IMG-LOGO
Opini

Teladan Pancasila

Kamis 22 Desember 2016 18:7 WIB
Bagikan:
Teladan Pancasila
Oleh : Bakhrul Amal

Pancasila bukanlah suatu lukisan yang sekadar enak dipandang, tetapi juga, menarik untuk diketahui lebih jauh makna filosofisnya. Pancasila, karena indahnya itu, dari dulu hingga sekarang, tetaplah cantik dan mengasyikan apabila dijadikan sebuah bahan perbincangan. 

Pada era kemerdekaan, Bung Karno, menyebar-nyebarkan benih bahwa Pancasila adalah penuntun jalan bagi Indonesia dalam mengarungi bahtera hidup berkebangsaan. Soeharto kemudian melegalisasi dengan P4 atau dikenal lebih dengan sebutan Eka Prasetya Pancakarsa. P4 sendiri adalah kependekan dari Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila.

Di era global, Pancasila kemudian direduksi dan dicatut sebagai suatu hal yang mempengaruhi munculnya istilah Revolusi Mental. Revolusi Mental sendiri adalah sebuah gerakan perubahan tingkah laku menuju manusia paripurna, katanya.

Namun, miris bukan kepayang, semua hal itu belumlah menjadi nyawa dalam ruh-ruh manusia Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak mampu untuk membendung kekerasan atas nama agama. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab belum bisa mengentikan penzaliman. Sila Persatuan Indonesia tak kunjung memberikan damai dalam pengaminnya. Sila permusyawaratan hanya sampai pada pemahaman suara mayorokrasi. Sila keadilan sosial belum jua mengikis yang ‘tajam ke bawah dan tumpul ke atas’.

Sekadarnya, Pancasila yang sakral itu kini hanya dikenal dalam balutan upacara bendera setiap hari Senin. Dibacakan dan lalu dilupakan, singkatnya. Pancasila yang agung itu sekedar sebagai sebuah pampangangan yang nganggur di ruang-ruang kantor Camat.

Apa itu Pancasila?
Jika sebatas kalimat sila, kita tidak perlu lagi menjabarkannya. Selain terlalu panjang, cukup memakan waktu juga karena memberitahu apa yang sudah sewajibnya diketahui. Karena itu, jawaban mengenai “apa itu Pancasila” akan diarahkan lebih kepada aspek dan pembentukannya.

Suatu malam menjelang 1 Juni 1945, dikabarkan bahwa Soekarno tidak bisa tidur. Dia mondar-mandir, sliwar-sliwer melamunkan suatu dasar negara yang tidak hanya bisa digunakan untuk “satu, lima atau sepuluh tahun sahaja, tetapi suatu dasar negara yang digunakan untuk selama-lamanya.....” 

Kata Yudi Latif, hal yang akan dilakukan Soekarno esok hari itu amatlah berisiko betul. Hal itu ditengarai oleh sebab perbedaan pandangan yang tajam dan juga pada waktu itu Jepang belum sepenuhnya ikhlas melihat Indonesia merdeka. Tetapi Soekarno tidak gentar, dia katakan pada dirinya sendiri “saya tahu risikonya, sebagai seorang pemimpin, tunaikan kewajibanmu, jangan pernah hitung-hitung akibatnya !!!!”

Dari situ kita dapat mengambil pelajaran pertama, bahwasanya Pancasila lahir dalam penghayatan yang tulus. Pancasila tumbuh bukan oleh keadaan yang terpaksa tetapi dengan bertunas penuh keyakinan yang besar. Dan, Pancasila sebagai jati diri yang tidak fakultatif tetapi absoulut atau kudu.

Pancasila, jelas sekali disitu, bukan sebuah pledoi. Pancasila juga, dalam mozaik kisah tersebut, bukan sebuah konfrontasi. Pancasila, senyatanya, adalah alat pemersatu yang kata Bung Karno “digali dari nilai luhur yang terjauh di Indonesia”.

Inti pokok Pancasila
Setelah merunutkan napas, eloklah sudah kita merinci setiap inti pasalnya.

Yang pertama, sebelum pada akhirnya menjadi sususan seperti saat ini dimana ayat pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan terakhir “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, Pancasila mengawali pesan heroiknya dengan Nasionalisme. Nasionalisme bagi Bung Karno penting, karena hanya rasa kebangsaan adalah pemersatu suku-suku dan budaya serta lainnya.

Butir kedua, Soekarno mencatut Ghandi soal nasionalisme yang bertumpu pada kemanusiaan. 

Berlanjut yang ketiga, kemanusiaan itu menuntut suatu penyadaran. Penyadaran Pancasila mirip seperti penyadaran dalam arti Hans Khung, yaitu, pertama: jangan melakukan apa yang tidak ingin orang lakukan kepadamu. Kedua: cintailah sesamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Di situlah, kemudian tercetus isyarat persaudaran, musyawarah mufakat. Keempat, Soekarno mulai masuk ke arah perekonomian, ke arah kesejahteraan sosial.

Dan yang terakhir, kata Bung Karno, adalah pengemas daripada empat sila sebelumnya. Seluruh manusia Indonesia haruslah berketuhanan dan ketuhanannya dalam lingkup Tuhan yang berkebudayaan. “..Islam menurut Nabi Muhammad, Kristen menurut Isa Almasih, Budha menurut kitab Tripitakanya....”.

Kelimanya itu dideklarasikan dengan sebutan yang kita pada akhirnya kenal dengan PANCASILA !!

Penutup
Begitulah Pancasila. Tidak sekadar ruh, Pancasila juga –melampaui maaf dan belas kasihan –kata Zharatustra.

Saking agungnya Pancasila, dari mulai syeikh hingga romo, kemudian memujinya. Syeikh Zainuddin, ulama Lebanon, mengatakan bahwasanya “filsafat Pancasila sebagai panduan dan pedoman masyarakat sehingga mampu menciptakan kerukunan hidup umat dari berbagai latar belakang suku agama, budaya dan bahasa di Indonesia”. Sedangkan Jean-Louis Tauran, selaku ketua dewan antar umat beragama Vatikan, iku memberikan komentar menyoal Pancasila. Dalam pandangannya, Pancasila itu cocok  sebagai asas karena memberikan dasar bagi perjuangan bangsa. Karena menurutnya, masa depan tidak mungkin bisa diraih tanpa adanya akar yang kuat 

Jika yang di luar saja mencintai kita, mengapa kemudian kita tidak pernah bisa belajar mencintai diri kita sendiri. Teladani Pancasila !


Penulis adalah dosen Ilmu Hukum UNUSIA Jakarta

Bagikan:
Kamis 22 Desember 2016 9:30 WIB
Pergaulan dalam Pandangan Islam
Pergaulan dalam Pandangan Islam
Ilustrasi (© pixabay.com)
Oleh Zamakhsyari Abdul Majid

Pergaulan yang baik ialah melaksanakan pergaulan menurut norma-norma kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan hokum syara’, serta memenuhi segala hak yang berhak mendapatkannya masing-masing menurut kadarnya.

Agama Islam menyeru dan mengajak kaum Muslimin melakukan pergaulan di antara kaum Muslimin. Karena dengan pergaulan, kita saling berhubungan mengadakan pendekatan satu sama lain. Kita bisa saling mengisi dalam kebutuhan serta dapat mencapai sesuatu yang berguna untuk kemaslahatan masyarakat yang adil dan makmur serta berakhlaqul karimah. Kemaslahatan masyarakat yang dilandasi dengan akhlaqul karimah tidak akan terwujud, kecuali dengan membangun pergaulan yang bagus dan sehat.

Islam adalah agama yang dilandasi persatuan dan kasih sayang. Kecenderungan untuk saling mengenal di antara sesama manusia dalam hidup dan kehidupannya, merupakan ajaran Islam yang sangat ditekankan. Islam bukan agama yang didasarkan pada hubungan liar yang tidak mengenal batas, tetapi Islam mempunyai garis hidup yang konkret dalam batasan-batasan hidup bermasyarakat.

Secara garis besar pergaulan itu dapat dilihat dari beberapa lapisan. Lapisan pertama, mereka yang umurnya lebih tua daripada kita, atau yang lebih banyak ilmunya atau banyak ibadahnya. Maka hendaknya dalam memandang mereka, kita berperasaan bahwa mereka mempunyai keutamaan, dan kepada merekalah kita memberikan penghormatan yang semestinya.

Lapisan kedua, ialah mereka yang umurnya setaraf dengan kita. Mereka harus kita hormati, walaupun umurnya setaraf karena mungkin mereka lebih tinggi akhalknya dengan kita, amalnya lebih banyak daripada kita dan dosanya lebih sedikit daripada kita.

Lapisan ketiga, mereka yang lebih muda umurnya daripada kita. Golongan ini pun harus kita hormati secara wajar karena mereka lebih muda dan lebih kurang keburukannya dari pada kita, dibandingkan dengan kita yang sudah lanjut umurnya.

Adab Bergaul dalam Islam

Ada beberapa adab pergaulan dalam Islam, antara lain seperti:

Menyukai untuk saudara seagama apa yang disukai untuk dirinya sendiri, dan membendi untuk mereka apa yang dibenci untuk dirinya sendiri. Rasulallah saw bersabda: Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiada menyakiti seorang Muslim, baik dengan perbuatannya, maupun dengan perketaannya. Sebagaimana Rasulallah saw bersabda: Seorang Muslim ialah yang mendapat selamat sekalian Muslim dari gangguan lidah dan tangannya. Dan seseorang muhajir ialah orang yang hijrah meninggalkan dari segala larangan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berlaku tawadhu’ (merendahkan diri) kepada sesame saudara: jangan sekali-kali menyombongkan diri terhadap orang-orang di sekitarnya. Rasulallah saw bersabda: Bahwasanya Allah telah mewahyukan kepadaku bertawadhu’ (merendahkan diri) hingga tidak ada seorangpun yang menganiaya terhadap lainnya, dan tidak seorang yang menyombongkan dirinya terhadap yang lainnya. (HR. Muslim)

Menghormati orang yang tua dan mengasihani orang-orang yang lebih muda. Rasulallah saw bersabda: Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi kepada orang yang lebih kecil (muda) dan tidak mengetahui kewajibannya terhadap orang yang lebih besar (tua). Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menipu kami. Seorang mu’min tidak/ belum dikatakan beriman sehingga ia mencintai orang mu’min yang lain, seperti mencintai terhadap diri sendiri. (HR Thabrani dan Dhamrah)

Menghadapi manusia dengan muka yang manis sebagaimana Rasulallah saw bersabda: senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah sedekah, dan amar ma'rufmu serta nahi mungkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu, merupakan shadaqah. (HR. Bukhari)

Tidak mudah mendengar berita-berita buruk yang disampaikan orang lain. Tentang keburukan dirinya. Sebagaimana Nabi saw bersabda: Tidak akan masuk surge bagi orang senang adu domba. (HR. Bukhari-Muslim dari Khudzaifah)

Memelihara kehormatan seseorang, jiwa dan hartanya dari aniaya orang lain. Seorang Muslim yang baik, apabila menemui orang-orang yang suka mengadu domba, janganlah ikut menyambung pembicaraan itu, sebaiknya bersikap diam, sebagaimana Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya dari belakang, niscaya Allah akan menutupi api neraka dari mukanya pada hari kiamat. (HR. Thabrani)

Menempatkan seseorang pada tempatnya; menghormati dan memuliakannya secara proporsional, sebagaimana sabda Nabi saw: Tempatkanlah manusia di tempat mereka masing-masing. (HR. Abu Dawud).


Penulis adalah Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bekasi. Tulisan pernah dimuat di Radar Bekasi 9 Desember 2016.

Rabu 21 Desember 2016 17:0 WIB
Pembual Garis Keras
Pembual Garis Keras
Oleh Ahmad Ishomuddin

Carut marut kehidupan umat manusia beragama saat ini banyak disumbang oleh para penceramah yang pengetahuan agamanya dangkal,  karena diperoleh secara instan dan tanpa sanad keilmuan (transmisi periwayatan)  yang jelas.

Para alumni "pesantren kilat" tersebut punya hobi menyampaikan ceramah agama bernada kekerasan,  hantam sana hantam sini,  kritik sana kritik sini, sambil meneriakkan pentingnya memusuhi siapa saja yang tidak satu alur fikrah (pemikiran,  ide) atau memusuhi benda-benda apa saja dari produk orang-orang  kafir. Tujuan pokok dari "bualan"-nya itu tiada lain kecuali mencari pengaruh,  memperbanyak pengikut,  dan memperkaya diri.

Dalam berpenampilan sehari-hari mereka menonjolkan keakuan,  bukan kekitaan,  menonjolkan ciri-ciri klaim kebenaran apa saja  yang bisa membedakan kelompoknya dari komunitas lainnya. Warna kopiah hitam pun yang sudah mentradisi tidak selamat dari gunjingan mereka karena juga dipakai "orang kafir" sehingga wajib diganti dengan kopiah haji berwarna putih karena hanya itulah yang islami.

Cara berpakaiannya pun harus seperti orang Arab asli karena berpakaian sesuai kebiasaan umumnya orang Indonesia itu tidaklah berpakaian syar'i. Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim dalam segala hal wajib sama dengan orang-orang Arab.

Padahal kini banyak masyarakat Arab yang agamanya juga beragam itu berwatak pasir seperti alamnya yang gersang tandus berpadang pasir, yakni sulit untuk dipersatukan satu sama lain karena tidak memiliki "semen pemersatu" Bhinneka Tunggal Ika seperti di Indonesia.

Kegemaran pembual garis keras adalah dengan mudah  mengkafirkan sesama kaum Muslim hanya karena beda penafsiran. Selain itu,  mereka juga bertindak sebagai hakim pemberi vonis apabila suatu amalan tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan pasti dibid'ahkan,  bahkan hingga persoalan fiqh yang dipenuhi khilafiyah (perbedaan pendapat ulama mujtahid)  pun terburu-buru disesatkan.

Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim sejati harus punya ciri-ciri keislaman yang seragam seperti dalam tampilan fisik wajib berjidat hitam sebagai atsarussujud (tanda bekas sujud) dan wajib tampil dengan ciri pembeda dari Muslim lain yang bukan kelompoknya.

Untuk menyampaikan dakwah Islam mereka lebih nyaman menempuh jalan kekerasan karena lebih berdaya paksa dan lebih menunjukkan superioritas atas Muslim lain,  lebih-lebih terhadap non Muslim yang dianggapnya "musuh abadi", bukan saudara sesama manusia sebangsa yang wajib dihormati dan juga harus dijamin keamanannya.

Dalam mengkritik kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa pun para pembual garis keras itu sering mengabaikan sopan santun,  melecehkan, dan tanpa memahami duduk perkara yang sesungguhnya. Mereka menempatkan penguasa sebagai "thaghut" syetan-iblis yang terkutuk,  seperti sedang menghadapi Fir'aun yang dengan angkuhnya mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi, sedangkan seolah-olah para juru dakwah "pembual" garis keras itu merasa lebih hebat dari Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimassalam yang telah menyampaikan kebenaran dengan penuh kelemah-lembutan.

Padahal menurut al-Imam Abu al-Laits al-Tsamarqandi (wafat: 393 H.) dalam Bustan al-'Arifin halaman 103, seorang pemberi nasehat haruslah bersikap rendah hati,  lemah lembut,  tidak sombong,  keras atau kasar,  karena rendah hati dan lemah lembut adalah akhlak Nabi shalla Allahu 'alaihi wa sallama.

Sedangkan al-Imam al-Ghazali (lahir: 450 H.,  wafat: 505 H.) dalam al-Adab fi al-Din halaman 92-93, mengimbau agar setiap juru dakwah meninggalkan sikap sombong dan senantiasa menjaga rasa malu kepada-Nya. Selalu menampakkan rasa membutuhkan kepada Sang Pencipta.  Senantiasa terdorong untuk memberikan manfaat kepada para pendengar,  instropeksi diri untuk mengetahui kekurangan. 

Memandang para pendengar dengan pandangan bersahabat,  berprasangka baik terhadap mereka,  membimbing mereka agar mau menjaga diri,  lemah lembut dalam mendidik,  bersikap halus terhadap para pemula,  dan nasihat yang disampaikan harus benar-benar meyakinkan agar manusia bisa mengambil manfaat dari apa yang disampaikan.

Semoga kita tidak menjadi pembual dalam urusan agama,  lebih-lebih pembual garis keras,  untuk tujuan memperoleh keuntungan duniawi.


Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU


Rabu 21 Desember 2016 11:30 WIB
Piagam Madinah dan Nalar Kebangsaan
Piagam Madinah dan Nalar Kebangsaan
Ilustrasi
Oleh M Rikza Chamami

Salah satu isi pidato Presiden Jokowi saat haflah Maulid Nabi di Istana Negara, 19 Desember 2016, menegaskan tentang komitmen Nabi Muhammad membangun kekuatan politik kebangsaan. Di mana salah satu aspek kehidupan dalam bidang politik, Nabi memberi contoh dan keteladanan bagaimana membangun kontrak politik dengan semua unsur dan komponen masyarakat melalui Piagam Madinah.

"Piagam Madinah merupakan piagam negara tertulis dunia jauh sebelum munculnya deklarasi HAM yang dilahirkan oleh PBB pada 1948," kata Jokowi. Piagam Madinah, lanjutnya, diatur hubungan pola negara, hubungan muslim dan non-muslim. Jelas sekali menghargai kemajemukan, suku, golongan dan agama. Kita bisa buktikan Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang mengajarkan kedamaian, Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam, khususnya bangsa Indonesia.

Pada dimensi inilah kita perlu bersama-sama merenungkan makna Piagam Madinah sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegara secara damai dan sejahtera. Setelah Nabi memutuskan untuk berpindah dari Makkah dan Madinah, maka yang diinginkan adalah ketenangan dan kebersamaan.

Kondisi Makkah yang saat itu tidak mendukung secara penuh dakwah Nabi, maka putusan hijrah adalah solusi terbaik. Sangat tidak mungkin ketika di Makkah menghadapi konflik, maka di Madinah akan kembali demikian. Oleh sebab itu, pondasi kebangsaan itu ditanamkan dengan baik dengan Piagam Madinah.

Dalam sebuah khutbah Jum'at, Nabi menyampaikan empat pesan utama: al-'adalah al-insaniyyah (perikemanusiaan), asy-syura (musyawarah), al-wahdat al-islamiyyah (persatuan Islam) dan al-ukhwah al-islamiyyah (persaudaraan Islam). Empat pokok ini yang dijadikan bahan penguatan isi Piagam Madinah.

Pilihan Madinah sebagai destinasi hijrah ini membawa dampak perubahan mental keislaman. Madinah dikenal  sebagai daerah kosmopolit dengan peradaban lebih maju. Oleh sebab itu, Nabi berani diajukan sebagai pimpinan bangsa sekaligus pimpinan agama.

Dari empat puluh tujuh point isi Piagam Madinah itu, Schacht menggarisbawahi ada enam asas yang diteguhkan oleh Nabi Muhammad: asas kebebasan beragama, asas persamaan, asas kebersamaan, asas keadilan, asas perdamaian dan asas musyawarah.

Enam asas itu kalau kita renungkan bersama hampir mirip dengan isi Pancasila. Oleh sebab itu, dasar hidup berbangsa dan bernegara dengan merujuk pada Piagam Madinah, bagi bangsa Indonesia sama dengan Pancasila. Baik masyarakat Madinah dan Indonesia, ingin meniru jejak Nabi Muhammad dalam meneguhkan nalar kebangsaan: guyub rukun dan damai.

Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG