IMG-LOGO
Nasional

Ajaran-ajaran Gus Dur Menurut Presiden Jokowi

Ahad 25 Desember 2016 20:21 WIB
Bagikan:
Ajaran-ajaran Gus Dur Menurut Presiden Jokowi
Jakarta, NU Online
Presiden Joko Widodo mengatakan, apa yang dilakukan mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejalan dengan misi kelahiran Nabi Muhammad, yakni untuk memperbaiki akhlak manusia dan menebar rahmat bagi seluruh alam.

Ia menyampaikan hal itu di depan ribuan jamaah yang hadir pada malam puncak peringatan haul ke-7 Gus Dur yang digelar di Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).

Menurut Jokowi, selama hidupnya presiden ke-4 RI itu mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah milik kita bersama, bukan milik golongan atau perorangan. Karena itu, negara ini harus dikelola melalui konstitusi bukan dengan yang lainnya.

“Saya percaya Gus Dur pasti gemes, gregeten, kalau lihat ada sekelompok orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme yang akhir-akhir ini kita lihat, terutama yang ada di media sosial maupun di dunia nyata,” ujarnya.

Jokowi yang saat itu mengenakan sarung dan kopiah hitam itu juga menyinggung soal media sosial yang dipenuhi oleh ketidakharmonisan. Ia menilai banyak para pengguna internet yang tidak bisa membedakan mana yang termasuk kategori kritik dan mana yang termasuk menghina atau menghujat.

Jokowi berpendapat, kegaduhan tersebut membuat energi bangsa Indonesia banyak terkuras sehingga melupakan pembangunan strategi ekonomi untuk kesejahteraan bersama. “Karena kita rebut, rebut, dan rebut,” katanya.

“Kalau almarhum Gus Dur masih ada, ada yang memberi tahu kita, ‘kita ini masih kayak anak TK’ pasti digitukan oleh Gus Dur,” imbuh mantan wali kota Solo ini.

Di mata Presiden, Indonesia termasuk beruntung karena memiliki ideologi negara yang cukup mapan. Di tengah negara-negara lain di dunia bingung mencari pedoman hidup berbangsa dan bernegara, Indonesia sudah mempunyai Pancasila. Dengan demikian, seharusnya Indonesia bisa membangun lebih cepat dibanding negara lain, mewujudkan bangsa yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian.

Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan kenangannya ketika menerima hadiah peci Gus Dur dari Nyai Shinta Nuriyah Rahman Wahid pada 2013 lalu. Peci itu baginya adalah pengingat untuk selalu meneladani kepribadian positif cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari itu.

“Meneladai ketulusan beliau yang menjaga silaturahmi melampaui sekat-sekat primordial. Meneladani kesederhanaan beliau, meneladani beliau dalam melayani masyarakat, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara hingga akhir hayatnya,” paparnya.

(Baca: Jokowi Terkesan dengan Hadiah Peci Gus Dur)

Ia menilai Gus Dur juga mampu memudahkan yang sulit, bukan menyulitkan yang mudah. Hal itu yang menurut Jokowi tercermin dari kata-kata Gus Dur “gitu aja kok repot”, yang berakar dari jargon yassirû wa lâ tu’assirû (permudahlah dan jangan dipersulit).

“Dan menurut saya Gus Dur itu selalu optimis dalam memandang Indonesia ke depan, tidak kagetan, tidak gumunan. Itu Gus Dur,” tutur Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu wakil presiden Boediono, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Sosial Khofifah Indah Parawansa, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Habib Umar Muthohar, Habib Ja'far Alkaff, para pemuka dari lintas agama, dan para seniman. (Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Ahad 25 Desember 2016 20:1 WIB
RAKERNAS IPPNU
Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat
Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth). Berada di tengah-tengah, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. 

Demikian disampaikan Ketum PBNU saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakerrnas) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Jumat (23/12) di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren ats-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan. 

"Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian. Seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asy'ari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asy'ari dalam bidang kenegaraan," terangnya. 

Ia menjelaskan, Muhammad bin Idris Asy-Syahfi'i atau Imam Syafi’i berjasa meletakkan pemikiran tawasuth dalam fiqh. Imam Syafi'i meletakkan dasar penetapan hukum itu dua, yakni adillah naqliyah dan adillah aqliyyah. 

"Adillah naqliyah, yakni dalil-dalil syariat yang ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Kedua, hujjah aqliyah. Dalil-dalil secara akal yang diambil dengan proses ijma (akal kolektif) dan qiyas (akal personal)," jelas pengasuh Pesantren ats-Tsaqfah tersebut.

Jadi, imam Syafi’i tidak hanya mempertimbangkan dalil nash saja, tapi juga dalil hasil pemikiran. 

Tokoh berikutnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim al-Asy'ari atau dikenal Abu Musa al-Asy'ari. Ia meletakkan pemikiran tawasuth dalam bidang tauhid. Produknya adalah ilmu kalam, salah satunya sifat 20. 

"Bbeberapa sifat 20 disebutkan dalam Al-Qur'an. Tapi Al-Asy'ari tidak menjadikan sifat-sifat itu sebagai sifat yang pertama. Justru, sifat 20 yang pertama adalah wujud, yang tidak ada dalam Al-Qur'an," paparnya.

Alasannya, untuk apa sifat-sifat sama' (Maha Mendengar), bashar (Maha Melihat), dan yanng lainnya kalau tidak ada wujud. 

Ulama yang bisa tawasut lainnya adalah Abu Hamid Muhammad aGhazali. Imam Ghazali adalah orang cerdas dalam akhlak Kita berakhlak dengan tengah. Syariat dijalankan dengan baik, hakikat diterapkan dalam hati secara khusuk. 

Sementara Hadratusysyekh KH Hasyim Asy'ari juga cerdas dalam menyandingkan Islam dan nasionalisme.

"Memelihara Indonesia juga memerlukan kecerdasan, dalam menjaga NU juga memerlukan kecerdasan. Agar indonesia menjadi negara moderat dan toleran," tegas guru besar bidang tasawuf tersebut. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Ahad 25 Desember 2016 19:24 WIB
RAKERNAS IPPNU
Alissa Wahid Minta Pelajar NU Jangan Berpikir Duite dari Mana
Alissa Wahid Minta Pelajar NU Jangan Berpikir Duite dari Mana
Jakarta, NU Online
Peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama bersilaturahim kepada Alissa Wahid di komplek Al-Munawwaroh Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu (24/12).

Pada silaturahim tersebut, putri pertama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut menyampaikan bagaimana cara menentukan arah atau tujuan organisasi dan menysun langkah-langkahnya.

“Jika nanti sudah tidak ada tren global dan sudah tidak ada dana, apakah kita juga akan menghentikan upaya-upaya kita melawan penggerusan Nahdlatul Ulama,” tanyanya.

Menurut dia, ketika IPPNU menyusun program, jangan sampai pendekatannya menggunakan “duite darimana” (dananya dari mana), tapi kembalikan pada arah programnya.

“Seperti dalam ilmu manajemen, “begin with the end in mind”, berpikir memulai justru dengan memikirkan hasil akhir,” katanya.

Ia percaya setiap kader IPPNU mempunyai semangat khidmat. Karena jika tidak, pasti mencari organisasi lain yang lebih menjanjikan. (Anty Husnawati/Abdullah Alawi)






Ahad 25 Desember 2016 16:30 WIB
Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya
Khofifah: Jangan Biarkan Anak Sibuk dengan Gadgetnya
Foto: Khofifah dalam acara Kongres Ke-17 Muslimat NU
Makassar, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa meminta perempuan untuk selalu menjaga dan memperhatikan anak-anaknya di era perkembangan teknologi. Para ibu dilarang membiarkan anak-anak sibuk dengan gadgetnya tetapi lupa dengan ibadah, lupa akan pentingnya belajar dan lain sebagainya.

Internet dinilai sesak dengan konten negatif, seperti penyebarluasan kebencian. Ia juga mendorong para ibu untuk mendidik secara benar tanpa meninggalkan doa. "Seorang ibu jangan melupakan kekuatan doa, didiklah dengan kasih sayang dan jangan lupa doakan anak-anakmu," ujarnya.

Hal itu disampaikan Khofifah dalam acara deklarasi Gerakan Sayang Ibu Tercinta (Gesit) yang dirangkaian Peringatan Hari Ibu 2016, Sabtu (24/12), di Balai Prajurit Manunggal Makassar.

Tak lupa Khofifah yang juga Menteri Sosial mengajak ibu-ibu di Makassar untuk melakukan gerakan One Day One Care atau sehari berbagi satu. “Gerakan ini muncul untuk peduli satu sama lain, utamanya untuk mengatasi persoalan sosial yang terjadi di masyakat,” tambahnya.

Di hadapan 3000 ibu-ibu dari berbagai organisasi juga mengungkapkan tentang peran perempuan mengatasi penyakit masyarakat, di antaranya perempuan harus menjadi garda terdepan memberantas narkoba.

Deklarasi Gesit diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bersama Universitas Islam Makassar, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita, Forum Kajian Cinta Al-Qur'an, Badan Koordinasi Pendidikan Al-Qur'an dan Keluarga Sakinah serta Yayasan Jantung Sehat.

Wakil Gubernur Sulawesi Selata, Agus Arifin Nu'mang yang didaulat sebagai Ketua Dewan Pembina Gesit Sulsel dalam sambutannya mengungkapkan, peringatan hari ibu merupakan bukti perjuangan kaum perempuan Indonesia dari masa ke masa.

Menurutnya, perempuan adalah bagian dari sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Saat ini tentu perempuan memiliki tantangan yang tak kalah jauh besar, misalnya dengan maraknya kekerasan anak, serta penyebaran narkoba, HIV AIDS, dan kriminalitas lainnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Yayasan Lansia Sayang Bunda Nurhayati Yasin Limpo, Ketua PW Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Nu'mang, dan Ketua Gerakan Ibu Tercinta Neno Warisman. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG