IMG-LOGO
Nasional
PELANTIKAN ASBIHU JABAR

Obat Berbagai Persoalan Itu Bernama Taqarrub

Kamis 29 Desember 2016 13:5 WIB
Bagikan:
Obat Berbagai Persoalan Itu Bernama Taqarrub
KH Musthafa (dicium tangan) memberikan selamat kepada Pengurus Asbihu Jabar
Sumedang, NU Online
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dan dunia yang tidak mudah dipahami, NU hadir memberikan solusi, yaiut dengan pendekatan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Bina Haji dan Umrah (Asbihu) Nahldatul Ulama KH Musthafa Aqil Siroj pada taushiyah pelantikan Pengurus Asbihu Jawa Barat masa khidmah 2016-2021 di SMK An-nur, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (29/12).

“Banyak ahli kedokteran, tetapi penyakit tetap saja ada. Banyak sarjana geologi yang dapat memprediksi bencana gempa misalnya, tetapi tidak bisa mencegah bencana tersebut. Para ahli saja tidak berhasil menangani, apalagi orang awam.  Oleh karena itu, manusia harus mendekatkan diri kepada Allah,” tuturnya.

Kiai Musthafa menyebutkan kaitannya dengan Asbihu, NU melalui Asbihu hadir untuk menjaga keyakinan jamaah yang beribadah ke tanah suci Mekkah agar tidak terkikis dari ajaran aswaja yang mereka anut.

“Jamaah haji dan umrah yang berpaham aswaja, banyak dicekoki paham yang berlawanan dengan aswaja.  Di bandara, di tempat ziarah, banyak tersedia buku antitahlil. Lalu banyak yang berpikir, kalau begini terus bagaimana akidah mereka sepulang haji?” ulas Kiai Musthafa mengawali cerita alasan berdirinya Asbihu.

Kiai Musthafa meneruskan, dengan inisiatif Kiai Hafidz Taftanzani, didirikanlah Asbihu sebagai jawaban dari keprihatinan tersebut.   

“Asbihu ini luar biasa karena Asbihu awalnya murni ingin menjaga akidah aswaja NU,” tegas Kiai Musthafa.

Di samping itu, kehadiran Asbihu juga menjadi solusi karena selama ini seakan-akan belum ada kesempatan berbuat oleh NU. Warga NU yang berangkat haji dan umrah melalui agen perjalanan umrah dan haji yang dikelola pihak lain, hanya memperkaya pihak lain.

Dengan demikian adalah kewajiban warga NU untuk membesarkan NU minimal ketika beribadah umrah melalui Asbihu.

Ditanya bagaimana kinerja Pengurus Wilayah Asbihu Jawa Barat yang baru dilantik, ia optimis dan yakin karena pengurus Asbihu Jawa Barat banyak yang masih muda.

“Saya yakin sekali Asbihu di Jawa Barat akan besar, karena banyak pemuda yang masuk menjadi pengurus. Semangatnya masih tinggi,” tegas Kiai Musthafa. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 29 Desember 2016 23:1 WIB
Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal
Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal
Jakarta, NU Online
Advokat Syariah Mustolih Siradj turut menjadi pembicara pada acara Ngobrol Filantropi (Ngopi) yang diadakan oleh Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) di Blue Sky Hotel Jakarta Pusat, Rabu (29/12).

Menurutnya, hari ini kalau berbicara tentang uang, ada 3 aspek yang bisa mendapatkan uang segar dan cash, mendatangkan kran uang besar. Pertama, lembaga zakat, infaq, dan shodaqoh; kedua, Corporate Social Responsibility (CSR); dan ketiga, dana bencana.

Mustolih mengingatkan kepada masyarakat bahwa hari ini masih banyak lembaga amil zakat yg tidak memiliki izin atau ilegal. 

“Sedikitnya ada 4 lembaga besar yang tercatat dan masuk dalam kategori sebagai lembaga pengelola zakat ilegal,” ujarnya tanpa menyebutkan secara jelas 4 lembaga tersebut.

Pentingnya mempunyai izin karena terdapat ancaman bagi pengelola zakat yang ilegal. “Barang siapa yang mengelola zakat tanpa ada izin. Maka bisa terkena pidana 1 tahun,” tegasnya

“Kalau LAZISNU sih sudah punya izin,” katanya diikuti tepuk tangan peserta.

Hadir pada acara yang bertemakan Penguatan Filantropi Islam Nusantara berjumlah 38 peserta sebagai perwakilan dari lembaga-lembaga dan banom-banom Nahdlatul Ulama. (Husni Sahal/Fathoni)

Kamis 29 Desember 2016 22:17 WIB
Propaganda Ekstrim dan Hoax Makin Marak, Bagaimana Menyikapinya?
Propaganda Ekstrim dan Hoax Makin Marak, Bagaimana Menyikapinya?
Jakarta, NU Online
Media dalam berbagai platform atau kanal, baik media sosial maupun online saat ini semakin menjadi rujukan masyarakat luas di Indonesia. Tak sedikit pula yang selama ini menggunakan media sosial untuk menyebarkan hoax dan konten-konten kontroversial lain tanpa berusaha melakukan konfirmasi atau tabayyun

Pembahasan tersebut mencuat dalam kegiatan Sarasehan Media dan Rembug Budaya yang diselenggarakan Lesbumi PBNU dan media-media NU, Kamis (29/12) di Gedung PBNU Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Agung Yudha (Twitter Indonesia), Savic Ali (NU Online dan Nutizen), Lalang (Kemkominfo), dan Tyovan Widagdo (CEO Bahaso).

Acara yang dihadiri oleh berbagai aktivis media dan organisasi ini memberikan penekanan kepada maraknya negativitas penggunaan media sosial untuk berbagai kepentingan, baik ideologis maupun politis. Persoalan ini membutuhkan pembudayaan media dan memediakan budaya secara baik bagi kelangsungan kebersamaan dalam bingkai kebhinnekaan Indonesia.

Lalang yang hadir mewakili Menkominfo Rudiantara menegaskan peran pemerintah untuk menjaga aktivitas dan perkembangan teknologi untuk kebutuhan menjaga keindonesiaan. Namun demikian, Kemkominfo tetap bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar tidak menyalahi aturan.

“Seperti memblokir situs-situs yang teridentifikasi radikal dan membahayakan bagi persatuan Indonesia, adalah langkah paling akhir yang dilakukan Kominfo,” jelas Lalang.

Senada, Agung Yudha dari Twitter Indonesia memberikan penjelasan terkait dengan para pengguna twitter yang selama ini banyak mengindahkan rules atau aturan yang menjadi panduan bagi para pengguna twitter atau platform media sosial lain.

Menurutnya, peraturan untuk menciptakan iklim media sosial yang baik sudah digariskan semua oleh penyedia platform, tinggal para penggunanya mau mematuhi atau sebaliknya. Jika tak memahami rules tersebut, tak heran selama ini banyak terjadi penyebaran konten-konten palsu, kontroversial, dan bersifat propaganda ideologis maupun politis di media sosial.

“Jika melihat konten-konten tersebut, langsung dilaporkan saja karena kami sendiri telah menyediakan fitur report atau pelaporan dari pengguna,” jelas pria berkaca mata dan berambut gondrong ini.

Sementara itu, Savic Ali menjelaskan, media digital saat ini telah banyak membentuk sifat dan kecenderungan karakter seseorang. Tanpa berusaha mengonfirmasi atau melakukan tabayyun, mereka dengan mudahnya menyebarkan berita-berita palsu dan konten-konten hoax dalam berbagai bentuk. 

“Ironisnya, hal itu dilakukan oleh banyak media yang mengaku dirinya sebagai media Islam. Maka dari itu, NU dengan berbagai medianya terus berupaya tidak terpengaruh dengan propaganda radikal. Bukan berarti kami tidak mampu, tetapi kami memilih jalan dakwah yang edukatif dan tidak ingin Indonesia ribut terus menerus seperti yang nyata-nyata mereka inginkan,” papar Savic.  

Savic memberikan penegasan bahwa Indonesia bisa tetap utuh di tengah perbedaan jika semua media yang saat ini menjadi rujukan masyarakat menyediakan konten-konten positif dan konstruktif untuk keberlangsungan Indonesia yang ramah dan damai. Sebab, propaganda media turut memberikan pengaruh terhadap berbagai tragedi kemanusiaan dan perang tak berkesudahan yang menimpa negara-negara di Timur Tengah. (Fathoni)
 

Kamis 29 Desember 2016 22:1 WIB
6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur
6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur
Bandung, NU Online
Sejumlah 6 tokoh agama kota Bandung menyampaikan orasi kebangsaan lintas agama pada acara dalam rangka Haul Gus Dur ke-7 yang digelar oleh Pengurus Cabang PMII kota Bandung, Rabu (28/12) kemarin, di halaman gedung PCNU setempat.

Jopie Rattuseorang Pendeta Kristen mengungkapkan Gus Dur orangnya sederhana. Kata “sederhana” kelihatannya cuma singkat, tapi kata sederhana punya makna yang dalam. “Apa yang beliau sampaikan mengena pada hati saya,” ungkapnya dihadapan puluhan mahasiswa yang hadir dalam Haul itu.

Menurut pendeta Jopie, Gus Dur adalah pembela minoritas, apalagi minoritas yang tertindas. Pemikiran Gus Dur yang visioner dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi saat ini.Jadi ada pemikiran Gus Dur itu seharusnya menjadi format bagi orang-orang yang memimpin di negeri ini.

“Dia orang yang berani mempertaruhkan dirinya untuk bangsa. Hari ini kita memperingatinya untuk merenung, bisakah menjalankan prinsip apa yang disampaikan beliau?Negeri ini membutuhkan generasi-generasi yang sama seperti apa yang Gus Dur sampaikan,” ujarnya.

Sementara Eko Supeno pemuka Buddha mengajak untuk membudayakan dan melestasrikan pemikiran Gus Dur, sebagaimana dalam kitab Suci agama Buddha di bab 1 dan ayat 1 yakni tentang pentinya pikiran itu sebagai pelopor, pemimpin, dan pembentuk dalam kehidupan. 

“Harus kita lestarikan adalah pemikiran Gus Dur yang hebat dan cemerlang untuk kebersamaan dan keutuhan NKRI.Jadi, mahasiswa harus mempunyai pemikiran besar seperti Gus Dur. Pemikiran besar itu positif, inovatif, kreatif, dan produktif,” sambung Pemuka Buddha itu.

Lain lagi penuturan Fam Kiun Fat. Ia menceritakan masa mudanya saat pembuatan KTP tidak boleh mencantumkan Kong Hu Chu sebagai agamanya. Namun semenjak Gus Dur mengeluarkan Keppres Nomor 6 tahun 2000 yang mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Umat Kong Hu Chu dan Tionghoa kembali mendapatkan hak sipil mereka.Makan di mata umat agamanya, Gus Dur adalah pahlawan.

“Marilah kita pemuda bersatu untuk membuat satu kekuatan. Dalam ajaran Kong Hu Chu, semua umat bersaudara. Karena kita sama-sama berdarah merah bertulang putih, itulah merah putih,” ajak kepada para mahasiswa lintas agama yang hadir pada acara itu.

Agus Sugiarto pemuka Katolikmempunyai pandangan lain. Baginya, Gus Dur itu orang kudus, artinya orang suci. Dalam tradisi gereja Katolik, setiap orang kudus itu selalu diperingati saat orang itu wafat. “Gus Dur mempunyai empati yang luar biasa. Ketika ada kaum minoritas yang tertindas, jiwa Gus Dur itu tergerak batinnya untuk membela,” lanjut Agus.

Yang terpenting bagi Gus Dur adalah bagaiamana negara indonesia bisa berkembang dan sejahtera, keadilan dirasakan di seluruh tanah air. “Kita sebagai generasi muda, mudah-mudah jiwa dan spirit Gus Dur itu mari kita lanjutkan dan kembangkan dan sebarkab kepada setiap orang yang kita jumpai, karena yang diperjuangkan adalah kebenaran dan keadilan,” pintanya. 

Oleh karena sering berjumpa dengan kiai NU, ia menjadi sangat hafal bahwa kalangan kiai NU jelas-jelas mempertahankan empat pilar yang disingkat menjadi PBNU, jelas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. “Luar biasa,” sanjungnya disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin.

Adapun pemuka Hindu yang kali ini diwakili oleh I Nengah Kondra menerangkan Gus Dur menurut pandangan Hindu adalah sosok yang memilik sosok jiwa semesta. Dalam konsep hindu itu adalah pengakuan secara universal bahwa setiap manusia adalah sama, bersaudara. Saudara itu satu ruh, kalau kita Indonesia berarti satu negara Indonesia. 

Sosok Gus Dur dalam Hindu adalah sosok yang mengamalkan 3 hal yang menyebabkan manusia berbahagia. Pertama, manusia itu selaras dengan Tuhan, beribadah dengan kepercayaan masing-masing. Itu dipelihara oleh Gus Dur. 

Kedua, keharmonisan sesama manusia. Itu juga merupakan sesuatu yang sangat ditekankan pada saat pemerintahan Gus Dur, sehingga kesempatan saling bertolentasi bertumbuh sampai sekarang. Ketiga, keselarasan manusia dengan alam. Tiga konsep ini yang sangat ditekankan pada masa pemerintah Gus Dur. 

“Saya sangat mengagumi dan meneladani Gus Dur, tetapi sayang sekali disetiap kegiatan keagamaan, saya belum belum sampai bersalaman dengan beliau. Tetapi saya menanamkan dalam hati bagaimana konsep pemikiran kebhinekaan Gus Dur dapat saya teladankan kepada yang lainnya,” kagumnya.

Sedangkan menurut Wahyul Afif Al-Ghafiqi seorang pengasuh pesantren di Bandung menuturkan bahwa Kiai Abdurrahman Wahid adalah salah satu karunia Allah bagi Indonesia. Santri yang pernah menjadi presiden. Dan kapan lagi Indonesia mempunyai santri menjadi presiden.

“Kita sering dengar bahwa istana negara itu jadi istananya rakyat memang benar di masa Gus Dur, santri tidak pakai sepatu, memakai sendal jempit hendak ketemu Gus Dur, tanpa protokoler, termasuk saya. Jadi kalau sekarang situasi bangsa sedang seperti ini, kangennya luar biasa,” tuturnya.

Mantan aktivis PMII Bandung itu meyakini bahwa Gus Dur itu mengamalkan ajaran Rasululllah bahwa membela siapapun yang tertindas, siapapun yang teraniaya, tidak perduli dari kalangan apapun. Bahkan kita sendiri yang mengikuti bingung mencari pembenaran dari apa yang dilakukan oleh Gus Dur.

“Gus Dur itu asli kiainya, mondoknya di mana-mana, gelar pengakuannya juga banyak. Mana ada kiai jadi Dewan Kesenian Jakarta, sampai jadi pengamat sepak bola,”paparnya dari pengalamannya berjumpa Gus Dur. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG