkan keadilan" dan "jaga NKRI".

Agama Islam dipegang teguh. Visi kerasulan dikedepankan. Keutuhan bangsa yang dipertaruhkan menjadi kenyataan. Tidak ada yang bisa melaksanakan kebersamaan ini, selain dua panggilan.

Pertama, panggilan keagamaan yang kuat sesuai dengan pilihan ideologi. Bahwa aksi super damai mengandung pesan untuk menuntut keadilan dengan format berbeda, bukan aksi jalanan tapi aksi penuh kesantunan.

Kedua, panggilan kebangsaan. Bahwa masih banyak warga bangsa yang sangat peduli untuk kesatuan dan persatuan. Ini menjadi satu titik baku bahwa muslim Indonesia masih mampu menahan emosi agama demi persatuan bangsa.

Bukan menyoal siapa yang hadir aksi atau tidak hadir. Yang perlu dilihat bersama adalah sebuah komitmen kebhinekaan yang sungguh luar biasa. Kalau umat Islam selama terkotak oleh pilihan ideologi, hari ini umat Islam Indonesia mampu menghadirkan kebersamaan. Belum lagi umat Islam yang lainnya yang melaksanakan aksi serupa di daerah-daerah.

Kehadiran Jokowi dan JK dalam shalat Jum'at berjama'ah di Monas juga menjadi penanda bersatunya ulama dan umara, walau memang ada cara pandang politik yang berbeda. Hal inilah yang perlu dilihat lahir manajemen keulamaan yang dapat dilihat secara bersama.

Agama itu penting sebagai ruh ketuhanan yang harus dijawab dengan kemasyarakatan. Maka kebersamaan ulama dengan umara' sangat dibutuhkan hari ini.

Melihat sekian banyak problem bangsa yang harus diselesaikan, maka jangan sampai agama mampu dijadikan alat pemecah bangsa Indonesia. Sebab agama Islam saja sangat banyak ragamnya, dan itu harus disatukan.

Ideologi politik yang menjadi Tuhan dalam kehidupan masyarakat saja sudah mampu diredam. Terbukti, koalisi KMP dan KIH di Senayan sudah mulai menemui titik temu bicara kebangsaan.

Sangat malu jika ideologi agama yang sedemikian mulai dijadikan alat politik untuk memecah belah bangsa. Dan malu lagi jika yang menjadikan agama sebagai alat pecah belah bangsa adalah bukan kalangan agamawan.

Emosi memang bukan solusi. Solusi selalu berupa komunikasi. Dan aksi super damai berjalan sedemikian ramah dan bertuah. Semua bekerja untuk menyatukan bangsa.

Satu kata, Indonesia milik umat Islam dan semua umat beragama lainnya. Agama bukan pemecah bangsa. Ulama sangat mulia menyeru kebaikan dan menahan umatnya untuk tertib. NKRI harga mati. Indonesia tetap satu nusa, bangsa dan bahasa. Dunia menyapa dengan penuh mulia.***

Penulis adalah Dosen FITK UIN Walisongo Semarang dan Anggota Aliansi Kebangsaan.

Kamis 1 Desember 2016 19:25 WIB
Jangan Kau Robek Merah Putih Kami!
Jangan Kau Robek Merah Putih Kami!
Oleh Aris Adi Leksono

Apa yang sesungguhnya terjadi di negeri ini? Siapa dibalik mobilitas sosial yang mengancam stabilitas keamanan, politik, dan ekonomi ini? Semuanya tanda tanya besar. Jawaban pasti mungkin hanya Tuhan yang tahu. 

Tersangka penista agama jadi ditahan atau tidak? Kelompok GNPF-MUI akan mencapai hasil yang diinginkan atau hanya rutinitas Jumat? Semuanya spekulasi, akibatnya memicu seribu opini yang semakin semrawut.

Mulai dari opini yang mengarah pada isu SARA, sampai pada isu makar,  kudeta kekuasaan Presiden. Respon atas opini tersebut juga beragam, mulai dari unjuk kekuatan massa dalam bentuk solidaritas anti penista agama, solidaritas gelar sajadah, sampai shalat Jumat akbar di tempat yang tidak lazim dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Pihak lain, atas nama persatuan menggelar pawai Bhinneka Tunggal Ika, istighotsah kebangsaan, doa bersama, Nusantara satu, dan lain sebagainya.

Ini dagelan atau memang fase menuju kebangkitan, kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara, atau seperti yang diasumsikan kaum jihadis, masa kebangkitan Islam Indonesia? Seperti balsem, semakin digosok, semakin panas. Bagaikan api ketemu kayu bakarnya. Isu, opini, propaganda, fitnah individu atau kelompok, dan berita hoax menjalar begitu cepat, seakan lupa kita adalah saudara. Indonesia-ku, Indonesia-mu, Indonesia kita.

Ingat, Indonesia telah dijajah oleh musuh yang nyata selama lebih dari 350 tahun. Tapi, saat itu musuh bangsa Indonesia adalah bangsa lain. Nah, ironi saat ini seakan bangsa ini akan berperang melawan saudara sendiri. Saudara sebangsa dan setanah air yang terikat dalam rajutan merah putih, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih naas lagi ketika yang diperhadapkan adalah politik aliran, politik madzhab, dan lainnya. Bisa jadi antar ormas Islam Indonesia saling bermusuhan dan menjatuhkan. Akibatnya, lagi-lagi ancaman disintegarasi bangsa.

Apakah mereka lupa, bahwa bangsa dan negara ini berdiri atas pengorbanan jiwa dan raga. Bangsa dan negara ini kokoh atas pengorbanan ego ras, suku, dan agama. Ego sektoral itu mampu disatukan menjadi konsensus Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara.

Ini Nusantara Bung, berjuta pulau ada di sini, beribu ras dan suku ada di sini, berpuluh bahasa ada di sini, berpuluh agama dan kepercayaan ada di sini. Tapi sejak berpuluh tahun lalu sajadah kami adalah Merah Putih. Merah itu keberanian kami, putih itu hati, pikiran, tindakan kami yang selalu berusaha suci dan bersih. 

Nah, atas pertimbangan kita pernah merasakan himpitan bersama karena dijajah, kita pernah berikrar bersama bahwa tanah air, bangsa, dan bahasa kita sama. Dasar kehidupan berbangsa dan bernegara pernah kita rumuskan bersama, Pancasila. Kenapa hari ini seakan memori itu hilang? atau sengaja dilupakan? Apakah masalah hari ini lebih besar dari urusan penjajahan? Ataukah lebih rumit dari merumuskan dasar negara? Tentu tidak. 

Jangan engkau robek merah putih-ku, merah putih-mu, merah putih kita, hanya karena politik-kekuasaan, ego sektoral, apalagi hanya soal perang rezim. Merah putih telah menghantarkan kita sampai pada gerbang pintu kemerdekaan. Selanjutnya, tidak ada yang lebih penting, kecuali tercapainya cita-cita kemerdekaan. Terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. 

Bentangan merah putih masih mampu dan kuat dibuat berteduh. Jangan karena persoalan agama bentangan itu rapuh. Jangan karena menghadapi rekayasa dengan rekayasa, bentangan itu rubuh. Jangan karena kepentingan dan kekuasaan sesaat, bentangan itu ambruk. Agama dan negara, melalui nilai merah putih telah mengajarkan pentingnya menyelesaikan masalah kebangsaan dengan dialog, komunikasi, duduk bersama untuk musyawarah mufakat. 

Merah putih teruslah engkau berkibar. Barang siapa melakukan rekayasa, maka Allah SWT juga akan semakin merekayasanya. Kalau takbir dapat menjelma menjadi energi perjuangan, maka saatnya bersholawat di bulan Maulid ini untuk mewujudkan kesejukan bangsa dan negeri. Semuanya dalam dekapan merah putih. Merdeka! 

Penulis adalah rakyat jelata, perindu harmoni dalam dekapan merah putih.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG