IMG-LOGO
Daerah
TRADISI SEKATEN

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Rabu 14 Desember 2016 4:0 WIB
Bagikan:
Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya
Solo, NU Online
Setiap diadakannya Tradisi Sekaten yang diadakan di Kota Surakarta, para pengunjung tentu tidak asing dengan beberapa benda sebagai berikut, yakni; kinang, pecut (cambuk), mainan gangsingan, celengan, dan telur.

Benda-benda ini, menurut Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, memiliki filosofi tersendiri. Kinang misalnya, benda yang terdiri dari 5 unsur ini sebagai pembelajaran seseorang harus melaksanakan 5 rukun Islam.

“Dalam kinang bila hanya menggunakan 3 unsur kinang maka sudah enak yang artinya bila kita mampu melaksanakan 3 rukun islam; syahadat, sholat dan puasa maka sudah baik. Sedangkan, dua unsur lainnya, zakat dan haji menjadi penyempurna, bila ada kemampuan,” terang Muhtarom yang juga Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu, Selasa (13/12).

Sementara itu, pecut memiliki makna bahwa kita harus berupaya mecut (mencambuk) hawa nafsu. “Artinya mampu mengendalikan hawa nafsu, agar hidupnya selamat terarah,” kata dia.

Kemudian, gangsingan yang artinya istiqamah. Ketika gangsingan diputar dengan putaran yang sangat kencang maka gerakan gangsingan akan stabil dan celengan, bermakna agar banyak menabung amal shalih.

“Hidup di dunia ini pada hakikatnya permainan belaka diibaratkan dengan simbol berbagai dolanan (mainan). Ketika kita kita bisa mengambil nilai-nilai di atas maka hidup kita akan mencapai kesempurnaan maka dilambangkan dengan endok (telur) kamal,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)
Bagikan:
Rabu 14 Desember 2016 23:2 WIB
Perkuat Spirit Keorganisasian, GP Ansor se-Madura Rapatkan Barisan
Perkuat Spirit Keorganisasian, GP Ansor se-Madura Rapatkan Barisan
Bangkalan, NU Online
Gerakan Pemuda (GP) Ansor di empat kabupaten di Madura menggelar pertemuan. Mereka melangsungkan konsolidasi pimpinan cabang GP Ansor se-Madura di pesantren kiai Zubair Bangkalan, Rabu (14/12).

"Pertemuan tersebut dalam rangka memperkuat jam'iyyah nahdliyah serta meningkatkan semangat perjuangan ahlussunnah wal jamaah di Madura," terang Sekjen Badan Ansor Anti-Narkoba (Baanar) Ahmad Ghufron Siradj yang hadir dalam rapat konsolidasi, Rabu (14/12).

Tampak hadir Ketua GP Ansor Bangkalan Ra Hasani Zubair Muntashor beserta semua unsur pimpinan, Ketua GP Ansor Pamekasan Fathurrohman, Kepala Baanar Pamekasan Ra Hasan Al-Mandury, Ketua PAC Waru Pamekasan Syafiuddin, dan Wakil Ketua GP Ansor Sumenep Muzani.

Mereka membahas isu-isu nasional yang sedang menimpa bangsa ini. Mereka membahas semakin lemahnya jam'iyyah Annahdliyah di Madura, banyaknya hujatan kebencian terhadap kiai NU di medsos, melemahnya rasa persaudaraan, tenggang rasa di republik ini, serta peredaran narkoba yang semakin massif.

Musyawarah yang dipimpin langsung oleh Ra Hasani itu menghasilkan kesepakatan
dibentuk koordinator GP Ansor se-Madura. Ra Hasani menunjuk sahabat Fathurrohman sebagai koordinator dan disetujui oleh semua yang hadir. Nantinya akan ada pertemuan per tiga bulan.

Dalam pertemuan Rabu (7/12) itu, Ra Ahmad Ghufron Siradj selaku Sekjen Pimpinan Pusat Baanar memberi arahan sesuai yang disampaikan Ketum GP Ansor H Yaqut Choulil Qoumas, yakni keharusan GP Ansor dan warga nahdliyin meningkatkan semangat perjuangan bela agama, bangsa, dan negeri tentu dengan menempatkan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI sebagai 4 pilar kebangsaan.

"Jangan lupa sesuai perintah Ketum PP GP Ansor agar kader Ansor tetap konsisten dalam dasar perjuangannya," tegasnya.

Dijelaskan, hari-hari ini kita dihadapkan pada situasi yang berpotensi mengancam persaudaraan kebangsaan kita. Situasi yang ditimbulkan dari perasaan ketidakadilan di masa lalu dan perkembangan baru dari pesatnya teknologi informasi serta pengaruh dari dunia luar.

"Sikap intoleran, ujaran kebencian, dan fitnah adalah cermin dari defisitnya rasa saling percaya di antara sesama anak bangsa," ujar Ra Ghufron menirukan arahan H Yaqut. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Rabu 14 Desember 2016 22:0 WIB
Tak Ada Jaminan Muslim Wafat dalam Keadaan Husnul Khotimah
Tak Ada Jaminan Muslim Wafat dalam Keadaan Husnul Khotimah
Pringsewu, NU Online
Masa depan kehidupan manusia adalah misteri. Tidak ada yang tahu bagaimana manusia akan menemui akhir dari kehidupannya. Ada dua hal yang kemungkinan akan terjadi pada setiap manusia saat dipanggil oleh yang menciptakannya yaitu apakah dalam keadaan husnul khotimah atau su'ul khotimah.

"Walaupun orang tua kita Islam. Kita juga beragama Islam. Tidak ada jaminan kita akan husnul khotimah," tegas Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi, Selasa (13/12).

Oleh karenanya sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk meminta dan berdoa kepada sang khaliq agar ketika nyawa dicabut dari raganya dan meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan husnul khotimah.

Ia menambahkan bahwa alam dunia yang penuh dengan kenikmatan duniawi ini haruslah dijadikan  sarana untuk beribadah kepada Allah. Abah Sujadi, begitu Ia biasa dipanggil mengingatkan hal ini dengan mengutip hadits Rasululloh SAW yang menjelaskan bahwa dunia adalah merupakan ladang dan tempat untuk mencari bekal bagi kehidupan kekal di akhirat.

Abah Sujadi menyampaikan ini saat memberikan mauidzatul hasanah pada peringatan 7 hari wafatnya Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu H. Adi Ben Slamet. Ia mengatakan bahwa tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput.

"Saya berbicara seperti ini tidak tahu apa nanti saya masih bisa berbicara. Cukuplah kematian menjadi peringatan bagi kita untuk selalu bersiap-siap menghadapinya dengan bekal ibadah," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Ia juga memberi kesaksian tentang perjuangan H. Adi Ben Slamet dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama. "Mas Adi sangat komit dalam berkhidmah kepada ummat dan Nahdlatul Ulama. Pemikiran dalam perjuangan  juga dilakukannya walaupun dalam kondisi sakit. Ia masih tetap memikirkan NU," katanya seraya mengisahkan sosok H. Adi Ben Slamet yang wafat pada usia yang masih cukup muda yaitu 40 tahun karena serangan jantung.

"Mas Adi adalah sosok yang sangat takdzim dengan kiai saat menjadi santri di Tebuireng dan Krapyak. Ia sering didawuhi masyayikh untuk nyupir walaupun masih mengaji. Semoga pengabdiannya selama ini dalam khidmat kepada ummat diterima Allah SWT. Amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Rabu 14 Desember 2016 20:1 WIB
Kiai Hamid: Berjuang untuk NU Bakal Sejahtera Lahir dan Batin
Kiai Hamid: Berjuang untuk NU Bakal Sejahtera Lahir dan Batin
KH Hamid Mannan Pamekasan.
Pamekasan, NU Online
Saat mengisi taushiyah keagamaan dalam pelantikan pengurus MWCNU Waru, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur di pendopo kecamatan setempat, KH Hamid Mannan menjelaskan panjang lebar terkait manfaat mengabdi di NU.

Pengasuh Pesantren Sabilul Ihsan Pamekasan ini berkeyakinan bahwa berjuang di NU akan menjamin sejahtera sampai mati.

"Bahwa berjuang di NU dijamin sejahtera ketika masih hidup dan bahkan sampai mati, itu tak terbantahkan. Buktinya, KH. Mardliyah, KH. Abd. Kadir Mardliyah, KH. Rasad, dan semua pejuang NU terus kita doakan dan dikirimi fatihah. Kesejahteraan mereka pun dapatkan meski sudah wafat," terang Kiai Hamid.

Jaminan kesejahteraan tersebut, teranf Kiai Hamid, masih bersyarat. Yaitu, harus istikamah dan penuh kesabaran dalam menghadapi setiap rintangan berorganisasi.

"Keistikamahan dan kesabaran menuntun kita untuk selalu sabar dalam mengabdi pada organisasi tercinta ini," tegasnya.

Pelantikan pengurus MWCNU Waru dihadiri oleh pengurus NU di tingkat cabang, kecamatan, ranting, hingga anak ranting. Para pengurus dan kader GP Ansor pun memadati acara pelantikan. (Hairul Anam/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG