IMG-LOGO
Puisi

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Ahad 1 Januari 2017 13:16 WIB
Bagikan:
Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan
Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah, mukminin, muttaqin,
kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan 
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.
Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI"
Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan
Memukul, mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

KH Ahmad Mustofa Bisri

Puisi ini terdapat dalam buku Antologi Puisi Tadarus karya Gus Mus, terbitan Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2003.

Tags:
Bagikan:
Ahad 25 Desember 2016 9:16 WIB
Sajak untuk Ibu
Sajak untuk Ibu
Ilustrasi: hipwee.com
Oleh Mukhammad Lutfi

Ibu …
Engkau tak ubahnya murninya insan
Melayaniku  tanpa pamrih
Mendidiku sepanjang hari
Tanpa terucap sedikitpun keluh kesah

Ibu …
Jasa besarmu tak dapat kubayar
Dan tak mungkin bisa kubayar
Aku hanya mampu mendoakanmu
Mengharap ridho di setiap langkahku

Ibu …
Terima kasih dan maaf
Dua kalimat itu akan terus aku  ucapkan
Hingga ahir hayatku nanti
Ibu terima kasih dan maaf atas segalanya

Selamat Hari Ibu!

Malang, 21 Desember 2016

Penulis adalah aktivis PMII Rayon “Perjuangan” Ibnu Aqil UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Abdi Ma’had Sunan Ampel Al Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Penulis bisa dihubungi melalui lutfimukhammad@gmail.com

Ahad 18 Desember 2016 9:1 WIB
Pertemuan di Tengah Hujan
Pertemuan di Tengah Hujan
Oleh Ribut Achwandi

bagaimana jika datang padamu
lelaki penuh kelembutan cinta
memeluk dan mendekapmu erat
di tengah hawa dingin yang gigil
tubuhmu basah oleh tempias air hujan
di emperan pertokoan dini hari
lalu, berkata ia padamu

'wahai, engkau yang kedinginan
di telanjangi oleh hujan,
akan sampai berapa lama lagi
waktu kau butuhkan berkelana
tiada arah tujuan pasti,
sementara telah dititipkan kepadaku
risalah-Nya sebagai cahaya penuntun
yang memberimu kehangatan kala kedinginan
memberimu kesejukan kala panas mendera
juga membuatmu tiada kesepian
dan memberimu kelegaan di setiap tempat?
akankah kau biarkan dirimu terluka
sekalipun tiada engkau sadari
derita yang menggores luka batinmu
adalah buah perbuatanmu,
gelap pandangmu tiada lain
tersebab oleh cahaya batinmu
yang terus engkau padamkan,
pun sesalmu adalah penghambaanmu
kepada segala macam keinginan.
padahal, keinginan tiada bisa menjawab
bahkan dirinya sendiri.
akankah kau biarkan airmataku ini
menderas menganak sungai hanya untukmu?
tidak wahai lelaki malang berjubah kelam,
jangan sampai Tuhan sendiri yang melakukan
menghukummu tiada ampunan.
sungguh, tiada tega aku menyaksikan
penyiksaan yang teramat menimpamu.
kembalilah, wahai lelaki berwajah murung.
kembali. janganlah tanya lagi,
jalan itu lapang dan benderang.
mengapa masih engkau pilihkan
untuk dirimu sendiri, jalan gelap berduri?'

lelaki yang diterangi cahaya cinta itu
sejenak terdiam, menyaksikan hujan.
lalu, kembali dalam-dalam menatapmu,
dengan lirih ia berucap:

'bersediakah engkau mengusap airmataku ini?'

Pekalongan 12 Desember 2016

Jumat 16 Desember 2016 1:14 WIB
Seuntai Selawat
Seuntai Selawat
Oleh Wahyu Nurhadi

Dimuliakan Sang Maha Mulia
Dikasihi Sang Maha Pengasih
Disayangi Sang Maha Penyayang
Dicintai Sang Maha Pencinta

Bumi langit berselawat
Gunung laut berselawat
Burung, semut, bunga, rumput
Bahkan malaikat dan Tuhan
Pun berselawat

Malam mulai berkabut
Sunyi merenggut
Kata-kata apa yang mesti ditorehkan?
Lagu apa yang mesti dilantunkan?
Untuk dihadiahkan di hari kelahirannya
Di ketika langit mendekat ke bumi, bersuka
Di ketika gunung-laut bergembira
Burung-burung berkicau
Mendendangkan merdu-Nya
Malaikat dan semua
Memuji utusan yang diindahkan-Nya

Berpuluh sunah banyak orang jalankan
Beratus amalan banyak orang kerjakan
Sedang hamba-Mu ini?
Setitik sunah tak ter-istiqomah-kan
Sedikit amalan pun harap pujian
Mungkin seuntai sholawat kutoreh-lantunkan
Harap ridhla dan syafa‘at kelak selamatkan
Hingga sampai di akhir tujuan tiap insan
Di taman keabadian yang dijanjikan
Amiin…
Allohumma sholli ‘ala Muhammad
Allohumma sholli ‘ala Muhammad
Allohumma sholli ‘ala Muhammad

Purwokerto, Mulud 1434 H


Puisi ini tercantum dalam antologi Creative Writing (Purwokerto: STAIN Press, 2013)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG